Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dian Mita

Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
​Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Pengakuan yang Terlambat

Suara dering nada panggil monofonik yang nyaring itu terus bergetar di telapak tangan Rendy. Di dalam kabin Maybach yang senyap dan hangat, layar kecil kuning ponsel tua itu berkedip-kedip menyorotkan nama yang pernah menjadi pusat dunianya: "Istriku Clarissa".

Siska dan Bagas menundukkan kepala, menjaga kesopanan dengan berpaling ke arah jendela, membiarkan sang Presdir mengambil keputusannya sendiri.

Rendy menatap tombol hijau itu selama beberapa detik. Tatapannya dingin, namun ada riak kelam yang menyusup di dasar manik matanya. Dengan geseran ibu jari yang mantap, Rendy menekan tombol panggil dan mendekatkan ponsel murah itu ke telinganya.

Ia tidak mengucap sepatah kata pun. Ia hanya membisu, membiarkan keheningan malam yang menyambungkan dua dunia yang kini telah terpisah jauh.

Dari seberang saluran, suara isak tangis yang pecah seketika menyapa pendengarannya.

"Mas... Mas Rendy...?" suara Clarissa terdengar begitu serak, patah-patah, dan terengah-engah oleh histeria yang tak tertahankan. "Mas... tolong jawab aku, Mas..."

Rendy tetap bergeming, mendengarkan deru napas Clarissa yang memburu hebat di balik telepon.

Melalui gelombang suara yang tipis itu, pendengaran Rendy yang tajam sanggup menangkap setiap jejak emosi yang terpancar dari istrinya. Isakan Clarissa yang halus, desahan napasnya yang berat dan tidak teratur, seketika membangkitkan kembali memori sensorik akan kehangatan fisik mereka yang baru saja berlalu beberapa jam lalu. Kehangatan kulit, helaan napas pasrah Clarissa saat bersandar di dadanya, serta sentuhan lembut jemarinya yang gemetaran—semua getaran gairah dan kepasrahan masa lalu itu serasa merambat naik, membakar ingatan Rendy di tengah dinginnya kenyataan malam ini.

"Mas Rendy... maafkan aku..." panggil Clarissa lagi, tangisannya makin menjadi-jadi hingga suaranya hampir tak terdengar. "Aku salah, Mas... Aku sungguh salah... Tolong kembali ke rumah, Mas... Aku tidak bisa hidup tanpamu..."

"Clarissa," suara Rendy mengudara, rendah, berat, dan amat membekukan. Nada suaranya tidak lagi menyisakan kelembutan seorang suami yang biasa memanjakannya di atas kasur busa sempit mereka. "Surat perceraian itu sudah kutandatangani. Kamu sendiri yang memilih untuk melepaskan genggaman tanganmu di bawah meja."

"Tidak, Mas! Tidak!" jerit Clarissa histeris dari seberang telepon. "Aku terpaksa, Mas! Aku takut mereka memenjarakanmu! Aku tidak mau kamu menderita di balik jeruji besi selama lima tahun! Aku melakukan semua itu demi menyelamatkanmu..."

"Menyelamatkanku dengan cara membiarkanku dihina, dituduh pencuri, dan diusir ke tengah hujan deras?" potong Rendy datar, tanpa emosi yang meledak-ledak, namun setiap kata yang diucapkannya menghantam ulu hati Clarissa bak godam berat. "Kepercayaanmu padaku bahkan tidak sedalam harga sebuah jam tangan palsu milik adikmu."

"Mas..."

Sebelum Clarissa sempat menyelesaikan kalimatnya, suara keributan kasar mendadak meledak dari seberang saluran telepon.

Sreeek! BRAK!

"Kamu telepon siapa lagi, Clarissa?!" suara melengking Ibu Rosma bergema keras melalui pengeras suara ponsel, disusul suara langkah kaki yang tergesa-gesa. "Kamu masih berani menghubungi penjahat itu?!"

"Ibu! Kembalikan ponselku! Jangan rebut!" jerit Clarissa memohon dalam tangisnya.

"Dasar anak tidak tahu berterima kasih!" bentak Rosma tanpa belas kasihan. "Pria itu sudah ditendang keluar! Dia cuma sampah miskin yang cuma bisa memanfaatkan kamu! Kamu mau ikut melarat sama dia, hah?! Sini ponselnya!"

Suara tarikan kasar dan bunyi barang terhempas terdengar jelas di telinga Rendy. Dion menyela dengan nada suara sombong yang memuakkan, "Heh, Rendy! Jangan coba-coba pengaruhi kakakku lagi ya! Kalau kamu berani mendekati rumah ini atau menemui Clarissa lagi, besok pagi aku pastikan laporan polisi untukmu benar-benar berjalan! Dengar itu, pencuri?!"

Tutt... tutt... tutt...

Sambungan telepon terputus secara sepihak saat ponsel di seberang sana dihempaskan kasar ke lantai oleh Rosma.

Di dalam kabin sedan Maybach, keheningan kembali jatuh menimpa bagaikan tirai besi.

Rendy perlahan menurunkan ponsel tua itu dari telinganya. Wajahnya begitu tenang, namun aura kegelapan dan kekuasaan mutlak yang melingkupinya begitu pekat hingga Siska yang berada di sampingnya harus menahan napas karena rasa intimidasinya yang luar biasa.

Rendy menatap layar ponsel murah yang retak itu untuk terakhir kalinya. Di sana, gambar wallpaper sederhana yang menampilkan foto dirinya dan Clarissa tersenyum di taman kota tiga tahun lalu masih menyala redup.

Penyamaran ini tidak hanya menguji hartaku, batin Rendy dalam hati dengan dingin, tetapi juga telah menelanjangi ketidaksetiaan dan ketiadaan keyakinan di dalam hatimu, Clarissa.

Tanpa ada sedikit pun keraguan atau rasa ragu yang tersisa di matanya, jemari tegap Rendy bergerak membuka penutup belakang ponsel tua tersebut. Dengan satu gerakan cepat, ia mencabut kartu SIM bernomor lama yang menyimpan seluruh kenangan pahit dan manisnya selama tiga tahun terakhir.

Rendy menekan tombol jendela di samping kursinya.

Kaca hitam tebal sedan Maybach itu meluncur turun beberapa sentimeter, membiarkan hawa dingin malam dan angin hujan menyusup masuk membawa aroma aspal basah. Rendy mengulurkan tangan kayanya ke luar jendela.

Di antara sela jemarinya, kartu SIM kecil itu terlepas.

Benda plastik kecil itu melayang jatuh di kegelapan malam, terhempas ke atas jalanan utama yang tergenang air keruh, lalu seketika terlindas dan hancur berkeping-keping di bawah roda belakang bus antarkota yang melintas deras.

Srek.

Kaca mobil kembali terangkat rapat, menutup sempurna seluruh kebisikan dari dunia luar.

"Tuan Presdir," panggil Asisten Bagas dari kursi depan dengan sikap membungkuk hormat. "Kami sudah menyiapkan kamar Grand Suite di Pradipta Tower. Tim hukum dan direksi utama sudah berkumpul di ruang rapat lantai teratas menunggu instruksi Anda selanjutnya."

Rendy melempar ponsel tua tanpa kartu SIM itu ke koper di sampingnya, lalu menyandarkan kepalanya di atas sandaran jok kulit yang mewah. Ia merapikan kerah kemeja sutranya dengan gerakan anggun dan penuh wibawa.

"Jadwalkan eksekusi penutupan seluruh jalur kredit dan investasi untuk usaha keluarga Rosma besok pagi pukul delapan tepat," ujar Rendy dengan suara yang amat tenang namun mengandung daya hancur yang mutlak. "Dan pastikan Hendra kehilangan seluruh posisi direksinya di anak perusahaan kita sebelum makan siang."

"Laksanakan, Presdir Rendy," sahut Bagas tegas.

Sedan mewah Maybach hitam itu meluncur makin kencang membelah tirai hujan malam, meninggalkan kawasan perumahan kumuh dan rumah kontrakan sempit itu jauh di belakang, membawa sang Presdir kembali menuju puncak takhta kekuasaan yang sesungguhnya.

1
Dian Paramita Dewi
Semangat....terus berkarya ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!