Silvana, seorang dokter dengan karir yang sangat bagus, terpaksa di kirim ke Wilayah Konflik karena menolak cinta dari putra salah satu Petinggi di Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Tentu saja Silvana menolak, karena Pria itu tak hanya meminta cintanya, namun juga hampir melecehkannya.
Karena tak ingin berada di lingkungan toxic, ia pun sama sekali tak keberatan ketika di kirim ke Wilayah Konflik yang ada di Negaranya.
Disana, ia bekerja di sebuah Klinik Militer. Selain menangani Prajurit yang terluka, ia juga secara rutin datang ke desa-desa sekitar Markas Militer untuk melakukan pemeriksaan pada warga desa.
Siapa sangka, jika di tempat 'pengasingan' itulah ia justru bertemu dengan pria yang berhasil meluluhkan hatinya.
Bagaimana kisah cinta Silvana?
Apakah perjalanan cintanya berjalan dengan mulus?
Siapakah sosok pria yang berhasil meluluhkan hatinya?
Simak kisah dan keseruannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Pertolongan
"Apapun yang terjadi, lindungi Dokter Sisil. Tetap berada di mobil. Saya segera menyusul." Ujar Komandan Kaivan pada Daniel.
"Siap, Ndan!" Jawab Daniel.
Komandan Kaivan nampak sedikit panik ketika mendengar suara orang-orang yang sedang memukul-mukul mobil sambil berteriak-teriak meminta orang yang di dalam mobil untuk turun.
Tentu Komandan Kaivan khawatir jika orang-orang itu akan bertindak brutal dengan memecahkan kaca mobil atau hal lain yang bisa melukai Silvana dan Daniel.
"Ada apa, Komandan?" Tanya Miko.
"Dokter Sisil dan Daniel di serang, mereka ada di Tanah Hitam." Ujar Komandan Kaivan.
"Bawa sepuluh orang personil untuk ikut dengan kita dan tugaskan Riki untuk memperketat pengawasan di sini. Tembak jika ada pemberontak yang datang." Perintah Komandan Kaivan.
"Siap, Komandan." Jawab Miko yang langsung berlari untuk menjalankan tugas.
Selama ini Markas Batalyon tak pernah melakukan kekerasan pada para pemberontak meskipun mereka berkali-kali mendapat penyerangan. Padahal, Mentri Keamanan memperbolehkan mereka untuk melenyapkan Pemberontak jika mereka mengganggu.
Komandan Kaivan lebih suka bernegosiasi dengan mereka. Jika mereka bertindak keterlaluan, barulah Komandan Kaivan memerintahkan penyerangan.
Sementara itu, di dalam mobil, Silvana mati-matian menahan rasa takut. Air matanya mengalir sedari tadi karena perasaan mencekam yang menghantui. Gadis cantik itu masih duduk di bawah dashboard dengan posisi jok kursi di mundurkan agar Silvana bisa berlindung di bawah. Sementara Daniel berusaha menenangkan sambil terus mengawasi orang-orang yang terus memukul-mukul badan mobil.
Komandan Kaivan menarik gas motor dengan kuat. Ia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Sementara itu, di belakangnya, mobil berisi sepuluh prajurit lain mengikuti termasuk juga Miko yang mengendarai mobil.
Komandan Kaivan berusaha secepat mungkin untuk sampai di sana. Pikirannya terus melayang ke arah Silvana. Ia khawatir dengan kondisi gadis itu. Terlebih, semalam Silvana baru mengalami kejadian tak mengenakkan.
Braak! Braak!
Pemberontak itu semakin brutal menghantam mobil yang di tumpangi Silvana dan Daniel. Daniel tampak harap-harap cemas sembari sesekali menatap ke arah Silvana yang berlindung di bawah dashboard.
Waktu terasa berjalan sangat lambat. Daniel berharap agar Komandannya segera datang dan menyelamatkan mereka. Rasanya Daniel ingin menembak semua orang itu dengan pistol di tangannya. Namun, ia tetap patuh pada Komandannya yang memintanya mengutamakan keselamatan Dokter Silvana.
Braaaaak!
"Aaaaaaa!" Teriak Silvana yang terkejut ketika kaca mobil di hantam dengan menggunakan batu.
Daniel pun merunduk untuk menyelamatkan diri dari serpihan kaca mobil yang retak.
Door! Door!
Suara tembakan udara terdengar tak jauh dari mereka. Perhatian Pemberontak yang sedang menghancurkan mobil itu pun teralihkan. Mereka melihat Anggota TNI yang datang. Dua orang berada dalam posisi siap menembak dari sunroof yang di buka.
Ketika Anggota TNI mendekat, Pemberontak itu lari tunggang langgang. Mereka berusaha kabur dari kejaran Anggota yang geram.
Komandan Kaivan yang mengendarai motor, langsung menghampiri mobil yang di tumpangi Daniel dan Silvana. Sementara anggota lain berusaha mengamankan Pemberontak yang bisa mereka tangkap.
Daniel segera membuka pintu mobil dan ikut bergabung dengan rekan-rekannya untuk memburu Pemberontak. Komandan Kaivan sendiri, masuk ke dalam mobil untuk mencari keberadaan Silvana yang berlindung di bawah dashboard.
"Dokter!" Panggil Komandan Kaivan yang duduk di balik kemudi. Komandan Kaivan menarik tangan Silvana agar gadis iti melihat ke arahnya.
"Komandan..." Lirih Silvana saat melihat Komandan Kaivan ada di hadapannya. Suara tangis yang semula ia tahan pun seketika pecah.
Ia keluar dari tempat persembunyiannya dan langsung menubruk tubuh Komandan Kaivan. Ia memeluk erat pinggang Komandan Kaivan dan menangis di dada bidang Komandannya itu.
Jantung Komandan Kaivan hampir terlepas dari tempatnya saat Silvana tiba-tiba memeluknya. Ia sampai menahan nafas beberapa detik saking kagetnya.
Namun, Komandan Kaivan segera menguasai diri. Ia menepuk-nepuk pelan bahu Sisil untuk menenangkan gadis yang menangis di pelukannya.
"Sudah, ya. Jangan takut." Ujar Komandan Kaivan pada Silvana yang menangis di pelukannya.
Setelah tangisnya mereda, Sisil segera melepaskan pelukannya dan menyurut air mata.
"Maaf, Komandan." Lirihnya sambil menundukkan wajah. Ada rasa malu dalam hatinya karena tiba-tiba memeluk Komandan Kaivan.
"Gak apa-apa." Jawab Komandan Kaivan. Tangannya tiba-tiba terulur dan mengusap kepala belakang Sisil.
Sisil yang menerima perlakuan itu pun mendadak membeku. Jantungnya berdebar lebih kencang setelah sempat tenang beberapa saat.
"Ya Allah, meleleh..." Batin Sisil.
"Minum dulu." Ujar Komandan Kaivan sambil menyodorkan minum yang ia ambil dari balik kantung jok.
Sisil segera menenggak air minum kemasan itu, untuk menetralkan perasaannya yang semakin campur aduk.
"Kita kembali ke Markas aja, ya." Ajak Komandan Kaivan.
"Tapi, Nenek harus dapat obat melalui infus, Ndan." Kata Sisil yang mengisyaratkan jika ia tetap harus datang ke rumah Nenek.
"Biar saya yang antar kalau begitu." Ujar Komandan Kaivan yang di jawab anggukan setuju oleh Sisil.
Saat keluar dari mobil, mereka berdua melihat ke arah rombongan Anggota yang menyeret dua orang Pemberontak yang berhasil mereka tangkap.
"Bawa ke Markas. Saya akan mengantar Dokter Sisil terlebih dulu." Perintah Komandan Kaivan pada Anggotanya.
"Siap, Komandan!" Jawab mereka hampir bersamaan.
"Komandan mau bawa mobil?" Tawar Miko.
"Saya naik motor saja." Jawab Komandan Kaivan.
"Nanti Dokter Sisil kepanasan, Ndan." Kata Miko lagi. Komandan Kaivan pun menoleh ke arah Sisil seolah sedang meminta pendapat dari gadis yang berdiri di sampingnya itu.
"Naik motor saja, gak apa-apa, Ndan. Saya biasa panas-panasan." Jawab Sisil.
"Memang lebih enak naik motor, sih, Ndan." Ujar Miko dengan tatapan menggoda ke arah Komandannya hingga membuat Komandan Kaivan melotot.
"Maksud saya, lebih enak karena lebih cepat. Kalau naik mobil, terkadang ada medan yang sulit di lewati. Apa lagi semalam baru hujan." Kata Miko yang buru-buru memberi penjelasan.
"Kalau gitu, saya kembali ke Markas, Ndan. Ini laras panjang Komandan." Imbuh Miko lagi sembari memberikan senapan laras panjang untuk Komandan Kaivan berjaga-jaga.
"Jangan lupa pegangan yang erat, Dokter. Supaya Dokter tidak jatuh." Kata Miko yang memperingatkan dengan senyuman.
"Cepat pergi atau saya pukul dahimu dengan senapan." Ujar Komandan Kaivan yang mengerti dengan ledekan Ajudannya itu.
"Siap, Ndan! Saya berangkat sekarang." Sahut Miko yang bergegas berlari.
Komandan Kaivan kemudian menyelendangkan senapan laras panjangnya di dada. Ia kemudian menatap ke arah Silvana yang masih menggelengkan kepala sambil melihat ke arah Miko yang berlari.
"Pakai ranselmu di depan, supaya lebih aman." Kata Komandan Kaivan yang langsung di turuti oleh Sisil.
Komandan Kaivan kemudian naik terlebih dulu ke motor trailnya. Ia kemudian mengulurkan tangan untuk membantu Sisil naik ke boncengan.
"Maaf, Ndan. Saya pegangan." Izin Sisil yang kemudian memegang baju di bagian pinggang kanan dan kiri Komandan Kaivan.
Komandan Kaivan justru menarik tangan Sisil hingga kini melingkar di perutnya.
"Pegangan yang erat." Ujar Komandan Kaivan setelah menarik tangan Sisil.
duh penasaran bin penisirin ini
Ayo komandan cpet datang...
jgn smpae ad prtumpahan darah y thor 😡😡😡
semangat untuk terus berkarya kak, selalu keren untuk ceritamu, semoga selalu diberi kesehatan agar selalu bisa berkarya 🫰
semangat Thor