Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Jejak yang Tersisa
Hari-hari berikutnya berjalan bagai berjalan di atas pecahan kaca yang tajam — setiap langkah terasa menyakitkan, menyisakan perih yang tak terlihat namun terasa di setiap sudut hati, namun tak ada satu pun dari mereka yang berani berhenti atau berbalik arah. Yb berangkat pagi-pagi sekali, bahkan sebelum sinar matahari pertama menyentuh ufuk timur, wajahnya semakin tampak lelah dan pucat, namun di balik kelelahan itu, matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan. Tinggal satu langkah lagi, satu tanda tangan terakhir yang sah, dan urusan panjang ini akan selesai sepenuhnya. Setiap kali ia pulang saat langit sudah berwarna gelap pekat, ia menyapa dengan senyum yang dipaksakan, berusaha tampil tenang seakan tak ada sesuatu yang berubah, namun keheningan yang menyambutnya di dalam rumah itu terasa semakin berat, menekan dada siapa pun yang berada di dalamnya.
Karen tidak lagi banyak bertanya seperti hari-hari sebelumnya. Ia tidak lagi menatap langsung, tidak lagi meminta penjelasan berulang-ulang. Namun justru keheningan barunya inilah yang membuat suasana semakin mencekam. Ia mengamati — diam-diam, dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka, dari balik halaman buku yang matanya tak benar-benar membaca, dari balik jendela yang memandang ke arah gerbang setiap kali suara kendaraan terdengar. Ia mencatat setiap hal kecil yang sebelumnya tak pernah ia perhatikan: bagaimana Yb menatap Cynthia saat mengira tak ada mata yang melihat, bagaimana mereka saling bertukar pandang sejenak sebelum berpisah, bagaimana Cynthia selalu tahu kapan Yb akan pulang, seakan ada pesan yang sampai lebih dulu sebelum pria itu sendiri tiba di depan pintu.
Suatu sore, saat Yb sedang beristirahat di kamar mandi sejenak setelah sampai di rumah, ponselnya tertinggal di atas meja ruang tengah. Layarnya menyala pelan, bergetar halus — sebuah pesan masuk. Karen melirik ke arah benda itu, bukan bermaksud mengintip, namun nama yang tertera di layar membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak. Bukan nama rekan kerja, bukan nama kerabat jauh, bukan nama siapa pun yang wajar. Itu nama Cynthia. Tangan Karen gemetar hebat. Ia tahu ia seharusnya tidak melakukannya, ia tahu itu bukan haknya, namun rasa takut yang bercampur curiga mendorongnya mendekat. Ponsel itu terkunci, namun sekilas ia sempat membaca sebagian isi pesan yang terlihat di layar: "Hati-hati, tanda tangan terakhir akan segera..." — kalimat itu terpotong di sana, tak bisa dibaca lebih lanjut.
Napas Karen tercekat di tenggorokannya. Tanda tangan terakhir? Apa yang sedang ditandatangani? Mengapa Cynthia yang mengingatkannya? Dan mengapa semua ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi, seakan sesuatu yang keliru dan tak boleh diketahui? Ia meletakkan ponsel itu kembali secepat mungkin, seakan benda itu terbakar panas, lalu duduk kembali di kursinya dengan tangan yang masih gemetar, dadanya sesak oleh ribuan pertanyaan yang tak kunjung terjawab.
Malam itu, saat mereka bertiga duduk di ruang tengah dalam keheningan yang panjang, Karen akhirnya menatap Cynthia tajam, tak lagi menyembunyikan kegelisahannya.
"Cynthia..." suaranya terdengar pelan namun tegas, memecah kesunyian yang terasa mencekam. "Kau mengirim pesan ke Yb tadi sore, bukan? Saat ponselnya tertinggal di sini."
Cynthia terkejut sejenak, namun segera menguasai dirinya, menarik napas panjang agar suaranya tetap tenang. "Ya. Hanya mengingatkan soal jadwal pertemuan kerja yang akan datang. Tidak lebih dari itu."
Karen tidak melepaskan pandangannya, matanya menyelidik setiap perubahan ekspresi wajah kakaknya. "Jadwal kerja? Padahal pesannya menyebutkan soal tanda tangan. Tanda tangan apa itu? Apakah berkaitan dengan urusan rumah yang sedang diurus Yb?"
Cynthia terdiam sejenak, menyusun kata-kata dengan sangat hati-hati agar tidak membocorkan kebenaran sebelum waktunya. "Ada banyak hal yang memerlukan tanda tangan, Karen. Bukan hanya soal rumah. Jangan berprasangka buruk sebelum mengetahui kenyataannya secara utuh."
"Jangan menyuruhku tidak berprasangka!" Karen berdiri perlahan, napasnya memburu, perutnya yang membesar terasa semakin berat saat ia berdiri tegak. "Kalian menyembunyikan sesuatu dariku! Kalian berdua berbicara diam-diam, pergi diam-diam, mengirim pesan diam-diam! Rumah ini yang kupikirkan sebagai tempat keluargaku sendiri kini terasa asing bagiku! Seakan akulah orang asing yang hanya numpang tinggal di sini!"
"Kau salah paham," jawab Cynthia lembut, ikut berdiri agar sejajar dengan adiknya. "Tidak ada yang menyembunyikan apa-apa darimu dengan niat buruk. Percayalah, semua ini akan segera jelas saat waktunya tiba."
"Segera jelas?" Karen tertawa pahit, air mata mulai menggenang di matanya, menahan agar tak jatuh. "Sudah berapa lama kata 'segera' itu kukatakan pada diriku sendiri? Sudah berapa lama aku menunggu kepastian yang tak kunjung datang? Katakan padaku sekarang juga — apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang sedang kalian ambil dariku di belakang punggungku?"
Yb yang sejak tadi hanya diam akhirnya angkat bicara, suaranya tenang namun tegang, berusaha menenangkan istrinya. "Karen, tenanglah. Tidak ada yang mengambil apa pun darimu. Semua ini hanya urusan berkas yang harus diluruskan agar tidak ada masalah di kemudian hari. Itu saja."
"Itu saja?" Karen menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca, tak percaya. "Mengapa terasa begitu berat untuk diucapkan jika memang itu saja? Mengapa Cynthia yang selalu tahu lebih dulu? Mengapa aku dibiarkan dalam ketidaktahuan seolah aku bukan siapa-siapa di sini?"
Suasana hening seketika. Tak ada yang berani menjawab, tak ada yang sanggup mengucapkan kebenaran yang akan mengubah segalanya sebelum waktunya. Karen menatap mereka berdua bergantian, lalu perlahan mengangguk pelan, seakan menerima sesuatu yang menyakitkan di dalam hatinya.
"Baiklah... Aku tidak akan memaksakan kalian bicara sekarang," ucapnya pelan, suaranya bergetar menahan tangis. "Tapi ingat satu hal. Aku mungkin belum tahu segalanya saat ini, tapi aku akan mengetahuinya. Dan saat hari itu tiba, aku tidak akan diam saja."
Dengan itu, ia berbalik perlahan menuju kamar, meninggalkan Yb dan Cynthia yang saling bertukar pandang — tatapan yang penuh kekhawatiran, namun juga penuh tekad. Urusan ini belum sepenuhnya selesai, tinggal satu langkah lagi. Namun setiap hari yang berlalu membuat mereka semakin sadar satu hal: saat kebenaran akhirnya terungkap, tak ada satu pun dari mereka yang akan tetap sama seperti semula.
Beberapa hari kemudian, Yb pulang dengan wajah yang pucat namun terlihat lega, seakan beban berat yang dipikulnya selama berbulan-bulan perlahan terangkat dari pundaknya. Ia mencari kesempatan berbicara dengan Cynthia saat Karen sedang beristirahat di kamarnya.
"Selesai," bisiknya pelan, suaranya bergetar menahan emosi. "Sertifikat sudah sah kembali atas namamu. Semua urusan administrasi telah beres sepenuhnya."
Cynthia mengangguk perlahan, matanya berkaca-kaca — bukan karena gembira semata, melainkan karena beban yang selama ini dipikulnya kini berakhir, digantikan oleh kenyataan bahwa langkah selanjutnya adalah yang paling berat dari semuanya. "Terima kasih, Sayangku." Ia menatap pria itu lekat-lekat. "Tapi Karen semakin curiga. Ia tidak akan diam begitu saja."
"Aku tahu," jawab Yb pelan, menundukkan pandangannya. "Aku akan mencari cara untuk menjelaskan semuanya kepadanya. Dengan cara yang paling baik dan paling tenang."
Namun di kamar yang lain, Karen terjaga. Ia tidak mendengar kata-kata itu secara utuh, namun nada suara mereka terdengar cukup jelas — nada kelegaan, nada rahasia, nada sesuatu yang besar telah terjadi. Sesuatu yang mengubah segalanya. Ia menarik napas panjang, menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang dadanya. Ia belum tahu persis apa yang telah diambil darinya, namun ia merasakannya — kepemilikan atas rumah ini, atas kepercayaannya, mungkin juga atas hatinya sendiri, sedang perlahan berpindah ke tangan orang lain. Dan ia tidak akan membiarkannya terjadi tanpa mengetahui kebenaran yang sebenarnya.