Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.
Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
Dr. Aris, dokter pribadi keluarga Blackwood yang telah mengabdi selama dua dekade, perlahan menggunting lapisan perban lama di bahu Eva.
Dengan jemari yang terampil dan hati-hati, ia membersihkan bekas jahitan sepanjang sepuluh sentimeter yang melintasi tulang selangka wanita itu.
Dominic berdiri dua langkah di samping tempat tidur. Jas hitam kustom yang dikenakannya tampak rapi tanpa cela, namun kedua matanya mengunci penuh kewaspadaan pada setiap gerak-gerik sang dokter.
"Bagaimana perkembangannya, Aris?" suara Dominic bergaung rendah, memecah keheningan kamar.
Dr. Aris mengoleskan lapisan tipis salep penutup luka sebelum memasang lapisan kasa steril yang baru. "Jahitannya mengering dengan sangat baik, Tuan Dominic. Kecepatan pemulihan jaringan otot Nyonya Evie sungguh luar biasa. Namun, pembuluh darah di sekitar tulang selangka masih rentan terhadap tekanan fisik yang mendadak."
Dokter tua itu merapikan peralatan medisnya, lalu membungkuk hormat ke arah Eva. "Saya menyarankan Nyonya tidak menggunakan lengan kanan untuk mengangkat beban atau melakukan gerakan impulsif selama tiga hingga empat hari ke depan."
"Terima kasih, Dokter," sahut Eva halus. Ia menarik lengan gaun sutra mewahnya ke atas bahu, menutupi balutan kasa baru tersebut.
Setelah Dr. Aris melangkah keluar dan menutup pintu rapat-rapat, Dominic mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur. Jemari besarnya yang hangat meraih tangan kiri Eva, mengusap punggung tangannya dengan kelembutan yang kontras dengan aura mematikan yang biasa dibawanya.
"Kau yakin merasa cukup kuat untuk turun hari ini, Evie?" tanya Dominic, matanya menatap dalam ke iris hazel Eva. "Kita bisa menundanya hingga besok jika kau merasa pusing."
Eva menyunggingkan senyum tipis. "Aku baik-baik saja, Dominic," jawab Eva, suaranya sangat lembut.
"Menunda hanya akan membuat rasa cemas di dadaku makin parah. Jika rahasia di bawah tanah itu bisa memberi kita jawaban tentang siapa yang mengincar nyawamu... aku ingin membukanya bersamamu hari ini."
Dominic memejamkan matanya sejenak, menyerap setiap kata yang diucapkan Eva bagaikan penawar dari rasa curiga yang selama ini menggerogoti hidupnya di dunia bawah. Ia mengepalkan jemarinya di sekeliling tangan Eva, lalu mengecup kening wanita itu lama.
"Baiklah," bisik Dominic di depan kening Eva. "Kita turun sekarang."
Dominic berdiri di depan perapian batu besar kamar utama. Dengan gerakan terampil yang sudah dihafalnya sejak kecil, pria itu menekan tombol tersembunyi di balik ukiran batu berbentuk kepala singa di sisi kiri perapian.
Klak.
Mekanisme internal berbunyi halus. Panel dinding granit itu bergeser perlahan, menyingkapkan lorong rahasia berdinding batu yang sama persis dengan yang dilihat Eva semalam saat konfrontasinya dengan Madam Vane.
Namun kali ini, lorong tersebut diterangi oleh pendar lampu dinding kekuningan yang menyala otomatis saat mekanisme terpicu.
Dominic merangkul pinggang kiri Eva dengan protektif, menyangga sebagian beban tubuh wanita itu saat mereka mulai melangkah turun menuruni anak tangga batu yang dingin dan lembap.
Suara langkah sepatu kulit Dominic dan helaan napas Eva bergaung pelan di antara dinding lorong yang sempit.
"Tempat ini dibangun oleh kakekku pada tahun 1970-an," jelas Dominic pelan seraya menuntun Eva menyusuri tangga melingkar.
"Hanya tiga orang yang memegang akses masuk penuh, Kakek, Ibu, dan Nenek Eleanor. Setelah Tragedi St. Jude 2012, Nenek menyegel ruangan ini dan melarang siapa pun turun tanpa izin khusus dari Tiga Faksi."
Eva mendengarkan dengan cermat, membiarkan pikirannya mencerna setiap informasi tanpa memperlihatkan ketajaman analisisnya.
"Apakah... apakah ibumu sering turun ke sini sebelum dia meninggal, Dominic?" pancing Eva halus, menjaga agar nadanya terdengar seperti pertanyaan polos seorang menantu yang ingin tahu sejarah keluarga.
Mata Dominic meredup tipis. "Ibu mengurus seluruh arsip pendiri di ruangan ini. Sebelum malam pembantaian itu terjadi, Ibu menghabiskan waktu tiga hari penuh terkurung di dalam Brankas Besi Kelabu. Nenek bilang... Ibu sedang mencari tahu tentang adanya penyusupan di dalam Konsorsium."
"Pasti penyusupan dari sosok berinisial G.B.," batin Eva membulat.
Mereka akhirnya tiba di dasar tangga batu.
Di ujung lorong, berdiri sebuah pintu besi raksasa berwarna abu-abu gelap berlapis baja murni, Brankas Besi Kelabu.
Pintu itu memiliki tiga selinder kunci mekanis bundar berukir rumit di bagian tengahnya, tanpa ada tombol elektronik atau layar sentuh modern. Tempat ini adalah kuburan rahasia yang dirancang untuk bertahan dari ledakan dan zaman.
Di depan pintu besi raksasa tersebut, dua figur telah berdiri menunggu.
Madam Vane berdiri kaku dengan gaun hitam tingginya, memegang tongkat kayu hitam dengan kedua tangan. Di sampingnya, Viktor berdiri tegap memegang sebuah kotak baja kecil berenkripsi yang dibawa dari kamar kerja Lady Eleanor.
Mata Madam Vane menyapu tubuh Eva yang dirangkul oleh Dominic. Tidak ada sedikit pun riak terkejut atau referensi tentang konfrontasi rahasia mereka pada pukul dua dini hari tadi pada wajah batu karang wanita tua itu. Wajahnya tetap dingin, profesional, dan tak tersentuh emosi.
"Tuan Dominic. Nyonya Evie," sapa Madam Vane dengan anggukan kepala yang sangat kaku.
"Apakah Nenek sudah memberikan kode kuncinya, Viktor?" tanya Dominic.
Viktor mengangguk tegas. "Nyonya Besar telah mengesahkan pembukaan brankas tingkat dua pagi ini. Kode selinder pertama dan kedua sudah disinkronkan."
Dominic melangkah mendekati pintu besi raksasa itu. Dari dalam saku jasnya, ia mengeluarkan stempel otorisasi logam mawar berduri tiga milik Lady Eleanor, stempel yang sama yang dipegang Eva semalam dan memasukkannya ke dalam selinder kunci utama di tengah pintu.
Klak... klak... klak...
Dominic memutar selinder logam itu tiga kali ke kanan dan dua kali ke kiri. Suara batangan besi tebal yang bergeser di dalam pintu bergema berat, memecah kesunyian ruangan bawah tanah.
Pintu besi raksasa seberat dua ton itu perlahan terdorong terbuka ke luar, menghembuskan udara dingin berbau kertas tua, kulit buku rapuh, dan aroma kimia pengawet dokumen yang telah terkurung selama belasan tahun.
Bagian dalam Brankas Besi Kelabu berukuran setara dengan aula perpustakaan kecil. Dinding-dindingnya dilapisi oleh rak-rak kayu mahoni tua yang dipenuhi oleh ribuan map arsip, buku induk berpenjilid kulit tebal, dan kotak-kotak logam bernomor seri.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kayu jati besar dengan lampu meja kuningan yang masih menyala redup.
"Kau bisa menunggu di luar, Viktor," perintah Dominic seraya menuntun Eva melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Siap, Tuan," jawab Viktor, melangkah mundur dan bersiaga di ambang pintu bersama Madam Vane.
Eva melangkah perlahan di atas lantai kayu yang berderit tipis. Pandangan mata hazelnya menyapu rak-rak arsip di sekelilingnya dengan ketelitian yang luar biasa.
Di tempat inilah seluruh riwayat darah, pengkhianatan, dan kesepakatan haram Konsorsium Verona Heights disimpan secara rapi.
Dominic membawa Eva mendekati meja jati di tengah ruangan. Pria itu menarik sebuah laci besi berlabel Dewan Pendiri Pendahulu (1998-2012) yang terkunci dengan gembok tembaga tebal.
Dengan kunci kecil dari kantongnya, Dominic membuka gembok tersebut dan mengeluarkan sebuah buku induk tebal berpenjilid kulit hitam.
Buku induk itu berdebu tebal. Dominic mengusap sampulnya sebelum membukanya di atas meja.
"Ini adalah buku induk pendirian Konsorsium sebelum Tragedi St. Jude," kata Dominic, suaranya terdengar sangat berat.
"Setiap pimpinan faksi dan anggota Dewan Pendiri wajib menandatangani lembar janji kesetiaan di buku ini."
Eva memajukan tubuhnya mendekati meja, menyandarkan tangan kirinya di tepi kayu. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya saat Dominic mulai membalik lembaran demi lembaran kertas tipis bergelombang tersebut.
...Bersambung... ...