Indonesia
NovelToon NovelToon
Abi Baik, Abi Gak Jahat

Abi Baik, Abi Gak Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:649
Nilai: 5
Nama Author: Eritasyofia

Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ternyata Aku Lansia itu

Winta menyuruh anaknya Dinda istirahat di kamar, dan dipun masuk kamarnya.

Entah alasan apa yang akan dikatakannya pada Rangga karena Rangga sudah dikamar hotel.

Dia terus menggenggam handphone nya.

" Umi.."

Chat Rangga masuk.

" Abi, umi gak bisa keluar, Dinda tiba tiba pulang karena demam, maafkan umi."

" Terus gimana ni umi ."

" Abi sih buru buru aja, check in ."

" Oh ya udah lah Abi balik ke kantor lagi."

" Maafin umi ya bi."

" Gak apa apa sayang."

Setelah memastikan Dinda sudah tertidur pulas di kamarnya, Winta kembali ke dalam kamar lalu mengunci pintu dari dalam. Ia terduduk lemas di tepi ranjang. Napasnya masih terasa berat, berpacu dengan rasa bersalah sekaligus cemburu yang campur aduk membakar dadanya.

​Meskipun Rangga sudah membalas pesannya dengan nada tenang, kepalanya tetap dipenuhi bayangan cerita Dinda. Bayangan Rangga menyuapi wanita lain yang digambarkan “sudah berumur tapi cantik” terus berputar, mengikis rasa percaya yang selama ini ia bangun.

​Tanpa berpikir panjang lagi, Winta menyambar ponselnya. Ia merapikan rambutnya sebentar, menetralkan raut wajahnya yang sembap, lalu menekan ikon video call ke kontak Rangga.

​Hanya dalam tiga kali dering, panggilan itu diangkat.

​Layar ponsel menampakkan wajah Rangga yang sudah berada di dalam mobilnya, menyusuri jalanan kota menuju kantor. Dasi yang tadi pagi terpasang rapi kini sedikit dilonggarkan.

​"Halo, Umi... Kenapa, sayang? Kok wajahnya tegang gitu?"

tanya Rangga lembut, mencoba tersenyum di balik kemudi.

​Winta mengepalkan tangannya di balik layar ponsel. Rasa mual itu datang lagi.

​"Abi udah di jalan ke kantor?"

tanya Winta, berusaha menahan getar di suaranya.

​"Iya, ini Abi baru keluar dari parkiran hotel. Kasihan Umi kalau kepikiran Dinda terus, jadi Abi balik ke kantor aja. Lagian ada beberapa dokumen yang harus Abi tanda tangani sore ini,"

 jawab Rangga santai, tanpa curiga.

​Winta menatap lekat wajah Rangga di layar. Rambut plontosnya, garis brewok tipis yang baru dicukur, semuanya persis seperti yang diceritakan Dinda.

​"Bi..."

panggil Winta pelan.

​"Kenapa, Umi? Masih merasa bersalah gara-gara nggak bisa ketemu? Nggak apa-apa, sayang. Kesehatan Dinda lebih penting."

​"Bukan itu,"

potong Winta cepat. Matanya menatap lurus ke kamera ponsel, menuntut kejujuran.

 "Tadi Dinda pulang bawa cerita dari kantornya."

​Rangga menyempatkan melirik layar ponsel sebentar sebelum kembali fokus ke jalanan.

 "Cerita apa? Soal pekerjaan dia?"

​"Soal teman kantornya yang hari itu pernah makan di restoran. Temannya melihat pria berambut plontos dengan brewok tipis... lagi menyuapi wanita setengah baya yang modis di meja pojok."

​Gerakan tangan Rangga di kemudi mendadak kaku. Tatapannya yang tadi santai berubah sekilas, meski ia berusaha tetap tenang.

​"Lalu?"

tanya Rangga, suaranya sedikit menurun.

​"Teman Dinda kenal sama pria itu. Katanya... pria itu mirip banget sama Pak Rangga, bos divisi sebelah. Gosip itu sudah meluas di kantor Dinda, Bi,"

ujar Winta dengan suara tertahan. Air mata yang sejak tadi ia bendung akhirnya menetes di pipinya.

"Pria itu... Abi, kan?"

​Rangga menghentikan mobilnya tepat saat lampu merah menyala. Ia mengambil ponselnya dan menatap Winta dengan raut wajah kaget bercampur heran.

​"Umi... Umi nangis karena cerita itu?"

tanya Rangga ragu.

​"Jawab jujur, Bi! Siapa wanita yang Abi suapi di restoran waktu itu ? Apa Abi sengaja nyari wanita lain di luar sana? Kalau Abi cuma mau main-main, kenapa harus sama aku? Kenapa Abi tega."

​"Umi, tunggu! Dengarkan Abi dulu!"

potong Rangga dengan nada sedikit meninggi namun panik melihat Winta terisak.

​Rangga menarik napas panjang, lalu memijat pangkal hidungnya. Rasa bingung dan ingin tertawa mendadak menyelimuti pikirannya saat menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

​"Umi... wanita berumur yang modis, yang Abi suapi di restoran waktu itu... itu Umi sendiri!" tegas Rangga.

​Winta tertegun. Isakannya terhenti seketika.

 "Maksud Abi apa?"

​" Bukannya dua hari yang lalu kita makan berdua , siapa yang Abi suapi es krim di meja pojok restoran? Siapa wanita yang duduk di depan Abi waktu itu , Umi?"

 Rangga menggelengkan kepalanya, menatap Winta dengan tatapan gemas bercampur tidak percaya.

​"Teman Dinda itu... lihat kita berdua dua hari lalu. Tapi karena dia nggak kenal Umi, dia cuma bisa deskripsiin Umi sebagai wanita yang udah berumur tapi cantik!"

lanjut Rangga.

​Darah Winta yang tadinya terasa dingin mendadak mendidih oleh rasa malu yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Matanya membelalak, mengingat kembali momen makan siang mereka waktu itu. Makanan manis yang disuapkan Rangga, posisi meja mereka yang memang berada di pojok restoran... semuanya cocok.

​"Bi... jadi... yang diceritain Dinda itu..."

suara Winta mencicit, kehabisan kata-kata.

​"Iya, sayang. Yang digosipin selingkuhan Abi di kantor Dinda itu Umi sendiri,"

sahut Rangga sambil terkejut pelan, mencoba mencairkan suasana.

 "Abi nggak ada wanita lain. Cuma Umi."

​Winta menutup wajahnya dengan sebelah tangan, tidak sanggup menatap layar ponsel lagi. Rasa cemburu buta dan ketakutannya berubah menjadi kepanikan baru yang jauh lebih mengerikan.

​Jika gosip itu adalah tentang dirinya dan Rangga, artinya posisi mereka berdua berada di ujung tanduk, dan Dinda bisa saja menyadarinya kapan saja, istri Rangga akan mencarinya dan dia akan di ejak pelakor tua.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!