Empat tahun lamanya Arunika mengalah dan hidup sebagai istri pajangan, demi menghormati amanah almarhum ayahnya. Namun, segalanya hancur saat ia mendengar rencana kejam Saka. Pria itu berniat menikah lagi dengan kekasihnya, namun menolak menceraikan Arunika hanya karena butuh statusnya demi warisan keluarga Daniswara. Saka mengira Arunika wanita lemah yang akan pasrah dipoligami.
Kekecewaan mendalam itu justru membangkitkan sisi cerdas yang selama ini Arunika sembunyikan. Tanpa labrakan histeris, Arunika menyusun skenario skakmat dalam senyap. Tepat di hari pernikahan megah Saka, ia melangkah pergi membawa dokumen cerai dan menayangkan video perselingkuhan suaminya di gedung pesta. Sebuah langkah sunyi yang tidak hanya menyelamatkan harga dirinya, tetapi juga menjadi awal runtuhnya seluruh takhta palsu yang Saka banggakan.
Ingin tahu kisah selengkapnya? Yuk ikuti cerita Langkah Sunyi Arunika hanya di NovelToon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Undangan Pak Baskoro
Setelah kecurigaan terhadap kepulangan Valerie yang penuh tanda misterius di lehernya ia abaikan demi kewarasannya, fokus Saka kembali tertuju pada pelacakan mantan istrinya. Karena hari-hari setelah putusan cerai yang sudah resmi diputuskan oleh pengadilan agama Jakarta Pusat sama sekali tidak memberikan ruang napas bagi Saka. Alih-alih mereda, badai di dalam hidupnya justru kian mengganas.
Setiap pagi, ruang kerjanya yang ada di kantor pusat Daniswara Group dipenuhi tumpukan berkas laporan keuangan yang kian memerah. Jajaran dekanat dan dewan direksi Daniswara Group terus-menerus menuntut kejelasan darinya untuk memulihkan sentimen pasar dan menstabilkan harga saham perusahaan yang kembali turun setelah Saka dan Arunika resmi bercerai.
Selama ini Saka membohongi publik, mebranding dirinya sebagai sosok suami yang sayang dan selalu mementingkan kebahagiaan istrinya dengan memberikan hadiah-hadiah mewah. Sekarang, sosok Saka yang diidolakan sebagai suami idaman lenyap sudah, akibat perselingkuhannya yang dibuka oleh Arunika. Nama Saka tidak lagi harum dan diidolakan seperti sebelumnya.
Di tengah himpitan korporasi tersebut, obsesi Saka untuk menemukan Arunika telah mencapai titik puncaknya. Saka sudah seperti orang yang kehilangan akal sehat. Di tambah rumah tangga yang dia bangun bersama Valerie jauh dari kata bahagia seperti yang dia bayangkan selama ini. Rumahtangga yang hampir setiap hari diisi dengan keributan, tidak ada kata hangat dan damai yang Saka rasakan seperti saat dia bersama Arunika.
Demi bisa menemukan Arunika, Saka mengerahkan seluruh jaringan lamanya. Fokus pencarian pun bukan lagi hanya di Jakarta saja. Saka mencoba mencari di beberapa daerah yang mungkin saja akan menjadi tujuan Arunika. Dan benar saja, salah satu anak buah Saka menemukan sosok Arunika sempat berada di Stasiun Gambir, dari rekaman CCTV Stasiun yang dia dapatkan dengan bayaran mahal.
Namun hal baik belum berpihak padanya, Saka belum mendapatkan hasil dan titik terang tentang keberadaan Arunika. Anak buah Saka tidak menemukan identitas istrinya sebagai salah satu penumpang kereta api malam itu.
"Mungkin dia menggunakan Bus! Segera lacak nama Arunika di terminal bus yang ada di sekitar Stasiun!" perintah Saka melalui sambungan telepon sebelum dia tutup.
"Aku harus menemukan kamu Arunika," gumam Saka parau pada kesunyian ruang kerjanya, menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi yang teramat dalam.
"Jika Arunika kembali berdiri di sampingku dan bersedia membuat pernyataan bersama di depan publik bahwa hubungan kami membaik. Saham perusahaan pasti akan kembali pulih. Posisi CEO atas ancaman wasiat Papa akan aman. Aku harus membawa dia kembali!"
Saka terus saja beralasan semua untuk kebaikan saham perusahaan dan posisinya demi membentengi egonya sebagai laki-laki yang hancur, menolak mengakui bahwa rasa sesak di dadanya murni karena rasa kehilangan atas ketulusan Arunika.
Namun, sekeras apa pun Saka mencari, langkah sunyi Arunika terlalu rapi untuk bisa ditembus. Jejak mantan istrinya terputus total tanpa celah.
Ketegangan yang kian mencekik itu mendadak mencapai titik balik ketika sebuah kurir resmi dari kantor hukum Pak Baskoro mendatangi tiga tempat berbeda di Jakarta secara serentak sore itu. Sebuah amplop tebal berwarna hitam dengan segel lilin merah resmi mendarat di tangan Tuan Agung Daniswara di kediaman utama, di tangan Lina di rumah pribadinya, serta di tangan Saka.
Isi di dalam amplop tersebut adalah pemberitahuan hukum formal yang sangat ringkas namun sarat akan tekanan mutlak. Pemberitahuan Resmi Pembacaan Wasiat Akhir dan Seluruh Lampiran Hukum Mendiang Tuan Raditya Daniswara. Mengundang Tuan Besar Agung Daniswara, Ibu Lina, dan Tuan Saka untuk hadir secara wajib tanpa diwakili, pada hari Kamis pukul sepuluh siang, bertempat di Ruang Perpustakaan Pribadi Kediaman Utama Daniswara.
Membaca surat undangan tersebut, jantung Saka berdegup kencang tak beraturan. Ini adalah momen yang paling ditakuti sekaligus dinantikannya. Status pernikahannya dengan Arunika kini sudah resmi berakhir di mata hukum, yang berarti benteng formalitas penundaan wasiat telah runtuh. Pak Baskoro akhirnya akan membuka kotak pandora yang selama ini dikunci rapat di dalam brankas bajanya. Saka menarik napas dalam, meyakinkan dirinya bahwa sebagai cucu laki-laki kesayangan dan anak kandung dari Raditya, seluruh takhta Daniswara Group akan tetap jatuh ke tangannya sesuai isi wasiat pertama yang dia ketahui selama ini.
Sementara itu, Arunika yang sedang Saka cari keberadaannya, tengah menikmati suasana sore di ruang tengah rumah Ibu Sandra sambil menikmati teh hangat buatan Bibi Sumi. Di tangannya, surat pemberitahuan yang sama juga telah diterima oleh Arunika melalui salinan digital yang dikirimkan oleh pengacaranya.
Sore itu juga, Arunika menghubungi Pak Kevin, pengacara yang dikenalkan oleh tante Ayu untuk membantu mengurus perceraiannya. Dalam satu kali panggilan, sudah terdengar suara Pak Kevin di seberang sana. Mengucap salam dan saling bertanya kabar yang Arunika ucapkan sebelum mereka masuk ke dalam pokok pembicaraan. Di samping Arunika, Anggita dan Mas Anggoro ikut mendengarkan percakapan tersebut, karena Arunika menggunakan panggilan video.
"Ibu Arunika, seperti yang sudah Anda baca, Pak Baskoro sangat mengharapkan kehadiran Anda di rumah utama keluarga Daniswara," ucap Pak Kevin dengan nada suara yang teramat santun dan profesional. "Secara hukum, Pak Baskoro sangat mengharapkan kehadiran Anda saat pembacaan wasiat, mengingat Anda adalah salah satu pihak utama yang disebutkan di dalam lampiran dokumen rahasia milik mendiang Tuan Raditya."
Mendengar permintaan tersebut, Mas Anggoro langsung menegakkan punggungnya dengan tatapan penuh proteksi sebagai seorang kakak. "Nika, jangan pergi ke Jakarta. Di sana terlalu berbahaya untuk kondisimu saat ini. Saka dan ibunya pasti akan menggunakan segala cara untuk menekan mentalmu jika mereka melihat kamu secara langsung."
Arunika tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh ketegasan, ketenangan, dan kecerdasan seorang yang mahir menjalankan strategi yang tidak akan membiarkan emosi merusak langkah taktisnya. Dia sudah jauh dari Saka dan keluarga Daniswara. Langkah sunyinya sudah membawa Arunika sampai sejauh ini. Sungguh akan terlihat bodoh jika dia tiba-tiba menampakkan diri pada saat wasiat mantan ayah mertuanya di bacakan. Arunika tidak akan membiarkan dirinya kembali ke dunia yang tidak pernah menghargai dirinya. Dan itu semua dia lakukan untuk keamanan anak yang ada di dalam kandungannya.
"Aku tidak akan datang ke Jakarta, Pak," ucap Arunika dengan nada suara yang sangat tenang dan berwibawa. "Keputusanku sudah mutlak. Saya menolak untuk hadir dipertemuan besok di rumah utama Daniswara. Silakan Pak Kevin, sebagai kuasa hukum pribadi saya yang sah, hadir di pertemuan besok di rumah utama untuk mewakili seluruh hak Saya atas apa pun isi dari wasiat almarhum Papa mertua. Saya akan tanda tangani surat kuasanya untuk menguatkan posisi Anda mewakili saya, Pak."
Arunika mengusap perutnya yang masih rata dengan kehangatan yang tulus, mengirimkan janji perlindungan kepada janin di rahimnya. "Aku memilih tetap tinggal di Yogyakarta. Fokus hidup saya saat ini adalah mempersiapkan diri untuk masa depan, menjaga kesehatan anak saya, dan menikmati kedamaian dan ketenangan bersama keluarga saya di kota ini. Saya tidak ingin atmosfer keserakahan, kebohongan, dan kegilaan hormat keluarga di Jakarta meracuni ketenangan batin saya maupun merusak keselamatan anak di dalam rahim saya ini. Biarkan hukum yang bekerja mewakili langkah saya di sana."
Pengacara Arunika tertegun sesaat, mengagumi keteguhan mental dan kedewasaan cara berpikir klien mudanya yang selalu melangkah beberapa jengkal di depan ego musuh-musuhnya. Beliau menunduk takzim dengan rasa hormat yang mendalam. "Baik, Ibu Arunika. Mandat Anda saya terima secara sah. Saya yang akan menggantikan Anda dan memastikan seluruh hak Anda berdiri tegak di hadapan keluarga Daniswara tanpa kurang satu jengkal pun."
Malam itu, di saat kesunyian mulai memeluk kota Yogyakarta, Arunika menutup hari dengan doa yang paling khusyuk di atas sajadahnya. Dia membiarkan Saka tetap meraba-raba ketakutannya di Jakarta, membiarkan mantan suaminya itu kelimpungan menyusun strategi kosong untuk menstabilkan saham perusahaan, sementara langkah sunyinya dari Yogyakarta telah mengunci rapat gerbang masa lalu.
yang pastinya mau balikan agar bisa jadi orang kaya lagi 🤣🤣🤣🤣
d kira gmpng gt buat ktmu sm nika.....🙄🙄🙄
stlh mnyesal krna udh mnykti arunika,sbntr lg bkln d ksih kjutan yg lain dr istri trcnta.....🙄🙄🙄
senengnya kalo arunika tetap di kelilingi org2 baik ,,
gx perlu km ketemu lgi dg saka ,, biar laa dy hdup yg telah di pilih ny ,,
slain kluarga,ada jg mas mahen yg diam2 prhtian....mnimal yg onoh ga bkln brani ngusik lg....
Lanjut thor👍👍