Indonesia
NovelToon NovelToon
THE DAY YOU WENT AWAY

THE DAY YOU WENT AWAY

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Cintapertama
Popularitas:387
Nilai: 5
Nama Author: Chikaku_chiko

Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.

Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.

Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.

Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Percakapan di Atas Ketinggian

Logika dan perasaan manusia sering kali berada di dua jalan yang saling bertolak belakang, dan Raisha sedang mempelajari kenyataan pahit itu dengan cara yang paling menyiksa.

Akal sehatnya secara terang-terangan meneriakkan fakta bahwa Aldo Otavian adalah sosok pria yang berbahaya, seorang manipulator dingin yang mempermainkan perasaan wanita demi kepuasan egonya sendiri. Logikanya tahu bahwa dia seharusnya merasa beruntung dan sangat lega karena telah lolos dari jeratan pria seperti itu sebelum melangkah terlalu jauh.

Namun, hatinya tidak bisa dibohongi dengan mudah. Rasa tertarik yang pertama kali meletup di dadanya itu tidak serta-merta mati begitu saja hanya dalam semalam.

Hati Raisha, yang baru pertama kali belajar berdetak dan merindukan seseorang sepanjang dua puluh empat tahun hidupnya, ternyata tidak memiliki tombol on-off yang bisa dimatikan sesuka hati.

Setiap kali dia tidak sengaja melihat sosok Aldo melintas di lorong kantor, dadanya masih saja berdesir pelan, sebuah desiran pahit yang kini bercampur dengan rasa kecewa dan sesak yang membakar. Padahal dia tahu bagaimana karakter Aldo yang sebenarnya, tapi hatinya lebih dominan untuk menerimanya. Sungguh bodoh.

Hingga pada suatu sore di hari Jumat yang berangin, Raisha merasa kepalanya terlalu penuh untuk tetap berada di dalam ruangan.

Dia memesan segelas Iced Coffee Latte melalui aplikasi ojek online, lalu membawa cangkir plastik itu naik menuju rooftop gedung kantor di lantai paling atas. Tempat terbuka itu adalah area favoritnya untuk melarikan diri sejenak dari tumpukan berkas dan gosip-gosip pantry yang melelahkan.

Raisha mendorong pintu besi rooftop yang agak berat. Udara sore yang dingin dan hembusan angin kencang langsung menyapa wajahnya. Namun, baru dua langkah dia menginjakkan kaki di atas lantai semen area terbuka itu, langkahnya mendadak terhenti kaku.

Di sudut pembatas pagar rooftop, berdiri seorang pria berkemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga ke siku. Jemarinya memegang sebuah rokok yang asapnya membumbung tipis di udara.

Itu Aldo.

Raisha menegang seketika. Sensasi terkejut bercampur cemas memukul dadanya. Tanpa berpikir panjang, Raisha berniat memutar badannya dan berjalan mundur secara perlahan untuk kembali masuk ke dalam gedung, berpura-pura tidak pernah datang ke sana.

"Gak apa-apa, ke sini aja. Aku gak merasa terganggu kok," suara baritone yang sangat dikenalinya itu mendadak memecah deru angin rooftop.

Aldo rupanya sudah menoleh sedikit dan mendapati keberadaan Raisha di dekat pintu besi. Pria itu menyunggingkan senyum tipis, senyuman santai yang sama seperti biasa, tanpa ada raut canggung sedikit pun.

Raisha terdiam di tempatnya selama beberapa detik. Jemarinya meremas gelas plastik latte-nya yang dingin hingga berembun. Melarikan diri sekarang justru akan membuatnya terlihat sangat pengecut dan rapuh di mata Aldo. Maka, dengan membuang napas pelan dan menata detak jantungnya yang kembali berpacu tidak beraturan, Raisha melangkah mendekat.

Dia memilih berdiri di samping Aldo, berjarak sekitar dua meter dari posisi pria itu, menyandarkan kedua siku tangannya di atas pagar pembatas besi rooftop.

Di depan mereka, hamparan gedung-gedung pencakar langit Jakarta membentang luas di bawah langit sore yang mulai memerah. Raisha menyedot Iced Coffee Latte-nya melalui sedotan, membiarkan rasa pahit-manis kopi dingin itu membasahi tenggorokannya yang mendadak terasa sangat kering.

Keheningan merayap di antara mereka selama beberapa menit, hanya diisi oleh suara deru angin dan bising kendaraan samar-samar dari jalan raya jauh di bawah sana.

"Kamu melihat pertengkaran aku sama Mita, kan?"

Pertanyaan santai dari Aldo itu mendadak memecah keheningan seraya menghantam pendengaran Raisha.

UHUK!

Raisha refleks tersedak hebat. Kaget. Kopi yang baru saja disedotnya hampir saja menyembur keluar. Dia terbatuk-batuk kecil, merapikan napasnya dengan cepat sambil memegang dadanya yang berdegup kencang karena terkejut luar biasa.

"Oh..." sahut Raisha akhirnya, berusaha sekuat tenaga menetralkan ekspresi wajahnya begitu terbatuknya mereda. Dia menyapu sudut bibirnya dengan tisu.

"Kupikir aku udah sembunyi dengan benar waktu itu... ternyata ketahuan ya?" ujar Raisha

Aldo mematikan puntung rokoknya di asbak besi terdekat, lalu menyunggingkan senyum tipis yang menunjukkan deretan giginya yang rapi. Binar matanya menatap Raisha dengan santai.

"Aku cuma mendengar langkah kaki mendekat yang kemudian berhenti mendadak tepat di belokan dinding," ujar Aldo menjelaskan secara rasional. "Jadi aku tahu pasti ada orang lain selain kami di lorong darurat itu."

Raisha menatap lurus ke arah pemandangan gedung-gedung tinggi di depannya, menahan rasa malu yang mendadak menyeruak.

"Aku... aku gak bermaksud nguping kok. Aku cuma mau balikin kunci ke ruang arsip terus gak sengaja dengar suara orang teriak."

"Aku tahu," sela Aldo cepat, senyumannya masih terpatri di wajahnya.

Tangannya bertumpu pada pagar pembatas, ikut menatap lurus ke depan.

"Kamu bukan tipe cewek yang suka sengaja nyari tahu urusan orang lain."

Dada Raisha berdesir mendengar ucapan Aldo. Bagaimana Aldo yakin kalau dirinya bukan tipe cewek seperti yang diucapkannya? Bahkan, untuk mulai mendekat saja dia sudah membentengi diri.

"Tapi.. Bagaimana kamu tahu kalau itu aku?" Raisha terheran dengan tebakannya Aldo.

"Feeling aja. Dan ternyata benar."

"Wah, feeling-mu sungguh jitu." sahut Raisha.

Aldo kembali tersenyum tipis.

"Langkah kakimu berbeda. Mungkin karena terbiasa melihatmu mondar-mandir ke pantry jadi dengan sendirinya aku mengenal langkah kakimu."

Entah itu sindiran atau memang dia memperhatikan, tapi Raisha agak sedikit tersipu bagaimana dirinya memang sengaja mondar-mandir untuk menarik perhatian Aldo.

Nada suara Aldo yang tenang dan seolah tidak merasa bersalah sama sekali atas apa yang dilakukannya pada Mita, atau bahkan pada Raisha entah disadarinya atau tidak telah membuat sebuah rasa gelisah yang amat sangat membakar dada Raisha.

Bagaimana bisa seorang pria berdiri di sini, mengakui bahwa orang lain melihat kejahatan emosional yang baru saja diperbuatnya, dengan sikap senormal dan sesantai ini?

Raisha perlahan memutar posisi tubuhnya, menatap wajah samping Aldo dari jarak dekat. Keberanian yang tak pernah dia duga sebelumnya mendadak muncul dari dalam dirinya, didorong oleh rasa penasaran, rasa sakit hati, dan kebingungan yang menumpuk selama berpekan-pekan.

"Lalu... kenapa kamu begitu, Al?" tanya Raisha dengan suara yang pelan namun sangat menuntut kejujuran.

Aldo terdiam. Gerakan tangannya yang sedang memainkan korek api gas terhenti seketika.

Pria itu memutar kepalanya pelan, menyambut tatapan mata Raisha secara penuh. Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal, binar mata Aldo tidak lagi memancarkan kehangatan palsu atau godaan tebar pesona.

Yang tersisa di balik sepasang mata cokelat gelap itu adalah sebuah kedalaman yang sangat dingin, hampa, dan misterius yang sulit diartikan.

"Maksud kamu 'begitu' yang gimana, Ra?" tanya Aldo balik, suaranya kini terdengar sangat datar, menantikan seberapa jauh Raisha berani membongkar topeng yang dipakainya selama ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!