Nadira menikah dengan Arga karena percaya bahwa laki-laki itu akan menjadi tempatnya pulang. Namun setelah menikah, ia sadar bahwa yang ia nikahi bukan hanya Arga—melainkan seluruh keluarganya.
Ibu mertua yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan mereka. Adik ipar yang iri dan gemar mengadu domba.
Akankah Nadira tetap bersabar menghadapi sikap keluarga suaminya.Sementara Arga sang suami tak bisa bersikap tegas.Karena baginya Nadira dan keluarga sangat penting bagi hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
— KEPUTUSAN ARGA
Setelah menjawab pertanyaan Tante Mira, Arga mengajak Nadira masuk ke kamar.
Namun sebelum menaiki tangga, ia berhenti.
“Tante, nanti kita bicara lagi.”
Mira mengangguk paham.
Arga lalu menggenggam tangan Nadira.
Begitu mereka masuk kamar, Nadira langsung duduk di tepi tempat tidur.
“Aku malu sekali tadi.” ucap Nadira.
Arga tersenyum.
“Kenapa malu?”
“Pertanyaannya terlalu pribadi.”
“Memang.” ujar Arga singkat.
Arga duduk di sampingnya.
“Tapi kamu tidak perlu memikirkan ucapan siapa pun.”
Nadira menatap Arga dengan bingung.
“Aku cuma takut keluargamu menganggap aku tidak bisa memberikan keturunan.”
Arga langsung menggeleng.
“Jangan pernah berpikir begitu.”
“Tapi—”
“Aku menikah denganmu bukan untuk mendapatkan anak.”
Nadira terdiam tertunduk dengan lesu.
“Aku menikah denganmu karena aku mencintaimu.”
Mata Nadira langsung berkaca-kaca.
“Arga…”
Arga tersenyum.
“Kalau suatu hari kita punya anak, aku akan sangat bahagia.”
“Kalau belum?”
“Kita tetap bahagia.”
Nadira akhirnya tersenyum sambil memeluk sang suami dengan erat.Dan Arga membalasnya dengan mengecup kepala Nadira dengan lembut.
Sementara itu di ruang tamu, Bu Ratih masih duduk bersama Mira dan Rani.
Mira menghela napas.
“Arga sekarang benar-benar berubah.”
Bu Ratih menatap tangga.
“Iya.”
“Dia terlihat sangat membela Nadira.”
Rani langsung menyela.
“Karena Nadira pandai membuat Kak Arga kasihan.”
Mira menatap Rani.
“Kamu tidak menyukainya?”
Rani menggeleng.
“Tidak.”
Bu Ratih ikut berkata,
“Sejak awal Ibu juga merasa Nadira tidak cocok untuk Arga.”
Mira terdiam.
“Lalu kenapa mereka belum pindah?”
Bu Ratih menghela napas.
“Arga tidak mau.”
Mira tersenyum tipis.
“Kalau begitu, sulit.”
Bu Ratih menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena selama Arga masih berpihak kepada Nadira, kalian tidak akan bisa berbuat banyak.”
Rani mengepalkan tangannya.
Malam semakin larut.
Tante Mira akhirnya bersiap pulang.
Sebelum pergi, ia menghampiri Nadira.
“Nadira.”
“Iya, Tante?”
Mira tersenyum.
“Maaf soal pertanyaan tadi.”
Nadira mengangguk.
“Tidak apa-apa.”
Mira menatapnya sebentar.
“Kamu jangan terlalu memikirkan ucapan Bu Ratih.”
Nadira terkejut.
Mira hanya tersenyum.
“Dulu Bu Ratih juga sering terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain.”
Setelah mengatakan itu, Mira pergi.
Nadira masih berdiri di depan pintu.
Arga menghampirinya.
“Apa yang Tante katakan?”
“Nggak ada.”
Nadira tersenyum kecil.
Keesokan paginya, Arga turun ke ruang makan dengan membawa sebuah map.
Bu Ratih menatapnya.
“Apa itu?”
“Dokumen rumah.”
Rani mengerutkan kening.
“Rumah?”
Arga mengangguk.
“Aku dan Nadira akan pindah.”
Bu Ratih langsung terdiam.
“Tapi kemarin kamu bilang belum mau.”
“Aku berubah pikiran.”
Nadira yang baru turun dari tangga ikut terkejut.
“Arga?”
Arga menoleh dan tersenyum.
“Aku pikir-pikir lagi semalam.”
Ia menghampiri Nadira.
“Kamu benar.”
“Kita memang butuh rumah sendiri.”
Nadira tersenyum bahagia.
Bu Ratih langsung berdiri.
“Arga, kamu serius?”
“Sangat.”
“Kapan?”
“Dalam waktu dekat.”
Bu Ratih terlihat kecewa.
“Tapi kenapa?”
Arga menjawab tenang.
“Karena aku ingin kehidupan rumah tanggaku sendiri.”
Ia menggenggam tangan Nadira.
“Dan aku ingin Nadira merasa punya rumah, bukan sekadar tinggal di rumah orang lain.”
Nadira menatap Arga dengan mata berkaca-kaca.
Rani menunduk.
Sementara Bu Ratih hanya bisa diam.
Keputusan itu akhirnya dibuat.
Dan kali ini, tidak ada seorang pun yang bisa mengubahnya.
Karena Arga tidak sedang memilih antara ibunya dan istrinya.
Ia hanya sedang memilih untuk mulai membangun rumah tangganya sendiri.