Aisyah pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Raka akan bertahan selamanya. Selama lima belas tahun, mereka membangun keluarga sederhana dari nol, melewati susah dan senang hingga dikaruniai dua anak yang menjadi sumber kebahagiaan mereka.
Sampai suatu hari, suaminya mengaku telah jatuh cinta pada Nabila, sahabat Aisyah sendiri, dan meminta izin untuk menikahinya. Dengan hati yang hancur, pada akhirnya Aisyah mengizinkannya.
Namun, Aisyah tidak ingin menjadi.lemah. Demi anak-anaknya, dia mulai menyusun strategi. Hasil keringatnya bertahun-tahun, ia tak rela dinikmati oleh wanita lain yang sama sekali tak ikut berjuang.
Setelah Aisyah pergi, barulah Raka menyadari tak ada yang lebih baik dari Aisyah. Raka menyesal dan ingin kembali.
Namun, mampukan Aisyah melupakan luka ketika lelaki yang paling ia cintai pernah memilih wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
.
Empat hari berlalu tanpa membawa perubahan berarti. Aisyah tetap sama. Tenang, datar, dan hanya berbicara seperlunya. Bahkan setelah Raka berusaha meminta maaf, mengajak bernostalgia, hingga merendahkan harga dirinya dengan berlutut di hadapan wanita itu,
Aisyah masih saja bagaikan patung manekin. Wanita itu memang tidak menolak kehadiran Raka, tidak juga menyuruh pergi, tidak berteriak marah, tidak menangis. Namun sikapnya yang berubah menjadi dingin malah menjadi siksaan bagi pria itu.
“Kumohon jangan seperti ini, Syah. Marah lah! Maki atau pukul aku sesuka hatimu, tapi jangan menghukum aku dengan cara seperti ini.” Di tepi ranjang Raka menggenggam tangan Aisyah. Namun, wanita itu tetap bergeming.
Hingga akhirnya sore tiba, dan sudah waktunya Raka kembali ke rumah Nabila. Raka menarik nafas dalam dan bersiap meninggalkan rumah itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Sambil berdiri di samping mobil pria itu sempat menoleh ke belakang di mana ada Aisyah yang sedang mengawasi kedua anaknya yang sedang bermain semprot-semprotan menggunakan selang air.
Hati Raka bagai tercubit. Dulu, setiap kali dirinya akan pergi, Aisyah akan mengantarkannya sampai masuk ke dalam mobil, lalu berdiri sambil melambaikan tangan menunggu hingga mobilnya hilang dari pandangan. Namun sekarang tidak lagi. Wanita itu bahkan tidak bertanya kapan dia akan kembali, juga tidak berpesan untuk hati-hati di jalan.
Raka akhirnya masuk ke dalam mobil seraya menghela napas berat. Begitu pintu mobil tertutup, pria itu menatap ke arah spion, berharap bisa melihat dari kaca spion itu Aisyah menatap ke arahnya. Tapi tetap saja, yang ia harapkan sama sekali tak terjadi.
Raka tiba di rumah Nabila ketika hari telah gelap. Suasana di rumah itu jauh berbeda. Terlihat begitu hangat dan ceria. Saat ia baru saja membuka pintu dan hendak melangkah masuk, Nabila sudah berdiri menyambut dengan senyum lebar. Wanita itu bahkan sengaja mengenakan pakaian seksi untuk menyambut kedatangannya.
Nabila berjalan menghampiri Raka dengan langkah manja, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu.
“Sayang… Akhirnya pulang juga,” ujar wanita itu dengan senyum menggoda. “Aku sudah menunggumu dari tadi tau nggak?”
Saat Raka membalas pelukannya, Nabila tersenyum semakin lebar, mengira suaminya juga merasakan kerinduan yang sama.
“Kok kamu perginya lama sekali sih? Aku kan kangen?” bisiknya sambil menyandarkan kepala di dada Raka. “Aku sampai bolak-balik ngeliatin pintu. Tiap ada mobil lewat aku pikir itu kamu.”
Raka hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Aku juga kangen kamu.”
Nabila menarik wajahnya menjauh sedikit, kemudian menatap wajah Raka menyadari sikap pria itu yang berbeda dari beberapa hari sebelumnya sebelum pulang ke rumah Aisyah. Namun wanita itu mencoba mengabaikannya. Ia kembali memeluk tubuh Raka lalu menggelayut manja.
“Aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu,” katanya dengan suara yang mendayu-dayu sambil menarik tangan suaminya.
Dengan langkah yang terasa berat Raka menurut saja ketika Nabila menarik tangannya menuju kamar. Ia sudah tahu apa yang disiapkan oleh Nabila. Apalagi jika bukan hubungan ranjang. Namun entah kenapa ia sama sekali tidak memiliki antusias. Tidak ada gairah yang menggebu-gebu seperti sebelum saat mereka menikah. Padahal beberapa hari lalu, ia pernah membayangkan betapa menyenangkannya memiliki dua istri dan dua rumah.
Akan tetapi sekarang… Pemandangan di hadapannya tidak lagi membuat darahnya berdesir. Tubuh Nabila yang begitu montok sama sekali tidak membuatnya tergoda. Yang muncul dalam pikirannya malah wajah Aisyah yang datar dan tatapannya yang kosong. Begitu besar ternyata dampak perubahan Aisyah bagi jiwa pria itu.
Sesampai di dalam kamar, Nabila dengan nakal mendorong tubuh Raka hingga terjengkang di atas ranjang. Dengan gayanya yang lemah gemulai wanita itu merangkak di atas tubuh Raka. Namun pria itu sama sekali tidak merespon bahkan ketika Nabila mulai mencumbunya.
“Kamu kenapa?” Nabila akhirnya mengangkat wajah karena merasakan ada sesuatu yang aneh.
Dan pertanyaan itu membuat Raka tersentak. “Tidak apa-apa,” jawabnya mencoba sambil tersenyum.
Nabila kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Raka. Mencoba menggoda pria itu membuatnya terangsang. Pada awalnya Ia memang berhasil. Raka membalas apa yang ia lakukan. Namun hanya sekian detik ketika tiba-tiba sekelebat wajah Aisyah lewat di depan mata Raka. Tanpa sadar pria itu mendorong tubuh Aisyah hingga terguling di sampingnya.
“Mas, kamu apa-apaan sih?” Seru Nabila yang terkejut.
Raka tergerak lalu meminta maaf. Pria itu memejamkan matanya dan mencoba memfokuskan diri hanya pada Nabila. Empat hari di rumah Aisyah tanpa merasakan kenikmatan, seharusnya ia merasa kelaparan. Namun entah kenapa dirinya malah sama sekali tidak memiliki minat. Semakin ia berusaha menikmati suasana, semakin jelas wajah Aisyah memenuhi pikirannya.
“Aku sudah tidak membutuhkan semua itu.”
Kalimat yang pernah ia dengar dari Aisyah benar-benar mengganggu suasana hatinya. Apakah itu artinya Aisyah sudah tidak lagi memiliki perasaan padanya?
Raka memejamkan mata sebentar. “Tidak,” gumamnya sambil menggelengkan kepala pelan.
“Kamu kenapa sih, Mas?” tanya Nabila kesal. “Kamu ada di sini tapi pikiranmu entah sedang ada di mana. Apa yang sebenarnya sedang mengganggu pikiranmu?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya lelah saja,” jawab Raka yang sebenarnya ia sendiri juga tidak yakin. Apa benar sendirinya sedang tidak apa-apa?
“Jangan bilang kamu malah masih memikirkan Aisyah. Kamu itu sudah berada di sana empat hari, dan baru saja menginjakkan kaki di sini. Bisa-bisanya kamu mengabaikan aku seperti ini.” Nabila mencecarnya dengan menahan amarah.
Raka mengusap wajahnya. “Aku aku sudah bilang aku cuma capek.”
“Capek?” Nabila terkekeh pendek. “Kamu baru saja pulang ke sini dan kamu bilang capek?”
Raka langsung menatapnya. “Nabila, jangan mulai.”
“Kanu atau aku yang mulai?” Nabila melepaskan tangannya dengan kesal. “Aku menunggumu empat hari. Aku menyambutmu seperti ini karena aku merindukanmu, tetapi kamu malah seperti orang yang sedang dipaksa datang.”
“Aku memang sedang lelah.” nada suara Raka tanpa sadar naik satu oktaf.
“Lelah karena apa?” karena kesal Nabila ikut berteriak.
Raka memilih diam. Namun diamnya justru membuat Nabila semakin curiga. “Benar kan kamu memikirkan Aisyah?”
Pertanyaan itu membuat Raka mengangkat wajah. “Nabila...”
“Aku benar, kan?” desak Nabila. “Kamu masih memikirkannya.”
demi kedua ank mu ,,
kalo msh ngandelin raka ,, tkut nenek kebayan d sebrang sana jd tantrum🤭🤭😒😒😒😒
Nabila belum tahu aja semua surat-surat berharga harta Raka selama perkawinan dengan Aisyah sudah di amankan Aisyah...