Indonesia
NovelToon NovelToon
LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:418
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Septianti

Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 : Detik Detik Kematian

Hujan badai di kawasan dermaga Sunda Kelapa pada tahun 1928 seolah tidak berniat mereda. Air langit tumpah ruah dengan intensitas yang semakin menjadi-jadi, menghantam permukaan laut dan lantai kayu dermaga tua hingga menimbulkan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Di bawah naungan tiang pancang yang basah dan gelap, waktu seolah berhenti bergerak untuk Julian van Houten. Dunia di sekelilingnya mendadak sunyi senyap, teredam oleh rasa sakit yang luar biasa menusuk hingga ke relung jiwa paling dalam.

Julian mendekap erat tubuh Clara van der Berg ke dalam pelukannya. Mantol beludru hitam yang dikenakan gadis itu kini telah basah sepenuhnya oleh genangan darah segar yang terus mengalir dari luka tembak di dada kirinya. Warna merah pekat itu tampak begitu kontras dan menyayat hati, mencoreng kesucian hidup seorang gadis yang di setiap reinkarnasinya selalu harus menanggung beban derita akibat kejamnya dunia.

"Clara... kumohon, buka matanya..." suara Julian tercekat di tenggorokan, berubah menjadi isakan tangis pilu yang menyayat hati. Pria itu mendekap kepala Clara dengan penuh kelembutan, membiarkan air matanya bercampur sempurna dengan butiran air hujan yang terus mengguyur wajah mereka tanpa ampun. "Jangan tinggalkan aku... Kita baru saja menemukan jalan keluar. Kita seharusnya bisa mengakhiri semua kutukan ini bersama-sama di kehidupan ini..."

Namun, debar jantung Clara yang semula terasa begitu hangat kini perlahan-lahan melemah, hingga akhirnya benar-benar berhenti berdenyut di dalam rengkuhan tangan Julian. Tubuh gadis itu terasa semakin dingin, seiring dengan warna kehangatan di wajahnya yang berangsur-angsur memudar menjadi kepucatan yang abadi.

Di dalam kesadaran Julian yang mulai hancur berkeping-keping, sebuah bayangan samar mendadak melintas begitu cepat—sebuah memori dari kehidupan pertama mereka berabad-abad lalu di tanah Roma yang megah. Ia melihat sosok dirinya sebagai pangeran kekaisaran yang tengah memeluk kekasihnya di lantai dingin ruang bawah tanah istana, dikelilingi oleh tetesan darah dan kebisuan malam. Rasa sakit kehilangan itu kini terulang kembali dengan presisi yang begitu mengerikan, seolah alam semesta memang sengaja merancang takdir cinta mereka untuk selalu berakhir di atas panggung tragedi kematian.

Langkah kaki tegap serdadu kolonial dan suara letusan senjata yang tadinya riuh di kejauhan perlahan-lahan meredup dari pendengaran Julian. Yang tersisa di dunia ini baginya hanyalah keheningan yang pekat dan hampa. Di hadapan takdir yang begitu kejam, Julian menyadari bahwa kekuasaan, marga besar Van Houten, harta kekayaan, dan ambisi perdagangan kolonial sama sekali tidak memiliki arti apa-apa jika ia harus kehilangan wanita yang menjadi satu-satunya alasan jiwanya hidup melintasi ruang dan waktu.

Bang Jafar, yang bersimpuh menahan luka tembak di bahu kanannya beberapa meter dari tempat mereka berada, menatap nanar pemandangan memilukan tersebut dengan air mata yang meleleh di pipinya. Sebagai seorang pria paruh baya yang telah lama malang melintang di dunia kekerasan sindikat Batavia, baru kali ini ia menyaksikan bentuk cinta yang begitu tulus, suci, dan rela menembus batas kematian demi melindungi orang terkasih. Bang Jafar ingin merangkak maju untuk membantu, namun rasa sakit yang teramat sangat akibat hantaman peluru serdadu kolonial membuat tubuhnya terkulai lemah di atas lantai dermaga yang basah.

Di luar area pelindungan bawah dermaga, suara derap sepatu bot militer dan teriakan Kapten Von Klaus mulai mendekat, menandakan bahwa pasukan kolonial telah berhasil mendominasi area tersebut setelah mengalahkan sisa pergerakan anak buah Tuan Besar Ho.

"Cari sampai dapat! Dokumen arsip itu dan para pemberontak tidak boleh ada yang lolos!" seru suara Kapten Von Klaus terdengar tegas di tengah deru hujan badai.

Mendengar suara langkah serdadu yang semakin dekat, Julian perlahan mendongakkan kepalanya. Manik mata hazel yang biasanya memancarkan ketenangan seorang pewaris bangsawan kini berubah menjadi sorot mata kosong, dipenuhi oleh kepedihan yang teramat mendalam dan kobaran amarah yang membakar tanpa sisa. Ia membelai lembut helaian rambut Clara yang basah, lalu mengecup kening gadis itu untuk terakhir kalinya dengan penuh rasa cinta dan penyesalan.

"Tunggu aku sebentar, cintaku..." bisik Julian pelan tepat di telinga Clara, suaranya nyaris tak terdengar dihempas angin malam. "Di mana pun jiwamu melangkah setelah ini, aku akan selalu menemukanmu. Jika dunia ini tidak mengizinkan kita bahagia bersama, maka aku akan berjalan menyusulmu ke dalam keabadian."

Julian perlahan melepaskan dekapannya, membaringkan tubuh kaku Clara dengan sangat hati-hati di atas lantai kayu dermaga yang tergenang air hujan. Ia berdiri tegak dengan sempoyongan, menyeka darah yang mengotori kedua tangan dan mantelnya. Dengan gerakan yang tenang namun mematikan, Julian mencabut pistol perak dari sarungnya, lalu membalikkan badan menghadap ke arah lorong keluar dermaga tempat bayangan para serdadu kolonial mulai bermunculan membawa senapan teracung.

Tidak ada lagi rasa takut di dalam diri Julian van Houten. Yang ada hanyalah tekad bulat untuk menuntaskan takdir ini dengan cara mereka sendiri, menutup lembaran kelam sejarah kolonial dengan sebuah pengorbanan suci demi menyusul belahan jiwanya menuju keabadian waktu yang berikutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!