Nadira menikah dengan Arga karena percaya bahwa laki-laki itu akan menjadi tempatnya pulang. Namun setelah menikah, ia sadar bahwa yang ia nikahi bukan hanya Arga—melainkan seluruh keluarganya.
Ibu mertua yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan mereka. Adik ipar yang iri dan gemar mengadu domba.
Akankah Nadira tetap bersabar menghadapi sikap keluarga suaminya.Sementara Arga sang suami tak bisa bersikap tegas.Karena baginya Nadira dan keluarga sangat penting bagi hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
BUKAN LAGI PEREMPUAN YANG DIAM
Pagi itu, suasana meja makan keluarga Arga terasa jauh lebih dingin daripada biasanya.
Nadira duduk di ujung meja dengan wajah tenang. Tidak ada lagi mata sembap seperti kemarin. Tidak ada pula suara isak tangis yang selama ini selalu membuat Arga merasa bersalah.
Namun justru ketenangan itu yang membuat Arga tidak nyaman.
Bu Ratih meletakkan cangkirnya agak keras.
“Arga, Ibu masih tidak habis pikir. Sejak Nadira tinggal di rumah ini, masalah datang terus.”
Nadira tetap diam.
Rani yang duduk di samping ibunya ikut menyahut.
“Bukan cuma masalah, Bu. Kemarin gelang Ibu hampir hilang. Kalau Nadira tidak punya niat buruk, kenapa gelang itu bisa ada di kamarnya?”
Tangan Nadira yang sedang mengambil nasi berhenti.
Ia menatap Rani.
“Sudah kubilang, aku tidak mengambilnya.”
“Tapi gelang itu ditemukan di kamarmu.”
“Ditemukan,” ulang Nadira pelan. “Bukan aku yang menyimpan.”
Rani tersenyum sinis.
“Lalu siapa?”
Nadira tidak menjawab.
Arga yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.
“Sudahlah. Masalah itu sudah selesai.”
Nadira menoleh kepadanya.
“Menurutmu selesai?”
Arga menghela napas.
“Nadira, aku tidak mau pagi-pagi kita bertengkar.”
“Aku juga tidak mau bertengkar.”
“Kalau begitu jangan diperpanjang.”
Kalimat sederhana itu kembali membuat Nadira terdiam.
Selalu begitu.
Setiap kali keluarganya menyakitinya, Arga meminta Nadira mengerti.
Setiap kali ibunya menuduhnya, Arga meminta Nadira bersabar.
Setiap kali Rani membuat masalah, Arga memilih mengatakan, sudah, jangan diperpanjang.
Nadira akhirnya meletakkan sendoknya.
“Arga.”
“Ya?”
“Kalau suatu hari aku benar-benar pergi dari rumah ini, apa kamu juga akan bilang jangan diperpanjang?”
Arga terdiam.
Bu Ratih langsung memotong.
“Pergi? Memangnya kamu mau mengancam kami?”
Nadira menoleh.
“Saya tidak mengancam siapa pun, Bu.”
“Lalu apa maksudmu?”
“Saya cuma memberi tahu suami saya bahwa saya sudah lelah.”
Ruangan mendadak sunyi.
Arga menatap Nadira cukup lama.
Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang berbeda di mata istrinya.
Bukan kemarahan.
Bukan kesedihan.
Melainkan kekecewaan yang sudah terlalu dalam.
“Nadira…”
“Aku tidak meminta kamu memusuhi keluargamu, Arga.”
Nadira menarik napas.
“Aku cuma ingin sekali saja, ketika aku disakiti, kamu berdiri di sampingku tanpa menyuruhku memahami mereka.”
Arga tidak mampu menjawab.
Rani mendengus.
“Drama sekali.”
Nadira menoleh kepadanya.
“Rani.”
Nada suaranya datar.
“Aku tahu kamu tidak menyukaiku.Tidak masalah.”
Rani terdiam.
“Tapi jangan pernah lagi menuduhku mencuri sesuatu yang tidak pernah kuambil.”
“Kalau bukan kamu, lalu siapa?”
Nadira tersenyum tipis.
“Aku akan cari tahu.”
Rani tampak gugup sesaat, tetapi segera menutupinya.
“Silakan.”
Nadira berdiri.
Sebelum meninggalkan meja, ia menatap Arga.
“Mulai sekarang, aku tidak akan meminta kamu membelaku.”
Arga mengerutkan kening.
“Lalu?”
“Aku akan membela diriku sendiri.”
Nadira berjalan menuju kamar.
Namun baru beberapa langkah, ia berhenti.
Ia teringat sesuatu.
Kemarin malam, sebelum gelang itu ditemukan, ia sempat melihat seseorang keluar dari kamarnya.
Saat itu ia terlalu panik untuk memikirkannya.
Sekarang, semuanya mulai terasa jelas.
Nadira kembali masuk ke kamar dan menutup pintu.
Ia membuka laci kecil di meja rias.
Di sana terdapat sebuah benda yang semalam ia temukan tanpa sengaja.
Sebuah kancing kecil berwarna hitam.
Bukan miliknya.
Bukan pula milik Arga.
Nadira menggenggam benda itu erat.
“Jadi… kamu yang masuk ke kamarku.”
Di luar kamar, Arga berdiri tanpa suara.
Ia mendengar semuanya.
Dan untuk pertama kalinya, Arga mulai curiga bahwa selama ini mungkin ada sesuatu yang sengaja disembunyikan keluarganya darinya.