Rin Tachibana memilih menjadi hikikomori. ia mengurung diri berminggu-munggu di lantai atas rumah neneknya di Ishikawa. Ia muak dengan keluarganya yang terus memaksanya menikah.
Sang nenek yang sudah tidak tahan melihat tingkah cucunya akhirnya memilih berlibur tanpa sepengetahuan Rin & menyewakan rumah itu kepada Takumi Kurosawa, seorang arsitek sampai proyeknya selesai.
Masalahnya...
Takumi tidak tahu bahwa rumah yang ia sewa masih memiliki seorang penghuni. Dan Rin tidak tahu bahwa rumah neneknya sudah memiliki pemilik baru.
pertemuan awal mereka jauh dari romantis bahkan takumi kira rin ada setan penghuni rumah dan gadis itu mengira takumi adalah maling.
Dua orang dengan kehidupan yang bertolak belakang akhirnya terpaksa tinggal di bawah satu atap.
takumi yang membenci kekacauan dan terobsesi pada kebersihan
Dan Rin yang bahkan tidak peduli kamarnya berantakan atau tidak tahu cara menjaga rumah tetap rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertemuan tidak terduga
Setelah makan siang, Rin memutuskan untuk pulang. Ia sudah cukup lelah berjalan-jalan sejak pagi. Rumah makan itu juga tidak terlalu jauh dari rumah, jadi tidak butuh waktu lama baginya untuk sampai.
Begitu tiba, Rin membuka pintu dan melepas sepatunya begitu saja di genkan, lalu melempar tasnya ke lantai tanpa peduli.
“Capek nya...” gumamnya berjalan menuju ruang tengah.
Ia membuka sedikit pintu geser di samping rumah agar udara luar masuk. Angin siang berembus pelan dan sejuk. Rin kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas karpet di bawah sofa.
“Cuma sebentar...” desahnya memejamkan mata.
Tubuhnya yang lelah perlahan menjadi sangat rileks hingga napasnya berubah teratur. Tanpa disadari, waktu terus berjalan dari siang berganti sore, dan Rin masih terlelap.
***
“Aku pulang...”
Pintu rumah terbuka. Takumi masuk sambil melepas sepatu di rumah yang begitu sunyi. Langkahnya terhenti saat melihat sepasang sepatu Rin diletakkan sembarangan.
Kening Takumi berkerut. “Dasar...” Ia merapikan sepatu itu ke dalam lemari, lalu melangkah masuk.
Namun baru beberapa langkah, matanya menemukan tas Rin tergeletak di bawah meja makan dan kemejanya terlempar sembarangan. Takumi memejamkan mata sejenak sambil menghela napas. “Ya ampun... anak ini.”
Saat hendak memanggil Rin di ujung tangga, ia menyadari pintu samping rumah terbuka. Takumi menghampirinya untuk menutup pintu, tetapi sudut matanya menangkap sosok Rin yang tertidur pulas di atas karpet. Tubuhnya meringkuk dengan rambut berantakan dan mulut yang sedikit terbuka.
Takumi terdiam. “Jangan-jangan dia kegerahan... atau kecapekan?” gumamnya pelan. Ia mengembuskan napas lega. “Tidur rupanya.”
Takumi batal membangunkannya dan memilih duduk di sofa. Dari sana, ia mengamati wajah polos Rin yang sangat berbeda dibanding saat mereka berdebat. Pikiran Takumi mendadak melayang pada fakta yang baru diketahuinya siang tadi: Dia bahkan keluar rumah tengah malam untuk mencari makan... Saat aku bersama Makoto di hotel.
Rasa tidak nyaman menjalar pelan di dadanya. “Maaf...” bisik Takumi sangat pelan.
Ia bangkit menuju dapur, menggulung lengan kemejanya hingga siku, lalu mulai menyiapkan bahan makanan. Tak lama kemudian, aroma masakan yang hangat memenuhi rumah dan menyusup ke indra penciuman Rin.
Hidung Rin bergerak, keningnya berkerut, lalu matanya terbuka perlahan. “Hmm... harum...”
Ia bangkit mengusap mata dan tersadar saat melihat sosok tegap yang sangat dikenalnya sedang berdiri di dapur. Rin segera menghampirinya. “Kurosawa-san... kau sudah pulang?”
“Hm,” sahut Takumi tanpa menoleh.
Rin langsung menuju wastafel dan mencuci peralatan masak yang telah dipakai. Takumi menyipitkan mata meliriknya sebentar tanpa berkata apa-apa.
Beberapa saat kemudian, makan malam buatan Takumi sudah tertata di meja bersama dua mangkuk nasi. Mereka duduk berhadapan.
“Itadakimasu,” ucap mereka lalu mulai makan.
Rin menyantap makanannya dengan sangat bersemangat. Takumi yang meliriknya mengembuskan napas kecil, membuat Rin mengangkat wajah. “Apa?”
Takumi meletakkan sumpitnya sebentar. “Tachibana-san...”
“Hm?”
“Kenapa kalian saling memanggil dengan nama kecil?”
Rin mengerutkan kening. “Kalian?”
“Kau dan Kiba.”
Rin tersenyum kecil memahami maksudnya. “Oh... itu. Karena aku merasa kami sudah semakin akrab.. Aku rasa pilihan Ayah ternyata ada yang bagus juga.”
Rin kembali menyantap nasinya. “Kiba juga terus saja ingin aku berjodoh dengannya,” terkekeh Rin. “Aneh banget teman Kurosawa-san yang itu.”
Takumi mengangguk pelan. “Begitu...”
Mereka kembali makan dalam keheningan sejenak, hingga Takumi tiba-tiba memecah kesunyian.
“Menurutmu...” Takumi jeda sebentar, menatap Rin tenang. “...hubungan kita....apa bisa dibilang akrab?”
Rin masih terdiam, sumpit di tangannya berhenti di udara memikirkan pertanyaan Takumi.
Perlahan, ia menurunkan sumpitnya.
“Kalau dibandingkan dengan Kiba...” Rin jeda sebentar, “...dia memang lebih mudah mencairkan suasana.”
Takumi tidak langsung merespons. Ia meneguk air dari gelasnya. “Ditambah kami punya hobi yang sama, Ngobrol sama Kiba itu gampang aja masuknya.. Dia juga tidak banyak aturan ini-itu.”
Takumi meletakkan gelasnya. “Jadi kau lebih suka orang yang tidak banyak aturan?”
Pertanyaan itu membuat Rin bungkam. Ia menatap Takumi, menyadari arah pembicaraan mereka. Tanpa sadar, ingatan Rin melayang pada perubahan hidupnya sejak Takumi hadir: merapikan kamar, mencuci piring, dan belajar bertanggung jawab. Melelahkan, tapi ia tak bisa menampik bahwa aturan Takumi memberi arah pada hidupnya.
Rin menunduk menatap mangkuk nasinya. “Emm... bukan begitu juga,” gumamnya lembut.
“Lalu apa?”
Tatapan mereka bertemu. "Justru aturan itu buat aku sedikitnya sadar..kalau"
“Kita tinggal di rumah yang sama, makan bareng hampir tiap hari, dan tahu kebiasaan masing-masing. Mungkin... karena sudah terbiasa bersama.”
Rin tersenyum kecil lalu melanjutkan makan. “ternyata Kita juga sudah mulai akrab, Takumi-san...”
Tangan Takumi yang memegang gelas terhenti. Ia menunduk sejenak sebelum menatap Rin kembali dengan seulas senyuman tipis.
“Aku... suka jika kau panggil aku Takumi saja, Rin.”
Rin tertegun, lalu tersenyum manis. “hm..Baiklah... Takumi.”
gadis itu bahkan sempat mendengus geli sendiri., Jika Kiba memintanya memanggil nama kecil dengan banyak candaan, permintaan Takumi justru terasa jauh lebih serius. Rin memilih tak menggodanya.
***
Usai makan dan membereskan meja, mereka berpindah ke ruang tengah. Televisi menyala pelan.
“Besok aku libur,” ucap Takumi mendadak.
“Terus?”
“Kau ingin pergi ke suatu tempat?”
Rin menoleh serius. “Eh? Jadi... itu artinya kita kencan?”
Raut wajah Takumi berubah instan. “Hah?”
Rin tertawa kecil. “Bukankah kalau pria mengajak perempuan pergi berdua itu namanya kencan?”
Telinga Takumi perlahan memerah. Ia memalingkan wajah kaku. “Kalau begitu batalkan. Anggap aku tidak bilang apa-apa.”
“Hey, kok begitu? Kau niat mengajak atau tidak, sih?” cecar Rin duduk tegak.
“Tidak jadi,” balas Takumi cepat seraya bangkit dan berjalan menuju kamarnya.
Pintu kamar Takumi tertutup rapat, meninggalkan Rin yang melongo tak percaya. “lah Cepat banget ngambeknya... Padahal dia yang ngajak.”
Rin kembali bersandar di sofa. Tak lama, ponselnya bergetar menampilkan pesan dari Kiba.
Kiba:
Rin, besok pagi ke pantai yuk. Kalau mau, kita janjian di halte depan!
Mata Rin berbinar. Ia langsung mengetik balasan singkat: Oke.
Rin melirik ke arah pintu kamar Takumi sambil menghela napas. “Padahal baru saja suasananya nyaman...”
Sebelum naik ke lantai dua, Rin menyempatkan diri mengetuk pintu kamar Takumi pelan.
Tok. Tok.
“Takumi...” Rin terhenti karena tak ada jawaban dari dalam. Ia tersenyum kecil.
“...Selamat malam.”
Rin mematikan lampu ruang tengah lalu melangkah naik ke kamarnya.
"kalau kepantai ..apa aja yang harus aku pakai ya... "
tangan rin mengetik dengan cepat di laman doodle , seketika muncul informasi dalam ponsel nya
"emm baiklah, sepertinya besok akan seru "
Malam itu ditutup dengan dua takdir yang bersimpangan: Takumi yang tenggelam dalam kekesalannya sendiri, dan Rin yang siap menyambut pagi bersama Kiba di pantai.