Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.
Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Pesta Rakyat Batalyon dan Awal Lembaran Baru
BAB 20: Pesta Rakyat Batalyon dan Awal Lembaran Baru
Seminggu setelah prosesi lamaran resmi yang mengharukan di Gedung Komando, aura kebahagiaan di Mako Batalyon tidak pudar sedikit pun.
Justru sebaliknya, semangat kegembiraan itu makin memuncak.
Atas inisiatif bersama antara Mayor Aris, Kapten Yoga, serta dukungan penuh dari Purnawirawan Jenderal Dudung, Mako Batalyon menggelar Pesta Rakyat dan Syukuran Besar di lapangan hijau utama.
Acara ini tidak hanya ditujukan untuk merayakan pertunangan Komandan Batalyon, tetapi juga sebagai bentuk pesta rakyat untuk mempererat tali silaturahmi antara seluruh prajurit, staf medis, serta warga Desa Mekar Bakti yang baru saja melewati masa-masa sulit pasca-bencana longsor.
Pagi itu, lapangan Mako Batalyon disulap menjadi area panggung terbuka bernuansa sangat meriah.
Puluhan tenda kuliner berjejer rapi di sepanjang pinggir lapangan, menyajikan berbagai macam hidangan gratis mulai dari bakso malang, kambing guling, es dawet ayu, hingga tentu saja stand khusus es sirup merah dan nasi kotak spesial racikan Mayang yang dipasangi papan nama konyol bertuliskan, “Stand Es Sirup Penakluk Hati Komandan”.
Mayang berdiri di depan stand es sirupnya dengan gaun kasual berwarna hijau zaitun pastel yang dipadukan dengan kacamata barunya.
Senyumnya tak pernah luntur sedikit pun saat menyapa puluhan prajurit dan warga desa yang mengantre riang.
"Silakan, Bapak-Bapak Prajurit dan Ibu-Ibu warga Mekar Bakti!" seru Mayang penuh semangat seraya menuangkan es sirup segar ke dalam gelas-gelas plastik.
"Minum yang banyak! Hari ini gratis dan khusus diresmikan oleh Mas Mayor Ganteng!"
"Siap! Terima kasih banyak, Ibu Komandan!" seru beberapa prajurit muda serentak seraya memberi hormat konyol, lalu tertawa lepas.
Sejak aksi heroiknya menyelamatkan anak kecil di lokasi bencana longsor minggu lalu, sebutan "Ibu Komandan" sudah melekat erat pada diri Mayang.
Bukan lagi sebutan bernada candaan, melainkan julukan yang dipenuhi rasa bangga dan rasa hormat yang tulus dari seluruh anggota pasukan Batalyon.
Tak jauh dari stand es sirup, Kapten Yoga memegang mikrofoni di atas panggung hiburan utama.
Kapten bertubuh tegap itu bertindak sebagai Pembawa Acara yang sukses memecah gelak tawa penonton lewat banyolan-banyolan khas militer.
"Tes, tes, satu dua... Perhatian untuk seluruh pasukan dan warga yang hadir!" suara Kapten Yoga menggelegar dari speaker panggung.
"Hari ini kita tidak hanya merayakan syukuran keselamatan desa, tapi kita juga menyaksikan sejarah besar Batalyon! Seorang Komandan yang dulunya terkenal punya wajah lebih dingin dari es batu kulkas dan galak melebihi macan tutul, akhirnya resmi ditaklukkan secara telak oleh racikan es sirup dan kebaikan hati Mbak Mayang! Mari kita beri tepuk tangan paling meriah untuk pasangan paling hits Batalyon!"
Tepuk tangan, sorak-sorai, serta siulan riuh bergemuruh hebat memecah angkasa Mako Batalyon!
Dari arah tenda utama perwira, Mayor Aris melangkah keluar. Pria tegap itu mengenakan kemeja batik bernuansa hijau botol yang sangat pas di tubuh bidangnya, memberikan kesan tampan, gagah, namun tetap hangat.
Sang Mayor berjalan mendekati panggung hiburan dengan sudut bibir yang terangkat lebar sebuah pemandangan langka yang dulunya hampir mustahil dilihat oleh para bawahannya.
Di samping panggung, Dokter Siska berdiri bersama staf medis Korps Kesehatan. Wanita anggun itu kini tampak jauh lebih rileks dan ramah.
Saat Mayang melintas membawakan nampan berisi es sirup untuk tim medis, Dokter Siska menghentikan langkah Mayang dan menyunggingkan senyum tulus.
"Mayang," panggil Dokter Siska lembut.
Mayang menoleh. "Eh, Dokter Siska! Mau es sirupnya, Dok?"
Dokter Siska menerima gelas es sirup itu, lalu menatap Mayang lurus-lurus.
"Terima kasih, Mayang. Dan... aku juga mau minta maaf atas sikap kaku dan kata-kataku yang sempat meremehkanmu dulu. Kamu sudah membuktikan dengan tindakan nyata bahwa kamu bukan cuma wanita yang luar biasa berani, tapi juga sosok yang paling tepat untuk mendampingi Aris. Batalyon ini sangat beruntung punya kamu."
Mayang tersenyum manis, membalas genggaman tangan Dokter Siska dengan hangat.
"Terima kasih banyak ya, Dokter Siska. Mayang tidak pernah menyimpan dendam kok. Kita semua di sini kan keluarga besar Batalyon yang saling mendukung!"
Pengakuan dan permintaan maaf dari Dokter Siska menjadi titik balik berharga yang menutup seluruh ketegangan masa lalu.
Kini, tidak ada lagi sekat atau persaingan. Yang tersisa hanyalah rasa kebersamaan yang utuh di Mako Batalyon.
Puncak acara tiba ketika Kapten Yoga menyerahkan mikrofoni panggung kepada Mayor Aris.
Sang Komandan naik ke atas panggung, lalu menggamit jemari tangan Mayang untuk berdiri bersisian dengannya di hadapan ratusan pasang mata yang hadir.
Suasana lapangan mendadak menjadi tenang dan penuh rasa haru.
"Seluruh prajurit Batalyon yang saya banggakan, para tamu undangan, serta warga Desa Mekar Bakti yang saya cintai..." ujar Mayor Aris dengan suara bass-nya yang berat, tegas, namun bergetar oleh rasa haru yang mendalam.
"Mako Batalyon ini adalah tempat di mana saya ditempa menjadi seorang prajurit. Di sini kita belajar tentang kedisiplinan, pengorbanan, dan ketegasan.
Namun..." Aris menghentikan kalimatnya sejenak, menoleh dan menatap lekat-lekat pada sosok Mayang di sampingnya. "...kehadiran Mayang di markas ini telah mengajarkan saya dan kita semua tentang arti ketulusan, keberanian sejati, dan kehangatan rasa kemanusiaan."
Aris menggenggam erat tangan Mayang, mengangkatnya sedikit di udara.
"Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh anggota yang telah bekerja keras dan mendukung kami. Pesta rakyat hari ini adalah awal dari lembaran baru bagi Batalyon kita lembaran baru yang penuh dengan semangat kebersamaan, kebahagiaan, dan pengabdian yang lebih tulus kepada masyarakat."
Brak! Tepuk tangan dan sorak-sorai bergemuruh makin dahsyat!
"Huraaa! Long live Komandan! Long live Mbak Mayang!" sorak para prajurit bersahut-sahutan gembira!
Saat musik hiburan kembali berlantun riang dan warga serta prajurit mulai menikmati hidangan pesta, Aris menuntun Mayang berjalan pelan menuju sudut taman di belakang panggung utama yang agak sepi dari keramaian.
Matahari siang mulai bergerak naik, memancarkan sinar hangat yang menembus celah dedaunan pohon mahoni.
Angin sepoi-sepoi berembus lembut, memainkan ujung baju hijau pastel yang dikenakan Mayang.
Mayang menyandarkan bahunya di dada bidang Aris seraya menatap ke arah lapangan yang penuh dengan tawa dan keceriaan warga.
"Mas Mayor..." bisik Mayang pelan.
"Iya, Mayang?" sahut Aris lembut, melingkarkan lengan kekarnya di pinggang Mayang dari samping, memberikan perlindungan yang begitu kokoh.
"Mayang rasanya seperti lagi mimpi," tutur Mayang polos dengan mata berkaca-kaca bahagia.
"Dari awal yang cuma gadis sipil polos berkacamata tebal yang suka bikin kekacauan di Batalyon, sampai sekarang bisa berdiri di sini sebagai calon istri Komandan."
Aris menundukkan kepalanya sedikit, menempelkan dahinya di dahi Mayang dengan kehangatan yang amat nyata.
"Ini bukan mimpi, Mayang," bisik Aris tepat di depan bibir Mayang, suaranya dipenuhi rasa cinta yang tak terbatas.
"Ini adalah kenyataan dan awal dari takdir indah kita. Tak peduli seberapa kerasnya dunia luar atau seberapa berat tugas negara di pundak saya, selama ada kamu di samping saya, saya tahu saya akan selalu menemukan jalan untuk pulang."
Aris mengepalkan jemarinya di atas jemari Mayang yang melingkar indah dengan cincin pertunangan emas di jari manisnya.
Di bawah naungan langit Batalyon yang cerah dan riuhnya suara kebahagiaan pesta rakyat, kisah cinta antara sang Komandan Batalyon yang dingin dan gadis berkacamata tebal yang jenaka resmi mengukir lembaran baru yang abadi, manis, dan tak terpisahkan.