Indonesia
NovelToon NovelToon
Kembali Pada Luka Yang Sama

Kembali Pada Luka Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Mengubah Takdir
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: MIKHACINTA

Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.

Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.

Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.

Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.

Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jawaban dan Lembaran Baru

Pertanyaan yang meluncur dari bibir Adrian menggantung hangat di udara sore. Matanya yang cokelat jernih menatapku tanpa ada keraguan sedikit pun, memancarkan kepastian yang selama hampir satu tahun ini teramat ku rindukan. Angin sore berembus pelan di halaman belakang kafe Bram, menggerakkan dedaunan rindang di atas kepala kami seolah ikut menantikan jawaban yang akan terucap dari bibirku.

Rasa takut, cemas, dan bayang-bayang keraguan yang sempat membakar dadaku perlahan meleleh. Aku menatap pria di hadapanku ini, pria yang selalu ada mendengarkan keluh kesahku, dan yang kini menatapku dengan tatapan paling jujur yang pernah kulihat.

Aku menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyum tipis di antara sisa-sisa air mata di pipiku.

"Mau, Mas..." bisikku pelan namun teramat yakin. "Sera mau jadi pacar Mas Adrian."

Rona lega yang luar biasa seketika terpancar dari wajah Adrian. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Adrian merapatkan jarak dan merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Lengan kokohnya melingkar erat di punggungku, menarikku ke dalam dekapan hangat yang teramat mesra. Kuusapkan wajahku di ceruk lehernya, menghirup aroma harum kasual miliknya yang menenangkan, sementara kedua tanganku melingkar hangat di pinggangnya.

Adrian mencium puncak kepalaku berkali-kali dengan kelembutan yang membuncah. "Makasih ya, Sera... Makasih sudah mau percaya sama Mas," bisiknya lirih di dekat telingaku. Detak jantungnya yang berdebar kencang di balik dadanya terasa begitu nyata di pipiku, menyalurkan rasa bahagia yang tak terlukiskan oleh kata-kata.

Untuk beberapa menit yang indah, kami saling memeluk di atas bangku kayu itu, membiarkan kehangatan ikatan baru ini mengalir menembus pori-pori dada kami.

Setelah pelukan hangat itu terurai pelan, aku masih bersandar dekat di sampingnya. Jemari tangan kanan Adrian menggenggam erat jemari tangan kiriku, mengelus punggung tanganku dengan ibu jarinya secara konstan.

Aku mendongak menatap wajahnya dari samping, lalu memberanikan diri membuka suara.

"Mas..."

"Iya, Sayang?" sahut Adrian lembut, menoleh menatapku dengan senyum manis yang membuat dadaku berdesir.

Mendengar sapaan baru itu membakar kedua pipiku dengan rona merah, namun aku mencoba menetralkan suaraku. "Karena... karena sekarang Sera udah resmi jadi pacar Mas Adrian... Sera punya hak buat bertanya soal banyak hal, kan?"

Adrian tersenyum lebar, jemarinya mengacak pelan rambut di puncak kepalaku. "Tentu saja, Sera. Kamu punya hak penuh buat tanyain apa aja ke Mas. Mas bakal jawab semuanya jujur tanpa ada yang ditutup-tutupin lagi."

Aku menarik napas panjang, menata semua unek-unek yang selama ini mengganjal dan menyiksa pikiranku.

"Pertama..." tanyaku pelan, "Sera mau tanya soal foto wanita cantik di dompet Mas Adrian yang pernah enggak sengaja Sera liat waktu itu."

Adrian sempat tertegun sejenak, lalu tawa renyah meluncur dari bibirnya. Ia merogoh saku belakang celana denimnya dan mengeluarkan sebuah dompet kulit berwarna cokelat tua yang sudah agak lusuh di pinggirannya. Adrian membuka dompet itu dan menunjukkannya tepat di hadapanku.

Di dalam slot plastik bening dompet tersebut, terbaring sebuah foto lama berukuran kecil. Foto seorang wanita muda berambut hitam bergelombang dengan senyum anggun yang teramat menyejukkan hati.

"Ini almarhumah Ibu Mas waktu masih muda, Sera," tutur Adrian dengan nada suara yang berubah menjadi teramat lembut dan sarat akan kerinduan. "Beliau meninggal waktu Mas masih awal masuk SMP. Foto ini selalu Mas simpan di dompet dari dulu."

Mataku terpaku memandangi foto tua tersebut. Rasa bersalah seketika menyusup di dalam dadaku karena sempat mencurigai foto itu. Aku memperhatikan detail wajah wanita di dalam foto tersebut, garis rahangnya yang tegas, bentuk mata cokelatnya yang teduh, serta ukiran senyumnya yang teramat manis.

"Cantik banget, Mas..." pujiku tulus seraya mengelus permukaan plastik bening dompetnya. Mataku beralih memandangi wajah Adrian di sampingku, mengamati kemiripan di antara mereka berdua. "wajahnya mirip banget sama Mas Adrian. Pantesan aja Mas Adrian tampan, ternyata nurun dari wajah Ibunya."

Adrian terkekeh pelan, pipinya tampak sedikit merona mendapat pujian mendadak dariku. "Bisa aja kamu. Tapi makasih ya, Ibu pasti seneng di sana kalau dengar kamu muji beliau."

Ia menyimpan kembali dompetnya ke dalam saku, lalu menggenggam kedua tanganku kembali di atas pangkuan.

"Nah, sekarang... pasti pertanyaan kedua soal Sabrina, kan?" tebak Adrian menatap mataku lekat-lekat.

Aku mengangguk pelan, menunduk menatap jemari kami yang bertautan. "Iya, Mas. Sera mau tahu yang sebenarnya soal Kak Sabrina. Soal foto-foto kalian, status di Facebook, dan kenapan Kania kemarin bilang kalau Kak Sabrina itu pacar Mas."

Adrian menghela napas panjang, menyusun kata agar tidak ada salah paham lagi di antara kami.

"Sabrina itu teman satu angkatan Mas waktu awal masuk kuliah, SerA," jelas Adrian dengan nada jujur. "Dia memang cewek yang terang-terangan selalu mengejar Mas sejak lama. Sabrina sering datang ke acara musik Mas, sering ngajak jalan, bahkan dia udah beberapa kali mengutarakan perasaannya secara langsung ke Mas."

"Terus Mas responnya gimana?" tanyaku menahan dada yang kembali berdebar.

"Mas selalu menolak dia secara halus, Sera," jawab Adrian mantap tanpa ragu sedikit pun. "Mas selalu tegas bilang ke dia kalau Mas cuma bisa menganggap dia sebatas teman, enggak lebih. Tapi Sabrina memang tipikal orang yang pantang menyerah. Foto yang diunggah di Facebook kemarin itu foto pas dia baru balik dari Lombok dan minta diantar ke kafe teman kami. Mas cuma menghargai dia sebagai teman lama."

Adrian memiringkan tubuhnya, menangkup kedua pipiku dengan telapak tangannya yang hangat agar aku menatap lurus ke dalam matanya.

"Mas enggak pernah punya rasa apa pun sama Sabrina, Sera. Mas enggak pernah merasakan hperasaan luar biasa seperti yang Mas rasakan setiap kali Mas ada di dekat kamu," ucap Adrian dengan nada suara yang teramat dalam dan emosional. "Setiap kali Mas di samping kamu, ada ketenangan dan rasa hangat yang enggak pernah Mas dapetin dari cewek mana pun. Cuma kamu, Seraphine."

Penjelasan Adrian yang teramat jujur dan terbuka itu seolah menyapu bersih seluruh beban berat yang menumpuk di dadaku selama berbulan-bulan. Bayangan cemburu dan rasa insecure yang menyiksa seketika sirnah tanpa sisa, digantikan oleh kedamaian yang teramat lapang.

Aku tersenyum mekar, menggenggam pergelangan tangannya di pipiku. "Makasih ya, Mas, udah mau jelasin semuanya."

Adrian melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Warna langit di atas taman kafe kini sudah sepenuhnya berubah menjadi ungu keemasan menandakan malam mulai merayap naik.

"Sudah mau maghrib, Ser," kata Adrian seraya berdiri dari bangku kayu dan mengulurkan tangannya padaku. "Mas tadi sudah janji sama ayahmu mau ngajak kamu keluar sebentar saja. Yuk, Mas antar kamu pulang sekarang. Enggak enak kalau bikin Ayah khawatir."

Aku menerima uluran tangannya dan berdiri di sampingnya.

Kami melangkah masuk ke dalam bangunan utama kafe. Adrian menuntun langkahku menuju meja kasir di depan, di mana Bram tampak sedang sibuk mencatat laporan penjualan.

"Bro, gue bayar sekalian pamit balik ya," ucap Adrian seraya meletakkan beberapa lembar uang kertas di atas meja kasir.

Bram mendongak, melirik Adrian dan aku yang berdiri berdampingan dengan tangan yang masih saling bertautan. Cengiran jahil khas milik Bram seketika mengembang lebar.

"Wih! Udah beda aja nih auranya!" goda Bram terkekeh renyah. "Muka Sera udah enggak ditekuk lagi kayak tadi. Sukses nih ceritanya?"

Adrian terkekeh pelan seraya menepuk bahu sahabatnya itu. "Bisa aja lo. Ya udah, gue balik duluan ya, Bro. Makasih kafenya."

"Sip! Hati-hati di jalan kalian! Sering-sering mampir ke sini ya, Sera!" seru Bram melambaikan tangan saat kami melangkah keluar menuju parkiran.

Perjalanan pulang di atas motor besar Adrian terasa teramat berbeda sore ini. Tak ada lagi rasa canggung atau keraguan yang mengganjal. Aku melingkarkan kedua lenganku di pinggang Adrian dengan erat, menyandarkan daguku di bahunya seraya menikmati hembusan angin malam yang mulai menyapa kulit.

Tak butuh waktu lama hingga motor Adrian melaju memasuki gang komplek dan berhenti tepat di depan teras rumahku.

Di teras depan, lampu gantung sudah menyala terang. Ayah tampak sedang duduk di kursi kayu seraya menikmati segelas teh hangat. Begitu mendengar deru mesin motor Adrian, Ayah menegakkan posisi duduknya dan menyambut kami dengan senyum ramah yang mengembang lebar.

Adrian mematikan mesin motor, melepaskan helmnya, lalu berjalan berdampingan denganku menghampiri Ayah di teras.

"Assalamu’alaikum, Om," sapa Adrian sopan seraya mengulurkan tangan menjabat tangan Ayah penuh hormat.

"Wa’alaikumsalam, Adrian," sahut Ayah hangat, membalas jepitan tangan Adrian.

Mata ayah melirik ke arah papan catur kayu yang tergeletak di meja sudut teras. "Adrian, kamu bisa main catur tidak? Mumpung kamu di sini dan belum terlalu malam, main satu atau dua babak sama Om di teras gimana?"

Adrian tersenyum antusias. "Bisa, Om! Boleh banget, saya senang main catur."

"Nah, bagus itu! Ayo duduk," seru Ayah antusias seraya menarik meja catur ke tengah teras.

Saat Ayah dan Adrian mulai menata buah-buah catur di atas papan kayu, pintu depan rumah mendadak terbuka. Ibu melangkah keluar membawa nampan berisikan piring kue kering. Ternyata Ibu sudah pulang dari tokonya lebih awal sore ini.

Aku sempat terkejut melihat keberadaan Ibu. Ibu mengenakan pakaian rumahan yang rapi, dengan raut wajah yang tampak tenang namun dingin seperti biasanya.

Ibu meletakkan nampan kue di meja teras. "Diminum tehnya, Adrian," sapa Ibu datar namun tetap sopan.

"Eh, iya, Ibu. Terima kasih banyak," sahut Adrian seraya mengangguk hormat.

Ibu kemudian memalingkan pandangannya menatapku yang masih berdiri di dekat tangga teras. "Sera," panggil Ibu pelan dengan suara yang teramat tenang.

Aku menghampiri Ibu. "Iya, Bu?"

Ibu melirik sekilas ke arah Adrian yang sedang menyusun benteng dan kuda di atas papan catur bersama Ayah, lalu kembali menatap manik mataku.

"Habis dari mana saja tadi sama Adrian?" tanya Ibu santai. Nada suaranya sama sekali tidak menunjukkan emosi atau nada marah, melainkan murni sebuah pertanyaan dari seorang ibu.

"Tadi cuma ngobrol sebentar di kafe dekat alun-alun, Bu," jawabku jujur seraya menundukkan kepala.

Ibu mengangguk pelan, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Ibu kan sudah pernah bilang sama kamu, Sera... jangan terlalu dekat-dekat sama Adrian. Kamu itu masih sekolah, baru naik kelas sebelas. Fokus saja dulu sama pelajaran kamu."

Teguran halus itu disampaikan Ibu tanpa bentakan sama sekali, namun ketegasan dingin khas Ibu tetap berhasil membuat udara di sekitarku terasa sedikit membeku.

"Iya, Bu... Sera ingat kok," sahutku pelan.

Ibu tidak memperpanjang percakapan. Beliau hanya mengangguk singkat, melirik Ayah dan Adrian sepintas, lalu memutar tubuhnya melangkah kembali ke dalam rumah untuk menyiapkan makan malam.

Aku berdiri di tepi teras, memandangi pintu rumah yang kembali tertutup. Di hadapanku, suara gelak tawa renyah Ayah dan Adrian pecah saat buah catur pertama mulai dilangkahkan di atas papan kayu.

Meskipun teguran dingin dari Ibu menyisakan sedikit riak peringatan di dalam dada, aku menatap punggung Adrian dengan rasa syukur yang membuncah. Setelah satu tahun berlayar dalam ketidakpastian, sore ini aku akhirnya tahu ke mana hatiku berlabuh, bersama pria yang kini resmi meletakkanku sebagai satu-satunya wanita di dalam hidupnya.

1
yaya
ngerasa balik lagi ke masa SMA
Ardianto Nugraha
👍
Ana Maria
seruuu
Andari Nasution
semangat
Sri Wulandari
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!