Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.
Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.
Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.
Itu bukan cinta. Itu transaksi.
Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.
Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 AKU MEMILIHMU
Mobil melaju kencang menyusuri jalan-jalan kota. Maya duduk di kursi penumpang depan, tangannya terkepal di atas lutut, matanya terpaku pada kaca depan. Bara menyetir dengan satu tangan, ponsel menempel di telinga oleh tangan yang lain, memberi perintah, menerima informasi, merajut jaring tak kasatmata untuk menjerat Mahendra.
"Lokasi terakhir panggilan itu," ucapnya, memutus satu telepon dan mengangkat yang lain. "Sebuah properti di pinggiran kota. Rumah yang tak disebut ayahmu. Kamu tahu sesuatu soal itu?"
Maya menggeleng.
"Pamanku punya banyak properti. Papa tidak mengendalikan semuanya."
"Yang ini tua. Dulu atas nama nenekmu, tapi ia menjualnya bertahun-tahun lalu. Setidaknya begitu yang dikira ayahmu. Kenyataannya, Mahendra membelinya diam-diam lewat orang suruhan."
"Bagaimana kamu tahu semua ini?"
"Aku punya informan," jawab Bara, tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. "Dan salah satu untungnya punya reputasi buruk adalah orang-orang menceritakan banyak hal padamu. Karena takut, karena uang, atau karena mereka tak punya pilihan lain."
Mobil membelok ke jalan tanah, dikelilingi pepohonan tinggi menjulang yang menghalangi cahaya matahari. Di ujungnya, nyaris tak terlihat di antara semak, muncul sebuah rumah. Rumah tua dari batu, jendela-jendelanya dipaku papan, halamannya ditumbuhi ilalang liar. Rumah yang seolah terangkat dari sebuah film horor.
"Di sini," ucap Bara, menghentikan mobil pada jarak tertentu.
Ia mencabut pistol, memeriksa kamar peluru, lalu menyelipkannya kembali di ikat pinggang. Ia menyodorkan sepucuk pistol kedua pada Maya, lebih kecil, berwarna perak.
"Kamu bisa pakai ini?"
"Tidak."
"Sekarang saatnya kamu belajar. Ini kosong. Aku cuma ingin kamu memegangnya. Untuk berjaga-jaga."
Maya mengambil pistol itu. Logamnya dingin, berat, sepenuhnya asing di tangannya. Ia menyimpannya di saku jaket.
"Kita apa sekarang?" tanyanya.
"Aku menunggu anak buahku," ucap Bara. "Lalu kita masuk."
"Bagaimana kalau selama kita menunggu mereka menyakitinya?"
Bara menatapnya. Di mata kelabunya yang dingin, ada tekad yang belum pernah Maya lihat sebelumnya.
"Mereka tak akan menyakitinya. Mahendra butuh dia hidup. Kamu yang dia inginkan. Kamulah hadiah sesungguhnya."
Maya merasakan bulu kuduknya meremang.
"Aku?"
"Pernikahanmu denganku membuatnya kalang kabut. Dia mengira kamu akan tenggelam, akan lenyap, akan mudah diremukkan. Tapi tidak. Kamu menikah denganku. Dan sekarang ayahmu bebas. Ibumu selamat... untuk sementara. Dia ingin membatalkan semua itu. Dan untuk membatalkannya, dia butuh kamu hancur. Butuh kamu menyerah. Butuh kamu mengakui bahwa kamu sudah kalah."
"Aku tidak akan menyerah."
"Aku tahu," ucap Bara. "Itulah sebabnya aku memilihmu."
Maya menatapnya.
"Kamu memilihku? Atau itu cuma kebetulan?"
Bara menahan tatapannya sejenak.
"Aku tak percaya pada kebetulan."
Lima menit kemudian, anak buah Bara tiba. Dua mobil hitam tanpa tanda pengenal, yang parkir dalam senyap dan menurunkan empat orang bersenjata. Bagas ada di antara mereka, wajahnya keras, matanya sekeras baja.
"Perimeter aman," lapornya. "Tapi ada dua penjaga di pintu depan. Dan setidaknya tiga lagi di dalam. Mahendra ada di dalam. Bersama Bu Ratna."
"Ada korban?" tanya Bara.
"Tidak, Bos. Mereka menunggu perintah."
"Bagus. Kita lewat pintu belakang. Bagas, kamu jaga pintu depan. Aku tak mau ada yang masuk. Dan aku tak mau ada yang keluar. Paham?"
"Paham."
Bara berbalik menghadap Maya.
"Kamu tetap di sini. Di mobil. Semua pintu terkunci. Jangan buka untuk siapa pun kecuali aku. Jelas?"
Maya ingin membantah. Ingin mengatakan bahwa ia tak sanggup duduk diam sementara Bara mempertaruhkan nyawanya. Tapi ia tahu Bara benar. Saat ini, dalam misi ini, ia hanya akan jadi penghalang.
"Jelas," ucapnya.
Bara mengangguk. Lalu, sebelum turun dari mobil, ia melakukan sesuatu yang tak Maya duga.
Ia menangkup tengkuk Maya dan mengecup keningnya.
Ciuman itu cepat, kering, nyaris kasar. Namun bibirnya membakar kulit Maya bagai sebuah janji.
"Aku kembali," ucapnya. "Bersama ibumu."
Lalu ia lenyap di antara pepohonan, diikuti anak buahnya, ditelan keremangan hutan.
Maya sendirian di dalam mobil, tangannya menggenggam erat pistol kosong itu, matanya terpaku pada rumah batu, dan ciuman Bara membara di keningnya.
Ia menunggu.
Waktu menjadi mulur, seakan tak berujung, tersusun dari detik-detik yang terasa berjam-jam dan jam-jam yang terasa sedetik. Ia mendengar tembakan, teredam jarak. Ia mendengar teriakan. Ia mendengar debam pintu yang dijebol.
Lalu, senyap.
Senyap yang pekat, mutlak, memenuhi hutan bagai air.
Maya menahan napas.
Pintu utama rumah batu itu terbuka.
Bara muncul di ambangnya. Kemejanya berlepotan darah. Dalam pelukannya, terbungkus selimut yang ditemukan seseorang di dalam, terbaring Ratna. Ia tampak rapuh, mungil, seperti burung yang terluka. Namun matanya terbuka. Dan ketika ia melihat Maya lewat jendela mobil, sebuah senyum bergetar tersungging di bibirnya.
"Maya," ucapnya, dengan suara yang nyaris hanya seutas benang. "Anakku."
Maya berhambur keluar dari mobil.
Ia berlari ke arah ibunya, ke arah Bara, ke arah darah dan debu dan bau ketakutan itu. Ia memeluk Ratna sekuat tenaga, merasakan tubuh ibunya bergetar dalam pelukannya, merasakan jantungnya berdetak lemah namun mantap.
"Mama masih hidup," bisik Maya, wajahnya terbenam di bahu Ratna. "Mama masih hidup."
"Berkat dia," jawab Ratna, menunjuk Bara dengan gerakan dagu. "Berkat suamimu."
Maya mengangkat wajah. Bara berdiri di sana, di ambang pintu rumah, darah mengering di tangannya, dengan raut yang tak bisa Maya baca. Lelah, mungkin. Atau lega. Atau mungkin keduanya.
"Mahendra," ucap Maya. "Di mana dia?"
Bara menatapnya.
"Kabur. Begitu tahu kami masuk, dia lari lewat belakang. Anak buahku mengejarnya."
"Mereka akan menangkapnya?"
Bara mendekatinya. Dengan satu tangan yang berlumur darah, ia mengusap pipi Maya.
"Ya," ucapnya. "Tapi tidak malam ini. Malam ini, kita pulang."
Maya mengangguk. Ia membantu ibunya naik ke mobil. Bara duduk di balik kemudi. Mobil melaju, meninggalkan rumah batu, pepohonan, hutan, dan mimpi buruk itu.
Di kursi belakang, Ratna tertidur dengan kepala bersandar di bahu Maya.
Di kursi depan, Bara menyetir dengan satu tangan, dan dengan tangan yang lain menggenggam tangan Maya.
Tak satu pun dari mereka bicara sepanjang perjalanan.
Kata-kata tak lagi diperlukan.