Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. SATU KAMAR
Jam di dinding ruang tengah penthouse menunjukkan pukul sepuluh malam. Keheningan merayap perlahan di dalam rumah yang megah itu. Setelah menikmati makan malam yang dimasak bersama, suasana di antara Abiyasa dan Nadira kembali diliputi oleh gelombang canggung yang pekat namun manis.
Nadira berdiri kaku di depan pintu kamarnya. Ia mengenakan piyama kaos longgar berwarna merah muda—bukan salah satu dari lingerie sutra berenda yang dibelikan Mama Rahmi tadi siang. Nyalinya belum sekuat itu untuk mengenakan pakaian yang kurang bahan di hadapan Abiyasa.
Namun, saat tangannya menyentuh gagang pintu kamarnya sendiri, suara pintu kamar utama yang berada di sebelah kanan koridor terbuka.
Abiyasa keluar dari kamarnya. Pria itu sudah membasahi rambutnya yang kini agak berantakan, mengenakan celana piyama kain berwarna abu-abu gelap dan kaos polos hitam yang membalut tubuh tegapnya dengan santai. Pria itu tidak membawa berkas kerja atau tabletnya—sebuah pemandangan langka yang menandakan bahwa tugasnya sebagai CEO telah selesai untuk hari ini.
Abiyasa melangkah mendekati Nadira. Langkah kakinya tanpa suara di atas karpet tebal, namun auranya yang mendominasi membuat Nadira refleks menahan napas.
"Mau ke mana?" tanya Abiyasa pendek, suaranya terdengar sangat dalam dan halus di heningnya malam.
"M-mau tidur, Mas Abi," jawab Nadira pelan, jari-jarinya meremas pinggiran baju piyamanya.
"Kan udah jam sepuluh."
Abiyasa tidak membalas dengan kata-kata. Ia meraih pergelangan tangan Nadira dengan lembut namun pasti, lalu menariknya perlahan menjauh dari pintu kamar gadis itu, menuntunnya menuju kamar utama milik Abiyasa.
Mata Nadira membelalak lebar. "E-eh?! Mas Abi?! Mau ke mana?! Kamar saya kan di sana!"
Abiyasa membuka pintu kamar utamanya yang luas, lalu menuntun Nadira masuk ke dalam.
Kamar itu berukuran dua kali lipat dari kamar Nadira, didominasi warna abu-abu maskulin, dengan sebuah tempat tidur king-size yang sangat besar dan empuk tepat di tengah ruangan. Pencahayaan di dalam kamar disetel temaram oleh lampu tidur bernuansa keemasan di sudut ruangan.
"Mulai malam ini, kamu tidur di sini," ujar Abiyasa tenang seraya menutup pintu kamar di belakang mereka.
Klek.
Suara kunci pintu yang berputar membuat jantung Nadira seperti melompat ke tenggorokan. Ia berbalik membelakangi ranjang, menatap Abiyasa dengan raut wajah panik bercampur salah tingkah yang tak bisa disembunyikan.
"T-tidur di sini?! Tapi kan... janji kita dulu... kamar terpisah!" cicit Nadira, suaranya naik satu oktav.
Abiyasa menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap istri kecilnya dengan pendar kehangatan tersirat di balik iris mata cokelat gelapnya. Ia melangkah maju dua tapak, membuat Nadira mundur refleks hingga bagian belakang lututnya menyentuh pinggiran kasur empuk.
"Perjanjian itu saya buat saat saya pikir pernikahan ini hanyalah transaksi formalitas," tutur Abiyasa pelan namun tegas. Pria itu memajukan tubuhnya, menopang sebelah tangannya di atas kasur, mengunci ruang gerak Nadira. "Tapi sekarang, kamu adalah istri saya dalam arti yang sesungguhnya, Nadira. Saya tidak melihat ada alasan logis untuk membuat suami istri tidur di kamar yang berbeda."
Wajah Nadira seketika membara panas. Aroma parfum sandalwood bercampur wangi sabun mandi yang menyegarkan dari tubuh Abiyasa mendominasi seluruh indranya. Jarak mereka begitu dekat hingga Nadira bisa melihat setiap helai bulu mata Abiyasa dan deru napas hangatnya yang berembus pelan di pipinya.
"Tapi... tapi saya belum siap kalau... kalau Mas Abi..." Nadira tergagap, tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Pikirannya mendadak liar membayangkan hal-hal dewasa yang sering dibicarakan teman-teman sekolahnya.
Melihat kepolosan dan ketakutan manis di wajah Nadira, sudut lipatan bibir Abiyasa terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis nan tampan yang sangat langka.
Jemari Abiyasa terangkat, mengusap lembut helai rambut Nadira yang menutupi dahinya, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat di dahi gadis itu—lama dan penuh rasa hormat.
"Saya tidak akan memaksa kamu melakukan apa pun yang belum kamu siapkan, Nadira," bisik Abiyasa tepat di depan wajah Nadira setelah melepaskan kecupannya. Suaranya terdengar begitu tulus dan menenangkan. "Saya hanya ingin kamu ada di dekat saya. Saya ingin terbangun dan melihat wajahmu pertama kali di pagi hari."
Penjelasan yang begitu jujur dan lembut dari sang CEO dingin membuat seluruh pertahanan dan kepanikan di dada Nadira runtuh seketika. Rasa hangat yang luar biasa menjalar di seluruh aliran darahnya. Pria di hadapannya ini bukanlah monster atau pria asing yang menakutkan, melainkan pelindung dan suaminya yang telah menyerahkan seluruh hatinya.
Nadira menelan ludah, menatap mata Abiyasa yang begitu teduh. "Beneran cuma tidur, kan?"
Abiyasa terkekeh pelan—sebuah tawa rendah yang menggetarkan dada tegapnya.
"Tergantung."
"Mas Abi!" pekik Nadira seraya menepuk dada Abiyasa pelan dengan wajah makin merah padam.
"Saya bercanda," sahut Abiyasa seraya mengacak rambut Nadira dengan gemas. Pria itu menarik tubuhnya mundur, lalu memutari ranjang dan menaiki sisi sebelah kanan kasur. "Ayo naik. Sudah malam, besok kamu harus bangun pagi untuk sekolah."
Nadira menghela napas panjang untuk menetralkan detak jantungnya yang masih berpacu liar. Dengan perlahan dan hati-hati, ia naik ke sisi sebelah kiri tempat tidur yang sangat luas itu. Kasur berkualitas tinggi itu terasa begitu empuk dan nyaman.
Nadira menarik selimut tebal sampai ke sebatas dadanya, lalu berbaring memunggungi Abiyasa. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba berpura-pura tidur walau seluruh saraf tubuhnya tegang luar biasa karena menyadari kehadiran seorang pria dewasa di ranjang yang sama.
Keheningan melingkupi kamar sejenak. Hanya suara deru AC yang terdengar.
Tiba-tiba, Nadira merasakan pergerakan di kasur dari arah belakangnya. Sebuah lengan kekar yang hangat menyusup perlahan dari samping pinggangnya, melingkari perutnya dengan lembut. Dalam satu gerakan perlahan, Abiyasa menarik tubuh mungil Nadira mendekat ke dalam dekapannya, hingga punggung Nadira menempel sempurna pada dada tegap suaminya.
Nadira menahan napas, matanya kembali terbuka lebar di dalam kegelapan temaram.
Abiyasa menyandarkan dagunya di atas puncak kepala Nadira, mengencangkan pelukan protektifnya tanpa rasa canggung sedikit pun.
Kehangatan tubuh pria itu meresap melalui kain piyama mereka, memberikan rasa aman dan nyaman yang belum pernah Nadira rasakan sebelumnya.
"Mas... Abi?" bisik Nadira pelan, suaranya bergetar halus.
"Ssshh... tidur, Nadira," bisik Abiyasa di rambutnya. Jemari Abiyasa yang besar mengusap-usap pelan jemari kecil Nadira yang berada dalam genggamannya di atas perut.
"Biarkan seperti ini. Saya hanya ingin memeluk istri saya."
Nadira membiarkan jemarinya tenggelam dalam genggaman hangat suaminya. Ketegangan di tubuhnya perlahan melarut, digantikan oleh kedamaian yang mendalam. Ia menyandarkan kepalanya lebih dalam ke dada Abiyasa, menghirup aroma maskulin yang kini menjadi aroma terfavoritnya di dunia.
"Mas Abi..." panggil Nadira lagi dalam bisikan lembut.
"Ya?"
"Selamat tidur, suami es," gumam Nadira seraya menyunggingkan senyum manis yang tersembunyi di kegelapan malam.
Abiyasa tersenyum, mengecup singkat puncak kepala Nadira penuh kasih sayang. "Selamat tidur, Nyonya Mahendra."
Di bawah naungan malam dan dalam dekapan hangat yang membuai, dua insan yang semula disatukan oleh selembar kertas wasiat tanpa cinta itu kini tertidur lelap dalam ikatan jiwa yang telah utuh sempurna.