Anton Kozlov, sang Don Bratva yang dijuluki "Serigala St. Petersburg", telah lama mengubur hatinya di balik es. Sejak kehilangan satu-satunya perempuan yang pernah ia cintai, ia memerintah kerajaan minyak dan darahnya tanpa belas kasihan—dan tanpa senyum. Yang tersisa hanyalah putra kecilnya, seorang pewaris yang tumbuh dalam kebisuan dan luka yang tak seorang pun tahu.
Di seberang samudra, Emily tak pernah punya kemewahan untuk menyerah. Perempuan Brasil berdarah panas ini bertahan dari masa lalu yang kelam demi satu-satunya alasan ia terus melangkah: putrinya. Ia tak butuh diselamatkan siapa pun—sampai takdir membenturkan hidupnya dengan lelaki paling berbahaya di dunia bawah.
Ketika si dingin dari utara bertemu si hangat dari selatan, tak ada yang tersisa sama. Anton menawarkan sebuah kesepakatan: perlindungan, kehormatan, dan keamanan—segalanya, kecuali cinta yang ia bersumpah takkan pernah ia berikan lagi. Tapi Emily membawa sesuatu yang tak bisa dibeli seluruh kekayaan Bratva: kehangatan yang perlahan meretakkan tembok es, dan penyembuhan bagi sebuah keluarga yang nyaris hancur.
Namun di dunia tempat kesetiaan ditulis dengan darah, musuh-musuh lama mengintai dari bayang-bayang, dan mencintai sang Don berarti menjadi sasaran berikutnya. Untuk melindungi perempuan dan anak-anak yang kini menjadi dunianya, Anton siap membakar neraka itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Ferrer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARGA SEBUAH KEBUNGKAMAN
Tujuh tahun berlalu bagai satu embusan napas beku di atas kediaman keluarga Kozlov.
Selama kurun itu, kerajaan sah berupa anjungan minyak dan gas alam melipatgandakan ukurannya tiga kali, membiayai pertumbuhan Bratva yang makin agresif di bawah komando Anton yang tanpa ampun. Bagi dunia luar, sang Don adalah monster es yang tak tersentuh. Namun, di dalam tembok kediaman itu, ia berusaha—dengan caranya yang bengkok, patah, dan aneh—menjadi ayah yang tak pernah ia miliki.
Abran tumbuh dikelilingi hal-hal terbaik yang bisa dibeli uang dan kekuasaan, tetapi ia tumbuh dalam kebisuan. Ia bocah pendiam, pengamat, yang seolah memikul beban dunia di punggung kecilnya yang baru berusia tujuh tahun.
Di lapangan latihan pribadi kediaman itu, bocah tersebut menggenggam pistol yang telah disesuaikan dengan ukuran tubuhnya. Kakinya berpijak mantap di atas salju, mata birunya yang identik dengan mata sang ayah terpaku pada sasaran logam beberapa meter di depan.
DOR.
Logam itu berdenting; sebuah tembakan sempurna tepat di tengah.
Anton mengamati dengan tangan terlipat, sikapnya kaku, mantel hitam panjangnya berkibar diterpa angin beku. Ia mendekati putranya dan meletakkan tangannya yang berat di atas bahu kecil bocah itu. Itulah kasih sayang fisik paling maksimal yang mampu ditunjukkan Anton—sebuah rasa memiliki yang sunyi dan protektif.
"Tembakan bagus, Abran," suara Anton terdengar berat, tanpa kehangatan masa lalu, tetapi dengan kebanggaan yang jelas. "Pewaris Bratva butuh presisi. Pelajaran mengemudi dan bela dirimu juga berkembang dengan baik."
Abran mengunci senjatanya dengan kematangan yang mengerikan, berbalik menghadap ayahnya, dan sedikit menundukkan kepala.
"Terima kasih, Tuan. Saya berusaha menjadi kebanggaan keluarga kita," jawab bocah itu, dengan sopan santun yang tanpa cela, tetapi dengan suara dingin, hampa dari keceriaan yang lazim ada pada anak seusianya.
Anton menatap bocah itu dan, sesaat, sebuah nyeri menusuk dadanya. Ia berusaha untuk hadir. Berbeda dengan cara ia sendiri dibesarkan—tempat mendiang ayahnya mencambukinya dengan cambuk kulit atas kesalahan sekecil apa pun, meninggalkan luka-luka dalam dan permanen yang masih menodai sekujur punggung Anton—ia tak pernah menyentuh Abran walau seujung jari. Ia menunjukkan cinta dengan mengajari bocah itu bertahan hidup, menjadi pemimpin, tak pernah menjadi korban. Tetapi tampaknya, makin keras Anton berusaha melindunginya, makin dalam bocah itu menutup diri di dunianya sendiri.
Jika diajak bicara, ia menjawab. Jika dibiarkan diam, ia bisa berjam-jam menatap kehampaan.
Nanti malamnya, di ruang makan yang luas, Katerina mengamati cucunya dari jauh. Depresi dan panik masih memenjarakannya di dalam batas-batas kediaman itu, tetapi taman musim dingin dan sang cucu adalah satu-satunya alasannya untuk terus bernapas.
"Teh Nenek sudah siap," ucap Abran lembut, menarikkan kursi untuk neneknya dengan kesantunan seorang pangeran mafia.
"Terima kasih, malaikatku," Katerina tersenyum, mengulurkan tangan untuk membelai wajah cucunya.
Pada seperseribu detik ketika jari-jari Katerina mendekat, tubuh Abran menegang. Ia mundur selangkah nyaris tak kasatmata, matanya membelalak dalam kilat panik murni, menghindari sentuhan itu. Katerina menarik kembali tangannya, sedih, tetapi sudah terbiasa. Bocah itu memiliki rasa takut yang tak bisa dijelaskan terhadap sentuhan perempuan. Tak ada yang tahu sebabnya. Nenek tidak, ayah tidak... tak seorang pun mampu memancing keluar darinya alasan di balik fobia itu.
Namun jawaban atas teror Abran tidak berada di halaman latihan atau di ruang makan di bawah pengawasan Anton. Kenyataan berdarah dan kejam itu terkunci di dalam kamar bocah tersebut—satu-satunya ruangan di kediaman itu yang, atas tuntutan privasi bagi sang pewaris, tak dipasangi kamera oleh Anton.
Begitu malam turun dan Anton keluar untuk menyelesaikan sengketa wilayah di dermaga, pintu kamar Abran terbuka.
Poliana, kepala rumah tangga sekaligus pengasuh kepercayaan keluarga itu, masuk. Ia mengenakan seragam tanpa cela, rambut pirangnya disanggul rapi. Di hadapan Anton, ia membungkuk, berusaha tampak tak tergantikan, memelihara mimpi rahasia untuk menjadi ratu baru Bratva—hasrat yang setiap hari diremukkan Anton dengan sikap acuhnya yang total. Tetapi di sana, di dalam kamar gelap itu, ia adalah iblis itu sendiri.
Abran, yang sedang duduk di ranjang membaca buku taktik, seketika menutup buku itu. Tubuh kecilnya mulai gemetar.
"Wah, wah... bukankah ini si pembunuh cilik," desis Poliana, mengunci pintu di belakangnya. Suara manis yang biasa ia pakai di depan majikannya lenyap, digantikan nada penuh racun. "Sedang apa kamu dengan ayahmu tadi? Berpura-pura jadi lelaki dewasa?"
Abran mempertahankan pandangannya tetap terpaku ke lantai. Ia tahu aturannya. Kalau ia salah menjawab, keadaan akan jadi lebih buruk.
"Saya berlatih, Poliana," jawabnya, berusaha mempertahankan suara mantap yang diajarkan ayahnya.
"Kamu tak lebih dari monster kecil," Poliana melangkah mendekatinya, membuka sanggulnya, matanya sarat kebencian yang sakit. Ia membenci bocah itu karena bocah itulah satu-satunya ikatan yang mengikat Anton pada masa lalu, satu-satunya alasan sang Don tak pernah meliriknya. "Kamu tahu kenapa ayahmu tak pernah tersenyum padamu, Abran? Kamu tahu kenapa ia menatapmu dengan mata es itu?"
Abran menelan tangisnya, buku-buku jarinya memutih karena begitu kuat meremas seprai.
"Karena kamu membunuh ibumu," bisik Poliana dengan kejam, menempelkan wajahnya ke wajah bocah itu. "Alison cantik, seorang ratu. Dan kamu melahapnya dari dalam. Kamu mengisap habis nyawanya. Ayahmu diam-diam membencimu, karena setiap kali ia menatap wajah jelekmu, ia teringat bahwa perempuan yang benar-benar ia cintai membusuk di bawah tanah karena kamu. Kamu adalah kutukan."
"Tidak..." sebuah isak kecil lolos dari bibir Abran.
"Tidak? Mari kita lihat apakah kamu bisa belajar untuk diam."
Poliana melangkah ke kamar mandi dan kembali membawa sehelai handuk tebal yang basah kuyup oleh air dingin. Ia tak pernah meninggalkan bekas pukulan yang bisa dilihat Anton saat latihan. Ia begitu terlatih dalam kekejamannya.
Ia mencengkeram lengan Abran kuat-kuat. Bocah itu tidak menjerit. Rasa takut akan Poliana menepati janjinya untuk mengadu pada sang ayah tentang "monster yang sebenarnya" membungkamnya. Poliana mengayunkan handuk basah itu ke tulang rusuk bocah tersebut, sebuah pukulan teredam, tetapi cukup untuk menyapu habis udara dari paru-parunya. Abran jatuh ke lantai, menahan napas.
Namun yang terburuk datang setelahnya. Poliana berjongkok, matanya menyorotkan niat jahat. Ia mencengkeram buah zakar bocah itu di antara jarinya, meremasnya dengan kekuatan yang brutal, meremukkan.
Rasa sakitnya begitu memilukan, begitu ganas bagi tubuh seorang anak tujuh tahun, hingga pandangan Abran mulai mengabur. Udara lenyap dari tenggorokannya. Ia mencoba mendorong Poliana, tetapi panik dan rasa sakit yang teramat sangat melumpuhkan ototnya. Beberapa detik kemudian, dunia menjadi gelap gulita, dan bocah itu ambruk di atas karpet, pingsan.
Poliana meludah ke lantai di sampingnya, merapikan seragamnya, lalu keluar dari kamar, meninggalkan pewaris mafia Rusia itu tergeletak hancur dalam gelap.
Berjam-jam kemudian, efek pingsan itu berlalu. Abran terbangun dengan kepala pening, tubuh nyeri, dan mual yang mengerikan. Ia menyeret dirinya ke ranjang, menangis lirih dalam keremangan, meringkuk seperti binatang yang terluka.
Ia bisa saja mengadu pada ayahnya. Ia tahu cara menembak, tahu bahwa satu perintah darinya akan membuat para prajurit Bratva mencincang Poliana berkeping-keping. Tetapi ketakutan psikologis adalah penjara yang lebih kuat daripada jeruji besi. Di benak Abran yang polos dan trauma, kata-kata Poliana masuk akal: ia memang telah membunuh ibunya. Ayahnya memang pasti membencinya. Ia lebih memilih menanggung rasa sakit dalam diam daripada melihat ayahnya menegaskan bahwa ia tak mencintainya.
Menjelang fajar, pintu kembali terbuka, tetapi kali ini terdengar langkah-langkah berat dan mantap. Itu Anton; ia baru saja pulang dari jalanan. Ia selalu mampir ke kamar putranya sebelum menyepi ke kamarnya sendiri.
Anton mendekati ranjang dan melihat putranya terjaga, menatap ke arah jendela. Sang Don duduk di tepi kasur. Ia mengulurkan tangan untuk menyentuh rambut bocah itu, tetapi, melihat Abran sedikit tersentak, ia ragu dan menarik kembali tangannya, membiarkannya beristirahat di atas seprai.
"Tidak bisa tidur, Abran?" tanya Anton, suaranya serak oleh lelah.
Abran berkedip, cepat-cepat menyeka setiap jejak air mata di bantal. Ia menatap ayahnya—lelaki berwibawa itu, sang Don yang ditakuti semua orang, ada di sana, berusaha dengan caranya yang aneh menawarkan sedikit hiburan.
"Saya tidak mengantuk, Tuan," jawab bocah itu, suaranya nyaris tak terdengar.
Anton menatap putranya lama sekali, ingin sekali tahu bagaimana cara meruntuhkan tembok es yang seolah memisahkan mereka berdua.
"Ada sesuatu yang kamu inginkan?" tanya Anton, mencari petunjuk sekecil apa pun tentang apa yang berkecamuk di benak sang pewaris. "Apa saja, minta, dan besok akan kubawakan untukmu. Mobil baru untuk lintasan? Senjata baru? Katakan."
Abran menatap lekat mata biru ayahnya. Bocah itu tak menginginkan senjata, tak menginginkan kerajaan, tak menginginkan minyak. Ia menginginkan setitik cahaya di rumah yang penuh hantu dan derita itu. Ia menginginkan seseorang untuk dilindungi, seseorang yang bisa membuat ayahnya tersenyum lagi.
"Seorang adik perempuan, Tuan..." bisik Abran, dan untuk pertama kalinya, ada kilau permohonan di matanya. "Impianku adalah punya adik perempuan kecil."
Anton mengatupkan rahang. Permintaan itu menghantam dasar jiwanya yang tenggelam dalam duka. Ia bangkit perlahan, mantel hitamnya menyapu lantai.
"Istirahatlah, Abran, besok latihan mulai pagi-pagi," ucap Anton, suaranya tiba-tiba lebih dingin, sebelum ia membalikkan badan dan keluar dari kamar.
Sendirian di lorong yang gelap, Anton menyandarkan kepala ke dinding batu dan memejamkan mata. Seorang adik perempuan berarti seorang istri baru. Berarti membuka pintu neraka itu untuk perempuan lain. Dan Anton Kozlov lebih memilih terbakar di dalam esnya sendiri daripada mengizinkan cinta kembali masuk ke dalam hidupnya.
Ia hanya tak tahu bahwa, di seberang samudra sana, masa lalu seorang perempuan Brasil akan segera berbenturan dengan masa lalunya, dan bahwa perempuan itu akan membawa persis apa yang paling diinginkan Abran kecil: seorang adik perempuan untuk dilindungi, dan penyembuh bagi keluarga yang hancur ini.