Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam Kesumat
Dendam kesumat itu merayap cepat, meracuni setiap kewarasan yang tersisa di dalam benak Viola. Otaknya yang dipenuhi kebencian mulai merancang sebuah pembalasan yang keji, sebuah tindakan ekstrem yang jauh melampaui batas norma kemanusiaan. Ia tahu, menyerang Evita langsung di kampus atau di apartemennya tidak akan memberikan kepuasan yang setimpal. Ia harus menyerang titik paling rapuh dari wanita itu—keluarganya.
Viola teringat pada percakapan Xander beberapa waktu lalu yang sempat menyebutkan latar belakang keluarga Evita. Tanpa pikir panjang, Viola langsung menginjak pedal gas mobilnya dalam-dalam. Kendaraan mewah itu melesat membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan tinggi, meninggalkan jejak deru ban yang memekakkan telinga. Tujuannya satu: rumah orang tua Evita, Pak Santoso dan Bu Yekti, di sebuah kawasan permukiman yang cukup tenang.
Lima puluh menit kemudian, sedan hitam milik Viola menepi di sebuah ruas jalan perumahan yang asri dan teduh. Ia memarkirkan kendaraannya agak jauh dari rumah tujuan agar tidak mencurigakan. Dengan mengenakan kacamata hitam besar untuk menutupi separuh wajahnya yang masih sedikit kemerahan akibat tamparan, Viola keluar membawa sebuah jerigen plastik berukuran sedang berwarna biru yang memang biasa ia simpan di bagasi mobilnya untuk persediaan darurat bahan bakar.
Jerigen itu sudah ia isi penuh dengan bensin di sebuah SPBU terdekat beberapa saat yang lalu.
Langkah kakinya yang mengenakan sepatu hak tinggi terketuk tajam di atas aspal perumahan yang sepi di siang hari yang terik. Beberapa tetangga sekitar tampak sibuk di dalam rumah masing-masing, tidak ada yang menaruh curiga pada wanita berpenampilan modis namun berwajah dingin yang berjalan mantap menuju rumah bercat krem dengan pagar kayu rendah di ujung jalan.
Di atas papan nama kecil di dinding depan tertera jelas: Kediaman Bapak H. Santoso.
****
Viola berhenti tepat di depan gerbang rumah tersebut. Ia mendongak, mengamati suasana rumah dua lantai yang tampak tenang dan damai. Di teras depan, tampak beberapa pot tanaman hias tertata rapi, hasil jerih payah Pak Santoso yang gemar berkebun di masa tuanya. Suasana rumah itu memancarkan kehangatan sebuah keluarga terhormat yang jauh dari hingar-bingar kebencian dunia luar.
Namun kehangatan itu justru menyulut kebencian yang semakin membabi buta di dada Viola.
"Ah, rumah yang sangat tenang untuk memulai sebuah kehancuran..." bisik Viola pelan dengan tawa kecil yang terdengar sumbang dan menakutkan.
****
Tanpa keraguan sedikit pun, Viola mendorong gerbang pagar yang tidak terkunci rapat. Dengan sekuat tenaga, ia menendang keras salah satu pot bunga keramik berukuran besar yang berdiri di dekat teras hingga...
Pecah!
Brak! Pecahan tanah liat dan tanah berhamburan ke lantai keramik teras, bersamaan dengan bunga hancur berkeping-keping. Suara gaduh itu sempat membuat pintu kayu utama rumah berderit pelan dari dalam, seolah ada seseorang yang hendak keluar memeriksa keadaan.
Panik sesaat, namun niat jahat Viola jauh lebih mendominasi. Sebelum penghuni rumah sempat membuka pintu, Viola langsung membuka tutup jerigen plastik di tangan kanannya.
Tanpa belas kasih, wanita itu mulai menyiramkan cairan bensin berbau menyengat ke seluruh sudut teras rumah orang tua Evita. Ia menyiramkannya ke dinding kayu, jendela depan, tumpukan keset, hingga ke bagian bawah pintu utama tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun. Bau bensin langsung menguap pekat di udara panas siang itu, mencemari kesunyian lingkungan sekitar.
"Keluar kalian... Lihat apa yang akan dilakukan oleh wanita yang kalian sakiti!" geram Viola di tengah aksinya yang gila.
****
Dari balik jendela kaca ruang tamu, sesosok wanita paruh baya berkerudung rapi—Bu Yekti, ibu kandung Evita—terperanjat kaget saat melihat bayangan orang asing mengotori teras rumahnya. Dengan kerutan di dahi dan rasa cemas melanda, Bu Yekti membuka daun pintu utama perlahan-lahan.
"Astagfirullahaladzim! Siapa kamu? Sedang apa di teras rumah saya?!" seru Bu Yekti dengan suara bergetar kaget, menatap wanita asing berpakaian mencolok yang berdiri di depan pintu rumahnya dengan jerigen di tangan.
Mendengar suara itu, Viola mendongak. Di balik kacamata hitamnya, ia menatap Bu Yekti dengan senyuman sadis yang luar biasa mengerikan. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada rasa takut—yang ada hanya gelombang amarah destruktif yang siap menghanguskan segalanya.
"Ibu dari Evita Desniati, ya?" ucap Viola dengan suara dingin dan menusuk. "Nikmati hadiah perpisahan dariku untuk anak perempuanmu yang kurang ajar itu!"
"Ha? Apa maksudmu? Kamu gila, ya! Pergi dari sini atau saya panggilkan warga!" teriak Bu Yekti panik, melangkah mundur saat ia mencium bau bensin yang begitu menyengat memenuhi teras rumahnya. Wanita tua itu mulai gemetar ketakutan melihat gelagat aneh dari wanita di hadapannya.
****
Alih-alih lari, Viola justru merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah korek api gas berwarna merah. Ia menyalakan api kecil pada ujung korek tersebut, menciptakan nyala oranye yang menari-nari di tengah teriknya siang bolong.
Wajah Bu Yekti pucat pasi seketika. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat benda di tangan wanita itu. "Jangan... Jangan lakukan itu! Astagfirullah! Tolong...!" teriak Bu Yekti histeris, berusaha menutup kembali pintu rumahnya sambil meminta pertolongan.
Namun terlambat.
Viola tertawa histeris—tawa lepas seorang wanita yang jiwanya telah dikuasai oleh kegelapan mutlak. Dengan gerakan tanpa ampun, ia melemparkan korek api yang menyala itu tepat ke genangan bensin di depan pintu rumah Pak Santoso.
Fwoooosh!
Dalam sepersekian detik, api menyambar cepat, membakar cairan bensin dan membesar dengan suara bergemuruh yang memekakkan telinga. Kobaran api yang merah menyala langsung melahap dinding kayu teras, merambat cepat ke arah tirai jendela dan membumbungkan asap hitam pekat ke udara angkasa.
"Kebakaran! Tolong! Kebakaran!" teriak Bu Yekti histeris dari dalam rumah, suaranya tenggelam di antara deru api yang semakin membesar dan melahap bagian depan rumah tersebut.
Viola berdiri terpaku di halaman depan, menikmati pemandangan mengerikan itu dengan senyuman lebar penuh kepuasan yang teramat sangat di wajahnya. Ia tidak peduli jika ada nyawa yang terancam di dalam sana. Bagi Viola, kehancuran keluarga Evita adalah satu-satunya harga yang pantas dibayar atas luka di harga dirinya.
"Ini baru permulaan, Evita..." bisik Viola penuh kemenangan di tengah panasnya kobaran api.
Tanpa membuang waktu lagi, sebelum warga sekitar berdatangan mendengar teriakan histeris Bu Yekti, Viola memutar tubuhnya. Ia berlari kencang meninggalkan halaman rumah yang kini telah dilalap api besar, menuju mobilnya yang terparkir di ujung jalan, lalu menancap gas melarikan diri tanpa jejak, meninggalkan kepulan asap hitam yang mencengkeram ketakutan seluruh warga perumahan.