Indonesia
NovelToon NovelToon
BERANDAL

BERANDAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Urban
Popularitas:668
Nilai: 5
Nama Author: Denis Suhendar

JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya

***

"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."

***

Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."

Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Darah Pembuktian Sang Raja

Petir kembali menyambar di langit malam, memantulkan kilatan cahaya perak pada bilah celurit panjang yang dipegang erat oleh ketua tertinggi Red Wolf. Hujan deras yang mengguyur bumi seolah tidak mampu meredam hawa panas amarah yang meledak-ledak di antara dua pemimpin geng motor terbesar di kota ini. Di sekeliling mereka, pertempuran massal antara faksi Black Cobra dan aliansi Red Wolf masih berlangsung beringas, namun area tengah halaman markas yang luas itu mendadak kosong, menyisakan ruang melingkar untuk duel maut mereka berdua.

"Kau hanyalah bocah ingusan yang beruntung bisa memimpin Black Cobra, Eksan Prasetya!" raung ketua Red Wolf, pria bertubuh raksasa dengan bekas luka bakar di lehernya itu. Tanpa menunggu aba-aba, ia menerjang maju dengan beringas, mengayunkan celurit panjangnya dalam tebasan horizontal yang mengincar leher Eksan.

*WUUUTT!*

Eksan bergerak secepat kilat. Ia merundukkan tubuh tegapnya ke bawah, membiarkan mata pisau tajam musuh menebas angin kosong tepat beberapa sentimeter di atas pucuk rambutnya. Bersamaan dengan gerakan menghindar itu, rasa perih luar biasa seperti terbakar kembali menusuk perut kiri Eksan. Jahitan perbannya benar-benar koyak sepenuhnya sekarang, membuat cairan merah segar mengalir deras, membasahi seragam sekolah putihnya hingga berubah warna menjadi merah pekat.

"Bos Eksan! Lukamu!" teriak Raka dari kejauhan di sela-sela perkelahian dengan anak buah musuh. Raka ingin berlari mendekat untuk membantu, namun posisinya tertahan oleh kepungan tiga anggota Red Wolf lainnya.

Eksan sama sekali tidak memedulikan teriakan peringatan dari orang kepercayaannya. Sepasang mata elangnya mengeras dengan kilatan pekat yang sangat mematikan. Baginya, rasa sakit fisik di tubuhnya saat ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan taruhan keselamatan Nasya yang sedang tertidur lelap di kamar atas markas.

"Kau terlalu banyak bicara, Tua Bangka," bisik Eksan dengan suara rendah yang serak, teredam oleh derasnya gemercik air hujan.

Sebelum ketua Red Wolf sempat menarik kembali posisi celuritnya, Eksan mengambil satu langkah cepat ke depan untuk mempersempit jarak bertarung. Ia mengayunkan balok kayu tebal di tangan kanannya dengan kekuatan penuh yang tersisa di otot lengan kekarnya.

*BRUUAAAKKK!*

Balok kayu itu menghantam telak tulang rusuk bagian kanan ketua Red Wolf dengan bunyi berderak yang sangat mengerikan. Hantaman brutal itu sukses membuat pria bertubuh raksasa tersebut terhuyung mundur beberapa langkah ke belakang dengan napas yang mendadak tercekat menahan rasa sakit yang luar biasa. Celurit panjang di tangannya bahkan nyaris terlepas akibat benturan keras tersebut.

Eksan tidak memberikan celah sedikit pun bagi musuhnya untuk memulihkan posisi atau mengambil napas. Layaknya monster jalanan yang telah kehilangan akal sehatnya demi melindungi wilayah terlarangnya, Eksan menjatuhkan balok kayunya ke atas aspal, lalu maju menerjang dan mencengkeram erat kerah jaket kulit merah milik ketua Red Wolf.

*BUGH! BUGH! BUGH!*

Tiga pukulan mentah berkekuatan gila dari kepalan tangan kanan Eksan menghantam bertubi-tubi tepat di bagian rahang dan hidung ketua musuh tanpa ampun. Darah segar menyembur keluar dari wajah pria bertubuh raksasa itu, bercampur baur dengan guyuran air hujan yang membasahi halaman markas. Pada pukulan keempat, Eksan memutar tubuhnya setengah lingkaran dan melepaskan satu tendangan lurus yang telak menghantam dada musuhnya.

Tubuh besar ketua Red Wolf itu akhirnya tumbang dengan sangat mengenaskan. Ia ambruk terlentang di atas genangan air aspal basah, tidak lagi memiliki kekuatan untuk sekadar mengangkat kepalanya sendiri. Senjata celuritnya terlempar jauh, tergeletak tak berguna di sudut halaman.

Melihat pemimpin tertinggi mereka ditumbangkan secara brutal dan mengenaskan oleh Eksan, seluruh sisa pasukan geng Red Wolf yang awalnya bertarung beringas mendadak membeku di tempat. Senjata di tangan mereka perlahan-lahan diturunkan dengan tubuh yang gemetar ketakutan. Nyali jalanan mereka menciut habis dalam sekejap melihat pemandangan di hadapan mereka. Eksan berdiri tegak di bawah siraman air hujan, berselimutkan darahnya sendiri dan darah musuh, menatap mereka semua dengan sorot mata haus darah yang murni.

"Bawa bangkai ketua kalian ini pergi dari kawasan industri sekarang juga..." suara Eksan terdengar sangat rendah, berat, namun memiliki gaung intimidasi mutlak yang menggema mematikan di setiap sudut malam yang dingin. "Dan sampaikan pada seluruh orang jalanan di kota ini... siapa pun yang berani mengusik ketenangan Nasya lagi setelah malam ini, aku bersumpah demi nama Black Cobra akan memburu kepala mereka sampai ke lubang neraka terdalam."

Tanpa membuang waktu satu detik pun, belasan anggota Red Wolf yang tersisa langsung berlari ketakutan membopong tubuh ketua mereka yang sudah babak belur tidak sadarkan diri. Mereka buru-buru naik ke atas motor dan mobil van mereka, lalu melesat kabur melarikan diri menembus kegelapan malam, menyisakan kehancuran pagar besi markas dan kesunyian yang mencekam.

Faksi Black Cobra telah memenangkan pertempuran besar malam ini dengan mutlak. Seluruh anak buah Eksan serentak bersorak riuh meneriakkan nama pemimpin tertinggi mereka dengan bangga, namun Eksan sama sekali tidak merayakan kemenangan tersebut.

Tubuh tegap Eksan mendadak limbung. Pandangan matanya mulai berputar hebat karena telah kehilangan terlalu banyak darah sepanjang duel maut tadi. Sambil memegangi perut kirinya yang terasa mati rasa, Eksan berjalan terhuyung-huyung melangkah masuk kembali ke dalam gudang kontainer, mengabaikan luka-luka di tubuhnya demi satu tujuan pasti: memeriksa kondisi gadis sekolah yang ia sembunyikan di kamar atas.

Dengan sisa tenaga terakhirnya, Eksan menaiki anak tangga besi satu per satu. Tangannya yang gemetar dan bersimbah darah meraih kunci pintu kamar, memutarnya perlahan, lalu membuka pintu kayu tersebut.

Di dalam kamar yang temaram, Nasya rupanya terbangun akibat suara petir yang keras tadi. Gadis polos itu terduduk di tepi kasur dengan wajah yang pucat pasi karena ketakutan mendengar keributan di bawah. Namun, begitu matanya menangkap sosok Eksan yang berdiri di ambang pintu dengan seragam sekolah yang kini telah berubah warna menjadi merah pekat sepenuhnya oleh darah, Nasya langsung menjerit histeris penuh kepanikan.

"Eksan!!! Ya Tuhan, tubuhmu...!!!" seru Nasya dengan air mata yang langsung tumpah membanjiri pipinya. Ia berlari kencang mendekat, bersiap untuk menahan tubuh Eksan yang mulai ambruk ke depan.

Eksan menjatuhkan seluruh berat tubuh tegapnya ke dalam pelukan hangat Nasya. Meskipun kesadarannya berada di ambang batas terjauh dan bintik-bintik hitam mulai menguasai pandangannya, sudut bibir Eksan yang terluka tetap mengukir sebuah senyuman tipis yang sangat tulus. Tangan kasarnya yang kotor perlahan bergerak mencengkeram erat bahu ringkih Nasya, mendekap gadis itu posesif untuk terakhir kalinya sebelum kegelapan benar-benar merenggut kesadarannya.

"Badainya... sudah selesai, Nasya..." bisik Eksan sangat lirih tepat di samping telinga gadis itu, sebelum akhirnya tubuh kekarnya benar-benar pingsan tak sadarkan diri di dalam dekapan erat wanitanya.

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semngat nulis nya k👍
Denis Suhendar: semangat ganbate 💪💪
total 1 replies
Rudik Irawan
sering² up Thor
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: mampir KA berikan ulasan agar aku bisa Berkembang
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!