Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.
Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.
Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aturan Empat Hari Tiga Malam
Gema riuh pameran Design Expose akhirnya resmi meredup seiring ditutupnya Hall Utama FSD pada Minggu malam. Sukses besar acara tersebut membuah rasa lega yang meluap bagi seluruh civitas akademika, khususnya mahasiswa angkatan dua puluh tiga yang telah memeras keringat selama berminggu-minggu.
Sebagai bentuk apresiasi dan bagian dari program kuliah lapangan tahunan, pihak jurusan mengumumkan kegiatan studi ekskursi dan pengayaan budaya selama empat hari tiga malam ke Bandung.
Berita itu disambut sorak-sorai antusias oleh para mahasiswa, termasuk Kania yang langsung menyusun daftar tempat kuliner dan galeri seni yang wajib dikunjungi.
Namun, bagi Nadhira, ada satu kabar tambahan yang sukses membuat perutnya mulas mendadak, Pak Reyhan dan Bu Citra ditunjuk langsung oleh Dekanat sebagai dua dosen pendamping utama selama perjalanan berlangsung.
Artinya, selama empat hari penuh di kota orang, Nadhira tidak hanya harus berhadapan dengan teman-temannya, tetapi juga harus berada di bawah pengawasan tajam suaminya sendiri yang berstatus dosen pendamping.
Malam sebelum keberangkatan, suasana di rumah dua lantai milik Reyhan terasa sedikit riuh dari biasanya.
Di dalam kamar tidur Nadhira, dua buah koper berukuran berbeda tergelar terbuka di atas karpet bulu. Nadhira bersimpuh di lantai, sibuk melipat pakaian, menyusun tas peralatan mandi, serta memeriksa kembali dokumen perjalanan.
Sementara itu, Reyhan berdiri di dekat pintu melihat kesibukan istrinya itu.
"Pak Reyhan beneran cuma bawa satu koper kecil gitu?" tanya Nadhira melirik koper hitam milik Reyhan yang berada tak jauh dari Reyhan berdiri.
Reyhan membetulkan letak kacamatanya, menatap kopernya dengan pandangan menilai. "Empat hari tiga malam hanya membutuhkan empat setel kemeja, dua celana bahan, satu jaket tebal, dan pakaian dalam secukupnya. Membawa muatan berlebih hanya akan menyusahkan."
Nadhira memutar matanya pasrah, menunjuk kopernya sendiri yang berukuran medium dan sudah hampir penuh oleh jaket rajut, kaus, serta perlengkapan perawatan kulit. "Ya beda lah, Pak! Cewek kan butuh bawa baju hangat lebih, catokan, skincare, belum lagi tempat buat oleh-oleh nanti pas pulang dari Bandung."
Reyhan tidak membalas perdebatan soal koper itu. Pria tegap itu melangkah mendekati tempat tidur, mendudukkan dirinya di tepi kasur sambil mengamati Nadhira yang kembali sibuk menata pakaian.
Keheningan melingkupi kamar sejenak, hanya diisi oleh suara risleting tas kecil dan kesibukan Nadhira menata kopernya agar bisa membawa semua barang yang ia anggap penting.
"Bu Citra sudah membagi bus peserta," ucap Reyhan membuka percakapan, suaranya tenang dan datar.
"Ada dua bus pariwisata besar. Bus satu untuk mahasiswa kelas A dan C beserta Bu Citra, dan Bus dua untuk kelas kamu dan kelas D. Saya akan berada di Bus dua."
Nadhira yang sedang melipat jaket rajut cokelatnya seketika menghentikan pergerakan tangannya. Gadis itu mendongak, menatap Reyhan dengan mata membelalak panik.
"Hah?! Pak Reyhan di Bus dua," seru Nadhira kaget.
"Aduh, Pak... kenapa nggak di Bus satu aja sama Bu Citra? Nanti kalau Pak Reyhan di Bus dua, anak-anak kelas saya pasti pada tegang semua. Mana perjalanan ke Bandung naik bus kan lumayan lama, masa sepanjang jalan anak-anak gak bisa bercanda gara-gara ada Pak Dosen killer di depan?"
Reyhan menyipitkan matanya di balik kacamata, ia tidak suka dengan sebutan 'dosen killer' yang dilontarkan istrinya.
"Pembagian tugas pengawasan didasarkan pada proporsi jumlah mahasiswa. Bu Citra memegang Bus satu, dan saya bertanggung jawab atas keselamatan serta ketertiban di Bus dua. Itu keputusan rapat jurusan, bukan permintaan pribadi saya."
Nadhira menghela napas panjang, menepuk dahinya pelan. "Aduh, bayangin aja udah bikin pegel hati..."
Melihat raut wajah Nadhira yang tampak sangat gelisah, Reyhan menggeser duduknya sedikit lebih dekat ke tepi kasur. Sorot matanya menajam, menyalurkan nada bicara yang lebih dalam.
"Kenapa kamu sekhawatir itu, Nadhira? Apakah keberadaan saya di bus yang sama membuat kamu tidak leluasa?" tanya Reyhan, menguji reaksi istrinya.
Nadhira menegakkan tubuhnya, berbalik menghadap Reyhan sepenuhnya. Wajahnya yang biasa jahil kini berubah sangat serius, sebuah ekspresi yang jarang Nadhira tunjukkan di rumah.
"Bukan cuma masalah gak leluasa di bus, Pak Reyhan," ujar Nadhira dengan gaya bicara santai namun sarat akan ketegasan penuh peringatan. "Ini soal menjaga rahasia kita selama empat hari di Bandung nanti."
Reyhan mengernyitkan keningnya tipis. "Maksud kamu?"
"Pak Reyhan..." Nadhira mendekati tepi kasur, menatap suaminya lurus-lurus.
"Ini pertama kalinya kita pergi luar kota bareng dalam acara kampus yang ramai banget. Teman-teman saya, terutama Kania tuh matanya jeli banget kayak elang. Sedikit aja Pak Reyhan ngasih perlakuan beda, atau kelepasan manggil saya, atau refleks natap saya terlalu lama di depan umum... kelar udah nasib rahasia kita!"
Reyhan mendengarkan penuturan itu dalam diam.
"Ingat janji dan kesepakatan kita dari awal kan, Pak?" lanjut Nadhira mengacungkan jari telunjuknya ke udara.
"Status kita sebagai suami-istri gak boleh ada satu orang pun di kampus yang tahu sampai saya lulus. Apalagi kemarin abis heboh insiden sabotase Siska sama kejadian Rangga di pameran. Kalau sampai anak-anak tahu saya tinggal serumah dan nikah sama Pak Reyhan... bisa geger satu fakultas. Saya gak mau dianggap dapet nilai A atau diistimewakan gara-gara jadi istri dosennya sendiri."
Kata-kata Nadhira meluncur dengan sangat jujur. Ada kekhawatiran mendalam soal independensi dan harga dirinya sebagai mahasiswi yang ingin dinilai murni berdasarkan kemampuannya sendiri, bukan karena statusnya sebagai istri seorang Reyhan.
Reyhan menatap mata bulat Nadhira yang memancarkan ketegasan itu. Di dalam hatinya, ada sedikit rasa terusik karena Nadhira begitu gigih ingin menyembunyikan hubungan mereka.
Namun, di sisi lain, logika rasional Reyhan mengakui bahwa alasan dan kekhawatiran Nadhira sangat masuk akal dan benar secara etika akademis.
Reyhan menyandarkan punggungnya tegap, membetulkan letak kacamatanya dengan jari tengah.
"Saya mengerti kekhawatiran kamu," sahut Reyhan dengan suara berat yang teratur. "Prinsip profesionalisme dan kerahasiaan akademis tetap menjadi prioritas utama saya."
"Beneran ya, Pak?" desak Nadhira memastikan.
"Jadi di Bandung nanti, Pak Reyhan harus janji buat turutin aturan khusus dari saya!"
Reyhan mengernyitkan dahi. "Aturan khusus?"
"Iya! Ada tiga aturan penting selama di Bandung," terang Nadhira bersemangat, mulai menghitung dengan jari-jarinya.
"Pertama, di depan teman-teman saya, Pak Reyhan harus tetep jadi Pak Reyhan yang galak, kaku, dan berjarak. Jangan pernah senyum-senyum aneh atau natap saya terlalu lama pas saya lagi jalan sama Kania."
"Saya tidak pernah 'senyum-senyum aneh'," potong Reyhan kaku mengoreksi perkataan Nadhira.
Nadhira tidak memedulikan bantahan itu dan menaikkan jari keduanya. "Aturan kedua, kalau di hotel atau di tempat wisata, jangan sekali-kali nawarin bantuan atau manggil saya sendirian kalau gak ada urusan tugas kelompok resmi. Biarkan saya menyatu sama rombongan."
"Lalu aturan ketiga?" tanya Reyhan datar.
"Aturan ketiga..." Nadhira menatap Reyhan dengan pandangan mengancam yang malah terlihat menggemaskan.
"Kalau ponsel Pak Reyhan bunyi atau saya ngirim pesan singkat pas malam hari di kamar hotel, balesnya harus formal banget. Takutnya Kania atau temen sekamar saya ngintip layar HP saya."
Reyhan memperhatikan istrinya yang sibuk membuat aturan itu. Pria kaku itu mengembuskan napas pendek, namun sudut matanya menyalurkan sedikit kehangatan terselubung.
Betapa pun konyolnya syarat-syarat yang diajukan Nadhira, Reyhan tahu gadis itu hanya berusaha melindungi integritas mereka berdua.
"Baik," putus Reyhan tegas. "Saya menerima dan akan mematuhi ketiga instruksi kamu selama kegiatan di Bandung."
Nadhira mendesah lega, menepuk kedua tangannya gembira. "Nah, gitu dong! Makasih ya, Pak Dosen!"
"Namun," tambah Reyhan cepat, memotong kegembiraan Nadhira dengan tatapan mata yang mendadak berubah sangat tajam dan protektif.
"Saya juga memiliki satu syarat yang harus kamu patuhi tanpa bantahan."
Nadhira berkedip bingung. "Syarat apa, Pak?"
Reyhan melangkah lebih dekat, menundukkan tubuhnya sedikit hingga wajahnya sejajar dengan mata Nadhira. Aroma wangi pembersih wajah dan sabun maskulin khas Reyhan mendadak mengikis jarak di antara mereka.
"Selama empat hari di Bandung," bisik Reyhan dengan suara rendah yang amat dalam, "kamu dilarang keras melakukan kontak atau menemui Saudara Rangga Dewa Kusuma dalam bentuk apa pun. Jika pria itu mencoba menghubungi atau mendatangi kamu ke lokasi, kamu wajib menghindar."
Nadhira tersentak pelan. Kehangatan napas dan ketegasan aura kecemburuan terselubung dari suaminya itu membuat jantung Nadhira mendadak berdegup kencang tanpa kendali.
Nadhira buru-buru menganggukkan kepalanya cepat. "P-pasti, Pak Reyhan! Lagian si Rangga kan gak ada hubungannya sama acara jalan-jalan jurusan ini. Dia pasti sibuk di kantornya."
"Bagus," jawab Reyhan singkat, kembali menegakkan tubuhnya.
"Selesaikan packing kamu. Pukul sepuluh malam kamu harus sudah tidur. Besok bus berangkat sekitar pukul enam pagi dari halaman kampus."
Reyhan kemudian berbalik menuju pintu kamar Nadhira, ia mengambil buku catatan dan pulpen di atas kopernya untuk memeriksa kembali agenda perjalanan besok.
Nadhira duduk mematung di lantai kamar, memegangi dadanya yang masih berdebar aneh. Ia menatap punggung tegap suaminya yang perlahan menjauh dari kamarnya.
"Aduh, kok jantung gue mendadak lebay gini ya pas Pak Reyhan natap begitu?" batin Nadhira heran pada dirinya sendiri.
Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, mencoba mengusir sensasi aneh itu, lalu buru-buru merapikan sisa pakaian ke dalam kopernya.
...Bersambung... ...