Indonesia
NovelToon NovelToon
Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / CEO / Teen
Popularitas:258
Nilai: 5
Nama Author: lannn_019

Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.

Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.

Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.

Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.

Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.

Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.

Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar Duka

Zevanna mengendarai motor sport-nya membelah jalan raya. Ia membelokkan kendaraannya masuk ke area parkiran sekolah, menghentikan motornya, lalu turun.

Di pergelangan tangan kirinya, jam tangan hitam pemberian dari Kak Zoyya masih melingkar rapi.

Zevanna melangkah santai melewati pinggir lapangan basket yang sedang ramai oleh sorak-sorai siswi-siswi sekolah.

"Jayden! Lo ganteng banget hari ini!"

"Jayden, notice me dong!"

"Jayden, aku padamu!”

Zevanna berdecak geli mendengar teriakan cewek-cewek di pinggir lapangan. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada sambil menatap ke arah lapangan.

"Dih, ganteng dari mananya coba? Yang ada kayak gembel gue lihat!" gumam Zevanna mengejek.

Di tengah lapangan basket, Reon yang baru menangkap bola menoleh ke arah pinggir lapangan. Ia melihat Zevanna berdiri di sana.

"Jay! Itu gebetan lo lagi ngeliatin ke sini," bisik Reon menyikut lengan Jayden.

Jayden menghentikan dribble bolanya, lalu mengangkat satu alisnya. "Gebetan? Yang mana? Perasaan gue nggak punya gebetan deh."

"Ya siapa lagi kalau bukan Zevanna! Kan dia gebetan lo dari dulu," jawab Reon terkekeh.

Jayden langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Reon. Dan benar saja, Zevanna sedang berdiri sambil menyilangkan kedua tangan, menatap lurus ke arah lapangan.

"Udah, Bos, samperin aja!" Celetuk Alan yang berdiri di sampingnya.

Tanpa pikir panjang, Jayden melemparkan bola basketnya pada Kevan, lalu berlari menghampiri Zevanna.

"Hai, Zevanna! Ngapain di sini? Lagi ngeliatin gue, ya?" goda Jayden tersenyum lebar.

Zevanna meliriknya tajam lalu berdecak. "Siapa juga yang ngeliatin lo? Gue lagi ngeliatin langit di atas. Sok pede banget lo!"

Jayden terkekeh pelan. "Ya kirain lo lagi ngagumin gue. Eh, lo udah sarapan belum? Kalau belum, mending kita sarapan bareng di—"

"Gue udah sarapan di rumah," potong Zevanna dingin.

Jayden manggut-manggut. "Oh, udah sarapan... Terus lo mau ke mana? Mau ke kelas?"

"Ke kuburan! Mau nguburin lo!" jawab Zevanna ketus.

"Kok lo tega banget mau nguburin gue sih? Nanti kalau gue udah nggak ada di dunia ini, lo malah kangen lagi sama gue," goda Jayden menaik-turunkan alisnya.

Zevanna memutar bola matanya malas. "Dih, sok iyee banget lo! Daripada kangenin curut kayak lo, mending gue cari cowok lain yang jauh lebih ganteng!”

Tanpa menunggu balasan Jayden, Zevanna melengos pergi melangkah menuju gedung kelas.

"Zevanna, tunggu!" panggil Jayden cepat menyusul langkah Zevanna naik menaiki anak tangga.

"Apa lagi sih, Jay?! Lo bisa nggak sih sehari aja jangan ganggu hidup gue?!" ketus Zevanna menghentikan langkahnya di tangga.

Jayden menggeleng cepat. "Nggak bisa. Soalnya lo itu cewek yang gue suka."

"Najis!" sembur Zevanna.

Ia mempercepat langkahnya menuju lantai dua, lalu masuk ke kelasnya 12 IPS 2.

"Zev, nanti pulang sekolah kita jalan bareng yuk!" teriak Jayden masih berdiri di depan pintu.

"Gue sibuk!" sahut Zevanna dari dalam.

"Sibuk apa?" tanya Jayden penasaran.

"Kepo banget lo!" ketus Zevanna.

"Eh, Zev! Lo nanti kalau udah lulus mau kuliah di mana?" tanya Jayden lagi tak kenal menyerah.

Zevanna berbalik badan, menatap Jayden dengan tatapan mematikan.

"Bisa stop nanya nggak?!" sentak Zevanna. "Telinga gue udah muak dengerin lo nanya dari tadi! Lo kalau mau makan atau jalan, sana jalan sama cewek lain aja! Jangan sama gue!"

"Tapi gue maunya cuma sama lo, Zev," balas Jayden lembut.

"Gue nggak peduli!" pangkas Zevanna lalu duduk di bangkunya.

Jayden malah tersenyum tipis. "Oke, Zevanna. Kalau lo nolak hari ini, nggak apa-apa. Masih ada hari esok kok.”

Setelah mengucapkan kalimat sok manis itu, Jayden berbalik pergi menuju kelasnya sendiri—12 IPS 1—yang terletak tepat di sebelah kelas Zevanna.

Di dalam kelas, Zevanna menggebrak mejanya pelan. "Cowok stres!"

Kanita yang duduk di sebelahnya menoleh. "Kenapa lagi lo sama Jayden, Zev?"

"Tuh curut gangguin gue mulu tiap hari! Kayak nggak ada kerjaan lain aja di hidupnya!" omel Zevanna kesal.

"Ya kan dia emang udah suka sama lo dari kelas 10, Zev. Makanya dia ngejar-ngejar lo terus," timpal Fiona yang duduk di bangku belakangnya.

"Tapi gue nggak suka sama tuh curut! Lihat aja tampangnya, udah kayak gembel gitu!" ketus Zevanna.

"Hush! Kalau ngomong dijaga, Zev. Masa Jayden yang ganteng gitu dibilang gembel sih," tegur Tisha menengahi.

Zevanna menoleh sinis. "Terus kalau bukan gembel apa? ODGJ gitu?!"

Tisha langsung terdiam dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengar celetukan tajam temannya itu.

"Arghhh! Kesel banget sumpah! Caranya biar tuh curut musnah dari muka bumi gimana sih?!" gerutu Zevanna mengacak rambutnya frustasi.

***

KRIIINGGG!

Bel pulang sekolah berbunyi sangat nyaring.

Zevanna berjalan keluar dari ruang BK dengan wajah cemberut. Ia baru saja dimarahi guru BK karena ketahuan merokok di belakang sekolah saat jam istirahat tadi.

Tisha, Fiona, dan Kanita yang sudah menunggu di luar langsung menghampirinya.

"Zevanna, lo nggak apa-apa, kan?" tanya Tisha khawatir.

"Nggak apa-apa," sahut Zevanna pendek.

"Lagian ngapain sih lo malah ngerokok di belakang sekolah?" tegur Fiona.

"Gue nggak tahan mau nyebat. Kesal banget gara-gara si curut. Masa ngerokok sedikit aja dilarang sih," omel Zevanna membela diri.

"Goblok lo!" cela Kanita menepuk dahi. "Udah tahu di sekolah nggak boleh ngerokok, masih aja lo nekad!"

"Bodo amat! Kan bentar lagi kita lulus, jadi bebas dong mau ngerokok apa enggak!" sahut Zevanna cuek.

"ZEVANNA!”

Sebuah teriakan familiar terdengar lagi. Zevanna menoleh dan langsung berdecak kasar. "Ck, si curut datang lagi. Gue cabut dulu ya!"

"Lo nanti malam tetap datang kan, Zev?" tanya Fiona memastikan.

"Datang kok!" jawab Zevanna setengah berteriak sambil berlari cepat menuju area parkiran motor.

"Zevanna, tunggu!" Jayden berusaha menyusul dengan jalan cepat.

"Apaan sih?! Gue mau pulang!" cerocos Zevanna begitu sampai di dekat motornya.

"Lo nanti malam mau balapan lagi, ya?" tanya Jayden menatapnya curiga.

"Bukan urusan lo! Minggir!" pangkas Zevanna cepat. Ia segera naik ke atas motor sport-nya, memakai helm, lalu menarik gas hingga melesat kencang meninggalkan area sekolah.

Jayden berdiri menatap motor Zevanna yang semakin menjauh sambil tersenyum tipis.

"Menarik banget sih lo, Zev..."

***

Malam harinya, cahaya bulan dan bintang menyinari arena balap liar yang riuh.

Zevanna kembali beraksi di atas lintasan seperti biasanya. Dengan lihai, ia menyalip beberapa motor lawan di tikungan tajam. Motornya berdecit kencang saat melintasi garis finish sebagai pemenang utama.

"Widih! Jago banget lo, Zev!" puji Varo menyambutnya.

"Iya, lo keren banget bisa nyalip semua motor tadi di tikungan!" timpal Kanita yang ikut menonton.

Zevanna melepas helmnya lalu tersenyum bangga. "Iya dong! Zevanna gitu loh!"

Varo merogoh kantong jaketnya dan mengeluarkan amplop tebal. "Nih duitnya, plus bonus buat lo karena menang.”

"Thanks ya," ujar Zevanna menerima amplop itu.

Drt... Drt... Drt...

Tiba-tiba ponsel di saku jaket Zevanna bergetar kencang. Ia mengernyitkan dahi lalu mengambil ponselnya. Nama Liona—mamanya—terpampang di layar.

"Mama?" gumam Zevanna bingung.

Zevanna menekan tombol hijau lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Halo, Ma? Ada apa? Tumben Mama telepon aku malam-malam gini?"

Namun, bukan suara tenang yang ia dengar, melainkan suara tangisan histeris dari mamanya.

"Zevanna... kamu pulang sekarang, Nak... Pulang sekarang..." isak Liona di seberang telepon.

Firasat Zevanna mendadak tak enak. "Kenapa, Ma? Kok Mama nangis sih?"

"Kak Zoyya... dia... Kakak kamu udah meninggal dunia, Zev!" ucap Liona dengan suara bergetar hebat.

Deg!

Jantung Zevanna serasa berhenti berdetak saat itu juga. Ia terdiam kaku, lidahnya mendadak kelu.

"M-mama jangan bercanda deh... Ini nggak mungkin, kan, Ma?!" kata Zevanna berusaha tertawa walau suaranya gemetar.

"Kamu pulang sekarang, cepat!" tangis Liona pecah sebelum memutuskan sambungan teleponnya.

Sambungan terputus. Zevanna perlahan menurunkan ponselnya dengan pandangan kosong.

"Zev? Lo kenapa?" tanya Kanita heran melihat perubahan raut wajah temannya.

"G-gue harus pulang sekarang!" seru Zevanna panik.

Tanpa membuang waktu, Zevanna langsung menaiki motornya dan melesat pergi meninggalkan arena balap dengan pikiran yang kacau balau.

Hanya butuh waktu sebentar bagi Zevanna untuk sampai di rumahnya. Namun, suasana rumahnya kini berubah total. Beberapa kerabat tampak sudah berkumpul di depan rumah.

Zevanna meloncat turun dari motor tanpa peduli standar motornya, lalu berlari kencang masuk ke dalam rumah.

"Ma! Pa! Kak Zoyya di mana?!" teriak Zevanna dengan napas memburu.

Dengan mata sembap dan wajah pucat, Yovandra dan Liona mengarahkan pandangan Zevanna ke area tengah ruang tamu. Di sana, sebuah jasad telah terbujur kaku tertutup kain batik.

Dunia Zevanna rasanya runtuh seketika. Air matanya langsung menetes. Ia masih nggak percaya kalau kakaknya yang tadi pagi masih tersenyum padanya kini sudah meninggal dunia.

Zevanna berlutut di samping jasad kakaknya. Tangannya bergetar hebat saat menyentuh jemari Zoyya yang sudah dingin.

"Kak... bangun... Jangan bercanda kayak gini, nggak lucu tau, Kak!" lirih Zevanna dengan suara tercekat.

Liona terus menangis sesenggukan di dalam pelukan Yovandra yang juga terlihat sangat terpukul atas kepergian putri sulungnya.

"Kak Zoyya... Buka mata Kamu... Jangan kayak gini..." tangis Zevanna pecah. "Katanya Kakak mau jagain aku terus... Tapi kenapa Kakak malah…”

Zevanna tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Zevanna menangis semakin keras. Ia benar-benar tak siap kehilangan kakaknya secepat ini.

Namun, saat tangannya bergerak merapikan kain di lengan Zoyya, matanya tak sengaja menangkap sesuatu.

Ada bekas goresan merah yang cukup dalam di kulit lengan Kak Zoyya.

Zevanna terpaku. Ia ingat betul, tadi pagi sebelum Kak Zoyya berangkat kerja ke Verion Group, lengan kakaknya masih bersih tanpa luka atau goresan sedikit pun.

Zevanna menyeka air matanya cepat, lalu mendongak menatap kedua orang tuanya.

"Ma... Pa..." panggil Zevanna dengan suara serak. "Aku tadi lihat ada goresan di lengan Kak Zoyya. Mama sama Papa tahu itu goresan gara-gara apa?"

Liona menggeleng lemah sambil menyapu air mata. "Mama... Mama nggak tahu itu goresan dari mana, Zev..."

"Mungkin Kakak kamu nggak sengaja tergores benda tajam pas dia lagi kerja di kantor," sahut Yovandra berusaha berpikir rasional meski suaranya bergetar.

Zevanna kembali menatap jasad kakaknya dengan tatapan tajam. Firasatnya mengatakan ada yang tidak beres. Goresan itu bukan sekadar luka goresan biasa.

Perlahan, Zevanna mengangkat tangan kirinya sendiri. Ia menatap jam tangan hitam pemberian Kak Zoyya yang masih melingkar manis di pergelangan tangannya.

"Kakak mau kasih kamu barang yang bisa selalu kamu pakai, biar kamu nggak pernah ngelupain Kakak..."

Kata-kata Kak Zoyya semalam kembali terngiang jelas di telinganya. Tatapan Zevanna yang tadinya penuh kesedihan perlahan berubah menjadi tatapan penuh kecurigaan. Ada sesuatu yang terasa janggal dari kematian kakaknya.

Zevanna mengepalkan tangannya. Dalam hati, ia bertekad mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Zoyya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!