Indonesia
NovelToon NovelToon
Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Romansa Fantasi / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Kak_Hans

SINOPSIS

Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!

Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Penthouse Mewah dan Garis Batas Guling Berbayar

Pintu ganda berlapis emas di Ruang VIP Keuangan itu tertutup rapat dengan bunyi klik elektronik. Otomatis, kaca ruangan yang tadinya transparan berubah menjadi buram, memblokir pandangan dari luar.

Aura menelan ludah. Ia memeluk dokumen akuisisi erat-erat di dadanya seperti perisai. Di depannya, Pangeran Caden melonggarkan dasinya dengan satu tarikan pelan, melangkah mendekat bak predator malam.

"Bos," cicit Aura, mundur selangkah hingga punggungnya menabrak meja kerjanya. "Itu... sistem privasi ruangannya kok dinyalain? Kita kan udah selesai closing saham. Nggak ada rahasia negara lagi yang mau dibahas."

Caden menumpukan kedua tangannya di tepi meja, tepat di sisi kiri dan kanan pinggang Aura, mengurung gadis itu sepenuhnya. Aroma mint dan bahaya menguar sangat kental.

"Siapa bilang tidak ada yang perlu dibahas, Elara?" suara Caden turun satu oktaf, sangat serak dan maskulin. "Tadi di lorong, aku bilang ada 'bonus' yang harus kuberikan padamu atas presentasi luar biasa mu. Dan bonus ini... bersifat sangat rahasia. Tidak boleh ada satu pun staf departemen yang melihatnya."

Aura mengerutkan mata dengan cepat. Otak kapitalisnya mencoba melakukan reboot.

"B-bonus rahasia? Maksudnya off-the-record? Uang tunai dari brankas pribadi yang nggak kena pajak penghasilan?" tebak Aura asal, matanya melirik ke arah kantong jas Caden. "Boleh, Bos! Boleh banget! Berapa gepok nih? Sini gue masukin tas!"

Caden terkekeh pelan. Hembusan napasnya menerpa anak rambut Aura. "Tidak ada uang tunai malam ini, Gadis Serakah. Kau baru saja memeras tiga ratus ribu koin emasku untuk membeli setengah wilayah Arthur. Malam ini, aku akan membayar mu dengan sesuatu yang nilainya jauh lebih berharga dari sekadar logam kuning."

"Di dunia ini nggak ada yang lebih berharga dari logam kuning, Bos! Kecuali berlian, sih," sahut Aura cepat, masih berusaha menangkis hawa romantis yang semakin menyesakkan dada.

"Ada," bisik Caden. Wajahnya perlahan mendekat. Mata peraknya menatap lurus ke bibir Aura yang sedikit terbuka. "Diriku."

"S-sebentar!" Aura reflek menempelkan telapak tangannya di dada bidang Caden, merasakan detak jantung pria itu yang ternyata berdegup sangat kencang. "Bos, tunggu dulu! Mari kita rasionalisasi keadaan ini!"

Caden menaikkan sebelah alisnya, tidak mundur sedikit pun. "Rasionalisasi apa lagi, Elara? Kontrak asisten mu menyebutkan bahwa kau harus menuruti semua instruksi ku di dalam ruangan ini."

"Tapi ini di luar deskripsi pekerjaan alias Job Desc, Bos!" bantah Aura, mencoba menetralkan suaranya yang mulai bergetar. "Ciuman di tempat kerja itu melanggar pasal 12 Undang-Undang Ketenagakerjaan Istana tentang pelecehan profesional! Kalau Bos nyosor sekarang, statusnya Bos menyalahgunakan kekuasaan!"

Tawa Caden kembali meledak. Ia benar-benar tidak bisa menebak jalan pikiran gadis ini. Di saat wanita lain akan memohon untuk disentuh olehnya, gadis ini malah mengutip undang-undang fiktif.

"Pelecehan?" Caden menyeringai nakal. "Bagaimana jika aku menganggapnya sebagai... insentif kinerja? Sebuah penghargaan reward-and-recognition tingkat eksekutif."

"Insentif itu bentuknya materi, Pangeran! Bukan pertukaran air liur!"

"Oh, jadi kau mau menagih materi dariku untuk sebuah ciuman?" tantang Caden. Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, hidung mereka nyaris bersentuhan. "Katakan padaku, Elara. Berapa valuasi yang kau tetapkan untuk bibirku? Berapa yang harus kubayar untuk membuatmu diam dan menerima 'bonus' ini?"

Aura terdiam. Otaknya berputar miliaran kali per detik. Ini adalah Pangeran Caden. Pria paling berkuasa, paling tampan, dan paling kaya di kekaisaran. Kalau Aura menyerah sekarang, ia takut kehilangan fokus tujuannya untuk menjadi kaya raya. Tapi kalau ia menolak... jujur saja, hormon manusianya berteriak kencang minta diselamatkan.

"D-dua ratus ribu emas!" ceplos Aura panik.

"Murah sekali," bisik Caden.

"P-plus naik gaji seratus persen!"

"Dikabulkan," jawab Caden tanpa ragu.

"Dan... dan cuti tahunan tiga puluh hari!" tambah Aura makin ngawur.

"Aku akan memberimu libur seumur hidup jika kau mau, asalkan kau menghabiskannya di ranjangku."

"Bos, itu namanya human trafficking!" teriak Aura frustrasi.

"Tidak, Elara. Ini namanya akuisisi paksa."

Tanpa memberi kesempatan Aura membalas, Caden menundukkan kepalanya dan membungkam bibir bawel itu.

Mata Aura melebar sempurna. Sensasi dingin, mint, dan dominasi mutlak langsung menyapu kewarasannya. Ciuman itu tidak kasar, melainkan menuntut dan penuh kepemilikan. Seolah Caden sedang menstempel hak paten di atas bibir Aura.

Tangan Aura yang tadinya mendorong dada Caden, perlahan kehilangan tenaga, lalu tanpa sadar justru mencengkeram kerah kemeja pria itu.

Gila! Gila! Return of investment-nya nggak sepadan sama rusaknya sistem saraf gue! jerit Aura dalam hati, meski matanya perlahan terpejam menikmati 'insentif' yang memabukkan itu.

Ketika Caden akhirnya melepaskan pautannya beberapa menit kemudian, Aura terengah-engah. Wajahnya semerah udang rebus, kakinya lemas seperti jeli. Kalau Caden tidak menahan pinggangnya, ia pasti sudah merosot ke lantai marmer.

Caden menatap wajah merona Aura dengan kepuasan yang luar biasa. Ibu jarinya mengusap bibir bawah gadis itu yang sedikit membengkak.

"Bagaimana 'bonus' pertamamu, Asisten Elara? Apakah memuaskan?" goda Caden dengan senyum kemenangan.

Aura menarik napas dalam-dalam, menepuk pipinya keras-keras untuk mengembalikan kewarasan bisnisnya. Ia menatap Caden dengan mata tajam, meski napasnya masih putus-putus.

"Lumayan," jawab Aura ketus, berusaha menjaga gengsi. Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangan. "Tapi ingat ya, Bos! Tagihan dua ratus ribu emas, kenaikan gaji, dan cuti tahunan itu udah masuk buku kas berjalan! Besok pagi kalau belum cair di rekening gue, gue laporin ke pengawas ketenagakerjaan!"

Caden terkekeh geli, mengecup dahi gadis itu dengan lembut.

"Tentu saja, Gadis Serakah. Malam ini uangnya akan kutransfer ke rekening Imperial Black milikmu. Sekarang, kemasi barangmu. Kita pulang ke mansion pribadiku. Kau lembur terlalu lama."

"Tunggu, pulang ke mana?!" pekik Aura. "Asrama gue di Sayap Barat, Bos!"

"Mulai malam ini, kau tinggal di penthouse pribadiku di pusat kota," perintah Caden mutlak. "Aku tidak akan membiarkan pemegang 51% saham Pertanian Timur tidur di ranjang berkarat yang banyak kutu busuknya."

"Wah... dapet fasilitas rumah dinas VIP juga?" Mata Aura langsung berbinar-binar lagi. Segala rasa gugupnya hilang ditelan kata 'fasilitas VIP'. "Siap, laksanakan, Bosku sayang! Mari kita berangkat menuju kemewahan!"

Caden hanya bisa menggelengkan kepala melihat asisten gilanya yang langsung melupakan ciuman panas mereka begitu mendengar kata 'penthouse'. Namun di saat yang sama, ia bersumpah tidak akan pernah melepaskan gadis ini kepada siapa pun.

1
Nathalia
hama pirang gak tuh🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!