Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mur Diyanti

Azarin mengira, setelah ia melahirkan anak, Fajar akan bersyukur dan menganggapnya istri.

Namun semua harapan itu hancur setelah ia mendengar percakapan suami dan Ibunya.

Fajar, tidak pernah menganggapnya istri. Baginya hadirnya Mia dalam hidupnya adalah aib. Dan akan membuang Mia dengan dalih kecelakaan.

Mendengarnya Azarin langsung lemas. Ia pun memutuskan untuk kabur malam itu juga, dan tidak lagi mengharapkan belas kasih Fajar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reuni sepihak

"Mau sampai kapan kau melajang, Dean?"

Suara mama dari sebrang telefon menghadirkan tatapan malas di wajah pria berusia 30 tahunan itu.

Dean, pengusaha terkemuka di sektor industri pengolahan itu memasuki sebuah warung makan kecil di pinggir jalan.

"Berhenti membahas itu, mah. Aku sudah muak."

Telefon pun mati sepihak.

Dean masukkan ponsel miliknya ke dalam blazer, duduk dengan tenang di kursi pojok samping jendela.

"Silahkan, mau pesan apa?"

Dean menoleh cepat, "Ahh ... Saya mau—"

Hening.

Tatapan yang semula malas langsung berubah kosong, membola bersamaan dengan tatapan kebingungan Azarin.

"Iya mau pesan apa, Tuan?"

Dean lantas tersentak dari lamunan. Pria itu merunduk cepat.

"Ahh....poster menu baru di depan warung makan mu, aku ingin memesannya."

Untuk sesaat Azarin ber-oh ria, lalu tersenyum.

"Iga asam manis?"

Yang langsung dibalas anggukan dari pria tersebut.

"Baiklah, tunggu sebentar."

Azarin mencatat pesanan cepat, lalu berbalik menuju counter.

Tatapan Dean tak pernah lepas dari punggung Azarin. Dari awal wanita itu menyapanya, sampai akhirnya tubuhnya hilang dibalik tembok.

"Aza...."

Ia tutup mulutnya cepat, berbalik menatap ke arah jendela. Matanya langsung berubah berkaca-kaca, tersenyum tipis.

"Ternyata kau masih hidup."

***

"Mas...hiks! Apa aku tidak akan bisa hamil?"

Suara tangisan Fania menggema di seluruh ruangan.

Fajar tarik stetoskop dari telinga, mengalungkannya pada leher.

Pria itu seka pucuk kepala sang istri, tersenyum tipis, "Pasti bisa, sayang."

Selesai melakukan operasi, Fania tak henti-hentinya panik.

Di umurnya yang baru menginjak 23 tahun, ia sudah di vonis kena kista ovarium. Hal itu benar-benar mengguncang hatinya.

Ia tarik lengan sang suami, menangis sesegukan.

"Tolong disini saja, mas. Jangan tinggalkan aku sendiri." mohon wanita itu.

Fajar tarik nafas panjang, ia pun menuruti permintaan Fania dengan duduk di sampingnya, menunggu setidaknya sampai Fania terlelap.

Fania, gadis yang ia temui tanpa sengaja di rumah sakit, mencuri hatinya dalam sekali pandang.

Masa itu ia sedang malas-malasnya dengan Azarin.

Azarin terlalu pucat, jarang memoles make up di wajah, atau sekedar melakukan perawatan di salon.

Kondisinya yang biasa-biasa saja tanpa daya tarik itu, semakin membuat Fajar bosan.

Namun setelah bersama dengan Fania cukup lama. Melihat wajahnya yang penuh dengan make up, ia jadi rindu wajah natural Azarin.

"Azarin, apa kau baik-baik saja? Apa putri kita sehat? Entah mengapa aku mulai merindukan Mia."

Tanpa sadar air matanya menetes, mengenai pipi Fania.

Wanita itu lantas mendongak. Tertegun saat melihat suaminya terdiam sambil meneteskan air mata.

Ia tersenyum trenyuh, "Ternyata Mas Fajar khawatir banget sama aku."

Ia semakin tak mau melepas pelukan di lengan sang suami. Berharap Fajar selalu ada di sisinya.

Selama 3 tahun menikah, Fajar sering keluar dinas. Pernah satu bulan ngga pulang untuk jadi relawan medis di Daerah NTT yang terkena gempa. Disaat itu Fania sering merasa kesepian.

"Mas, jangan tinggalin aku yah."

Fajar terhenyak, ia merunduk cepat. Menatap wajah Fania yang terlelap sambil tersenyum itu.

Ia usap pucuk kepala Fania, mengecupnya lembut, "Iya."

***

"Tuan ini pesanan anda."

Azarin letakkan mangkok dengan hati-hati, tersenyum ramah ke arah pembeli.

Ia masih belum menyadari siapa pembeli yang saat ini berhadapan dengannya.

Baru saja hendak berbalik, tangan pria itu tiba-tiba menahan lengannya.

"Iya, ada yang bisa saya bantu?"

Dean tatap Azarin berkaca-kaca, ia hendak mengucapkan sesuatu, tentang begitu khawatirnya pria itu selama ini.

Namun tiba-tiba suara anak kecil dari arah pintu mengejutkan mereka.

"Mama...Mia pulang!" berhambur ke kaki sang mama. Disusul dengan Azril dari belakang.

Azarin tersenyum lebar. wanita itu lantas berjongkok, menggenggam kedua lengan sang putri.

"Mia...darimana saja kamu hm? Ini sudah jam 12 dan kamu baru pulang?" kata Azarin, membuat ekspresi marah.

Mia memanyun kecil, "Maap mama. Azlil tadi ngajak Mia liat kambing Pak Capno lahilan..." adu sang putri.

Azarin tak sanggup menahan senyumnya, wanita itu elus pucuk kepala Mia, lalu bangkit perlahan.

"Yasudah, makan dulu. Azril juga makan yah, temani adikmu."

Yang langsung dibalas anggukan anak kecil itu.

Dean terdiam. Ia palingkan wajah cepat.

Azarin berbalik ke arah Depan cepat, terkekeh kecil.

"Maaf yah, putri saya tiba-tiba nyelonong. Anda tadi mau tanya apa?"

Pria itu menggeleng seraya membelakangi.

"Tidak, tidak ada. Maaf."

Azarin tertegun. Ia tatap pelanggan aneh di depannya intens. Sama sekali tak mau menoleh ke arahnya.

"Ohh yasudah kalo begitu. Jika ada keperluan lain panggil saja yah, tuan." yang langsung dibalas anggukan oleh Dean.

Azarin langsung berbalik, bersamaan dengan Dean yang juga menatapnya.

Gurat kecewa tercetak jelas di garis wajah Dean. Pria itu menarik nafas panjang, tersenyum getir.

"Pada akhirnya, kau menikah dengan juniorku."

Selesai makan, Dean pun menuju kasir.

"Nona, saya hendak membayar pesanan."

Pekerja kasir itu segera meraih uang yang Dean sodorkan, menotalkan semua pesanan lalu memberikan kembalian.

Baru saja Dean berbalik, suara jeritan dari arah dapur mengejutkan dirinya.

"Aza!"

Tanpa fikir panjang ia main nyelonong masuk ke dalam dapur.

Terlihat Azarin berdiri sambil memegang tangannya yang berdarah.

Dean melotot panik, tanpa ba bi bu, ia raih tangan Azarin, lalu mengecupnya cepat, meludahkan darah dari jarinya ke wastafel.

"Apa ada yang sakit?! Kamu tidak apa-apa kan?!" seru Dean melotot, memegang kedua lengan Azarin yang mematung di depannya.

"A-anda—"

DEG!

Dean baru sadar.

Pria itu mundur cepat, menutup bibirnya dengan lengan. Tubuhnya nyaris lemas menahan rasa malu yang menggila.

"Ma—maafkan saya!"

Dean keluar dari dapur cepat, berlari dari sana.

Sementara Azarin yang tiba-tiba diperlakukan seperti itu bengong luar biasa. Nyaris tubuhnya melemah.

"Apa dia—mesum?!"

Azarin tarik tangannya ke balik celemek cepat, menatap kosong ke lantai. Sementara Dean, pria itu berlari keluar.

Ia berdiri seraya bersandar pada mobil, mengatur nafasnya yang memburu.

"Sial! Dasar bodoh! Apa yang kamu lakukan Dean?!"

Ia pegangi kepalanya yang berdenyut hebat, keringat dingin mengucur dibalik pelipisnya.

Ia hendak masuk ke mobil.

Namun terhenti.

Berbalik menatap ke arah warung makan, bersama dengan Azarin yang juga melihatnya dibalik jendela.

Azarin berbalik cepat, bersandar pada dinding. Ia tekan dadanya yang bergemuruh cepat, melotot menatap lantai.

"Kenapa, seperti tidak asing?"

Ia intip kembali dari balik jendela, menutup setengah wajah dengan tirai.

Terlihat Dean masih menatap ke arah warung makan miliknya.

Iris mata Azarin menyipit. Ia tatap lekat-lekat wajah yang tampak tak asing di matanya. Namun semakin di ingat, kepalanya justru merasa sakit.

"Kenapa kepalaku sakit sekali...." ia pegang kepalanya kuat, duduk dengan lemah di kursi.

"Kenapa aku seperti pernah dekat dengan pria itu. Tapi siapa?"

Ia tatap kasir di tempatnya.

"Mba." panggil Azarin pada pekerjanya.

Wanita itu menoleh, "Saya, Bu."

"Kamu tau pria tadi siapa?"

Terlihat wajah kasir berbinar, "Ganteng kan Bu?"

Azarin relfeks mengedipkan mata, memalingkan wajah.

"Bu-bukan begitu, namanya, apa kamu tau?"

Pekerjanya lantas berfikir, "Tadi saya nanya, namanya kalo ga salah Mas De—De....De sapa tadi, ahhh Dean! Iya itu!"

Sejenak Azarin terdiam, merenungi nama yang tadi Fitri ucapkan.

"Dean...? De—" matanya membola, berbalik ke arah luar jendela cepat, "DEAN?! SENIORKU?!"

1
Adinda
hidupmu rumit banget naya, kalau suamimu belum mampu ngontrak dulu,uangnya dikumpulkan keburu nanti suamimu diambil pelakor
Adinda
tapi salah naya juga sih kalau suamimu gak mampu setidaknya kamu juga membantu jangan langsung minta rumah
Adinda
fajar sama naya aja
Adinda
mimpi saja kau fajar kalau mau azarin balik sama kamu,tidak akan pernah mau azarin balik sama kau fajar
Adinda
bawa semuanya rin, enak banget ginjalmu diambil,kamu mau dicerain anakmu mau dibawa kepanti
Dokkan Battle
BACOT GOBLOK
Ma Em
Azarin kalau tdk mau Dean seperti fajar makanya rubah penampilan Azarin dan hrs pede jgn merasa rendah diri , kalau Azarin merasa selalu rendah diri tdk berubah jadi wanita yg elegan dan penuh percaya diri pasti Dean akan semakin cinta pada Azarin .
Dynhz: kasih tau makee😭🤣
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
lanjuut thor
Dynhz: siap😍
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
udah nikah aja ma Dean, dari pada nanti di ganggu terus sama fajar ...
lanjuut thor.....
Dynhz: siap kakak😍
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
nah udah tau kan sifat asli istri baru mu..😂😂
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
paling bagus emang cerai saja dan buktikan kalo kamu bisa tanpa suami ...
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
nyesek bgt bacanya...
Ma Em
Azarin jgn sampai kamu kena bujuk rayu fajar biarkan fajar menyesal karena itu pilihan fajar sendiri , semoga Azarin selalu bahagia bersama Mia sang putri tercinta dan semoga Azarin berjodoh dgn Dean 🤲.
Dokkan Battle: kalau ajarin rujuk fiks dia sakit mental
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!