"Darah yang menetes malam ini adalah saksi... bahwa Daren yang lemah telah mati."
Di balik kemegahan Kota Atlas yang berkilau, hidup Daren—seorang remaja yatim piatu yang nasibnya lebih buruk dari seekor anjing jalanan. Diadopsi sejak usia lima tahun oleh pasangan kaya raya, Deni dan Tia, Daren mengira dirinya telah menemukan sebuah keluarga. Namun, harapan kepolosannya dihancurkan oleh realita yang kejam.
Selama sepuluh tahun, rumah megah itu berubah menjadi neraka. Daren dijadikan babu tanpa upah, dihina, dan disiksa secara fisik maupun mental. Bahkan ketika tubuhnya digerogoti demam tinggi, sabetan gesper dan cambukan sapu tetap menjadi makanan sehari-harinya. Puncaknya, tuduhan palsu dari Dion—anak kandung mereka—membuat Daren disiksa hingga nyaris kehilangan nyawa hanya karena vas bunga yang pecah.
Malam itu, di bawah guyuran hujan deras Kota Atlas, Daren memilih kabur. Dia meninggalkan darahnya di lantai marmer dan bersumpah tidak akan pernah menjadi korban lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Blue Horns
Pukul enam lewat tiga puluh menit pagi. Jalanan protokol Kota Atlas masih diselimuti embun tipis yang membendung hawa dingin dari perbukitan. Raungan halus mesin bersilinder besar dari motor sport kustom berwarna hitam pekat milik Daren membelah Aspal basah dengan kecepatan sedang.
Daren mengendarai kendaraan besinya secara santai. Dia mengenakan jaket kulit hitam tebal yang membungkus rapi kemeja sekolah putihnya. Kerah jaketnya yang sedikit terbuka memperlihatkan sekilas tato kanji vertikal berwarna merah pekat—Akuma no Urami—di leher bagian kanannya. Manik mata kelabunya yang tenang dan dingin menyapu setiap inci jalanan di depannya melalui visor helm full-face-nya.
Saat motor Daren melintasi jembatan beton di perbatasan Sektor Tengah, dari arah persimpangan kiri mendadak muncul raungan puluhan mesin motor bersuara bising.
VRRRRRROOOOOOOOMMMM!
Segerombolan geng motor jalanan berjumlah sekitar tiga puluh pengendara meluncur deras menembus jalanan utama. Mereka mengenakan jaket Denim hitam seragam dengan gaya berkendara yang cukup agresif, membelah arus lalu lintas pagi Kota Atlas.
Daren tidak memedulikan kehadiran rombongan geng motor tersebut. Dia tetap mempertahankan laju kendaraannya di lajur kanan.
Namun, saat rombongan geng motor itu mendahului posisi Daren dari sebelah kiri, sebuah kain selendang tipis (slayer) berukuran sedang yang terikat di lengan kiri salah satu pengendara di barisan belakang mendadak terlepas akibat tebasan angin kencang. Pengendara tersebut sama sekali tidak menyadari bahwa ikatan kain di tangannya telah terputus dan terbang terbawa angin.
Kain slayer berwarna biru tua itu melayang di udara, sebelum akhirnya jatuh melayang tepat di atas bahu jaket kulit Daren, lalu meluncur ke atas tangki motornya.
Daren memelankan laju kendaraan kustomnya, menepi di bahu jalan. Dia mematikan mesin motornya sejenak, merogoh kain slayer yang tersangkut di tangki.
Daren membentangkan kain slayer berbahan kain sutra tebal berwarna biru tua tersebut di atas jemarinya yang sekeras baja.
Di tengah permukaan kain berwarna biru tua yang bersih itu, terukir sebuah bordiran benang perak dan biru muda yang sangat detail: logo kepala seekor rusa jantan dengan tanduk megah bercabang bercahaya biru membara. Di bawah logo tersebut, terukir tulisan kapital bergaya klasik: BLUE HORNS.
Daren memandangi lambang rusa bertanduk biru itu sejenak. Indera pengamatannya yang ditempa oleh Red Crows mencatat bahwa bahan kain, kerapian bordiran, dan kerapian lipatannya menandakan bahwa kain ini bukan sekadar aksesoris geng motor murahan di jalanan, melainkan simbol identitas perwira dari salah satu klub motor berpengaruh di Kota Atlas.
Daren menengadah, menatap barisan belakang gerombolan motor tersebut yang kian menjauh sekitar dua ratus meter di depan.
Tanpa buang waktu, Daren memutar kunci kontak motor kustomnya.
VRRRROOOOOMMMMM!
Raungan mesin monster Daren meledak mendadak, menggetarkan permukaan Aspal jembatan. Daren menarik tuas gasnya dalam-dalam, melesatkan motor sport hitamnya bagaikan kilat menyambar, mengejar rombongan geng motor tersebut di sepanjang jalanan lurus.
Hanya dalam kurun waktu kurang dari tiga puluh detik, daya ledak mesin kustom milik Daren telah memotong jarak dengan sangat cepat.
Daren tidak sekadar menyusul dari belakang. Dengan manuver berkendara yang sangat lincah dan berani, Daren meliuk-liuk di antara barisan belakang motor pengendara geng tersebut, mendahului mereka satu per satu dari lajur luar, hingga akhirnya motor Daren berada tepat di depan barisan paling depan rombongan—di sebelah pimpinan geng tersebut.
Daren memutar kemudinya ke kanan secara mendadak, memotong jalur utama dan memiringkan motornya untuk berhenti melintang tepat di tengah jalan raya!
CIIIIIWWWWWWWWTTTTT!
Decitan ban puluhan motor yang mengerem mendadak bergema begitu nyaring di sepanjang jalanan jembatan. Debu dan gesekan karet ban menyapu udara pagi.
"WOI! BANGSAT! MAU MATI LU, HAH?!"
"BERANI-BERANINYA LU MEMENTAL KITA DI JALAN?!"
"TURUN LU! KITA HANCURIN MOTOR SOK KEREN LU ITU!"
Suara teriakan emosi dan makian kasar seketika meledak dari puluhan pengendara geng motor yang terkejut. Belasan anggota geng langsung turun dari motor mereka dengan wajah memerah murka, mengepalkan tangan dan menyambar balok kayu serta rantai besi di saku mereka, berbondong-bondong melangkah maju hendak mengeroyok Daren yang terhalang sendirian.
Daren tetap duduk di atas jok motor kustomnya. Wajahnya tidak menunjukkan kepanikan, rasa takut, atau getaran cemas sedikit pun. Manik mata kelabunya menatap kerumunan pemuda yang emosi di depannya secara datar.
Sebelum bentrokan fisik yang tidak perlu pecah...
SSET!
Daren mengangkat tangan kirinya ke udara. Di antara cengkeraman jemarinya, dia membentangkan kain slayer biru berlogo rusa bertanduk perak tersebut secara terbuka di hadapan mereka.
Gerakan maju belasan anggota geng motor itu seketika membeku total.
"Slayer itu..." bisik salah satu anggota di barisan depan dengan mata terbelalak kaget.
Sesosok pria bertubuh tegap dengan jaket kulit hitam berlogo rusa jantan berukuran raksasa di punggungnya melangkah keluar dari barisan depan pengendara. Pria itu melepas helmnya, memperlihatkan wajahnya yang tegas dengan bekas luka tipis di alis kirinya dan rambut hitam yang tertata rapi.
Pimpinan utama geng motor Blue Horns.
Pria itu refleks meraba lengan kiri jaketnya, dan menyadari bahwa ikatan slayer resmi miliknya memang telah hilang terlepas.
Pimpinan geng itu melangkah mendekati Daren sendirian, mengibaskan tangannya ke arah para anggotanya agar menahan diri dan menurunkan senjata mereka.
"Tahan!" perintah pria itu dengan suara berat dan tebal.
Pria itu berhenti dua langkah di depan motor Daren. Dia menatap kain slayer biru di tangan Daren, lalu beralih menatap Daren yang perlahan-lahan membuka visor helm full-face-nya.
Daren menyerahkan kain slayer sutra tersebut secara sopan dan baik-baik kepada pimpinan geng itu.
"Ikatannya terlepas di perbatasan jembatan tadi," kata Daren datar, suaranya tebal dan tenang. "Lain kali ikat lebih kencang."
Pria berwajah tegas itu menerima kain slayer-nya. Matanya menatap Daren dengan kilatan rasa terkejut, kagum, sekaligus rasa hormat yang mendalam. Dia menyadari bahwa pemuda di depannya ini baru saja nekat memotong jalan puluhan motor bersenjata hanya murni untuk mengembalikan sebuah kain lambang kehormatan gengnya.
Pria itu mengikatkan kembali kain slayer biru tersebut ke lengan kiri jaketnya dengan kencang, lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah Daren.
"Gue Brian," ucap pimpinan geng motor itu seraya menyunggingkan senyuman tipis yang mantap. "Pimpinan Blue Horns. Terima kasih banyak, Bro. Bagi kami, slayer ini adalah lambang kehormatan yang nggak boleh jatuh dan terinjak di tanah."
Daren menyambut uluran tangan Brian, meremas genggaman tangan pimpinan geng itu dengan cengkeraman yang kokoh sekeras baja.
"Daren," sahut Daren pendek, menyebutkan namanya.
Brian tersenyum puas, menepuk bahu tegap Daren. "Nama yang keren. Kalau lu ada masalah di jalanan Kota Atlas, sebut nama Brian dari Blue Horns. Kami utang budi sama lu, Daren."
Daren mengangguk tipis. Tanpa membuang waktu lebih lama, dia menutup kembali visor helmnya, memutar kunci kontak, lalu menarik tuas gasnya. Motor sport kustom hitam pekat milik Daren melesat mulus meninggalkan rombongan geng motor tersebut menuju arah sekolah.
Rombongan geng motor Blue Horns memperhatikan bayangan motor Daren yang kian menjauh di jalan raya.
satu anggota senior yang berdiri di samping Brian melangkah maju, memandangi kerah seragam sekolah putih yang sempat mengintip dari balik jaket Daren.
"Bang Brian..." kata anggota itu seraya menunjuk arah Daren pergi. "...menurut lambang emblem di kerah kemeja sekolahnya tadi, anak itu berasal dari SMA Bintang."
Brian menaikkan sebelah alisnya, mengusap bekas luka di alisnya. "SMA Bintang? Sekolah elit anak-anak kaya di pusat kota itu?"
Brian tertawa rendah seraya menggelengkan kepalanya. "Menarik... Cara berkendaranya, gaya tenangnya di depan puluhan senjata, dan cengkeraman tangannya tadi sama sekali bukan gaya anak sekolah biasa. Anak itu punya aura yang berbeda."
Brian memakai kembali helmnya, menaiki motor besarnya. "Sudahlah, nggak usah dipusingkan. Ayo jalan!"
Raungan puluhan mesin motor Blue Horns kembali menggelegar, melesat melanjutkan perjalanan mereka membelah Kota Atlas.
SMA Bintang – Pukul 06.55 WIB
Suasana di pelataran SMA Bintang pagi itu tampak mulai ramai oleh kedatangan ratusan murid. Mobil-mobil mewah dan motor-motor para siswa terparkir rapi di area parkiran.
Daren memarkirkan motor kustom hitamnya di sudut parkiran khusus roda dua. Dia melepas helm full-face-nya, mengibaskan rambut hitamnya yang sedikit berantakan, lalu menyarungkan jaket kulit hitamnya di atas tangki motor.
Daren merapikan kerah kemeja sekolah putihnya. Dari dalam saku dalam jaketnya, dia menarik keluar boneka kain beruang berwarna cokelat lusuh milik Clara yang kemarin sore jatuh di koridor.
Daren memandangi boneka beruang dengan jahitan benang beda warna di telinga kirinya itu sejenak. Rasa hangat dan bayangan misterius dari masa lalu kembali menyapu pikirannya, namun Daren memilih menyimpannya di balik keheningan matanya.
Daren berjalan meninggalkan area parkiran, melangkah lebar menyusuri koridor utama gedung sekolah.
Tujuannya bukan ke kelasnya sendiri di XII-A, melainkan lurus menuju gedung lantai dua Sektor Barat—lokasi kelas XII-B tempat Clara berada.
Langkah kaki Daren yang tegap dan berwibawa di sepanjang koridor langsung menarik perhatian puluhan murid yang baru tiba. Reputasinya sebagai sosok murid baru paling berbahaya yang merontokkan gigi Reno, membungkam pejabat dinas, dan meratakan area VIP kelab malam telah menjadikan setiap langkah Daren sebagai pusat pengawasan pasif dari seluruh warga sekolah.
TAP! TAP! TAP!
Daren berhenti tepat di depan pintu ganda kelas XII-B.
Suasana di dalam kelas XII-B yang semula bising oleh canda tawa para murid seketika menguap total saat sosok Daren berdiri tegap di ambang pintu. Beberapa siswa yang sedang mengobrol di dekat meja depan seketika membeku ketakutan, menepi mundur memberikan jarak.
Daren memindai isi kelas. Di barisan ketiga dekat jendela, terlihat Clara sedang duduk rapi seraya menata buku-buku pelajarannya di atas meja. Siswi cantik itu tampak begitu anggun dengan rambut hitam panjangnya yang terurai halus.
Daren melangkah masuk ke dalam kelas XII-B tanpa memedulikan pandangan takut puluhan murid di sekitarnya.
Langkah sepatu kulit hitam Daren berhenti tepat di samping meja Clara.
Clara yang merasa ada bayangan tebal menutupi cahaya jendelanya, perlahan-lahan menengadah. Begitu matanya yang berwarna cokelat hazel menangkap ketampanan dingin dan aura tegap Daren yang berdiri di samping mejanya, napas Clara seketika tersengal tipis. Pipi cantiknya merona merah merona secara alami.
"Da... Daren?" panggil Clara dengan suara lembutnya yang bergetar. "Ada apa... kenapa kau datang ke kerasku?"
Daren tidak menjawab dengan kalimat romantis yang manis. Dengan gerakan perlahan dan tenang, Daren merogoh saku celana abu-abunya, menarik keluar boneka kain beruang cokelat yang lusuh tersebut, lalu meletakkannya dengan lembut tepat di atas meja kayu di hadapan Clara.
TAP!
Begitu mata Clara jatuh pada boneka beruang lusuh berpita merah kusam tersebut, matanya yang jernih seketika membelalak lebar dalam rasa terkejut yang luar biasa dahsyat!
"Bo... Bonekaku?!" jerit Clara pelan, tangannya refleks menyambar boneka beruang tersebut, memeluknya erat ke dada seraya menatap Daren dengan pandangan mata yang berkaca-kaca penuh keharuan. "Astaga... Boneka ini jatuh kemarin sore saat aku berlari mengejar bus! Aku mencarinya semalaman dan menangis karena mengira boneka ini sudah hilang selamanya!"
Clara menengadah menatap Daren, air mata kebahagiaan membendung di pelupuk matanya. "Daren... Kau memungutnya? Kau menyimpannya untukku?"
Daren menatap Clara secara datar melalui sudut mata kelabunya. "Jatuh di koridor kemarin sore. Jangan dihilangkan lagi."
Kata-kata Daren pendek, tebal, dan dingin, namun bagi Clara, tindakan Daren yang sengaja mendatangi kelasnya di pagi hari hanya murni untuk mengembalikan boneka peninggalan masa kecilnya tersebut... terasa begitu manis, hangat, dan membakar seluruh relung hatinya.
Clara menyunggingkan senyuman paling tulus dan cantiknya yang pernah ada, menatap lurus ke dalam mata Daren. "Terima kasih... Terima kasih banyak, Daren. Kau selalu menjadi penyelamatku."
Momen manis dan intim di pagi hari tersebut ternyata tidak berlangsung dalam kesunyian.
Beberapa siswi dari geng populer yang duduk di barisan belakang kelas XII-B—termasuk Siska yang kemarin tersungkur di koridor—menatap pemandangan di depan meja Clara dengan mata membelalak lebar, dipenuhi rasa iri, dengki, dan cemburu yang luar biasa pekat!
"Lihat itu... Daren sengaja datang pagi-pagi ke kelas ini cuma buat kasih barang ke Clara!" bisik seorang siswi berambut pirang dengan nada penuh kedengkian.
"Gila... Cowok secool dan seberbahaya Daren... ternyata perhatian banget sama Clara!" timpal siswi di sebelahnya seraya meremas pulpennya jengkel.
"Pasti Clara yang gatal menggoda Daren kemarin di rooftop! Dasar anak yatim sok polos!" umpat Siska pelan dengan giginya yang berkerotok menahan cemburu.
Hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit setelah Daren keluar dari kelas XII-B dan kembali ke kelasnya sendiri di XII-A, kabar tentang insiden pengembalian boneka lusuh itu seketika menyebar cepat bagaikan wabah api di seluruh penjuru SMA Bintang!
Di kantin, di koridor, di toilet siswa, hingga di grup-grup obrolan pesan singkat murid sekolah... desas-desus dan rumor baru mendadak menjadi topik perbincangan paling hangat:
"Daren Ardiansyah yang dingin dan mematikan... telah secara resmi memilih Clara sebagai gadisnya!"
"Daren mendatangi kelas XII-B hanya untuk memberikan hadiah manis untuk Clara!"
"Siapa pun yang berani menyentuh Clara... akan berhadapan langsung dengan monster bernama Daren!"
Rumor yang beredar luas tersebut menciptakan dua efek dramatis di sekolah: pertama, posisi Clara di sekolah seketika menjadi sangat steril dan aman karena tidak ada satu pun murid atau geng populer yang berani mengganggunya lagi akibat takut pada Daren; dan kedua... reputasi Daren sebagai pria tampan yang dingin namun sangat protektif terhadap gadisnya makin melambung tinggi di mata para siswi.
Daren yang duduk tenang di bangkunya di barisan belakang kelas XII-A dekat jendela sama sekali tidak memedulikan desas-desus murahan yang beredar di sekelilingnya.
Manik mata kelabunya menatap keluar jendela lantai dua. Di dalam saku tangannya, Daren merasakan keheningan jiwanya. Dia telah menjalankan pesan mendiang ayahnya untuk menjadi perisai bagi orang-orang di sekitarnya, seraya bersiap menantikan badai perang besar dari Viper Syndicate yang kian mendekat di bawah langit Kota Atlas.