Indonesia
NovelToon NovelToon
Kurebut Pacarmu

Kurebut Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: gadis bucin

Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.

​Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.

​Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Aksi Nekat

Dada Cassandra bergemuruh hebat menyaksikan pemandangan mengerikan di layar ponselnya. Bayangan ibunya yang terikat lemah di ruangan beton itu membuat seluruh persendian tubuhnya mendadak lemas.

Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, berusaha menahan isolasi ketakutan yang merayap cepat. Ancaman dari pria bertopeng itu bukan main-main, dan waktu tiga jam terasa bergerak terlalu cepat.

Cassandra memutar tubuhnya, menatap Narendra yang masih terbaring lelap di atas ranjang rumah sakit. Ia tidak tega membangunkan cowok itu, mengingat luka tembak di bahunya baru saja dijahit beberapa jam lalu.

Namun, belum sempat Cassandra melangkah menuju pintu keluar kamar bangsal, jemarinya mendadak ditahan oleh cengkeraman tangan yang hangat.

Narendra rupanya sudah terbangun.

Matanya menatap lurus ke arah ponsel Cassandra dengan sorot yang langsung menajam penuh kewaspadaan.

"Jangan pernah berpikir buat pergi sendirian, Cas," bisik Narendra dengan suara parau. Ia berusaha mendudukkan tubuhnya meski harus meringis menahan nyeri di bahu kirinya.

"Ren, luka lu belum sembuh!" seru Cassandra pelan seraya menahan dada Narendra. "Lu harus tetap di sini. Gue bisa urus ini sendiri!"

Narendra menggelengkan kepala dengan tegas. "Pria bertopeng di video itu adalah peretas tingkat tinggi yang selama ini mengontrol jalur pasar gelap bokap gue. Kalau lu pergi sendiri, itu sama aja lu menyerahkan diri buat dibunuh."

Ia melepas selang infus di punggung tangannya tanpa ragu sedikit pun. Darah segar sempat menetes tipis, namun Narendra mengabaikannya begitu saja demi keselamatan ibu Cassandra.

"Gue bakal ikut," tegas Narendra seraya meraih jaket hitamnya yang tergantung di balik pintu. "Dua peretas jauh lebih baik daripada satu."

Cassandra menatap keteguhan di mata Narendra. Rasa takut di dadanya perlahan terkikis oleh keberadaan cowok di hadapannya. Ia mengangguk pelan, menerima keputusan nekat tersebut.

Mereka menyelinap keluar dari rumah sakit melalui pintu darurat belakang untuk menghindari penjagaan polisi. Udara malam yang dingin menyambut langkah terburu-buru kedua remaja itu di pelataran parkir.

Narendra memesan taksi daring menggunakan ponsel sekundernya yang tak terdaftar. Dalam waktu lima belas menit, mereka sudah berada di dalam mobil yang melaju kencang. Menuju kawasan Dermaga Tua Kalibaru.

Di perjalanan, Cassandra membuka laptop portabel milik Narendra yang tersimpan di dalam tasnya. Jemarinya menari lincah di atas keyboard. Berusaha melacak sinyal panggilan video yang masuk beberapa saat lalu.

"Sinyal itu dienkripsi pakai tiga lapis server buatan," kata Cassandra sambil memfokuskan pandangannya pada layar monitor yang dipenuhi barisan kode digital. "Tapi dia ceroboh karena membiarkan modul frekuensi lokalnya tetap aktif."

Narendra menyunggingkan senyum tipis di sampingnya. "Gue tahu lu pasti bisa tembus proteksi dasar kayak gitu, Cas."

"Gue dapat koordinatnya!" seru Cassandra gembira. "Gudang nomor empat di ujung timur dermaga. Tempat itu bekas pabrik pengalengan ikan yang sudah terbengkalai lima tahun."

Taksi berhenti beberapa ratus meter dari gerbang masuk dermaga tua. Suasana di sekitar pelabuhan sangat gelap dan sepi, hanya diiringi suara dentuman ombak malam yang menghantam tiang-tiang pancang.

Cassandra dan Narendra berjalan mengendap-endap menembus kegelapan di antara tumpukan kontainer tua yang berkarat. Angin laut membawa aroma garam dan besi yang menyengat di hidung mereka.

Narendra menahan napasnya, menarik Cassandra bersembunyi di balik sebuah kontainer merah begitu melihat dua penjaga bertubuh tegap berdiri di depan pintu utama gudang nomor empat.

"Gudang itu dijaga ketat," bisik Narendra di samping telinga Cassandra. "Gue bakal pancing dua orang itu ke arah barat pelabuhan."

"Tapi bahu lu—"

"Gue cuma perlu buat kegaduhan kecil," pangkas Narendra pelan. "Waktu mereka pergi mengejar gue, lu masuk dari jendela samping dan retas panel kontrol detonator bomba di dalam."

Cassandra menggigit bibir bawahnya, menatap penuh kekhawatiran. Namun, ia tahu ini adalah satu-satunya strategi terbaik yang mereka miliki saat ini.

Narendra meraih sebuah botol kaca kosong di tanah, lalu melemparnya sekuat tenaga ke arah kontainer di seberang mereka.

PRANG!

Dua penjaga tegap itu langsung tersentak kaget dan menarik senter mereka. "Siapa di sana?!" teriak salah satu penjaga seraya berlari menghampiri sumber suara.

Narendra memberi isyarat mata pada Cassandra sebelum berlari pelan memancing perhatian kedua penjaga itu ke arah yang berlawanan.

Melihat area depan gudang yang sudah kosong, Cassandra segera mengendap ke jendela samping. Ia menaiki tumpukan kayu tua dan berhasil memanjat masuk ke dalam gudang yang remang-remang.

Di tengah ruangan gudang yang luas dan lembap, Cassandra melihat ibunya terikat erat pada sebuah kursi kayu.

Namun, saat Cassandra hendak berlari menghampiri ibunya, langkahnya mendadak terhenti seketika oleh sebuah suara tepukan tangan yang nyaring menggema dari atas balkon gudang.

Prok! Prok! Prok!

"Peretasan yang sangat cerdas, Cassandra," ucap sebuah suara berkarakter berat di atas sana.

Cahaya lampu tembak mendadak menyala terang dari atap gudang, mengarah tepat ke tubuh Cassandra.

Dari balik kegelapan balkon atas, muncul sosok pria bertopeng taktis dengan sebuah senapan laras panjang di tangannya. Dan yang membuat darah Cassandra membeku, di samping pria bertopeng itu berdiri seseorang yang amat dikenal Cassandra di sekolah.

Itu adalah Rizal. Ia berdiri dengan senyum culas di bibirnya seraya memegang remote kontrol detonator bom.

1
Ros Mawa Tyy
👍👍👍
gadis bucin: terima kasih 🤗🙏🏻
total 1 replies
gadis bucin
Teman-teman, silakan mampir dan baca karyaku. Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. 🤗❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!