Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.
Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.
Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.
Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Haruna
Setelah beberapa hari absen menemani Nek Lasmi tanpa jeda, Haruna akhirnya memutuskan untuk kembali masuk sekolah.
Sebenarnya hatinya masih berat, terus menerus dihantui rasa tidak tega meninggalkan neneknya sendirian di gubuk, membayangkan bagaimana jika sesuatu terjadi saat ia tak ada di sana. Namun ia teringat, ujian kelulusan tinggal dua bulan lagi.
Meski cita-citanya melanjutkan kuliah kini harus ia relakan, setidaknya ia ingin tetap mendapatkan ijazah SMA sebagai bukti perjuangannya selama bertahun-tahun duduk di bangku sekolah.
Sejak subuh, Haruna sudah sibuk mempersiapkan segalanya dengan telaten... menyiapkan sarapan bubur hangat untuk Nek Lasmi, menyuapinya perlahan sesendok demi sesendok, mengganti pakaiannya, memastikan obat-obatan tersusun rapi di atas meja kecil dekat ranjang lengkap dengan catatan jam minumnya yang ia tulis sendiri di secarik kertas agar Bu Inah tak keliru.
"Nek, Haruna berangkat sekolah dulu, ya," pamit Haruna, mencium punggung tangan neneknya dengan lembut, merapikan selimut hingga menutupi bahu Nek Lasmi yang kurus. "Nanti pulang sekolah Haruna langsung balik lagi ke sini. Jangan kangen-kangen, ya Nek."
Nek Lasmi hanya bisa mengedipkan mata pelan, sudut bibirnya yang masih kaku berusaha membentuk senyum tipis, seolah memberi restu meski tak sanggup mengucapkannya dengan jelas. Tangan kanannya yang masih bisa sedikit digerakkan mencoba meraih jemari Haruna, menggenggamnya sesaat sebelum melepaskannya kembali.
Di luar rumah, Bu Inah sudah menunggu sesuai janji yang dibuat semalam, membawa keranjang kecil berisi bahan-bahan masakan. "Tenang aja Har, biar Ibu yang jagain Nenek sementara kamu sekolah. Kamu fokus belajar aja, jangan kepikiran macam-macam," ucapnya, tersenyum menenangkan sambil menepuk bahu Haruna.
"Makasih banyak, Bu. Kalau ada apa-apa, tolong langsung telepon sekolah, ya. Nomor sekolahnya udah Haruna tulis di kertas deket telepon," pinta Haruna, menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab itu dengan hati yang masih diliputi kekhawatiran, meski ia tahu Bu Inah adalah orang yang bisa sangat diandalkan.
"Iya, Ibu udah hafal, kok. Udah sana, nanti kesiangan," Bu Inah mendorong pelan bahu Haruna, mempersilakannya berangkat.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, pikiran Haruna melayang jauh, membayangkan wajah Nek Lasmi yang terbaring lemah di rumah, bagaimana kondisinya saat ini, apakah ia kesakitan, apakah Bu Inah bisa memahami gumaman-gumamannya seperti yang biasa Haruna lakukan.
Sesampainya di sekolah, ia semakin banyak diam, jauh berbeda dari biasanya yang meski pendiam namun tetap fokus pada pelajaran. Kini, tatapannya sering kosong menerawang keluar jendela, pikirannya bergelut dengan keputusan berat yang telah ia ambil... melepaskan beasiswa kuliah yang selama bertahun-tahun menjadi mimpi terbesarnya, demi mengabdikan diri sepenuhnya merawat satu-satunya keluarga yang ia miliki di dunia ini.
"Har, kamu nggak apa-apa?" tanya salah seorang teman sekelasnya, duduk di sampingnya dengan wajah prihatin, menyodorkan sekotak susu. "Kabar tentang Nenek kamu udah kedengaran ke mana-mana, lho. Semua pada kasihan sama kamu, tahu."
Haruna hanya tersenyum tipis, menggeleng pelan sambil menerima susu kotak itu. "Nggak apa-apa, kok. Makasih udah perhatian, ya."
"Kalau butuh bantuan apa-apa, bilang aja. Kita semua mau bantu, kok," tambah temannya lagi, tulus.
"Makasih banyak," jawab Haruna singkat, meski dalam hati ia merasa haru mendapati banyak teman sekelas yang selama ini ternyata memperhatikannya, meski jarang berinteraksi langsung.
Bel istirahat berbunyi tak lama kemudian, namun alih-alih menuju perpustakaan seperti kebiasaannya, Haruna dipanggil untuk menghadap ke ruang guru.
Di sana, Pak Broto sudah menunggu dengan wajah serius, jauh berbeda dari biasanya yang selalu penuh semangat dan antusias setiap membahas soal-soal matematika.
"Duduk dulu, Haruna," ajak Pak Broto, menunjuk kursi di hadapannya, menutup buku yang sedang ia periksa.
Haruna duduk dengan tenang, meski dalam hati sudah menduga arah pembicaraan yang akan terjadi setelah beberapa hari terakhir kabar keputusannya beredar di kalangan guru-guru.
"Gimana kabar Nenek kamu sekarang?" tanya Pak Broto membuka percakapan, nada suaranya lembut penuh perhatian.
"Alhamdulillah sudah membaik sedikit, Pak. Tapi masih belum bisa jalan dan bicara jelas. Katanya butuh terapi rutin, lumayan lama prosesnya," jawab Haruna pelan, menundukkan pandangannya ke lantai.
Pak Broto mengangguk, lalu menghela napas panjang sebelum melanjutkan, jarinya mengetuk-ngetuk pelan permukaan meja. "Bapak dengar dari wali kelas kamu, katanya kamu memutuskan untuk nggak lanjut kuliah? Benar begitu?"
Haruna terdiam sejenak, menundukkan kepalanya sebelum akhirnya menjawab dengan suara mantap. Meski hatinya masih terasa perih membayangkan surat penerimaan itu tersimpan rapi di lemari, belum sempat ia beri tahu keputusannya secara resmi ke pihak kampus. "Iya, Pak. Haruna sudah putuskan untuk fokus merawat Nenek."
Pak Broto tampak menghela napas berat, wajahnya menyiratkan kekecewaan yang mendalam, matanya menatap lurus ke arah Haruna. "Haruna, Bapak paham betul kondisi kamu sekarang berat banget. Tapi coba kamu pikirkan lagi baik-baik. Kesempatan kayak gini itu langka banget, lho. Banyak murid berprestasi di luar sana yang mati-matian pengen dapetin beasiswa itu, belajar siang malam, ikut berbagai olimpiade, tapi nggak semua orang seberuntung kamu bisa dapetin kesempatan emas ini."
"Haruna tahu, Pak. Haruna juga udah mikirin ini panjang banget, udah nangis semalaman mikirin keputusan ini," jawab Haruna, suaranya mulai bergetar menahan emosi yang sudah lama ia pendam.
"Begini," Pak Broto mencoba mencari jalan tengah, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, "gimana kalau kita coba cari solusi lain? Mungkin Bapak bisa bantu carikan tempat penitipan atau perawat yang bisa jagain Nenek kamu selama kamu kuliah. Atau, kamu bisa ambil universitas yang lebih dekat dari sini, biar tetap bisa pulang-pergi sambil ngurus Nenek tiap akhir pekan. Bapak yakin, dengan prestasi kamu, universitas mana pun pasti mau nerima."
Haruna menggeleng pelan, matanya mulai berkaca-kaca, menahan agar air mata itu tak jatuh di hadapan gurunya. "Pak, biaya buat sewa perawat itu mahal, Haruna nggak akan sanggup. Lagian, Nenek udah korbanin segalanya buat Haruna sejak Haruna masih bayi. Beliau nemuin Haruna waktu dibuang orangtua sendiri, rawat Haruna sampai sebesar ini meski hidupnya susah, jual peyek keliling dari desa ke desa demi Haruna bisa makan dan sekolah. Sekarang giliran Nenek yang butuh Haruna, masa Haruna malah tinggalin beliau demi mimpi Haruna sendiri, Pak?"
Ruangan itu hening sejenak, Pak Broto menatap muridnya dengan tatapan campur aduk antara kagum dan sedih, tak sanggup membantah argumen yang begitu tulus itu.
"Haruna udah putusin, Pak. Soal pendidikan, biar nanti aja Haruna pikirin lagi kalau memang ada jalannya, mungkin kuliah sambil kerja atau apa. Sekarang, yang paling penting buat Haruna adalah berbakti sama Nenek dulu. Nenek udah kasih seluruh hidupnya buat Haruna, masa Haruna nggak bisa kasih sedikit waktu buat jaga beliau di masa tuanya?" lanjut Haruna, suaranya kini terdengar lebih tegas meski matanya sudah basah oleh air mata yang ia coba tahan sekuat tenaga.
Pak Broto terdiam lama, menghela napas dalam-dalam, akhirnya mengangguk pelan, meski jelas terlihat rasa sesal masih menggantung di wajahnya. "Bapak hargai keputusan kamu, Haruna. Bapak juga jadi belajar banyak dari sikap kamu ini. Tapi coba dipikirkan lagi baik-baik, ya. Waktu masih ada sampai hari kelulusan nanti, batas konfirmasi ke kampus juga masih beberapa bulan lagi. Kalau kamu berubah pikiran, atau butuh bantuan cari solusi lain, pintu Bapak selalu terbuka buat kamu, kapan pun itu."
"Terima kasih banyak, Pak, atas semua pengertian dan bantuannya selama ini. Haruna nggak akan pernah lupa jasa Bapak yang udah bimbing Haruna sampai bisa juara olimpiade kemarin," ucap Haruna, membungkuk hormat sebelum akhirnya berpamitan keluar dari ruang guru.
Begitu melangkah keluar, Haruna berhenti sejenak di koridor sekolah yang sepi karena masih jam istirahat, menatap langit biru yang membentang luas di atas kepalanya lewat celah atap koridor. Angin sore berembus lembut, membelai wajahnya yang masih basah oleh air mata yang sempat ia tahan di depan Pak Broto.
Dadanya terasa begitu sesak, mengingat betapa besar pengorbanan yang harus ia relakan demi satu keputusan ini... mimpi yang telah ia bangun sejak kecil, sejak pertama kali melihat wanita kaya yang begitu dihormati di depan sekolahnya dulu, kini harus ia kubur dalam-dalam.
Namun di tengah kepedihan itu, bayangan wajah Nek Lasmi... wanita tua yang rela memungutnya dari teras rumah kosong, membesarkannya dengan cinta tanpa syarat di tengah keterbatasan, mendekapnya erat setiap kali dunia menolaknya, menangis diam-diam demi menyimpan tabungan bertahun-tahun untuk biaya kuliahnya, kembali menguatkan hatinya.
"Nenek udah kasih segalanya buat Haruna," bisik Haruna pelan pada dirinya sendiri, mencoba mengikhlaskan mimpi besar yang harus ia lepaskan, mengusap sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan. "Sekarang giliran Haruna yang jaga Nenek. Mimpi bisa nunggu, tapi Nenek nggak bisa nunggu lebih lama lagi."
Dengan hati yang perlahan mulai tenang meski masih menyisakan luka yang dalam. Haruna melangkah kembali menuju kelasnya, membawa tekad bulat untuk mengabdikan sisa waktu yang ada bagi satu-satunya orang yang telah menjadi seluruh dunia baginya sejak awal kehidupannya dimulai. Bahkan jika itu berarti harus mengubur dalam-dalam impian besar yang telah lama ia perjuangkan dengan darah dan air mata.
aq GX bakal bosen buat ngucapin kata tu ,,
disaat org yg sempurna byk yg malas2aan ,, Krn merasa punya hidup yg serba berkecukupan ,,
malah menyia2kan hidup muda ny ,,
sedangkan km yg punya kekurangan tdk prnh menyrut kan semangat mu ,,
nenek mu pasti bangga melihat mu dari atas sana haruna ,,
tau2 keliatan ny sembuh seperti biasa ,, yx pertanda kalo tu kondisi sementara sebelum mereka pergii ,, 🥹😭😭😭 ,,
semangat trus haruna ,, km boleh berduka ,, tp cita2 jgn sampe di lupain,,
semangat haruna ,,
ni hanya kesuksesan yg tertunda ,,
msh ad jalan lain menuju sukses yg bisa km raih ,,
km harus tunjukin ma org2 yg jahatin km ,,
kalo keterbatasan km tdk menghilang kan semangat km belajar ,,