Mobil mogok di depan sebuah rumah makan sederhana mempertemukan Dawin, pasukan khusus elite yang tegas namun berhati lembut, dengan Kwila, perawat baik hati dari keluarga Lidar. Pertemuan yang tak terduga itu berubah menjadi cinta yang tumbuh di tengah bahaya, ketika keluarga Kwila justru menjadi incaran organisasi kriminal BlackSystem yang begitu ditakuti. Antara tugas melindungi negara dan menjaga wanita yang dicintainya, Dawin harus menghadapi pengkhianatan, pengejaran, dan pertaruhan nyawa sementara Kwila belajar bahwa cinta sejati kadang datang justru saat dunia terasa paling berbahaya. Namun kisah ini tak berhenti di pelaminan. “Dawin dan Kwila” adalah saga keluarga yang membentang lintas generasi merayakan pernikahan, kelahiran, perjuangan mengejar mimpi, hingga anak-anak mereka tumbuh dewasa dan menemukan cinta serta jalan hidup masing masing. Dari aksi menegangkan hingga kehangatan meja makan keluarga, novel 150 bab ini adalah perjalanan panjang tentang keberanian, penebusan, dan bagaimana kebaikan kecil bisa berbuah kebahagiaan yang tak pernah berhenti bertumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejujuran yang tertunda
Keesokan harinya, Dawin mengunjungi Good Resto untuk bertemu Kwila, membawa niat untuk menceritakan pertemuannya dengan Alya secara terbuka, menyadari betapa pentingnya kejujuran dalam menjaga kepercayaan yang telah mereka bangun bersama tersebut. Namun ketika dia tiba di restoran tersebut, dia mendapati suasana yang sedikit berbeda dari biasanya, dengan Kwila yang tampak sedikit lebih pendiam dari kebiasaannya.
"Kwila, kamu kenapa? Kelihatan agak beda hari ini," tanya Dawin dengan penuh perhatian, duduk di meja yang sama seperti biasa, memperhatikan perubahan sikap Kwila yang cukup kentara tersebut.
"Nggak apa-apa, Mas. Cuma mikirin kerjaan aja," jawab Kwila sekadarnya, meski sebenarnya dia masih sedikit terganggu dengan perubahan nada suara Dawin ketika mereka bertelepon kemarin, sebuah kekhawatiran kecil yang belum sepenuhnya dia ungkapkan secara terbuka.
Menyadari adanya sesuatu yang mengganjal, Dawin memutuskan untuk langsung membahas hal yang sebenarnya ingin dia sampaikan tersebut, tidak ingin membiarkan kesalahpahaman kecil tersebut berkembang menjadi masalah yang lebih besar. "Kwila, kemarin saya ketemu seseorang dari masa lalu saya. Namanya Alya, dia mantan tunangan saya."
Mendengar pengakuan tersebut, Kwila merasakan jantungnya berdebar dengan perasaan yang campur aduk, antara rasa penasaran dan sedikit kekhawatiran mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam pertemuan tersebut. "Mantan tunangan? Kenapa dia nyariin kamu lagi, Mas?"
"Dia butuh bantuan, Kwila. Suaminya, seorang dokter di rumah sakit yang sama tempat kamu kerja, lagi terlibat masalah sama Direktur Harjono, kemungkinan besar berkaitan dengan penyelidikan yang lagi kita jalanin," jelas Dawin dengan penuh kejujuran, menceritakan seluruh detail pertemuan tersebut tanpa ada yang dia sembunyikan, ingin memastikan bahwa Kwila memahami situasi yang sebenarnya terjadi tersebut.
Mendengar penjelasan lengkap tersebut, Kwila merasakan sedikit kelegaan, menyadari bahwa kekhawatirannya mengenai kemungkinan Alya mencoba merebut kembali Dawin ternyata tidak beralasan sepenuhnya, meski dia tetap merasakan sedikit ketidaknyamanan mengenai kehadiran sosok dari masa lalu Dawin tersebut dalam kehidupan mereka.
m
"Jadi, suaminya Alya itu bisa bantu kasus kita?" tanya Kwila, mencoba fokus pada aspek profesional dari informasi tersebut, meski dalam hatinya masih tersimpan sedikit perasaan yang belum sepenuhnya dia pahami sendiri mengenai kehadiran Alya tersebut.
"Iya, kemungkinan besar dia bisa jadi saksi kunci buat ngungkap praktik ilegal Direktur Harjono. Saya akan atur pertemuan resmi dengan tim penyelidikan," jawab Dawin, menjelaskan rencana selanjutnya yang akan dia ambil untuk memanfaatkan informasi penting tersebut demi kepentingan penyelidikan mereka.
Kwila mengangguk, mencoba menerima penjelasan tersebut dengan lapang dada, meski dia tidak bisa sepenuhnya menghilangkan sedikit kekhawatiran yang masih tersisa dalam hatinya. "Mas, boleh saya tanya sesuatu yang agak personal?"
"Boleh, Kwila. Ada apa?" tanya Dawin, menyadari bahwa ada sesuatu yang ingin disampaikan Kwila secara lebih mendalam mengenai perasaannya tersebut.
"Apakah kamu masih punya perasaan buat Alya?" tanya Kwila dengan suara yang sedikit ragu, mengungkapkan kekhawatiran yang selama ini dia coba sembunyikan sejak mendengar kabar mengenai kemunculan kembali mantan tunangan Dawin tersebut.
Mendengar pertanyaan tersebut, Dawin segera menggenggam tangan Kwila dengan penuh ketulusan, ingin meyakinkan gadis tersebut mengenai kesungguhan perasaannya. "Kwila, hubungan saya sama Alya udah lama berakhir, dan itu udah jadi masa lalu yang saya relain. Yang saya rasain sekarang, cuma buat kamu. Saya nggak akan biarin bayangan masa lalu ganggu hubungan kita."
Mendengar penegasan tersebut, Kwila merasakan kelegaan yang begitu besar, menyadari bahwa kekhawatirannya selama ini tidak beralasan, dan bahwa komitmen Dawin terhadap dirinya tetap begitu kuat meski dihadapkan dengan kemunculan kembali sosok dari masa lalunya tersebut. "Terima kasih udah jujur, Mas. Saya percaya sama kamu."
"Saya juga janji, ke depannya saya akan selalu terbuka soal apa pun, biar nggak ada kesalahpahaman kayak gini lagi," ujar Dawin dengan penuh keyakinan, mengikrarkan komitmen untuk menjaga transparansi dalam hubungan mereka yang telah mereka bangun dengan begitu penuh perjuangan tersebut.
Percakapan tersebut, meski singkat, berhasil menyelesaikan kesalahpahaman kecil yang sempat muncul di antara mereka berdua, semakin memperkuat fondasi kepercayaan yang telah mereka bangun sejak awal pertemuan mereka yang begitu tidak terduga tersebut. Kwila merasakan syukur yang begitu mendalam memiliki pasangan yang begitu jujur dan terbuka, sebuah kualitas yang begitu jarang dia temui dalam berbagai hubungan yang pernah dia saksikan di sekitarnya.
Setelah menyelesaikan percakapan tersebut, mereka berdua kembali membahas rencana pertemuan dengan suami Alya, mempertimbangkan berbagai langkah keamanan yang perlu diambil untuk memastikan proses tersebut berjalan lancar tanpa menimbulkan kecurigaan dari pihak BlackSystem maupun Direktur Harjono yang mungkin telah mengawasi pergerakan berbagai pihak yang terlibat dalam penyelidikan tersebut.
"Kwila, apakah kamu kenal dokter yang dimaksud Alya itu? Namanya dr. Bram, kerja di bagian bedah," tanya Dawin, mencoba mencari informasi tambahan mengenai identitas dokter tersebut yang mungkin bisa membantu proses koordinasi pertemuan yang akan mereka atur tersebut.
"Saya kenal, Mas. Dr. Bram emang dikenal sebagai dokter yang cukup pendiam, tapi profesional banget dalam kerjaannya. Saya nggak nyangka dia terlibat dalam masalah sebesar ini," jawab Kwila, mengungkapkan sedikit keterkejutannya mengenai keterlibatan salah satu koleganya tersebut dalam jaringan kejahatan yang begitu kompleks tersebut.
Percakapan tersebut memberikan gambaran yang semakin jelas mengenai betapa dalamnya jaringan kejahatan BlackSystem telah merasuki berbagai lapisan institusi kesehatan tersebut, sebuah kenyataan yang semakin memperkuat tekad Dawin dan timnya untuk segera menyelesaikan penyelidikan tersebut demi menyelamatkan berbagai pihak yang tanpa sadar telah terjebak dalam pusaran kejahatan yang begitu besar dan berbahaya tersebut, sebuah tekad yang akan segera membawa mereka pada babak baru penyelidikan yang jauh lebih intensif dan penuh risiko.
Menjelang sore, sebelum Dawin berpamitan pulang, Bu Misa yang kebetulan mendengar sebagian percakapan mereka tersebut, menghampiri Kwila dengan senyum penuh pengertian. "Kwila, Ibu denger tadi soal Alya. Ibu bangga banget kamu bisa hadapi itu dengan kepala dingin, nggak langsung cemburu buta kayak kebanyakan orang."
"Makasih, Bu. Saya juga percaya kok sama Mas Dawin," jawab Kwila dengan senyum yang mulai kembali cerah, merasakan dukungan penuh dari ibunya mengenai cara dia menangani situasi yang cukup rumit tersebut.
"Yang penting, komunikasi kayak yang kalian lakuin barusan itu harus terus dijaga. Itu kunci hubungan yang langgeng, Nak," nasihat Bu Misa dengan penuh kebijaksanaan, memberikan pandangan yang begitu berharga berdasarkan pengalaman panjangnya membina rumah tangga bersama Tuan Lidar selama bertahun-tahun tersebut.
Kata-kata bijak tersebut semakin menguatkan keyakinan Kwila mengenai pentingnya keterbukaan dalam hubungan yang sedang dia jalani bersama Dawin, sebuah keyakinan yang akan terus mereka pegang teguh dalam menghadapi berbagai tantangan besar yang masih menanti perjalanan cinta mereka di masa depan.