Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Jejak yang Mulai Terang
Sejak momen hujan sore itu, ikatan hati Cynthia dan Aloy terasa semakin kuat. Setiap pertemuan kini terasa lebih berharga, setiap tatapan mata menyampaikan makna yang tak sempat terucap. Namun di balik kebahagiaan kecil itu, tekad Cynthia untuk mengetahui jati dirinya tak pernah surut. Ia ingin tahu siapa dirinya sebenarnya, siapa orang tua kandungnya, dan mengapa ia harus dipisahkan dari mereka sejak hari pertama hidupnya.
Suatu hari, saat mereka duduk berdua di tempat biasa, Cynthia kembali menyerahkan buku harian beserta foto bayi yang ditemukannya di gudang tua kepada Aloy. Wanita itu menatap pria di hadapannya dengan tatapan penuh harap sekaligus cemas.
"Aloy..." suaranya terdengar lembut namun penuh penekanan. "Aku tak tahu harus mencari ke mana lagi. Satu-satunya petunjuk yang kumiliki hanya tertulis di buku ini dan foto bayi itu. Bisakah kau... membantuku menelusuri jejak ini? Aku ingin tahu siapa orang tuaku sebenarnya."
Aloy menerima kedua benda itu dengan hati-hati, seakan menyimpan sesuatu yang paling berharga di dunia. Ia menatap Cynthia lekat, lalu menggenggam tangan wanita itu erat.
"Tenanglah, Cynthia. Demi apa pun, aku akan membantumu. Aku akan menelusuri setiap jejak yang tertulis di sini. Rumah Sakit Pertamina... itu adalah titik awalnya. Aku akan mencari tahu siapa pasangan yang melahirkan bayi perempuan di sana pada tanggal yang tertera di buku harian ini. Percayalah padaku, aku tak akan berhenti sebelum menemukan jawabannya."
Kata-kata itu menenangkan hati Cynthia seketika. Di matanya, Aloy adalah tempat ia bersandar. Wanita itu mengangguk pelan, air mata kerinduan dan harapan mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Terima kasih, Aloy..." ucapnya lirih. "Hanya kau yang kumiliki saat ini."
Aloy tersenyum lembut, mengusap puncak kepala Cynthia penuh kasih sayang. "Dan kau adalah hal paling berharga yang kumiliki. Tunggulah kabar dariku."
Sejak hari itu, Aloy menyibukkan dirinya menelusuri jejak yang samar itu. Ia meneliti arsip kelahiran, menanyakan kepada pihak rumah sakit, dan mencari catatan-catatan lama yang tersimpan. Hari berganti minggu, namun Aloy tak pernah sekalipun mengeluh. Setiap hari ia melaporkan perkembangannya kepada Cynthia, meski belum ada hasil yang pasti.
Hingga suatu sore, dengan napas sedikit terengah-engah dan wajah yang tampak berseri-seri, Aloy datang menemui Cynthia. Di tangannya tergenggam selembar kertas berisi catatan penting. Matanya bersinar penuh kabar gembira.
"Cynthia... aku menemukannya."
Jantung Cynthia seakan berhenti berdetak sejenak. Ia menatap Aloy tak berkedip. "Apa... apa maksudmu?"
Aloy menarik napas panjang, berusaha menenangkan kegembiraannya sendiri.
"Dari catatan kelahiran dan data yang berhasil kutelusuri... bayi perempuan yang lahir di Rumah Sakit Pertamina pada tanggal tersebut... adalah kau, Cynthia Dewi. Dan orang tua kandungmu..." Aloy terdiam sejenak, menatap wanita itu dengan penuh perhatian, lalu melanjutkan dengan suara bergetar penuh kekaguman. "Orang tua kandungmu adalah Keluarga Paris Hutapea. Keluarga terkaya dan paling berpengaruh di seluruh kota Jakarta. Kekuasaan mereka begitu besar hingga pejabat tinggi sekalipun tunduk dan hormat kepada mereka."
Tubuh Cynthia terasa lemas seketika. Kakinya tak lagi sanggup menopang berat tubuhnya. Ia terpaku di tempat, menatap Aloy seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Keluarga Hutapea... keluarga terkaya dan paling dihormati seantero Jakarta? Bagaimana mungkin? Jika benar demikian... mengapa ia hidup dalam penderitaan sejak bayi? Mengapa ia diperlakukan kasar, disuruh bekerja berat, dan tak pernah dihargai sedikit pun? Semua keberadaan yang seharusnya menjadi miliknya... ternyata telah dirampas darinya sejak hari pertama.
Air mata jatuh deras membasahi pipi Cynthia. Bukan karena bahagia semata, melainkan karena campuran rasa haru, sedih, dan tak percaya. Selama ini ia menganggap dirinya tak berharga, anak tak diinginkan. Padahal... ia adalah putri kandung dari keluarga paling terpandang. Ia adalah pewaris tunggal dari segala kemewahan dan kehormatan yang selama ini dinikmati orang lain.
Aloy segera merangkulnya erat, membiarkan wanita itu meluapkan segala emosi yang tertahan.
"Tenanglah, Cynthia..." bisiknya lembut di telinga wanita itu. "Itu adalah kebenaran. Kau adalah putri kandung mereka. Keluarga Hutapea telah lama mencari putri tunggal mereka yang hilang. Dan kini... kau telah menemukannya."
Cynthia mencengkeram baju dada Aloy erat, tangisnya semakin menjadi-jadi. "Lalu... lalu apa yang harus kulakukan, Aloy? Haruskah aku menemui mereka?"
Aloy melepaskan pelukannya perlahan, menatap mata wanita itu lekat-lekat.
"Itu adalah hakmu, Cynthia. Hakmu untuk kembali ke pangkuan orang tuamu. Hakmu untuk mengetahui siapa dirimu sebenarnya. Dan aku... aku mendukung keputusanmu sepenuhnya. Pergilah menemui mereka. Katakanlah kebenaran itu kepada mereka."
Cynthia mengangguk perlahan. Di matanya kini terpancar tekad yang tak lagi goyah. Ia akan pergi. Ia akan menemui orang tua kandungnya. Dan ia akan membuktikan bahwa selama ini... ia-lah putri sejati yang mereka cari.