Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.
Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.
Lalu, siapa Elara sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Sejak menjadi bagian dari keluarga Halvar, Elara telah banyak membantu menyelesaikan berbagai masalah yang mereka hadapi.
Namun, tanpa disadarinya, penggunaan kekuatan dalam jumlah besar mulai membuat tubuhnya kelelahan. Energinya terkuras cukup banyak, hingga saat ini tubuhnya terasa lebih lemah dari biasanya.
Elara baru mengetahui bahwa kekuatannya memiliki batas.
Selama hidup di hutan, sebanyak apa pun kekuatan yang ia gunakan, Elara tidak pernah merasakan kelelahan seperti ini. Ia bahkan tidak pernah berpikir bahwa kekuatannya bisa menguras energi sebanyak itu.
Di kelas, setelah pelajaran berakhir dan bel istirahat berbunyi, Elara hanya diam di tempat duduknya.
Kepalanya ia letakkan di atas lipatan tangan. Matanya terpejam, tetapi pendengarannya masih menangkap berbagai aktivitas di sekitarnya.
Suara ketukan sepatu terdengar semakin mendekat. Tak lama kemudian, Elara merasakan seseorang berhenti di samping mejanya.
Ia tidak berniat mendongak. Dari langkahnya saja, Elara tahu orang itu bukan salah satu kakaknya.
“Elara,” panggil seorang gadis.
Tidak ada jawaban.
“Elara, apa kamu tidur?” Gadis itu kembali bertanya sambil sedikit membungkuk untuk melihat wajah Elara.
Elara mulai terusik dengan keberadaannya. Ia akhirnya mengangkat kepala dan menatap gadis itu dengan tatapan sedikit tajam.
“Ada apa?”
“Ah, tidak ada.” Gadis itu tersenyum canggung. “Aku lihat kamu diam saja. Aku kira kamu sakit, makanya aku—”
“Tidak usah basa-basi.” Elara memotong ucapannya. “Aku tahu maksudmu mendatangiku.”
Gadis itu terdiam sejenak. Ia tidak menyangka akan mendapat respon setajam itu.
“Sepertinya kamu salah paham.” Ia berusaha tersenyum kembali. “Elara, aku sering melihat kamu sendirian. Apa kamu belum punya teman?”
Elara hanya menatapnya tanpa menjawab.
“Aku bisa menjadi temanmu kalau kamu mau.”
“Tidak.”
Jawaban Elara langsung membuat senyum gadis itu menghilang.
“Aku tidak butuh teman yang punya maksud lain sepertimu.” Mata hijau Elara kemudian melirik nametag di dada gadis itu. “Vina.”
“Elara, aku tidak—”
“Pergi.” Suara Elara terdengar datar, tetapi tegas. “Aku tidak ingin diganggu.”
Vina membuang napas kasar. Wajahnya mulai terlihat kesal.
“Sombong!”
Gadis itu segera berbalik dan pergi dengan langkah kasar, sengaja menghentakkan sepatunya ke lantai sebelum kembali ke tempat duduknya.
Elara hanya memperhatikannya sebentar.
Setelah itu, ia kembali meletakkan kepalanya di atas tangannya.
Tubuhnya masih terasa lemah, dan saat ini ia benar-benar tidak memiliki tenaga untuk menghadapi orang yang menurutnya hanya membuang-buang waktu.
Baru beberapa saat gangguan Vina berakhir, seseorang kembali datang dan mengetuk pelan meja Elara.
Elara yang kembali meletakkan kepalanya di atas tangan akhirnya mendongak. Seorang gadis berdiri di hadapannya dengan wajah sedikit gugup.
“Elara, Leonard tadi menitipkan ini untukmu,” ucap gadis itu sambil menyerahkan sebuah kantong plastik berisi beberapa makanan ringan dan susu kotak.
Elara menerima kantong tersebut tanpa banyak bicara.
“Dia dan kembarannya tadi mencarimu,” lanjut gadis itu. “Tapi aku bilang kamu sedang beristirahat di kelas. Setelah itu, dia tidak bertanya lagi dan langsung menitipkan ini.”
Elara menunduk, memperhatikan isi kantong plastik di tangannya.
“Terima kasih.”
Gadis itu hanya tersenyum kaku dan mengangguk. Setelah itu, ia segera berbalik, seolah ingin pergi sebelum Elara kembali marah seperti yang dilakukan Vina sebelumnya.
“Tunggu.”
Langkah gadis itu langsung terhenti.
Elara membuka kantong plastik tersebut dan mengambil beberapa bungkus roti di dalamnya.
“Ini untukmu. Ambillah.”
Gadis itu menatap roti yang disodorkan Elara, lalu menggeleng pelan.
“Tidak usah. Itu kan untuk kamu.”
“Ambil saja.”
“Tapi—”
Elara mengulurkan tangannya sedikit lebih jauh. “Aku tidak mau.”
Gadis itu akhirnya menerima roti tersebut dengan ragu. Namun, beberapa saat kemudian, wajahnya berubah. Senyum kecil yang tulus muncul di sudut bibirnya.
“Terima kasih, Elara.”
Elara hanya mengangguk.
Ia memperhatikan gadis itu berjalan kembali ke tempat duduknya dengan langkah yang jauh lebih ringan daripada saat datang tadi.
“Clara...” gumam Elara pelan. “Gadis yang malang.”
Tanpa disadari, interaksi singkat itu terlihat oleh seseorang dari jendela luar kelas.
Bianca memperhatikan Clara yang baru saja kembali ke tempat duduknya, lalu mengalihkan pandangan kepada Elara. Tangannya perlahan mengepal di bawah meja.
“Sepertinya banyak yang ingin dekat dengan adik si kembar itu, Bi,” ujar Gea di sampingnya. Senyum tipis terlihat di wajahnya, seolah sengaja ingin menyulut rasa kesal Bianca.
Bianca tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Elara yang kembali menundukkan kepala di atas tangannya.
“Dia...” Bianca mengepalkan tangannya semakin kuat. “Benar-benar membuatku muak.”
Tanpa menunggu Gea menjawab, Bianca langsung pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Gea yang hanya tersenyum kecil di belakangnya.
***
Sementara itu, di kantor pusat Halvar Group, suasana terlihat jauh lebih tenang.
Di dalam ruang kerjanya yang sunyi tanpa meninggalkan kesan mewah, Faresta duduk di depan komputer. Jarinya bergerak lincah di atas keyboard, sesekali membuka beberapa dokumen yang memenuhi layar.
Sejak insiden pengkhianatan beberapa waktu lalu, ia menjadi jauh lebih waspada. Bahkan beberapa kali, Faresta memilih turun tangan sendiri untuk menyeleksi calon karyawan baru.
“Sepertinya kau sibuk sekali.”
Faresta menghentikan gerakan jarinya. Ia mendongak dan langsung mengenali suara itu.
“Papa?” Faresta mengangkat alis. “Tumben ke kantor.”
Danendra tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju sofa di sudut ruangan, lalu menjatuhkan tubuhnya di sana sambil mengembuskan napas panjang.
“Apa kamu sudah menemukan sesuatu tentang Elara?”
Pertanyaan itu membuat Faresta terdiam sesaat. Ia menutup dokumen yang ada di layar, mengambil tablet yang tergeletak di atas meja, lalu beranjak menghampiri ayahnya.
“Aku sudah mencarinya ke mana-mana.”
Danendra menoleh. “Bagaimana hasilnya?”
Faresta menyerahkan tablet tersebut. “Papa lihat saja sendiri.”
Danendra menerima tablet itu dan mulai membaca dokumen yang ditampilkan di layar. Semakin lama, dahinya semakin berkerut.
“Ini...”
“Selama beberapa hari terakhir, aku meminta orang-orangku mencari data tentang desa tempat kita menemukan Elara,” jelas Faresta sambil duduk di sampingnya. “Aku juga sudah menghubungi Dinas Kependudukan, mencari arsip wilayah, bahkan meminta tim memeriksa peta lama dan data administrasi daerah itu.”
Danendra mengangkat wajahnya dari layar.
“Hasilnya?”
Faresta menarik napas pelan. “Tidak ada.”
Danendra mengernyit. “Apa maksudmu tidak ada?”
“Desa itu...” Faresta berhenti sebentar, lalu menatap ayahnya. “Seolah tidak pernah ada.”
“Tidak mungkin.” Danendra menggeleng pelan. “Kita melihat sendiri rumah-rumah di sana. Memang bangunannya kuno, tapi jelas pernah ada kehidupan.”
“Itu juga yang membuatku bingung.”
Faresta menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Kalau kita berpikir secara nalar manusia, ada dua kemungkinan.”
“Apa?”
“Pertama, desa itu memang ada, tapi sengaja dihilangkan dari semua catatan.”
Danendra mengangguk kecil. “Dan yang kedua?”
Faresta terdiam beberapa saat sebelum menjawab. “Desa itu memang tidak pernah ada... dan seseorang sengaja membuat kita percaya bahwa desa itu ada.”
Danendra langsung memicingkan mata. “Faresta, kamu belum benar-benar menerima Elara?”
“Bukan tidak menerima.” Faresta menghela napas. “Aku hanya merasa kita tetap perlu waspada.”
Ia menatap ayahnya dengan serius.
“Papa jangan lupa, musuh bisnis kita cukup berbahaya. Mereka bisa melakukan apa saja. Kejadian masa lalu... Papa tidak lupa, kan?”
Danendra terdiam. Pikirannya kembali pada masa lalu yang hampir membuat keluarganya hancur berantakan.
“Dulu kita juga pernah lengah,” lanjut Faresta dengan suara lebih rendah. “Aku kehilangan calon adikku. Leonard dan Lionel juga hampir pergi dari kita. Mama...” Ia berhenti sejenak. “Mama bahkan hampir tidak selamat. Aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi.”
Danendra menundukkan pandangan. Ia tahu luka itu tidak akan pernah benar-benar sembuh.
“Tapi Elara yang menyelamatkan Papa dan Mama.”
“Justru itu yang semakin membuatku curiga.” Faresta menatap lurus ke depan. “Semuanya terasa terlalu... kebetulan.”
Danendra justru tersenyum tipis. “Papa justru melihatnya dari sisi yang berbeda.”
Faresta menoleh dengan bingung.
“Kalau Elara memang berniat jahat, dia sudah punya banyak kesempatan untuk mencelakai kita.” Danendra menyandarkan tubuhnya. “Tapi apa yang dia lakukan? Berkali-kali dia justru membantu keluarga kita.”
Faresta mengusap wajahnya pelan. “Itu juga yang membuatku tidak habis pikir.”
Danendra menepuk pelan paha putranya sebelum berkata, “Sudahlah. Kalau kamu belum percaya pada Elara, itu urusanmu. Tapi yang Papa ingin tahu sekarang hanya satu—siapa sebenarnya Elara?”
Faresta menatapnya Danendra dengan serius.
“Karena jika dia manusia biasa...” Danendra berhenti sejenak. “Papa rasa itu tidak mungkin.”
Faresta terdiam, lalu bertanya, “Kalau begitu, kenapa kita tidak bertanya langsung kepada Elara?”
Danendra terkekeh kecil. “Kamu yakin dia akan menjawabnya?”
“Kalau memang dia tidak punya niat jahat, aku yakin dia akan menjawab.”
Danendra menepuk pelan bahu putra sulungnya. “Papa rasa setiap orang punya rahasia yang belum siap mereka ceritakan.”
Faresta mengangguk pelan. “Aku tahu.”
Ia kembali menatap tablet di tangannya.
“Tapi sampai hari itu datang... Izinkan aku tetap mencari tahu sendiri.”
“Cari tahu boleh.” Danendra menatapnya serius. “Tapi jangan sampai rasa curigamu membuat Elara merasa tidak punya rumah di keluarga ini.”
Faresta terdiam.
“Setidaknya sampai hari ini,” lanjut Danendra, “Elara belum pernah menyakiti keluarga kita.”
Tidak ada jawaban dari Faresta. Ia hanya menundukkan kepala, membiarkan perkataan ayahnya mengendap dalam pikirannya.
Karena jauh di dalam hatinya, Faresta juga mulai berharap bahwa kecurigaannya selama ini memang salah.
terbiasa hidup sendiri dia...jadi belum dieksplor emosinya🤔