Nasib Kyarra, Kakanya yang meninggalkan suami dan juga putrinya. Kyarra harus menikah dengan kakak iparnya demi keserakahan ibunya.
Kyarra melakukannya demi keponakannya yang membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Tetapi banyaknya pertentangan dalam pernikahan mereka, belum lagi Kakak iparnya menganggap bahwa dia menerima pernikahan itu semata-mata hanya ingin memeras.
Kyarra benar-benar terjebak dalam pernikahan yang seharusnya tidak terjadi dan apalagi kontrak yang pasti pengetahuannya antara ibunya dengan Kakak iparnya.
Lalu bagaimana Kyarra yang awalnya hanya menjalankan peran sebagai seorang tante yang menyayangi keponakannya dan saat ini harus menjadi istri dari mantan Kakak iparnya, di tengah banyaknya mimpi yang ingin dia tuju?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 Rumah Mertua Neraka
Pertemuan singkat antara Kyarra dengan rektor tersebut dan Alvino bersama asistennya, awalnya Kyarra bertemu dengan rektor tersebut hanya ingin memberikan naskah yang mewakili orang-orang yang ada di kampus, tapi siapa sangka ada pembicaraan bersama dengan Alvino di dalam ruangan itu.
Kyarra bersikap profesional seolah-olah tidak mengenal dan begitu juga dengan Alvino. Akhirnya pembicaraan itu selesai membuat keduanya saling berpamitan keluar dari ruangan rektor tersebut.
"Kyarra!" langkahnya terhenti ketika dipanggil oleh Alvino.
"Kamu tunggu saya di mobil!" Alvino memberi perintah kepada Alex membuat Alex menganggukkan kepala dan kemudian pergi.
Kyarra melihat di sekitarnya, tampak gugup ketika Alvino mendekatinya, bahkan dia refleks ingin mundur.
"Heh!" Alvino menegurnya membuat Kyarra akhirnya mengendalikan diri agar tidak menjadi pusat perhatian.
"Kamu pikir saya akan melakukan apa kepada kamu, jangan terlalu berlebihan!" tegas Alvino.
"Maaf!" ucapnya.
"Saya ingin menanyakan satu hal kepada kamu," ucap Alvino dengan memasukkan kedua lengannya ke dalam saku celananya.
"Kamu memakai uang les ballet Kelly?" tanyanya to the point memang tadi malam tidak sempat di tanyakan.
Kyarra sudah tahu bahwa dia akan mendapatkan masalah dari Alvino karena pihak les sudah menghubungi Alvino karena uang yang telah dimakan oleh Mega.
"Saya tidak tahu sebenarnya kebutuhan kamu seperti apa? kenapa uang receh seperti itu saja harus kamu ambil? padahal saya lihat juga penampilan, pakaian dan segala sesuatu yang ada di tubuh kamu tidak branded dan kesan kampungan dan murahan," ucap Alvino tidak bisa jika tidak mengeluarkan caciannya.
"Kak sebenarnya....."
"Ini terakhir kalinya Kyarra!" Alvino memotong tidak mengizinkan berbicara apalagi membela diri.
"Dari pada kejadian ini terulang lagi, saya yang akan mengurus sendiri dan tidak perlu mewakili kamu, kamu dengarkan saya Kyarra saya tidak mau jika saya sampai terlibat, kalau kamu membuat ulah dan apalagi kecanduan dengan judi," ucap Alvino.
"Maksud Kakak apa?" tanyanya.
"Jangan kamu pikir saya tidak tahu bahwa ibu kamu, sering bermain judi, menghabiskan uangnya di meja judi, Melani juga pernah terjerat dalam kasus itu, sudah pasti kamu juga sama seperti mereka, saya tidak bisa menilai seseorang dari penampilan, bukan berarti kamu berpenampilan seperti ini, seolah-olah kamu berbeda dari mereka!" tegas Alvino memberi tuduhan tanpa ada bukti.
Kyarra ternyata tidak sanggup untuk menjawab dan menjelaskan, dia lebih memilih diam dan lagi pula pria di hadapannya itu tidak memberi kesempatan apapun dan langsung pergi begitu saja setelah menyampaikan semuanya.
"Ya Allah, kenapa Kak Alvino memandangku dengan seperti itu, aku bahkan tidak pernah melakukan kesalahan apapun kepadanya? selama dia menikah dengan Kak Melani, aku juga tidak pernah mencampuri rumah tangga mereka, dan kemudian kami menikah, dia justru menyalahkan dan menganggap bahwa aku menikmati semua kesempatan itu,"
"Sudahlah Kyarra, ingin mengeluh seperti apapun sudah tidak ada gunanya, kamu seperti tidak tahu saja dia, dia tidak akan pernah mau kalah dan akan terus merasa benar," ucap Kyarra menghela nafas.
******
Kyarra memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper kecil milik Kelly.
Sementara Kelly mengisi ranselnya dengan beberapa buku pelajarannya.
"Kelly kamu sudah selesai?" terdengar suara dari luar memanggil.
"Iya. Pa," sahut Kelly buru-buru keluar dari kamar.
"Kelly, kamu jangan lari-lari terus nanti kalau jatuh bagaimana?" tegur Alvino melihat putrinya memang sangat lincah.
"Iya Papa," jawabnya dengan mengayun suara dan kemudian Kyarra keluar dari kamar dengan membawa koper dan juga tidak lupa menutup pintu kamar.
"Kak, sebaiknya saya tidak ikut saja? Saya tinggal di tempat Mama saja," ucap Kyarra.
"Kamu lupa tujuan kamu menikah dengan saya apa? Kelly!" tegas Alvino.
"Menikah! memang siapa yang menikah Papa?" tanya Kelly yang memang tidak mengerti dan tidak tahu apa-apa.
"Hmmm, tidak apa-apa sayang," sahut Alvino mengalihkan pembicaraan itu.
"Ayo kita sebaiknya langsung pergi saja!" ajak Alvino menggandeng tangan putrinya.
Kyarra menghela nafas dan kemudian langsung menyusul.
****
Alvino memiliki proyek besar yang cukup jauh dari apartemen, dan justru lebih dekat dari kediaman kedua orang tuanya.
Alvino berencana untuk menyewa apartemen di sekitar tempat pekerjaannya agar mempermudahkan dirinya paling tidak bisa menghemat waktu.
Tetapi dua orang tua Alvino meminta untuk mereka tinggal di rumah, Lina juga sangat merindukan cucunya dan ingin cucunya berada di rumahnya.
Alvino tidak punya pilihan lain, karena tinggal di kediaman Alvino, itu membuat Kyarra tidak bersemangat karena mengetahui bagaimana keluarga Alvino yang sangat membenci keluarganya.
Kyarra meminta untuk tinggal di tempat ibunya saja, tetapi bukan Alvino yang membiarkan kebebasan kepada Kyarra.
******
Tidak lama akhirnya mobil yang dikendarai Alvino sampai juga di kediaman mewah milik kedua orang tuanya. Kyarra sejak tadi hanya membuang nafas perlahan, keluar dari mobil yang tidak lupa membantu Kyarra.
Kepala Kyarra berkeliling sembari menaiki anak tangga menuju pintu utama, kediaman rumah suaminya itu benar-benar luas seperti istana, halamannya begitu luas dengan beberapa penjaga yang terlihat sejak tadi, keluarga Alvino memang dikenal keluarga kaya raya.
Dua pintu utama itu telah dibuka oleh pelayan, Alvino bersama dengan Kelly dan juga Kyarra akhirnya memasuki rumah.
"Assalamualaikum!" sapa Alvino.
"Walaikum salam," sahut semua yang ada di ruang tamu.
"Oma..!" Kelly menyapa dengan sangat ramah.
Lina tampak tenang ketika melihat cucunya, tetapi ekspresi wajahnya yang memberikan senyum lebar tiba-tiba saja berubah ketika melihat kehadiran Kyarra.
"Alvino Mama meminta kamu untuk datang ke rumah bersama dengan Kelly, bukan dengan wanita asing," ucap Lina.
"Lina kamu ubah kembali kalimat kamu agar terdengar jauh lebih baik!" tegur Nenek selalu bicara bijak membuat Lina hanya menghela nafas terlihat kesal karena ditegur di depan Kyarra.
"Kyarra, bagaimana kabar kamu?" hanya Nenek dengan ramah.
"Alhamdulillah Kyarra baik-baik saja. Nek!" jawabnya sembari mencium punggung tangan orang tua tersebut.
Kyarra juga melakukan hal yang sama kepada Heri dan saat ingin melakukan hal yang sama kepada Lina, Lina hanya memberikan tangannya namun wajahnya dialihkan memperlihatkan bahwa dia benar-benar tidak suka.
Kyarra tetap mencium punggung tangan itu, yang terpenting dia sudah bersikap sopan.
"Kelly bagaimana apa kabarnya baik?" tanya Nenek.
"Baik-baik saja Nini," jawabnya.
"Ayo Kelly, Oma akan antar ke kamar Kelly!" ajak Lina tampak excited yang menggandeng tangan cucunya itu dan Kelly juga tampak senang mengikut saja.
"Aku harus kembali ke kantor, hanya mengantarkan Kyarra dan Kelly saja ke rumah ini," sahut Alvino tidak lupa mencium punggung tangan nenek dan juga sang ayah.
"Alvino!" langkah itu terhenti ketika ingin pergi membuat Alvino kembali membalikkan tubuh dan melihat ke arah Nenek.
"Begini sikap kamu di rumah? saat ingin ke kantor dan kamu hanya melewati istri kamu begitu saja tanpa berpamitan kepadanya?" tanya nenek dengan satu alisnya terangkat.
"Alvino restu seorang istri memperlancar pekerjaan kamu, bagaimanapun kamu sudah menikah, kamu harus perlakukan dengan baik wanita yang menjadi berkah untuk kamu," tegas nenek jika ceramah akan panjang lebar dan pasti membuat Alvino tidak bisa berkutik.
"Saya sudah terlambat!" ucapnya tidak ingin berbicara apapun dan kemudian langsung pergi.
"Alvino!" Nenek memanggil kembali tetapi sudah diabaikan oleh Alvino. Kalau Kyarra sudah terbiasa dengan sikap seperti itu.
Bersambung....