Indonesia
NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Konflik etika / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7

Reynand mengangkat wajah dari tumpukan dokumen yang menumpuk di atas meja kerjanya. Kemeja putihnya masih tampak rapi dan tertata sempurna, namun lingkaran gelap di bawah matanya mengisyaratkan bahwa ia kembali melewatkan waktu istirahatnya.

‎‎Gisella melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya hingga terdengar bunyi rapat yang lembut. Senyum merekah di wajahnya, begitu lebar dan hangat, seolah ia adalah seorang istri yang sangat dirindukan oleh suaminya sendiri.

‎‎"Apakah kamu tidak tidur sepanjang malam lagi?" tanyanya lembut, sembari berjalan memutar kursi kerja Reynand hingga berada di belakangnya. Kedua tangannya mendarat di bahu pria itu, memijat perlahan dengan gerakan yang sengaja dibuat lembut dan penuh kasih sayang.

‎‎Reynand tidak bergeming sedikit pun di bawah sentuhan itu.

‎‎"Ada keperluan apa?" tanyanya singkat, nada bicaranya datar tanpa menyambut kehangatan apa pun.

‎‎"Hanya rindu saja," jawab Gisella, lalu mencondongkan badannya mendekat ke arah telinga suaminya. "Bagaimana kalau kita sarapan bersama pagi ini?"

‎‎Belum sempat Reynand menjawab, terdengar ketukan halus dan sopan di permukaan pintu ruangan itu.

‎‎"Masuk," ucap Reynand singkat, seakan justru merasa lega karena adanya gangguan yang memutus percakapan yang tidak ia inginkan ini.

‎‎Pintu terbuka perlahan.

‎‎Anindya berdiri di ambang pintu sambil menunduk sopan, kedua tangannya memegang nampan dengan hati-hati. Di atasnya terhampar dua cangkir keramik rapi, satu berisi kopi hitam pekat tanpa gula sesuai pesanan, dan satu lagi berisi kopi susu yang disiapkan dengan asumsi mungkin juga diinginkan oleh bosnya itu.

‎‎"Permisi, Pak. Nyonya... Ini kopi pesanan Nyonya," ucapnya pelan namun jelas.

‎‎Gisella berjalan mendekat dengan langkah anggun, lalu mengambil cangkir kopi hitam itu dari nampan dengan senyum yang terukir manis di bibirnya.

‎‎"Terima kasih ya," ucapnya terdengar sangat ramah dan sopan, seakan tidak ada satu pun kebencian yang tersimpan di hatinya.

‎‎Namun kemudian, tanpa suara, setetes cairan kopi yang masih panas itu terjatuh dari bibir cangkir dan mengenai punggung tangan Anindya.

‎‎"Ah..." Anindya refleks menahan napas dan menarik tangannya perlahan, rasa perih langsung menjalar di kulitnya yang terbakar tetesan itu.

‎‎"Aduh, maafkan aku," Gisella segera memasang wajah penuh kekhawatiran yang seolah-olah tulus. "Kamu kenapa gemetar sekali? Lain kali lebih hati-hati, ya."

‎‎Anindya menunduk lebih dalam, menahan rasa sakit yang perih di kulitnya sekaligus rasa malu yang mendalam.

‎‎"T-tidak apa-apa, Nyonya," jawabnya dengan suara yang bergetar tertahan.

‎‎Rahang Reynand mengeras seketika. Ia melihat dengan jelas bagaimana punggung tangan Anindya perlahan berubah menjadi kemerahan di tempat cairan panas itu mengenai kulitnya. Ia tahu itu bukan kebetulan, namun di ruangannya sendiri, di hadapan istrinya, ia memilih untuk tidak membuat keributan yang tidak perlu saat ini juga.

‎‎"Taruh saja di meja. Kamu boleh keluar," perintahnya singkat dan tegas, nada bicaranya tetap datar, namun ada penekanan yang jelas di sana.

‎‎"Baik, Pak."

‎‎Anindya meletakkan nampan itu di meja samping secepat mungkin tanpa menimbulkan suara, membungkuk sopan sekali lagi, lalu berbalik dan melangkah keluar dengan langkah yang cepat. Begitu pintu tertutup, ia langsung bergegas menuju pantry untuk membasuh tangannya dengan air dingin.

‎‎Di dalam ruangan kerja yang luas itu, keheningan kembali menyelimuti mereka berdua.

‎Gisella duduk santai di sofa kulit di sudut ruangan, menyeruput kopinya dengan tenang seolah tidak ada hal yang baru saja terjadi.

‎‎"Jadi..." ia membuka pembicaraan kembali dengan nada santai. "Tentang apa yang kamu katakan tadi malam..."

‎‎Reynand berdiri perlahan, melangkah menuju jendela kaca besar yang memandang ke arah hamparan kota di bawah sana. Punggungnya membelakangi istrinya.

‎‎"Aku serius, Gisella. Aku ingin bercerai."

‎‎Suara sendok yang beradu dengan piring terdengar samar. Gerakan tangan Gisella terhenti seketika.

‎‎Ia tertawa pelan, tawa yang terdengar getir dan penuh ketidakpercayaan.

‎‎"Apakah karena sekretaris barumu itu?"

‎‎"Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan dia," jawab Reynand tegas tanpa menoleh sedikit pun.

‎‎Gisella meletakkan cangkirnya ke meja dengan bunyi yang sedikit lebih keras dari yang seharusnya, lalu berdiri dan melangkah mendekati suaminya.

‎‎"Kalau begitu, apa alasannya? Kita bisa memulai semuanya dari awal, bukan? Atau..." suaranya melembut kembali, penuh bujukan. "Bagaimana kalau kita memiliki anak? Mungkin kehadiran seorang anak akan mengubah segalanya, menyatukan kita kembali. Apakah itu tidak bisa dipertimbangkan, Reynand?"

‎‎Reynand menghela napas panjang, bahunya turun naik perlahan menahan segala rasa lelah yang menumpuk di dadanya. Ia berbalik perlahan menatap wanita yang telah menjadi istrinya selama tiga tahun ini dengan tatapan yang lembut namun teguh, tidak bisa digoyahkan lagi.

‎‎"Gisella... Pernikahan ini tidak pernah didasari atas nama cinta, melainkan atas nama kesepakatan kedua keluarga. Kita telah menjalani peran masing-masing selama tiga tahun dengan baik. Namun pura-pura hidup bersama sebagai suami istri yang saling mencintai itu... itu bukanlah kehidupan. Dan aku tidak ingin kita terus saling menyakiti dengan berpura-pura semuanya baik-baik saja. Memiliki anak di tengah hubungan yang kosong ini justru adalah hal yang paling kejam yang bisa kita lakukan terhadap anak itu sendiri."

‎‎Wajah Gisella memucat perlahan, senyumnya yang tadi masih terukir di bibir kini perlahan lenyap.

‎‎"Jadi... kamu benar-benar tidak bisa dibujuk sama sekali?"

‎‎"Keputusanku sudah bulat."

‎‎Gisella menatapnya lekat-lekat, menatap mata yang dulu pernah ia harapkan akan memandangnya dengan cinta, namun kini hanya tampak dingin dan penuh ketegasan.

‎‎"Apapun itu, aku tidak akan pernah mau untuk melepaskan kamu, Reynand. Jika aku tidak bisa, maka tidak ada satu wanita pun yang bisa memiliki kamu."

‎‎Ia berbalik badan dengan gerakan yang cepat dan tegas, melangkah menuju pintu ruangan itu, membuka pintu dan menutupnya kembali dengan kasar.

‎‎-

‎-

‎‎‎Belum lama Gisella melangkah keluar meninggalkan ruangan itu, pintu kembali terbuka perlahan. Hansen masuk dengan langkah sedikit cepat, di tangannya tergenggam sebuah kotak kecil berisi salep kulit.

‎‎"Tuan," ucapnya sopan seraya melangkah mendekati meja kerja. "Salep yang Anda minta sudah saya belikan."

‎‎Reynand mengangguk pelan, lalu menunjuk pintu dengan gerakan dagu.

‎‎"Baik, terima kasih, Hansen. Sekarang kamu boleh keluar. Panggil Anindya ke sini."

‎‎"Baik, Tuan." Hansen membungkuk sopan, lalu berbalik dan melangkah keluar, menutup pintu rapat di belakangnya.

‎‎Beberapa saat kemudian, terdengar ketukan halus di permukaan pintu.

‎‎"Permisi, Pak..."

‎‎"Masuk," jawab Reynand lembut namun tegas.

‎‎Pintu terbuka. Anindya berdiri di ambang pintu dengan wajah yang masih tampak cemas, punggung tangannya yang terkena percikan kopi tadi sudah dicuci bersih dengan air dingin, namun kulitnya masih terlihat merah dan sedikit bengkak.

‎‎"Kemari," perintah Reynand seraya melangkah mendekat, tanpa menunggu wanita itu mendekat ke meja kerjanya.

‎‎Anindya melangkah maju dengan ragu-ragu. "Ada tugas lain apa, Pak?"

‎‎Namun Reynand tidak menjawab pertanyaannya. Ia langsung meraih pergelangan tangan Anindya, menariknya perlahan agar berdiri lebih dekat ke arahnya.

‎‎"Pak, ini tidak perlu..." mohon Anindya dengan wajah yang memerah karena canggung, berusaha menarik pelan tangannya agar dilepaskan. "Saya bisa melakukannya sendiri di luar. Tidak perlu merepotkan Bapak."

‎‎Reynand tidak menjawab, ia membuka kotak kecil itu, mengambil sedikit salep berwarna putih bersih di ujung jari telunjuknya. Dengan hati-hati dan perlahan, ia mulai mengoleskan obat itu ke bagian kulit yang kemerahan di punggung tangan Anindya.

‎‎Anindya menahan napas, menatap wajah pria di depannya yang kini terlihat begitu serius dan penuh perhatian. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena kehangatan perlakuan itu yang terasa begitu asing namun menenangkan di saat yang bersamaan.

‎‎"Pak... ini tidak pantas," bisiknya pelan, matanya menunduk tidak berani menatap mata Reynand. "Saya hanya sekretaris Bapak."

‎‎"Kamu terluka karena istriku," jawab Reynand tenang, tanpa berhenti mengoleskan salep itu secara merata. "Setidaknya biarkan aku bertanggung jawab atas perbuatannya padamu."

‎‎"Tapi Nyonya juga tidak sengaja," ucap Anindya dengan suara bergetar, mencoba membela Gisella meskipun hatinya sendiri masih terasa perih.

‎‎Tangan Reynand terhenti sejenak di udara. Ia mengangkat wajah, dan pandangan mata mereka bertemu.

‎‎"Anindya," panggilnya pelan. "Kamu terlalu baik."

‎‎Anindya segera menunduk kembali, seakan takut tatapan itu akan membaca isi hatinya yang sebenarnya.

‎‎"Saya... saya hanya menjalankan tugas, Pak."

‎‎Reynand melanjutkan kembali gerakannya, mengoleskan sisa salep yang tersisa di punggung tangan wanita itu dengan lembut dan penuh kehati-hatian.

‎‎"Mulai hari ini, jika ada yang memintamu melakukan sesuatu yang berada di luar lingkup tugas pekerjaanmu, terutama dari Nyonya Gisella, kamu berhak menolaknya. Laporkan terlebih dahulu kepadaku."

‎‎Anindya terkejut mendengar perintah itu, matanya sedikit membelalak.

‎‎"Tapi, Pak... bukankah beliau istri Bapak? Saya merasa tidak pantas untuk menolak permintaan beliau."

‎‎"Itu adalah perintah langsung dari pimpinan," potong Reynand tegas, nada bicaranya tetap tenang namun penuh ketegasan yang tidak dapat dibantah. "Paham?"

‎‎"M-mengerti, Pak." Anindya mengangguk cepat, menyadari bahwa keputusan itu sudah bulat dan tidak dapat ditawar lagi.

‎‎Reynand perlahan melepaskan pergelangan tangannya, lalu menutup kembali kotak salep itu dan menyimpannya ke dalam genggaman tangan Anindya.

‎‎"Kamu boleh kembali ke meja kerjamu sekarang. Siapkan dokumen-dokumen yang akan dibawa untuk perjalanan dinas besok. Hansen akan mengirimkan rincian agenda dan jadwal keberangkatan ke alamat surelmu sebentar lagi."

‎‎"Baik, Pak. Terima kasih banyak."

‎‎Anindya membungkuk sopan, lalu berbalik menuju pintu. Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berpacu tidak menentu.

‎-

-

-

Bersambung...

1
〈⎳ FT. Zira
erai kan gak harus kedua belah pihak setuju
〈⎳ FT. Zira
ancamanya aja yg gak efisien🤧
〈⎳ FT. Zira
sebutannya tetep pelakor ya walau mereka saling suka dan terjebak keadaan.. mulut netizen kan emng paling bener🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
Rey sih gak bakal mundur nin
Bunda HB
bu lady yg trhormat ank mu tdr dgn pria lain yg bernama Gavin .di namakan istri gatal...makanya di cerai sama suami nya 😅😅
🔥Violetta🔥: Astaga 🤣🤣 lady Gaga 🤭🤣✌️
total 1 replies
Fay
Kutunggu lanjutannya thor biar semangat ku kasi vote deh💪💪
🔥Violetta🔥: Wah terimakasih banyak kakak 🙏😘
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
ehh... gak bisa komen.. lagi revisi katanya🤧🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
dirimu punya hak apa nglarang, suami bukan/Slight//Slight/
〈⎳ FT. Zira
anakmu yg nyosor duluan loh nyonyaaa
〈⎳ FT. Zira
sengaja banget ngasih terapi jantung yak🤧
🍓ADIRA🍓
Ayooo cari tau Rey... 🧐
🍓ADIRA🍓
sepertinya si binik sama kekasih gelapnya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
yg salah y statusnya Reynand 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
MBOK YA JANGAN LANGSUNG PLAK TOH BUK 😎 TANYA DULU BAEK-BAEK GTU LOH 😠
🍓ADIRA🍓
iya iya yg lgi lope lope dah /Heart/🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Terbawa perasaan sesaat??? plis deh ya buk 😎 Reynand itu bukan anak 17 tahun lagi loh 🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️
🍓ADIRA🍓
maap sya klarifikasi y nyonya... anakmu itu loh yg demen ambil kesempatan dalam kesempitan dluan 😂😂😂🤣🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk calon besan tak boleh galak^ loh NyoMar 😂😂😂
kymlove...
beresin dulu aja ray hubungan mu sama gisella... cari taulah tentang gisella biar kamu tau keburukkan gisella, jadi jika beneran cerai km punya alasan yg kuat. untuk menggugat... biar semua tidak menyalahkan anindya jadi pihak ketiga terus...
kymlove...
hadeh.... udah ketebak pasti bakalan nyalahin nindya.... tapi ibuuuu..... kalau nindya pergi siapa. yang bakalan nanggung pengobatan mu!!!! mbok ya tolong jangan cuma lihat jeleknya aja!!! emang anak ibuuu jg mau terjebak sm. suami orang!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!