Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Musa bangkit dari duduknya. Dengan langkah perlahan namun penuh ketegasan, ia mengikis jarak dan berjalan mendekati Laila yang masih berdiri membeku memegang nampan.
Musa menghentikan langkahnya tepat di sebelah Laila.
Ia menatap lurus ke arah Kyai Adi dan Kyai Adam, lalu berucap dengan suara yang amat tenang namun menggelegar di dada siapa pun yang mendengarnya.
"Saya menerima lamaran dan pernikahan ini."
Mendengar kalimat itu, Musdalifah langsung bangkit dari tempat duduknya.
Senyum kemenangan dan raut wajah sombong terpatri jelas di paras cantiknya.
Ia melirik Laila dengan tatapan meremehkan, seolah hendak menegaskan siapa yang menjadi pemenang hari ini.
"Tapi, saya akan menikahi wanita ini, Laila."
Seketika, bagai dihantam petir di siang bolong, keheningan menyapu ruangan sebelum akhirnya pecah oleh jeritan tak percaya.
"APA?!" teriak Musdalifah histeris.
Wajah sombongnya meluruh seketika, berganti dengan kepucatan dan rasa syok yang luar biasa.
Laila membelalakkan matanya lebar-lebar. Jantungnya berdegup kencang, tangannya yang memegang nampan gemetar hebat.
Ia menatap Musa dengan pandangan tak percaya. Dalam benaknya, ia sama sekali tidak mengenali pria di hadapannya ini.
Baginya, calon suami kakaknya adalah seorang ustaz berwibawa yang asing, sebab ingatan tentang pria berdarah-darah yang pernah ditolongnya satu tahun lalu di tengah hujan telah tertimbun rapat di memori masa lalunya.
Suasana ruang tamu mendadak kacau. Umi Mina dan Umi Sinta sama-sama berdiri dari duduk mereka, mengekspresikan penolakan keras.
"Musa! Apa-apaan kamu ini?!" seru Umi Sinta dengan raut wajah penuh ketidaksetujuan.
"Kamu tidak bisa asal memilih! Musdalifah ini lulusan S1 dari Mesir, berpendidikan agama yang tinggi dan sepadan denganmu. Sedangkan Laila? Dia hanya lulusan kedokteran lokal di Indonesia. Latar belakang mereka sangat berbeda, Musa!"
Umi Mina pun menimpali dengan napas memburu, "Benar itu! Jangan membuat lelucon di hari penting ini, Musa! Yang dijodohkan denganmu sejak awal adalah Musdalifah, bukan Laila!"
Musa berdiri tegap. Aura dingin yang biasa ia sembunyikan di dunia bawah tanah mendadak memancar tipis, membuat suhu di ruangan itu terasa menghimpit.
Tatapan matanya menajam, mengunci pandangan semua orang.
"Keputusan saya sudah bulat," tegas Musa, suaranya pelan namun mengandung ancaman yang tak terbantahkan.
"Jika Abah, Umi, dan keluarga di sini tidak merestui saya menikah dengan Laila, maka tidak akan ada pernikahan sama sekali. Saya tidak akan pernah menikahi wanita mana pun, termasuk Musdalifah, dan saya akan pergi meninggalkan pesantren hari ini juga."
Pernyataan itu membuat Kyai Adam dan Kyai Adi bungkam membisu.
Ancaman Musa bukan gertakan belaka—mereka bisa merasakan kebulatan tekad yang amat keras di balik nada bicaranya.
Musdalifah mengepalkan tangannya kuat-kuat, dadanya bergolak oleh rasa malu, sakit hati, dan dendam yang membakar.
Ia menatap Laila dengan tatapan benci yang begitu pekat.
Di tengah kekacauan itu, Laila memberanikan diri mendongak. Dengan suara gemetar, ia menatap Musa penuh kebingungan.
"Tuan, kenapa Anda mau menikahi saya?" bisik Laila pelan.
"Saya hanya wanita sederhana. Pendidikan agama saya tidak setinggi Mbak Musdalifah, dan saya bukan siapa-siapa."
Musa mengalihkan pandangannya, menatap Laila dengan binar mata yang melunak seketika.
Sebuah senyum tipis—senyum yang sama seperti satu tahun lalu—terukir di bibirnya.
"Apakah kamu benar-benar lupa kejadian satu tahun lalu, Nona?" tanya Musa pelan.
Laila mengerutkan keningnya, makin bingung. "Satu tahun lalu?"
Laila menggelengkan kepalanya perlahan, raut wajahnya diliputi kebingungan yang mendalam.
"Jangan gegabah, Tuan. Saya permisi ke belakang dulu."
Saat Laila memutar tubuh dan hendak melangkah pergi, Musa bergerak cepat.
Ia meraih dan menggenggam erat pergelangan tangan Laila, menahannya untuk tetap berada di sampingnya.
Genggaman itu terasa hangat, tegas, dan tak memberi ruang untuk dibantah.
Musa kemudian memalingkan pandangannya ke arah sang ayah dengan raut wajah tanpa keraguan sedikit pun.
"Abah, bukankah pernikahan ini lebih cepat lebih baik? Sekarang, aku tidak ingin sekadar melamarnya. Aku ingin menikahinya hari ini juga."
Pernyataan Musa menjadi jerami terakhir yang menghancurkan sisa kesabaran Musdalifah.
Rasa malu, sakit hati, dan cemburu buta meledak sekaligus di dalam dadanya.
Dengan napas memburu dan mata yang memerah murka, Musdalifah meraih gelas kaca berisi teh panas di atas meja lalu melemparkannya sekuat tenaga ke arah muka Laila.
"Wanita, tidak tahu diri!" jerit Musdalifah histeris.
Laila membelalakkan mata, membeku ketakutan saat pecah belah itu melayang cepat ke arah wajahnya.
Namun sebelum gelas itu menyentuh Laila, Musa dengan refleks kilat menarik tubuh Laila ke dalam pelukannya dan menepis gelas tersebut dengan lengan kirinya.
PRANG!!
Gelas kaca itu hancur berkeping-keping menghantam lantai.
Serpihan tajamnya menggores lengan Musa, merobek kain koko putihnya hingga warna merah pekat darah segar langsung merembes cepat, membasahi lengan bajunya.
Laila tersentak hebat di dalam dekapan Musa. Bau amis darah menyengat indranya.
Ia mendongak, menatap luka di lengan Musa dengan panik.
"Tuan, tangan Anda terluka!"
Musa sama sekali tidak meringis. Ia tetap berdiri tegap, memasang tubuhnya sebagai perisai untuk melindung seluruh tubuh Laila dari amukan sang kakak.
PYAR!!
Suara hantaman telapak tangan Kyai Adam di atas meja kayu menggelegar, memecah kekacauan di ruangan itu.
Sang Kyai bangkit berdiri dengan wajah memerah tahan amarah, menatap lurus ke arah Kyai Adi dan Umi Mina yang kini membisu ketakutan.
"Cukup!" bentak Kyai Adam dengan suara berat nan berwibawa.
Matanya menatap Musdalifah yang masih bergetar oleh amarah, lalu beralih pada Kyai Adi.
"Apa, seperti ini adab anak kalian?! Melempar barang berbahaya dan melukai calon suaminya sendiri di depan orang tua?!"
Kyai Adi dan Umi Mina hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam.
Rasa malu yang luar biasa menghimpit dada mereka atas tindakan emosional Musdalifah yang baru saja melukai Ustaz Musa di hadapan Kyai Adam.
Melihat darah yang kian banyak merembes di lengan baju koko putih itu, Laila tak bisa tinggal diam.
Dengan cemas, ia memegang tangan Musa yang tak terluka.
"Mari Tuan, ikut saya ke ruang keluarga. Lukanya harus segera dibersihkan," bisik Laila lembut.
Tanpa memprotes, Musa menurut. Ia membiarkan gadis itu menuntun langkahnya menuju ruang keluarga yang lebih tenang.
Begitu tiba, Laila meminta Musa duduk di sofa, lalu bergegas memanggil pelayan rumah.
"Bi, tolong ambilkan kotak P3K! Sekalian minta baju koko milik Abah yang masih baru, ya," pesan Laila panik.
Bibi pelayan mengangguk cepat. "Baik, Non!"
Ruang keluarga itu mendadak hening. Hanya terdengar suara helaan napas Musa dan embusan angin dari balik jendela.
Musa menatap Laila yang sibuk menyiapkan mangkuk berisi air hangat dan kain bersih.
Tatapan pria itu begitu dalam, terkunci sepenuhnya pada wajah wanita di hadapannya.
"Apa sekarang kamu sudah ingat siapa saya?" tanya Musa dengan suara berat nan lembut.
Laila menghentikan gerakannya sejenak, lalu mendongak perlahan.
Matanya bertaut dengan manik mata Musa. Ingatan malam kelam bernuansa hujan satu tahun lalu—saat ia merawat pria penuh luka tembak di bangunan tua—mendadak berputar jelas di kepalanya.
Laila menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, saya ingat." jawabnya lirih.
Dengan jemari yang sedikit gemetar namun cekatan, Laila membimbing Musa untuk melepaskan baju koko putihnya yang terkoyak dan berdarah.
Sebagai lulusan kedokteran, naluri medis Laila langsung bekerja.
Ia membasahi kain bersih dengan air hangat, lalu menyapu sisa darah di lengan tegap Musa dengan sangat perlahan dan hati-hati.
"Kenapa kamu masih mengingatnya, Tuan? Padahal saya hanya menolongmu secara kebetulan satu tahun yang lalu." gumam Laila heran, pandangannya tetap fokus pada luka goresan kaca di kulit Musa.
Tak lama kemudian, bibi pelayan datang membawa kotak P3K dan sehelai baju koko bersih milik Kyai Adi, meletakkannya di atas meja sebelum kembali menyisir mundur ke belakang.
Musa membiarkan Laila mengobati lukanya. Saat jemari Laila mulai menempelkan perban, Musa menyandarkan tubuhnya sedikit mendekat, menatap paras cantik Laila yang sama persis dengan yang selalu hadir dalam mimpinya di malam-malam sepi.
"Bagiku, kamu bukan sekadar menolongku, Laila," bisik Musa tulus.
"Kamu adalah bidadari yang aku cari selama satu tahun ini."
Laila tersentak. Tangannya yang sedang merapikan ujung perban terhenti seketika.
Ia mendongak, menatap mata tajam Musa dengan kepakan jantung yang mendadak tak beraturan.
"Kamu, mencariku selama satu tahun?" tanya Laila hampir tak terdengar.
Musa menganggukkan kepalanya yakin. Senyum tipis yang hangat terukir di bibirnya—senyuman yang tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun, apalagi di dunia bawah tanahnya.
"Panggil aku Musa. Jangan panggil 'Tuan'," pinta Musa lembut namun penuh penekanan.
"T-tapi,"
Laila merasa ragu, lidahnya terasa kelu membayangkan harus memanggil nama pria yang begitu dihormati ini tanpa embel-embel kesantunan.
"Tidak ada tapi-tapian, Bidadariku," potong Musa pelan namun telak, menatap Laila dengan pendar mata yang begitu hangat.
Usai memakai baju koko baru milik Kyai Adi, Musa kembali menggenggam erat jemari Laila, membimbing gadis itu melangkah mantap kembali ke ruang tamu tempat atmosfir ketegangan masih terasa pekat.
"Musa, duduk," panggil Kyai Adam dengan suara berat dan berwibawa, mencoba menetralkan suasana.
Musa menuruti perintah sang ayah, tetapi ia tidak duduk sendiri—ia menarik lembut jemari Laila untuk ikut duduk bersisian dengannya di atas sofa. Musdalifah yang duduk tak jauh dari mereka menatap pemandangan itu dengan mata memerah tahan murka, tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih.
Kyai Adam memandang putranya dengan tatapan dalam dan serius.
"Kamu yakin ingin menikah dengan Laila, Musa? Bukan Musdalifah?"
"Iya, Abah. Musa yakin seratus persen," jawab Musa tanpa ragu sedikit pun.
"Apa alasannya, Nak? Jangan sampai keputusanmu ini didasari oleh emosi sesaat," puji Kyai Adam menuntut kejelasan.
Laila mendadak menahan napasnya. Jantungnya berdebar kencang saat matanya bertaut dengan paras tampan Musa.
Seketika, kilasan memori malam kelam satu tahun lalu berputar kembali di benaknya—malam di mana ia mengeluarkan proyektil peluru tajam dari lengan Musa yang mandi darah.
Laila sadar betul, jika Musa jujur tentang alasan sebenarnya di depan kedua keluarga pesantren ini, rahasia besar bahwa Musa terlibat dalam bentrokan berdarah akan terbongkar.
Tidak boleh ada yang tahu bahwa sang ustaz panutan memiliki sisi gelap sebagai mafia.
Sebelum Musa sempat membuka suara, Laila mendahuluinya.
"Alasannya karena kami pernah bertemu sebelumnya, Kyai," potong Laila halus dengan nada suara yang tertata rapi.
Ia menatap Kyai Adam dengan raut tenang. "Satu tahun lalu, saya kebetulan menyelamatkan Mas Musa saat beliau tersedak makanan di sebuah kafe. Dari sanalah kami saling mengenal singkat."
Musa yang mendengar kebohongan manis nan cerdik dari calon istrinya itu sempat tertegun sejenak.
Sudut bibirnya terangkat tipis, terpesona oleh reaksi cepat Laila yang spontan melindungi rahasia besarnya.
Kyai Adam mengerutkan keningnya, lalu menatap Musa untuk meminta konfirmasi.
"Jadi, Laila yang pernah menyelamatkanmu, Musa?"
Musa menganggukkan kepalanya mantap, mengarahkan pandangannya pada Laila dengan pendar kasih yang kian dalam.
"Iya, Abah. Laila yang sudah menyelamatkan nyawa Musa," sahut Musa tegas, memberi penekanan pada kata menyelamatkan yang mengandung arti sebenarnya hanya bagi mereka berdua.
tp km juga jgn lupa ,, kalo kejahatan gx kn pernh menang lawan kebenaran ,,
kalo pun menang tu hanya kemenangan semu 😏😏😏😏
tp kak ,, khawatir juga sih kalo org udh gelap mata oleh rasa iri gx bisa di bendung ,, bisa berbuat nekat senekat nekat ny ,,
jgn sampe deh rumah tangga Musa dan Laila di ganggu oleh fitnah Musdalifah
😒😒😒😒😒🥱🥱🥱
makany jgn coba2 ngusik umi Laila ,,
jd hancur lebur kn Hrga diri kalian ,, 😏😏😏😏😏
umi Sinta bisa menerima Laila dg baik ,,
bisa2 ny pak kiyai nikahin perempuan model gtuu ,,
semangat Musa berantas semua org2 yg udh nyakitin Laila ,,
sedangkan Nakula ny B aj ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
msh aj di pilih ,, buka mata mu lebar2 umiiiiii