Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 21
Tiba-tiba, ponsel Kevin di atas meja berdering nyaring. Nama Asha terpampang di layar. Kevin dengan cepat menyembunyikan amplop cokelat itu ke dalam tas kerjanya sebelum menjawab.
"Ya, Sha?"
"Kev! Kamu di mana sih?!" suara Asha menyapa riang namun penuh desakan di ujung telepon.
"Aku sudah di boutique dari tadi! Desainer gaun pengantin kita sudah nungguin dari jam satu. Kamu bilang mau menyusul!"
Kevin memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut hebat. "Maaf, Sha. Masih ada urusan pekerjaan yang mendadak dengan klie. Aku langsung ke sana sekarang."
"Jangan lama-lama ya, Sayang! Aku excited banget mau tunjukin konsep gaun yang cocok buat resepsi kita bulan depan!"
TUT.
Sambungan diputus sepihak. Kevin menghembuskan napas berat, membiarkan kemarahan dan penyesalan menggerogoti jiwanya.
"Berapa sisa pembayaran yang harus saya lunasi, Rian?" tanya Kevin parau.
"Sesuai kesepakatan awal, Mas. Tapi saya mau tanya," Rian menatap Kevin penuh selidik.
"Kalau Mas sudah tahu dia aman dan hidup layak di sana, apa Mas masih mau mengejarnya? Bukannya Mas mau menikah lagi?"
Kevin mengepalkan tangannya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku cuma mau bicara sama Dilara. Sekali saja. Aku harus mendengar langsung dari mulutnya kalau dia memang sudah tidak butuh aku lagi."
Satu jam kemudian, di sebuah butik gaun pengantin mewah, suara tawa riang Asha membahana. Wanita itu melangkah keluar dari ruang ganti dengan gaun malam berpayet emas yang tampak mempesona, memutar tubuhnya di depan cermin besar.
"Kev! Lihat deh, bagus kan?" seru Asha dengan mata berbinar-binar. Ia menghampiri Kevin yang duduk di sofa tunggu dan langsung memeluk lengan pria itu erat-erat.
"Aku senang banget akhirnya persidangan pertamamu jalan lancar tanpa hambatan! Berarti minggu depan setelah verstek, kita bisa langsung urus pendaftaran pernikahan kita ke KUA!"
Kevin hanya mengulas senyum tipis yang tak sampai ke mata. "Iya, Sha. Bagus kok gaunnya."
"Kok respon kamu dingin banget sih?" Asha merajuk manis, menepuk dada Kevin pelan.
"Aku tuh sudah bayangin resepsi kita nanti di ballroom hotel bintang lima. Mama juga sudah mulai sebar daftar tamu undangan. Kamu harus kelihatan bahagia dong, Kev! Ini kan momen yang kita tunggu-tunggu sejak aku kembali dari luar negeri?"
"Aku bahagia, Asha. Cuma agak capek saja karena pekerjaan kantor menumpuk," kilah Kevin, berusaha menutupi pikirannya yang sepenuhnya tertinggal di lembaran foto Dilara.
"Ya sudah, habis dari butik ini kita makan malam romantis ya? Aku yang pilih tempatnya!" Asha mengecup pipi Kevin singkat, lalu kembali berputar di depan cermin dengan senyum penuh kemenangan.
Asha benar-benar larut dalam euforia rencananya. Ia merasa telah memenangkan seluruh pertempuran ini, menyingkirkan Dilara dari hidup Kevin dan siap bertengger sebagai satu-satunya wanita di samping pria itu.
Namun di balik senyuman Asha dan kebingaran gaun mewahnya, Kevin meraih ponselnya secara sembunyi-sembunyi di dalam saku. Jemarinya mengetik pesan singkat kepada Rian:
'Kirimkan alamat lengkap rumah keluarga Adrian. Besok pagi saya akan ke sana.'
Suara gerimis menyiram dedaunan di taman belakang kediaman Adrian. Di dalam ruang kerja bernuansa kayu mahoni yang hangat, Elian duduk di balik meja kerjanya. Jarum jam dinding menunjuk pukul delapan malam. Laptop di hadapannya menyala, namun fokus pria itu terbuyarkan oleh ketukan tegas di pintu.
TOK! TOK! TOK!
"Masuk," ujar Elian singkat dengan suara beratnya yang khas.
Pintu terbuka. Pak Bambang, komandan sekuriti yang sudah bekerja belasan tahun menjaga benteng rumah tersebut, melangkah masuk dengan wajah serius. Ia memegang sebuah map tipis di tangannya.
"Selamat malam, Pak Elian. Maaf mengganggu waktu istirahat Bapak," tutur Pak Bambang seraya menunduk sopan.
Elian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kulit, mematikan layar laptopnya.
"Ada apa, Pak Bambang? Ada masalah dengan sistem keamanan kompleks?"
"Bukan kompleks, Pak, tapi khusus di sekitar kediaman kita," Pak Bambang melangkah mendekat dan meletakkan map tersebut di atas meja Elian.
"Selama tiga hari terakhir, tim saya di pos depan mencurigai sebuah mobil sedan hitam yang sering parkir secara acak di seberang jalan. Pengemudinya tidak pernah keluar, tapi kacanya agak terbuka sedikit."
Kening Elian berkerut tajam. Binar matanya seketika berubah mengintimidasi. "Lalu?"
"Awalnya kami pikir itu hanya pengemudi taksi online yang sedang menunggu orderan. Tapi tadi siang, saat Mbak Dilara menemani Mas Elang bermain sepeda roda tiga di halaman depan, anggota saya melihat ada pantulan lensa kamera dari arah mobil itu," jelas Pak Bambang rinci.
"Pria di dalam mobil itu dengan jelas mengambil beberapa foto Mbak Dilara dan Mas Elang."
TAK.
Elian memajukan tubuhnya, jemarinya mengetuk meja dengan ketukan keras yang menahan amarah.
"Kamu sempat menghadangnya?"
"Begitu anggota saya bergerak mendekat untuk menegur, mobil itu langsung tancap gas meninggalkan kompleks, Pak. Tapi anggota saya sempat mencatat plat nomornya dan mengambil foto jarak jauh," Pak Bambang membuka isi map, memperlihatkan tangkapan layar CCTV dan foto plat kendaraan.
"Kami sudah melacaknya lewat jaringan rekan sekuriti kawasan. Mobil itu terdaftar atas nama sebuah jasa private investigator atau detektif swasta."
Mata tajam Elian menyipit. Detektif swasta. Kilatan ingatan saat ia tidak sengaja mendengar percakapan telepon Dilara malam itu langsung berputar di otaknya. Mantan suaminya. Pria brengsek yang telah menjatuhkan talak itu rupanya tidak bisa menerima kenyataan bahwa Dilara telah melangkah pergi.
"Pak Elian? Apakah perlu kami laporkan hal ini ke kepolisian atas dugaan perbuatan tidak menyenangkan?" tanya Pak Bambang menunggu instruksi.
Elian diam sejenak. Rahangnya mengeras, mengepal jemarinya kuat-kuat. Mengancam ketenangan di rumah ini, terutama keselamatan keponakannya dan wanita yang berada dalam perlindungan keluarganya adalah garis merah yang tidak boleh dilewati siapa pun.
"Tidak perlu ke polisi dulu. Itu hanya akan membuat masalah ini membesar dan membuat Ibu panik," putus Elian dingin dan penuh perhitungan.
"Perketat penjagaan. Tambah personil di pos depan dan pastikan pagar utama selalu terkunci. Mulai besok, Dilara dan Elang tidak diizinkan bermain di halaman depan dekat jalan raya. Minta mereka tetap di taman dalam."
"Baik, Pak Elian."
"Satu lagi," tambah Elian dengan nada memeringatkan.
"Jangan beritahu masalah ini kepada Dilara. Saya tidak ingin dia merasa cemas atau merasa bersalah."
"Dimengerti, Pak. Saya permisi kembali ke pos."
Setelah Pak Bambang keluar dan menutup pintu rapat-rapat, Elian bangkit dari kursinya. Ia melangkah menuju jendela kaca besar yang menghadap ke arah halaman. Hujan di luar semakin lebat, memantulkan bayangan tegas wajahnya di kaca.
nikmatin harimu sama lampir pilihanmu 😛