Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.
Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.
Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
Denting bel tanda berakhirnya jam perkuliahan baru saja bergema, disusul suara gesekan kursi dan langkah kaki bergesa-gesa dari puluhan mahasiswa yang berhamburan keluar.
Dalam hitungan menit, ruang kuliah berkapasitas besar yang tadinya bising dan dipenuhi hawa tegang itu mendadak hening total, menyisakan deretan meja kosong yang membisu.
BRAK!
Hazel menghentakkan kedua telapak tangannya ke atas permukaan meja podium kayu jati di depan kelas, membuat tumpukan lembar kertas materi di atasnya sedikit terangkat.
Wajah porselennya memerah padam oleh amarah yang membakar.
"A-apa-apaan maksudmu memberikan benda itu di depan mereka semua, hah?!" tembak Hazel dengan suara tertahan namun sarat akan racun.
Sepasang matanya menatap tajam pada sosok pria tegap yang masih santai membereskan laptopnya di balik podium.
Jameson menghentikan gerakan tangannya sejenak.
Pria Ashford itu perlahan mendongak, menyandarkan kedua siku tangannya di atas podium, menatap Hazel dengan pandangan mata hazel-nya yang teramat sangat tenang—sebuah ketenangan yang justru memancing kegilaan di kepala Hazel.
Melihat ekspresi mengamuk dan tatapan membunuh dari mahasiswinya, Jameson justru teringat akan sebuah memori yang belum lama berlalu.
Memori di mana harga diri tingginya sebagai seorang pewaris Ashford diremukkan hingga tak berbekas oleh wanita yang sama.
Segepok uang tunai yang dingin di atas meja setelah malam panjang mereka yang panas...
Jameson menyunggingkan senyum miring yang amat tipis.
Di dalam benak Jameson, apa yang dibawakannya pagi ini sama sekali tidak sebanding dengan hinaan telak yang pernah Hazel lakukan padanya.
Segepok uang bayaran untuk malam pertama mereka, dibandingkan dengan setermos sup hangat di depan kelas?
Di mana letak perbandingannya?
Hazel baru saja merasakan sedikit kejutan kecil dari permainan mereka.
"Tidak perlu marah-marah seperti itu, Miss Brooks," ungkap Jameson santai, suaranya mengalun rendah dan santai di dalam ruangan sepi.
"Lagi pula... itu hanya sup ikan, bukan sup daging."
"Ow, sup ikan?!" potong Hazel dengan nada suara yang makin melengking mencemooh.
Hazel benar-benar tidak habis pikir.
Setiap kali berada di hadapan pria lain atau dalam situasi berbahaya di luar sana, Hazel selalu sanggup mempertahankan topeng dingin, tenang, dan tanpa emosi milik seorang eksekutor.
Namun, khusus di hadapan Jameson Baxter Ashford... seluruh kendali dirinya selalu runtuh total.
Bawaannya selalu ingin mengamuk, meledak, dan mencabik-cabik rahang tegas pria di depannya ini.
Hazel melangkah maju satu pukulan jarak, memangkas jarak di antara mereka hingga ujung jarinya hampir menyentuh dada kemeja hitam Jameson.
"Kau tahu...?" desis Hazel dengan pendar mata yang mendadak berubah menjadi pekat dan berbahaya, aura psikopatnya kembali menguar tipis.
"Aku bisa saja mengiris bagian jantung juga hatimu tanpa ragu sedikit pun! Lain kali, jangan gila seperti itu dengan memberikan barang-barang bodohmu di depan puluhan mahasiswa! Mereka bisa menebak ada hal yang tidak beres di antara kita! Kau—"
Cup.
Kata-kata pedas dan ancaman berdarah dari mulut Hazel seketika terputus di udara.
Jameson membungkukkan tubuhnya secara tiba-tiba dan mendaratkan sebuah ciuman singkat namun sangat dalam di atas bibir Hazel yang sedang berceloteh marah.
Sentuhan bibir hangat sang dosen membungkam habis seluruh kata-kata beracun yang siap meledak dari tenggorokan Hazel.
Jameson menarik kembali kepalanya hanya beberapa sentimeter, menatap bibir Hazel yang sedikit terbuka dalam kejutan.
"Jangan marah-marah seperti itu," bisik Jameson dengan nada suara yang teramat sangat lembut, mengusap sudut bibir Hazel dengan ibu jarinya yang hangat.
"Aku tahu kau sedang m*nstru*si dan hormonmu sedang tidak stabil. Tapi bisakah kau memberikan sedikit kelonggaran pada teman tidurmu sendiri?"
Wait...?
"Kau gila?!" seru Hazel histeris, menyentakkan kepala ke belakang dan menatap sekeliling ruangan yang hanya dibatasi oleh pintu kayu ganda.
"Ini di dalam ruang kelas!"
Jameson menyunggingkan senyum miring yang sangat memikat, pendar matanya berkilat gairah dan kenakalan yang membakar.
Pria itu menyusupkan jemarinya ke belahan rambut Hazel, menunduk hingga napas hangatnya berhembus tepat di celah telinga gadis itu.
"Setelah siklusmu selesai..." bisik Jameson dengan suara serak yang begitu sensual dan memabukkan, "...sepertinya bercinta di dalam ruang kelas adalah pilihan yang sangat bagus. Terima kasih atas saranmu, Baby."
Deg.
Tubuh Hazel mematung kaku di tempatnya berdiri.
Baby...?
Seluruh persendian Hazel terasa melunak saat kata bernada intim itu lolos dari bibir Jameson.
Namun, dalam hitungan detik, rasionalitas dan rasa defensif yang kuat kembali menguasai pikirannya. Hazel menyentak tubuhnya mundur, menjauhkan kepalanya dari hembusan napas Jameson yang terasa membakar.
Wajah porselennya mengeras.
Tidak ada lagi binar terkejut atau kepanikan konyol di sepasang matanya—yang tersisa hanyalah keseriusan yang dingin dan dalam, menembus lurus ke dalam pupil mata Jameson.
"Jangan pernah memanggilku seperti itu lagi, Mr. Ashford," kata Hazel dengan nada suara yang begitu serius, berat, dan tanpa cela kecanduan bercanda sedikit pun.
Jameson menghentikan senyum miringnya. Alis tebalnya bertaut tipis melihat perubahan drastis pada raut wajah mahasiswinya.
"Kenapa? Itu hanya sebuah panggilan."
"Bagi pria sepertimu yang terbiasa mengumbar pesona dan bergonta-ganti pasangan, itu mungkin hanya sekadar kata tanpa arti," potong Hazel tegas, merapikan kerah jaketnya dengan gerakan anggun namun kaku.
"Tapi bagiku, itu adalah panggilan sakral. Panggilan yang hanya berhak diucapkan oleh dua orang yang saling menyayangi, menghargai, dan memiliki ikatan yang tulus. Bukan kata murah yang bisa kau lemparkan begitu saja pada teman tidurmu di dalam ruang kelas."
Kata 'teman tidur' yang diucapkan Hazel terdengar amat sangat tajam, bagaikan bilah pisau tipis yang menyayat keangkuhan Jameson.
Jameson berdiri kaku di balik podium.
Pria yang biasanya selalu memegang kendali atas setiap negosiasi bisnis dan interaksi sosial itu kini merasa dadanya dihantam oleh kesadaran yang sangat telak.
Pengakuan Hazel barusan memperjelas batas tebal yang sengaja gadis itu bangun di antara mereka—sebuah batas yang menempatkan hubungan mereka tak lebih dari sekadar transaksi fisik dan kesepakatan rahasia.
Suasana ruang kelas yang sepi itu mendadak hening.
Hawa dingin dari pendingin udara terasa makin menusuk kulit.
Jameson membuang napas panjang lewat hidungnya.
Pria tegap itu melangkah keluar dari balik meja podium, mengikis jarak di antara mereka hingga ia berdiri tepat di hadapan Hazel.
Pendar mata hazel-nya tidak lagi memancarkan gairah nakal atau godaan mencemooh.
Di sana, di dalam manik matanya yang pekat, kini hanya ada kesungguhan yang amat jujur dan intens.
"Kau pikir aku sedang main-main denganmu, Hazel?" tanya Jameson dengan suara rendah dan serak, menatap lurus ke dalam mata gadis itu.
Hazel menaikkan dagunya, enggan menunjukkan rasa gentar sedikit pun.
"Bukankah memang begitu sejak awal? Kita terjebak dalam situasi ini karena Kesepakatan yang saling menguntungkan."
"Awalnya mungkin iya," aku Jameson tanpa keraguan sedikit pun.
Jemari tangannya yang lebar perlahan terangkat, meraih jemari Hazel yang terlipat di depan dada dan menggenggamnya erat di dalam kehangatan telapak tangannya.
Hazel sempat ingin menarik tangannya, tetapi cengkeraman Jameson begitu hangat, lembut, dan posesif—menahannya tanpa rasa menyakiti.
"Tapi malam ini, kemarin malam, dan saat aku melihatmu kesakitan... semuanya berubah," lanjut Jameson, menundukkan pandangannya agar sejajar dengan mata Hazel.
"Bisakah kau mulai memikirkan bagaimana kedepannya hubungan kita, Hazel?"
Hazel menahan napasnya.
Jantungnya berdetak liar di dalam rongga dadanya saat mendengar kalimat itu meluncur dari bibir sang penguasa dinasti Ashford.
"Aku serius," bisik Jameson dengan penegasan mutlak yang menggetarkan udara di antara mereka.
"Aku tidak pernah membawa wanita mana pun ke dalam penthouse-ku seperti cara aku membawamu. Aku tidak pernah panik setengah mati hanya karena seorang wanita kesakitan di atas ranjangku. Dan aku tidak pernah memikirkan siapa pun sejauh ini selain dirimu dalam Seminggu terakhir."
Jameson mengusap punggung tangan Hazel dengan ibu jarinya, memberi kehangatan yang merayap langsung ke dalam alir darah gadis itu.
"Aku tidak bermaksud merendahkanmu atau menjadikan panggilan itu sekadar kata murah," sambung Jameson dengan kelembutan yang teramat sangat asing bagi sosoknya yang dingin.
"Jadi berhentilah menganggap ini hanya sebatas kesepakatan 'teman tidur'. Pikirkan tentang kita. Karena aku tidak berniat melepaskanmu saat kesepakatan ini berakhir."
Hazel mematung di tempatnya berdiri, lidahnya mendadak terasa kelu untuk menyusun kalimat ancaman atau umpatan pedas seperti biasanya.
Di hadapan kesungguhan murni dari seorang Jameson Baxter Ashford, seluruh pertahanan dan strategi manipulatif milik Hazel terasa seperti barikade kertas yang siap runtuh diterpa angin.
...----------------...
Happy reading 🦋