Indonesia
NovelToon NovelToon
TAK TERTANDINGI

TAK TERTANDINGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Serly Can

Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.

​Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Denyut Nadi Kosmik di Bawah Tanah KARC

Suara dengung frekuensi rendah bergetar halus di dinding-dinding baja setebal satu meter yang melapisi lantai bawah tanah tingkat empat Kusuma Advanced Research Center (KARC). Ruangan steril bertekanan terkontrol itu diterangi oleh pendaran cahaya putih kebiruan dari deretan panel diagnostik kuantum yang memantau pergerakan partikel sub-atom di dalam tabung reaktor isolasi magnetik.

Rian berdiri tepat di hadapan konsol kendali utama, mengenakan jas laboratorium putih bersih tanpa kancing. Kedua tangannya terlipat di atas dada, menatap lurus ke dalam ruang reaktor di mana inti purwarupa propulsi kuantum—sebuah bola kristal silika murni berukuran sebesar kepala bola basket—mengambang tanpa menyentuh dinding pelindung berkat levitasi medan magnet gravitasi lokal.

Di belakangnya, Dr. Handoko dari Badan Riset dan Antariksa Nasional (BRIN) berdiri bersama Maya dengan napas tertahan. Mereka memperhatikan setiap baris parameter osilasi yang bergerak sangat cepat di layar monitor, seolah-olah sedang menyaksikan sejarah baru peradaban manusia ditulis detik demi detik.

"Rian..." bisik Dr. Handoko dengan suara tercekat, kedua matanya melotot menatap layar monitor. "Fluktuasi medan magnet pada inti silika itu... angkanya mencapai titik kestabilan absolut seratus persen tanpa ada kebocoran energi termal sekecil apa pun. Bagaimana mungkin hukum entropi termodinamika di dalam ruang hampa buatan ini seolah-olah tidak berlaku?"

Rian tidak langsung menoleh. Ia tetap mempertahankan ketenangannya, sementara pendaran cahaya keemasan tipis berkelebat sekilas di manik matanya.

"Entropi bukanlah hukum mutlak yang mengekang semesta, Dr. Handoko," jawab Rian dengan suara jernih dan berwibawa yang menggema tenang di dalam ruangan steril itu. "Entropi hanyalah ukuran ketidaktahuan kita terhadap arah gerak harmonis partikel pada tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Ketika medan magnet diselaraskan dengan frekuensi resonansi ruang hampa, sistem tertutup berhenti kehilangan energi karena ia menyatu dengan aliran kosmos di sekitarnya."

Dr. Handoko tertegun kaku. Ia membuka mulutnya hendak mendebat secara akademis, namun ketika melihat grafik garis lurus sempurna di layar monitor yang membuktikan sahihnya teori tersebut secara empiris, ia hanya bisa menelan ludah dan terdiam dalam kekaguman yang teramat sangat.

Maya, yang berdiri di samping Dr. Handoko, tersenyum bangga. Ia sudah terbiasa melihat bagaimana pemuda di hadapannya itu membalikkan seluruh hukum fisika konvensional menjadi sesuatu yang tampak begitu sederhana di bawah pemahamannya.

"Semua parameter diagnostik tahap pertama telah tuntas terekam di server utama, Rian," lapor Maya tenang, mengetuk beberapa tombol di papan ketik holografik di depannya. "Data ini sudah langsung disinkronkan dengan sistem pusat BRIN sesuai protokol kerja sama."

Rian mengangguk pelan. Ia mengangkat tangan kanannya, lalu menggerakkan jari telunjuknya di udara membentuk pola geometri rumit yang tak kasat mata. Seketika itu juga, bola kristal silika di dalam ruang reaktor berputar semakin cepat, memancarkan pendaran cahaya keemasan yang menerangi seluruh ruangan bawah tanah, sebelum perlahan-lahan kembali melambat dan berhenti pada posisi melayang yang sangat stabil.

"Kerja bagus hari ini," ucap Rian tenang, membalikkan tubuhnya menghadap Dr. Handoko dan Maya. "Uji coba fasa pertama propulsi kuantum selesai. Kita akan melanjutkan kalibrasi dorongan vektor gravitasi pada hari kamis pekan depan."

Sementara itu, jauh dari kemegahan laboratorium bawah tanah KARC, di dalam ruang sidang utama Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat, suasana sore hari terasa begitu padat dan penuh sorotan media massa.

Majelis hakim ketua mengetuk palu sidang tiga kali dengan nyaring. Suara ketukan kayu itu bergema di ruang sidang yang dipenuhi oleh para jurnalis, juru kamera televisi, dan pengamat hukum.

"Berdasarkan pertimbangan fakta persidangan, analisis bukti forensik digital, serta alur aliran dana ilegal yang terbukti sah dan meyakinkan," umum ketua majelis hakim dengan suara tegas dan berwibawa, "Menyatakan terdakwa Bramasta terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara berlanjut, pencucian uang, dan sabotase infrastruktur strategis. Menjatuhkan pidana penjara selama dua belas tahun, serta memerintahkan penyitaan seluruh sisa aset kekayaan untuk disetorkan kepada negara."

Brak!

Suara palu sidang diketok sekali lagi.

Bramasta, yang duduk di kursi terdakwa mengenakan kemeja putih rapi dengan wajah kuyu dan pucat pasi, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tidak ada lagi ekspresi arogan atau senyuman sinis yang dulu sering ia tampakkan. Ia menyadari sepenuhnya bahwa kejatuhannya bukan sekadar kekalahan di meja hijau, melainkan kebinasaan mutlak di hadapan sistem kebenaran universal yang tak bisa disuap atau dimanipulasi dengan uang dan kekuasaan fana.

Para juru kamera berdesakan mengambil gambar, sementara para jurnalis langsung menuliskan tajuk utama berita sore itu: 'Akhir Kekaisaran Korup: Bramasta Divonis 12 Tahun Penjara Akibat Skandal Sabotase Riset Nasional.'

Kembali ke KARC, jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam.

Setelah Dr. Handoko dan tim delegasi BRIN pamit pulang ke kantor pusat, serta Maya meninggalkan laboratorium untuk beristirahat di lantai asrama khusus peneliti, Rian kembali mendapati dirinya seorang diri di ruang kerja lantai tiga yang menghadap ke arah panorama malam ibu kota.

Rian berdiri di dekat dinding kaca panorama, menatap lautan lampu kota yang berkilauan di bawah langit malam yang jernih. Ia merentangkan kedua tangannya perlahan, membiarkan aliran energi spiritual Qi di dalam tubuhnya beresonansi langsung dengan hamparan kosmos di luar atmosfer bumi.

Di dalam dimensi kesadaran batinnya, batasan ruang dan waktu melebur tanpa sisa. Rian dapat merasakan tarikan gravitasi planet, getaran elektromagnetik galaksi, hingga keheningan abadi di antara bintang-bintang yang membentang tak bertepi.

[ Pemberitahuan Sistem: Inisiasi Tahap Akhir Kesadaran Kosmik tercapai. ] [ Seluruh ikatan karma di dunia fana telah sepenuhnya terselesaikan. ] [ Pintu gerbang penjelajahan antar-dimensi dan kosmos mahaluas kini terbuka sepenuhnya. ]

Deretan teks transparan berwarna keemasan berkedip lembut di retinanya sebelum perlahan memudar ke dalam keheningan abadi di relung jiwanya.

Rian membuka kedua matanya perlahan. Manik matanya memancarkan kilatan cahaya keemasan yang sangat tajam, tenang, dan dalam, memantulkan kemegahan seluruh galaksi tanpa batas. Ia menarik napas panjang, merasakan detak jantungnya berdenyut selaras dengan denyut nadi semesta itu sendiri.

Dunia fana di bumi telah ia taklukkan dan ia benahi melalui sains dan keseimbangan mutlak. Namun, bagi seorang kultivator agung yang telah melampaui batas-batas keabadian, bumi hanyalah tempat persinggahan sementara. Langkah sesungguhnya—penjelajahan agung melintasi bintang-bintang dan dimensi kosmik yang mahaluas—baru saja dimulai di malam yang tenang ini.

Rian berbalik perlahan, melangkah meninggalkan jendela panorama menuju ke dalam ruangan yang temaram, siap menyambut takdir keabadian di samudra semesta yang tak bertepi.

1
expant
lanjut
expant
bagus ceritanya
Serly Can
siap kk
Risman Caniago
kemampuan nya udah kaltiivor...... jagoan pasar... orang bayaran pada koit.....masa masih kontra sama anak SMA.... harus nya naik level genster....mafia..... belajar lagi yang lebih ya Thor....
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
Yossi Muliasa Permana
bagus cerita nya cuman cara penulisan nya agak sedikit bikin bingun
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!