Bagi keluarga Vardha, Arumi selalu bisa dikorbankan demi Aurelia, kakak angkatnya yang manipulatif. Puncaknya, cinta tiga tahun Arumi, Adrian, direbut Aurelia dengan restu orang tuanya sendiri. Arumi mengalah dan mengikhlaskan mereka.
Namun, mereka tak tahu siapa Arumi sebenarnya.
Saat mengenakan cadarnya di luar rumah, Arumi bertransformasi menjadi maestro biola kelas dunia, peretas jenius, sekaligus CEO rahasia dari imperium bisnis yang ia bangun sendiri.
Dunia Arumi berguncang saat Raja Zean Rothschild—penguasa dunia no 1, pemegang saham mayoritas global, dan pemilik aliansi militer tertinggi—hadir di hidupnya. Sang Raja yang dingin dan tak tersentuh mendadak bertekuk lutut, terobsesi, dan mengejarnya secara posesif setelah menemukan rahasia di balik cadarnya.
Situasi kian memanas saat Kazan, anak mafia psikopat berdarah dingin, juga mengklaim Arumi sebagai miliknya.
Adrian terbakar cemburu, Aurelia gila obsesi ingin merebut Sang Raja. Mampukah Sang Raja melindungi Arumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUKTI SILSILAH AGUNG DAN TOPENG SANG MANTAN
Gema ketegangan dari gertakan politik Dewan Tetua Kerajaan Barat di Aula Agung masih menyisakan hawa dingin di sekujur Palazzo. Meski pertahanan diplomasi Raja Zean dan ketajaman jawaban Arumi berhasil menohok keangkuhan Putri Elena dan Duke Archibold, tuduhan mengenai "rakyat biasa tanpa garis darah murni" mulai digoreng oleh beberapa media asing dan faksi oposisi di luar istana.
Sore itu, di ruang keluarga pribadi Palazzo, suasana terasa lebih hangat dan tenang. Abi Vardhana dan Umi Fatimah duduk berdampingan di sofa sutra hijau zamrud. Umi Fatimah mengusap lembut jemari Arumi yang duduk di dekatnya, memandangi wajah cantik putri kandungnya itu dengan tatapan penuh kasih sayang dan kebanggaan seorang ibu.
Raja Zean duduk tegap di samping Arumi, mengamati sebuah kotak kayu jati tua berukir perak kuno yang diletakkan Abi Vardhana di atas meja kaca.
"Abi, Umi..." panggil Arumi lembut. "Kotak kayu apa ini?"
Abi Vardhana menghela napas panjang, menatap Umi Fatimah sejenak. Umi Fatimah mengangguk pelan dengan senyuman hangat, memberikan isyarat agar suaminya menyampaikan rahasia besar yang selama belasan tahun ini mereka simpan rapat-rapat dari dunia luar.
"Arumi, Nak..." suara Abi Vardhana mengalun tenang dan berwibawa. "Serangan dan hinaan yang dilontarkan oleh Putri Elena serta Dewan Tetua Kerajaan Barat tadi siang mengenai garis keturunanmu... sudah saatnya dijawab dengan kebenaran yang sesungguhnya."
Zean menaikkan sebelah alisnya, merapatkan posisi duduknya. "Kebenaran apa yang Kyai maksud?"
Abi Vardhana membuka kunci perak kotak tua tersebut perlahan. Di dalam kotak dilapisi beludru merah tua itu, terbaring sebuah gulungan kain sutra emas yang tampak sangat kuno namun terawat sempurna, serta sebuah stempel segel kerajaan berlapis permata zamrud murni.
"Keluarga Vardhana bukan sekadar keluarga kiyai dan ulama biasa," jelas Abi Vardhana seraya memegang stempel zamrud tersebut. "Jauh sebelum Abi mendirikan pesantren dan mendedikasikan hidup untuk syiar agama, kakek buyut dari garis keturunan Abi dan Umi adalah pemegang takhta tertinggi dari Dinasti Vardhana-Aethelgard kuno—garis darah murni pelindung benua yang kedudukannya bahkan lebih tinggi dari Dinasti Aethelgard milik Putri Elena!"
Arumi terperanjat pelan, matanya berbinar tak percaya. "Abi... jadi, keluarga kita..."
"Ya, Arumi," potong Umi Fatimah dengan suara lembut penuh kehangatan. "Kami sengaja menyembunyikan identitas kebangsawan murni ini dan memilih hidup sederhana sebagai ulama untuk menghindari perang perebutan takhta di masa lalu. Kami ingin kamu dan anak-anak tumbuh dengan kebersihan hati, tanpa teracuni oleh keserakahan kekuasaan."
Mata abu-abu gelap Raja Zean menyempit tajam, memancarkan kepuasan taktis yang luar biasa. Pria penguasa itu meraih gulungan kain sutra emas kuno tersebut, membukanya perlahan, dan membaca stempel silsilah kebangsawan resmi yang diakui oleh Kitab Konsorsium Internasional Kuno.
"Silsilah ini..." desis Zean dengan nada suara mantap dan bangga. "Bukan hanya sah, tapi garis keturunan Arumi berada di tingkat Imperial Bloodline—dua tingkat di atas garis darah Putri Elena!"
Tepat saat diskusi keluarga itu berlangsung...
Ketuk! Ketuk!
Felix melangkah masuk ke dalam ruang keluarga, lalu membungkuk hormat. "Tuan, Yang Mulia Ratu... ada tamu penting yang meminta izin audiensi darurat. Beliau membawa dokumen pendukung tambahan mengenai pergerakan diplomasi Kerajaan Barat."
"Siapa?" tanya Zean dingin.
Dari balik pintu, melangkah seorang pria muda berbusana jas rapi bernuansa abu-abu gelap. Wajahnya yang tegas tampak bersih, namun di balik tatapan matanya yang tenang, tersimpan kilatan obsesi mendalam yang selama ini tersimpan rapat.
Dialah Adrian.
Pasca-penangkapan Aurelia dan keluarga Baron di celah bukit pada Bab 17 lalu, Adrian menghilang dari peredaran. Namun, bukannya merelakan Arumi yang kini telah bertakhta sebagai Ratu di samping Raja Zean, hati Adrian justru makin terbakar oleh rasa tidak terima dan obsesi gila untuk merebut Arumi kembali.
Adrian membungkuk hormat, menyembunyikan seringai tipis di bibirnya.
"Selamat sore, Yang Mulia Raja Zean, Yang Mulia Ratu Arumi, Kyai, dan Umi..." panggil Adrian dengan suara penuh kepatuhan buatan.
"Adrian?" Abi Vardhana menatapnya sedikit terkejut. "Dari mana saja kamu, Nak?"
"Saya memohon maaf atas kepergian saya tanpa kabar pasca-kejahatan Aurelia terbongkar waktu itu, Kyai," jawab Adrian dengan wajah memelas yang sangat akurat. "Saya merasa malu. Namun, saya tidak bisa tinggal diam saat mendengar Kerajaan Barat mencoba menjatuhkan posisi Ratu Arumi."
Adrian menyerahkan sebuah berkas taktis tebal ber-segel intelijen luar negeri kepada Zean.
"Raja Zean," tegas Adrian. "Saya datang membawa dokumen pergerakan aliansi Kerajaan Barat. Putri Elena telah menyiagakan blokade ekonomi di perbatasan jika Ratu Arumi tidak diturunkan dari takhta."
Zean membuka berkas tersebut dengan tatapan menyelidik. Sebagai seorang penguasa berselang dingin, Zean menangkap adanya kejanggalan tipis pada gestur Adrian, meski data yang dibawanya memang valid.
"Kamu membawa informasi yang cukup detail untuk seorang pria biasa, Adrian," desis Zean dengan suara bass yang intimidatif.
Adrian menundukkan kepala, mengontrol detak jantungnya agar tetap tenang di bawah tekanan aura Zean. "Saya melakukan riset mandiri di perpustakaan tua wilayah timur, Yang Mulia. Saya hanya ingin menebus kesalahan masa lalu dan memastikan Ratu Arumi aman."
Saat menyebut nama "Ratu Arumi", lirikan mata Adrian sempat terlempar tipis ke arah Arumi. Tatapan obsesi yang dalam dan posesif itu tak lepas dari pengamatan tajam Zean.
Arumi mengangguk pelan. "Terima kasih atas informasinya, Adrian. Tapi kamu tidak perlu mempertaruhkan nyawamu untuk masalah istana."
"Bagi saya... keselamatan dan kebahagiaan Anda adalah yang paling utama, Yang Mulia Ratu," jawab Adrian dengan penekanan kata yang terselubung.
Malam harinya...
Di lorong gelap sayap luar Palazzo, Adrian melangkah keluar dari area tamu istana. Saat berada di sudut selasar yang sepi dan jauh dari jangkauan kamera pengawas Baret Hitam, Adrian mengeluarkan sebuah telepon satelit ber-enkripsi khusus dari dalam saku jasnya.
Ia menekan satu tombol panggil cepat. Hanya dalam dua detik, pautan komunikasi terhubung.
Dari seberang telepon, suara merdu namun dingin penuh racun milik Putri Elena terdengar mengalun:
"Bagaimana hasilnya, Adrian? Apakah mereka memakan umpan dokumen silsilah dan data perbatasan yang kita berikan?"
Adrian menyandarkan tubuhnya di pilar pualam, menyunggingkan senyuman licik dan penuh kegilaan yang memusnahkan topeng pria baik-baiknya.
"Mereka mempercayainya, Putri Elena," bisik Adrian dengan nada suara rendah nan berbahaya. "Zean dan Arumi sibuk bersiap menghadapi Sidang Konsorsium Internasional esok hari. Sesuai kesepakatan kita... saat kamu memojokkan Zean di sidang politik, aku yang akan mengeksekusi rencana penculikan Arumi dari dalam Palazzo!"
Putri Elena terkekeh dingin di seberang telepon. "Bagus sekali. Begitu Arumi berhasil kamu bawa keluar dari istana dan ingatan publik terpecah, takhta Ratu akan jatuh ke tanganku, dan wanita itu akan menjadi tawanan abadi di wilayahmu."
"Ingat janji kita, Elena," tegas Adrian dengan mata yang berkilat oleh obsesi gelap. "Takhta dan Kerajaan ini milikmu dan Dewan Tetua... tapi Arumi Vardhana adalah milikku sepenuhnya. Aku tidak akan membiarkan Zean memilikinya lebih lama lagi!"
BZZZZT!
Adrian memutus sambungan telepon, lalu mengusap layar ponselnya yang memunculkan foto Arumi saat mengenakan gaun pengantin. Jemari Adrian mengusap layar tersebut dengan tatapan penuh kegilaan.
"Sebentar lagi, Arumi..." bisik Adrian penuh tekad gila. "Kamu akan kembali ke pelukanku... jauh dari Raja Zean."
Sementara itu, di kamar tidur utama Palazzo...
Arumi tengah merapikan gaun kebesarannya untuk sidang besok saat Zean melangkah masuk. Pria tegap itu tidak langsung menyapa, melainkan berjalan mendekati istrinya dan memeluk pinggang Arumi erat dari belakang.
Zean menyandarkan dagunya di bahu Arumi, menghirup aroma alami bunga melati dari hijab istrinya.
"Mas Zean..." panggil Arumi lembut. "Kenapa Mas diam saja sejak tadi sore?"
Mata abu-abu Zean menatap pantulan cermin di depan mereka. Iris matanya memancarkan ketajaman intuisi seorang Penguasa Baret Hitam yang tak pernah bisa dibohongi.
"Pria bernama Adrian itu..." desis Zean rendah dan dingin di telinga Arumi. "Dia menyimpan busuk di balik senyumannya, Sayang."
Arumi memutar tubuhnya ragu. "Maksud Mas? Bukankah Adrian datang membawa bantuan bukti silsilah dan dokumen perbatasan?"
Zean menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan ancaman membunuh. Jemari tegapnya mengusap lembut pipi Arumi, lalu menangkup wajah cantik istrinya.
"Dia menatapmu dengan cara yang tidak aku sukai," bisik Zean penuh posesif dan dominasi mutlak. "Tatapan pria yang terobsesi ingin merebut apa yang menjadi milikku. Tapi dia lupa... siapa yang sedang dilawannya."
Zean menunduk, mencium bibir Arumi penuh kehangatan cinta dan klaim perlindungan abadi.
"Biarkan dia memainkan sandiwaranya untuk sementara," lanjut Zean dengan suara bass yang mengintimidasi. "Begitu dia melangkah satu senti saja melampaui batas untuk menyentuhmu... aku sendiri yang akan memastikan dia membusuk di dasar penjara tergelap Baret Hitam!"
Arumi menggenggam erat tangan suaminya di dadanya. Di balik takhta sakral ini, pertarungan tidak hanya terjadi di meja politik Konsorsium Internasional, tetapi juga ancaman obsesi gelap dari dalam istana yang siap meletus kapan saja.
kaburrrr...takut ad gempa lokal...
bikin pinisirin /Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/