Indonesia
NovelToon NovelToon
Hari Terakhir Bersama Keluarga

Hari Terakhir Bersama Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Anak Genius
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Setelah membulatkan seluruh tekad di dalam hati, aku akhirnya melangkah mantap menerobos kembali masuk ke ruang makan utama. Dengan mengabaikan gemuruh ketakutan di dadaku, aku berjalan lebar melewati tatapan kaku Kak Aaron dan langsung menghampiri kursi Paman Hendra.

"Paman Hendra ... ada sesuatu yang sangat penting yang ingin Bella sampaikan pada Paman," ucapku dengan suara yang bergetar namun tersirat kepasrahan yang teramat kuat.

              Brak!

"Apa yang kamu lakukan di sini, Bella?!" Kak Charles seketika menggebrak meja makan dengan sangat keras hingga cangkir-cangkir porselen di atasnya berdenting nyaring. Wajahnya merah padam oleh luapan amarah yang luar biasa besar karena merasa dipermalukan di depan rekan bisnisnya. "Keluar dari sini sekarang! Jangan berani-berani mengacau di tempat ini dengan membawa hal-hal yang tidak jelas!"

Suara bentakan Kak Charles menggema hebat, memicu atmosfer ketegangan yang pekat. Namun, sebelum situasi semakin kacau, Paman Hendra menahan lengan Kak Charles dan mengulas senyuman bijak.

"Tidak apa-apa, Charles. Tenang saja," ucap Paman Hendra ramah menenangkan, lalu beralih menatapku dengan sorot mata lembut penuh rasa ingin tahu. "Apa yang sebenarnya ingin kamu sampaikan kepada Paman, Bella?"

Aku menarik napas dalam-dalam, menatap lurus ke arah telapak tangan kirinya di mana barisan angka ghaib berdarah itu masih tercetak teramat pekat di mataku. Firasat kematian itu seolah berteriak di dalam kepalaku.

"Paman ... sebenarnya ada sesuatu yang teramat penting yang harus aku katakan," ucapku tiba-tiba, menepis rasa takutku akan amukan susulan dari Kak Charles. "Aku sangat berharap ... dalam lima hari ke depan, Paman jangan pergi ke mana-mana dulu. Tolong jangan bepergian jauh atau mengendarai mobil sendiri, Paman."

       Hening.

Kalimat peringatan aneh yang meluncur begitu saja dari bibirku seketika laksana hantaman badai yang membekukan seluruh isi ruangan. Ruang makan yang mewah itu mendadak diselimuti oleh keheningan mati yang mencekam. Paman Hendra, Pak Hadi, Pak Surya, bahkan Kak Aaron dan Kak Charles seketika terbelalak kaget dengan rahang yang mengatup rapat, benar-benar tidak percaya mendengarkan larangan mistis yang tidak masuk akal itu keluar di tengah-tengah jamuan formal mereka.

"Bella! Apa yang kamu katakan?! Kenapa kamu berbicara sembarangan pada Paman?!" bentak Kak Charles, wajahnya kian merah padam oleh luapan emosi yang tertahan.

"Bella, kenapa kamu datang lagi ke sini? Kamu jangan mempermalukan kami di depan para tamu!" sambung Kak Aaron, wajahnya tampak sangat kaku dan salah tingkah saat ia langsung berdiri dan berjalan tergesa-gesa menghampiriku.

Di tengah suasana yang mendadak kacau, Paman Hendra justru mengangkat tangan kanannya, mengisyaratkan kedua kakak laki-lakiku untuk tenang. Sepasang mata paruh bayanya menatapku dengan sorot yang sarat akan rasa bingung sekaligus penasaran.

"Bella ... apa maksud dari ucapanmu tadi?" tanya Paman Hendra dengan nada suara yang merendah, menuntut penjelasan atas larangan mistis yang baru saja kulontarkan.

"Maksudku—"

Belum sempat untaian kalimat penjelasan keluar dari tenggorokanku, Kak Aaron sudah lebih dulu mencengkeram pergelangan tangan kananku dengan erat. Tarikannya yang mendadak dan kuat seketika membuat tubuh ringkihku tersentak maju.

"Paman Hendra, maaf atas tindakan Bella. Dia hanya sedang iseng dan tidak tahu aturan," ucap Kak Aaron kaku pada sang mitra bisnis, yang langsung menarik paksa tubuhku untuk dibawa melangkah lebar keluar dari ruang makan.

Dari arah belakang, aku bisa mendengar suara Kak Charles yang buru-buru mengambil alih suasana meja makan untuk menutupi rasa malunya yang teramat sangat besar di depan rekan bisnis mereka.

"Maaf semuanya, saya permisi sebentar. Silakan dicicipi kembali hidangannya. Mohon dimaafkan atas ketidaksopanan adik saya tadi," ucap Kak Charles dengan nada suara yang dibuat seramah mungkin kepada para kolega senior mereka. "Saya sudah meminta pihak dapur untuk memasak hidangan yang spesial khusus buat para Paman semua. Silakan dicicipi dan jangan sungkan, ya."

Aku hanya bisa pasrah membiarkan tubuhku diseret oleh Kak Aaron melewati selasar koridor yang sunyi. Air mata hangat kembali merebak di sudut mataku, luruh perlahan melewati pipiku yang kian memucat. Genggaman tangan Kak Aaron di pergelangan tanganku terasa begitu erat, berkejaran dengan denyutan nyeri di lambungku yang mendadak kembali kram akibat luapan stres yang luar biasa pekat. Ketakutanku akan takdir maut yang mengincar Paman Hendra kini harus berbenturan langsung dengan dinding amarah jajaran kakak laki-lakiku yang menganggap peringatan tulusku hanyalah sebuah sandiwara konyol pembawa sial.

Setelah sampai di koridor tengah yang sepi dan jauh dari ruang makan, Kak Aaron langsung melepaskan cengkeraman tangannya di pergelangan tanganku dengan sentakan kasar. Pria itu berbalik, menatapku dengan napas yang memburu dan sepasang mata yang dipenuhi kilat kekecewaan serta kemarahan yang mendalam.

"Bella! Apa yang sebenarnya kamu lakukan, hah?! Apa kamu sudah gila berbicara sembarangan seperti itu di depan semua orang?!" cecar Kak Aaron, suaranya naik satu oktav menuntut penjelasan di tengah lorong yang sunyi.

Aku memegangi pergelangan tanganku yang memerah, mendongak menatap lurus ke dalam sepasang matanya tanpa ada rasa takut lagi. Ketakutanku akan kematian Paman Hendra jauh lebih besar daripada rasa takutku pada kemarahan kakak laki-lakiku.

"Aku melihatnya, Kak," jawabku dengan suara yang bergetar namun terdengar begitu tegas.

Kak Aaron mengernyitkan dahinya dalam-dalam, tertegun melihat kilat keseriusan di mataku. "Apa ... apa yang kamu lihat?!" tanya Kak Aaron lagi, nadanya mendadak berubah sedikit goyah karena instingnya mulai menangkap ada sesuatu yang keliru.

"Aku melihat tanggal kematian di telapak tangan Paman Hendra," ucapku lirih penuh penekanan, menepis jarak di antara kami. Air mata dingin mulai menderas membasahi pipiku yang memucat. "Lima hari lagi ... Paman Hendra diramalkan akan meninggal dunia akibat kecelakaan mobil maut, Kak! Itu sebabnya aku melarangnya pergi ke mana-mana!"

Seketika itu juga, Kak Aaron terbelalak kaget laksana dihantam oleh petir di siang bolong. Seluruh tubuh tegapnya mendadak membeku kaku di tempatnya berdiri, dan wajahnya memucat pasi dalam sekejap. Kata-kata amukan Kak Ethan di telepon dua bulan lalu tentang rahasia menu makanan ulang tahunku, serta fakta dari buku harian mendiang Mama yang sempat disinggung Kak Ethan sebelum pergi dinas, mendadak berputar liar di dalam kepalanya.

Logika angkuh Kak Aaron runtuh dalam hitungan detik. Pria itu terbungkam mati kutu dengan napas yang mendadak tercekat di tenggorokan, menyadari bahwa kemampuan supranatural yang selama dua puluh tahun ini mereka kutuk sebagai pembawa sial, kini sedang bangkit kembali di depan matanya sendiri untuk meramal nasib mitra bisnis terbesar mereka.

"Lebih baik kamu naik ke atas sekarang dan beristirahat," potong Kak Aaron cepat. Suara baritonnya bergetar samar, sekuat tenaga menepis rasa takut yang mendadak menyerang logikanya. "Kamu jangan turun ke bawah dulu sebelum para tamu pulang. Dan kamu juga... jangan membahas apa pun lagi soal hal ini!"

"Tapi, Kak Aaron, aku serius! Aku tidak bohong, Kak!" seru tangisku pecah, mencengkeram lengan kemejanya demi menuntut sebuah kepercayaan yang selama belasan tahun ini tidak pernah kudapatkan. "Aku melihatnya lagi! Tanda itu benar-benar ada di telapak tangan Paman Hendra!"

"Naik, Bella!" bentak Kak Aaron kencang, menaikkan satu oktav suaranya hingga menggema di sepanjang koridor yang sunyi. Sepasang matanya melebar panik, seolah-olah jika ia membiarkanku berbicara lebih lama lagi, ramalan maut itu akan langsung menjadi kenyataan.

"Tapi, Kak... kasihan Paman Hendra," ratapku pilu dengan air mata yang kian menderas membasahi pipiku yang memucat. Mengingat nasib tragis Papa dan Mama dulu, dadaku terasa laksana diremas hebat oleh rasa tidak tega.

"Naik! Kakak bilang naik, Bella!" perintah Kak Aaron mutlak, menepis tanganku dari lengannya dengan gerakan kaku yang sarat akan kepanikan terselubung.

Melihat kekerasan kepala dan kepanikannya yang membatu, aku akhirnya mengalah. Dengan hati yang hancur dan dipenuhi rasa kecewa yang teramat sangat pekat, aku membalikkan badan. Langkah kaki lemasku bergerak cepat menaiki anak tangga marmer, berlari kecil menuju ke kamarku di lantai dua dengan dada yang terasa kian sesak dihantam rasa cemas.

Sementara itu, dari balik kelokan tangga, aku bisa mendengar derap langkah kaki Kak Aaron yang bergerak tergesa-gesa, melangkah lebar kembali menuju ke ruang tamu untuk menemui para kolega bisnis mereka dengan sisa ketakutan yang mengunci pikirannya.

Begitu melangkah kembali ke dalam ruang makan, Aaron langsung meredam deru napasnya yang sempat memburu akibat kepanikan di koridor tadi. Ia memaksakan sebuah senyuman formal yang tenang, lalu berjalan mendekati kursinya di ujung meja marmer.

"Paman Hendra, maaf soal kejadian yang tadi," ucap Kak Aaron penuh penyesalan, menyuarakan permohonan maafnya dengan nada suara yang teramat takzim. "Saya sangat berharap Paman tidak marah atau tersinggung atas sikap adik saya. Ini adalah murni kesalahan kami yang tidak mendidiknya dengan benar selama ini."

Untuk membuktikan keseriusan permohonan maafnya serta menutupi rasa cemas yang diam-diam mulai mengunci pikirannya, Aaron langsung meraih gelas kristal di hadapannya.

"Sebagai bentuk permohonan maaf, saya akan bersulang dengan Anda, Paman," lanjut Kak Aaron, yang langsung meminum cairan di dalam gelas tersebut hingga tandas dalam sekali teguk.

Melihat kesungguhan keponakannya, Paman Hendra justru terkekeh hangat. Pria paruh baya itu melambaikan tangan kirinya di udara—telapak tangan yang beberapa menit lalu memperlihatkan barisan angka ghaib berdarah di mata Bella.

"Kerja sama bisnis antara perusahaan saya dengan keluarga besar Adipta tentu saja sudah berjalan sangat lama, Aaron," sahut Paman Hendra dengan nada suara yang berwibawa dan penuh kebijaksanaan. "Tentu saja hal seperti ini tidak akan kupermasalahkan. Anggap saja ucapan adikmu tadi hanyalah angin lalu."

Mendengar respons yang teramat berlapang dada dari sang mitra bisnis terbesar, dinding ketegangan yang sempat membekukan ruangan seketika mencair sepenuhnya. Aaron dan Charles secara bersamaan mengembuskan napas lega yang teramat panjang, meski jauh di dalam lubuk hati Aaron, rasa takut terselubung akan batas waktu lima hari itu masih terus membayangi nuraninya.

"Terima kasih banyak atas pengertiannya, Paman," ucap Kak Charles dan Kak Aaron secara bersamaan.

Jamuan makan siang formal itu pun akhirnya dilanjutkan kembali dengan obrolan bisnis yang mengalir lancar. Namun, topeng profesional Aaron kini terasa begitu berat untuk dipertahankan, karena ingatan tentang tangisan histeris Bella di koridor sepi tadi terus-menerus berputar liar di dalam kepalanya, menuntut sebuah tindakan sebelum takdir maut benar-benar menjemput Paman Hendra.

"Aku harus pergi sekarang karena masih ada urusan mendadak di kantor," ucap Paman Hendra sembari melirik jam tangan analog berwarna emas di pergelangan tangan kirinya.

Ia membenarkan letak kerah jasnya, lalu kembali melempar senyuman takzim pada Aaron dan Charles. "Karena ada klien penting dari luar negeri yang datang ke kantor sekarang, jadi saya harus menyambutnya sendiri. Kalian silakan nikmati sisa jamuannya lagi, ya. Saya pamit dulu."

"Kalau begitu, silakan Paman, hati-hati di jalan. Dan terima kasih banyak sudah bersedia berkunjung ke rumah kami hari ini," sahut Kak Charles dengan sikap yang teramat ramah dan menghormati seniornya.

"Paman bisa datang kapan saja ke rumah kami. Kami akan selalu menyambut Paman dengan senang hati di sini," sambung Kak Aaron sembari membungkukkan badannya dengan sopan sebagai bentuk penghormatan tertinggi keluarga Adipta.

"Baik, saya pamit dulu. Sukses untuk proyek baru kita," ucap Paman Hendra sembari menepuk pelan pundak Kak Aaron dan Kak Charles bergantian, lalu langsung melenggang pergi membelah ruang tamu menuju pintu depan.

Setelah kepergian Paman Hendra, atmosfer formal di ruang makan itu berangsur-angsur melonggar. Tak berselang lama, Paman Hadi dan Paman Surya pun ikut meletakkan cangkir kopi mereka dan meminta izin untuk segera kembali ke perusahaan masing-masing.

"Terima kasih banyak atas jamuan makan siang yang luar biasa mewah ini, Aaron, Charles. Kami juga izin pamit pulang dulu ke kantor. Semoga kerja sama besar kita ke depannya berjalan lancar dan sukses," ucap Paman Hadi ramah, mewakili rekannya sebelum mereka melangkah keluar meninggalkan ruang tamu yang kini mendadak terasa begitu sunyi dan hampa.

Begitu pintu utama rumah besar terhempas menutup rapat dan deru mesin mobil para kolega senior mereka tidak lagi terdengar dari halaman, topeng ketenangan di wajah Kak Charles seketika pecah tanpa sisa. Rahangnya mengatup begitu rapat hingga urat di pelipisnya menegang kaku, menahan luapan emosi yang sejak tadi ia kekang di depan orang luar.

"Ini semua gara-gara Bella, Kak! Semua jadi kacau!" amuk Kak Charles dengan suara baritonnya yang menggelegar penuh frustrasi, menoleh kasar ke arah Kak Aaron. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. "Apa dia tidak bisa sehari saja tidak membuat masalah di rumah ini?! Kenapa dia selalu saja membawa kesialan dan mengacaukan nama baik keluarga kita di depan mitra bisnis terbesar kita, hah?!"

Di dalam kamar baruku yang luas dan asing ini, aku hanya bisa duduk meringkuk di atas kasur. Aku memeluk kedua lututku erat-erot, menyembunyikan wajahku di sana sembari mendengarkan keheningan yang perlahan-lahan kembali menguasai lantai dua. Suara bantingan pintu utama yang teramat keras dari lantai bawah beberapa menit lalu sempat getarannya terasa sampai ke kamarku, menandakan bahwa badai kemarahan di rumah ini telah pecah.

Apakah keputusanku tadi salah? batinku pilu, menatap kosong ke arah jendela kaca yang menampilkan langit siang yang teramat cerah.

Setitik air mata hangat perlahan meluncur melewati pipiku yang pucat. Mengingat bagaimana cengkeraman tangan Kak Aaron yang teramat kaku menyeretku keluar, dan bagaimana urat leher Kak Charles menegang penuh amarah di depan para tamu, dadaku rasanya laksana diremas begitu hebat oleh rasa bersalah. Aku tahu, tindakanku tadi telah mencoreng harga diri mereka sebagai jajaran direksi Adipta Group di hadapan mitra bisnis terbesar keluarga kami.

Namun, di balik rasa takutku akan amukan mereka, ada sebongkah kenyataan yang jauh lebih mengerikan yang terus berputar liar di dalam kepalaku.

Barisan angka ghaib berdarah yang tercetak pekat di telapak tangan Paman Hendra seolah menolak untuk hilang dari pelupuk mataku. Lima hari. Waktu lima hari itu terus berjalan mundur dari sekarang. Jika aku memilih diam demi menjaga nama baik keluarga, maka dalam lima hari ke depan, anak-anak Paman Hendra akan meratapi jasad ayah mereka yang hancur akibat kecelakaan mobil maut. Mereka akan merasakan kepedihan yang sama persis seperti yang kurasakan saat kehilangan Papa dan Mama dua puluh tahun lalu.

Aku menurunkan pandangan, menatap telapak tangan kiriku yang polos tanpa noda.

Kenapa... kenapa kemampuan terkutuk ini harus bangkit kembali di saat aku baru saja ingin mengecap setitik kedamaian di lantai dua? bisikku lirih dalam hati, meremas kain selimut tebal dengan jemari yang gemetar hebat.

Aku merasa terperangkap di dalam labirin takdir yang teramat kejam. Kak Ethan sedang berada jauh di luar kota, sementara Kak Aaron dan Kak Charles mengunci rapat telinga mereka dari seluruh peringatan tulusku. Di tengah kesendirian kamar yang sepi ini, aku hanya bisa merenung pasrah dengan detak jantung yang bertalu-talu tidak keruan, mati-matian berdoa agar mukjizat yang mematahkan tanggal kematianku kemarin, juga bisa mendatangi dan menyelamatkan nyawa Paman Hendra sebelum batas waktu itu habis menjemput ajalnya.

1
Cholifah Umro
ceritanya bagus
Cholifah Umro
lanjut thor
Cholifah Umro
Udah Bella biarin saja... gak usah cari masalah
my queen 👸: terima kasih kk uda mampir
total 1 replies
M. Al-Farezi
Lanjutkan👍

eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~
my queen 👸: siap kk
total 1 replies
Sayekti 0519
sangat mengenaskan.mili terus air mata Ama ingus ku thooor
my queen 👸: terima kasih sudah mampir kk
pantau cerita ku yang lain ya 🙏❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!