Indonesia
NovelToon NovelToon
Serving The Ruthless Boss

Serving The Ruthless Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Fantasi
Popularitas:367
Nilai: 5
Nama Author: seasoulune

Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.

Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.

Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31

Satu minggu telah berlalu sejak malam badai yang menjebak Alesia Fiore di kediaman pribadi Dante Luca Alessio. Bagi Alesia, tujuh hari terakhir ini adalah masa-masa pembasuh jiwa.

Karena divisi pemasaran sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan peluncuran pembaruan game utama mereka, dan Dante sendiri tenggelam dalam tumpukan rapat direksi bersama sang ayah, interaksi di antara mereka berdua drastis berkurang.

Sesekali mereka hanya berpapasan di koridor lantai teratas saat Alesia mengantarkan dokumen revisi akhir, atau beradu pandang sekilas dari kejauhan di lobi kantor.

Ketika berpapasan, Dante kembali menjadi sosok CEO yang sedingin es dan super profesional, sementara Alesia tetap membungkuk formal layaknya karyawan biasa yang tahu diri.

"Ah... damai sekali rasanya dunia ini," gumam Alesia pagi itu sembari meregangkan kedua tangannya di atas meja kubikel lantai 35.

Ia menyandarkan punggungnya dengan senyum merekah.

"Tidak ada panggilan darurat soal spasi, Hidupku yang normal akhirnya kembali!"

Hana yang kebetulan lewat membawa secangkir teh langsung mencibir pelan.

"Nikmati saja ketenanganmu selagi bisa, Fiore. Biasanya kalau kamu sudah sesantai ini, badai berikutnya sedang bersiap-siap menggulungmu."

"Hush! Mulutmu tolong dikondisikan ya, Hana! Jangan mengutuk hari bahagiaku," sahut Alesia sambil tertawa kecil, kembali mengetuk papan ketiknya dengan riang.

Namun, apa yang tidak diketahui oleh Alesia adalah bahwa ketenangan itu sama sekali bukan karena Dante telah melupakannya.

Di lantai teratas, di balik meja marmer hitamnya, Dante Luca Alessio justru sedang dilanda kegusaran yang luar biasa. Ponselnya yang tergeletak di atas meja menampilkan log aktivitas harian divisi pemasaran yang sengaja ia minta dari Rey setiap sore.

Dante melepaskan kacamata berbingkai hitam tipisnya, memijat pangkal hidungnya dengan helaan napas panjang. Ia bersandar di kursi kebesarannya, menatap langit-langit ruangan dengan pandangan gusar.

Seminggu tidak mendengar omelan berani dari gadis itu, seminggu tidak melihat pipinya yang menggembung kesal menahan amarah, entah mengapa membuat fokus kerja Dante terganggu.

Tuntutan rencana tiga bulan soal MSR Company yang diberikan ayahnya memang menyita waktu, tetapi otaknya terus-menerus memutar ulang rekaman memori malam itu bagaimana Alesia tenggelam di dalam kaus kebesaran miliknya dan bagaimana gadis itu berlari sekencang kilat di basemen kantor karena takut dirumorkan bersamanya.

Dante mengetuk meja marmernya dengan pulpen.

'Gadis bodoh itu... dia benar-benar mengira masalah utangnya selesai begitu saja setelah memasak tahu goreng?' batin Dante sinis, namun ada kilatan jahil yang mendadak melintas di mata abu-abunya.

Dante tidak akan melepaskan Alesia begitu saja. Jika gadis itu menolak untuk naik ke ruangannya, maka ia sendiri yang akan mencari cara bahkan jika cara itu sangat konyol dan tidak masuk akal untuk ukuran seorang CEO multinasional.

Pukul 14.00 siang, di lantai 35, atmosfer kubikel pemasaran mendadak berubah menjadi tegang saat suara langkah kaki yang tegas berirama berat terdengar mendekat. Bukan suara sepatu pantofel biasa, melainkan langkah kaki yang sangat familier bagi seluruh staf.

Dante Luca Alessio melangkah masuk ke area kubikel tanpa didampingi oleh Rey. Pria itu mengenakan kemeja hitam premium dengan lengan yang digulung rapi hingga siku, memancarkan aura maskulin yang sangat dominan.

Seluruh karyawan langsung memperbaiki posisi duduk mereka dan membungkuk hormat saat Dante melintas.

Langkah kaki Dante berhenti tepat di depan kubikel Alesia.

Alesia yang sedang fokus memeriksa data grafik iklan digital langsung tersentak kaget. Jantungnya melompat dari tempatnya saat melihat bayangan tubuh tinggi besar Dante sudah menutupi cahaya lampu di atas kubikelnya.

Ia buru-buru berdiri dari kursinya dan membungkuk panik.

"Se-selamat siang, Sajangnim! Ada dokumen proyek eksklusif yang perlu saya antar ke atas?"

Dante tidak langsung menjawab. Ia menatap Alesia dari ketinggian posturnya, matanya memandang tajam dari balik lensa kacamata hitam tipis yang sengaja ia kenakan siang ini.

"Nona Fiore," ucap Dante, suaranya yang berat dan rendah menggema di area kubikel yang mendadak senyap.

"Sistem pendingin ruangan di ruangan saya sedang mengalami kendala teknis dan tim mekanik baru akan tiba satu jam lagi. Suhu di atas terlalu panas untuk bekerja."

Alesia mengerjapkan matanya bingung. Terus hubungannya sama aku apa? batinnya heran.

"Ah... begitu ya, Pak. Apakah Bapak mau dipindahkan sementara ke ruang rapat utama di lantai ini? Biar saya siapkan ruangannya kepada sekretaris divisi."

"Tidak perlu," potong Dante cepat dan mutlak.

"Ruang rapat terlalu luas dan tidak efisien untuk konsentrasi saya. Mulai siang ini, saya akan bekerja di lantai tiga puluh lima."

"Ha??" Alesia melongo sempurna.

Bukan hanya Alesia, Hana dan Min-ji yang pura-pura sibuk mengetik di kubikel sebelah pun sampai menghentikan ketukan jari mereka karena syok. Seorang CEO pewaris tunggal Aetheris Games mau bekerja di lantai karyawan biasa?

Dante mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut area pemasaran, lalu menunjuk sebuah meja kosong kecil yang terletak tepat di sebelah kanan kubikel Alesia meja cadangan yang biasanya digunakan untuk menaruh tumpukan kardus brosur atau barang inventaris rusak.

"Saya akan menggunakan meja kosong di sebelah Anda, Nona Fiore. Tolong bersihkan permukaannya sekarang juga," perintah Dante tanpa ekspresi, seolah-olah permintaannya adalah hal yang paling normal di dunia.

Alesia menatap meja kosong yang sedikit berdebu itu, lalu menoleh menatap Dante dengan pandangan tidak percaya.

"Tapi Pak! Meja itu kecil sekali dan berdebu, kursi kerjanya juga kursi lipat biasa! Sangat tidak layak untuk Bapak! Lagipula, ruangan asisten manajer di sudut sana sedang kosong, Bapak bisa pakai—"

"Saya tidak suka pengulangan, Nona Fiore. Bersihkan mejanya sekarang atau saya anggap Anda menolak perintah atasan," sahut Dante dingin, melipat kedua tangannya di depan dada dengan angkuh.

Dengan menahan dongkol yang luar biasa di dalam dadanya, Alesia akhirnya mengalah.

'Singa gila! Diktator aneh! Ruangan mewah ber-AC sentral di atas dibilang rusak, malah mau nongkrong di kubikel sempit!' rutuk Alesia habis-habisan dalam hati.

Sambil menggerutu tanpa suara, ia mengambil tisu basah dan kain lap, lalu mulai membersihkan meja kosong tersebut dengan gerakan kesal yang sengaja dihentak-hentak.

bersambung.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!