Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Angkatku Bukan Manusia

Adik Angkatku Bukan Manusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eidolon

Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.

Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.

Lalu, siapa Elara sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Faresta terlihat cukup bingung dengan ucapan Elara. Pasalnya gadis itu baru saja menginjakkan kaki di rumah ini, namun entah mendapat keberanian darimana ia sampai bisa memperingatkannya.

Elara sendiri hanya mengangkat bahu, kemudian masuk dan menutup pintu kamarnya, meninggalkan Faresta yang masih terlihat bingung.

“Gadis aneh. Apa dia mulai menunjukkan niatnya untuk mengatur keluarga ini?”

Seperginya Faresta, Elara yang masih berdiri di belakang pintu tentu mendengar ucapan itu.

Gadis itu sama sekali tidak tersinggung. Ia justru terkekeh pelan dan menganggap Faresta cukup bodoh.

“Aku akui kewaspadaannya terhadap orang baru memang bagus… tapi dia lupa untuk waspada pada orang terdekat.”

Setelah membersihkan diri dan melihat-lihat ruangan yang menjadi kamarnya saat ini. Elara berdiri di dekat jendela. Tatapannya mengarah jauh ke hamparan hijau terletak tak jauh di belakang kediaman Halvar.

“Panas sekali. Apa mereka tidak berniat menanam pohon disana?” gumamnya menatap area hijau yang ternyata adalah lapangan golf.

Tak lama kemudian, terdengar pintu kamarnya diketuk pelan.

“Elara, boleh Mama masuk?”

“Masuk saja, Ma.”

Livia segera membuka pintu setelah mendapatkan izin. Melihat Elara yang termenung di depan jendela, wanita itu pun menghampirinya.

“Kenapa, Nak?” tanya Livia.

“Ma, tempat itu terlalu panas. Kenapa tidak ditanami pohon saja biar lebih sejuk?”

Livia terkekeh setelah menyadari tempat yang dimaksud Elara.

“Nak, itu lapangan golf. Kalau ditanami pohon di tengahnya, nanti bola golf malah nyangkut di atas pohon.”

“Lapangan?”

“Iya, lapangan. Yang namanya lapangan itu tanah luas yang memang sengaja dibuat kosong, Kamu tenang saja, disana rumput tetap dirawat kok.”

Elara menyipitkan mata seolah masih belum puas dengan jawaban dari Livia.

“Sudah, nanti kapan-kapan mama ajak kamu kesana. Sekarang ayo turun, kita makan siang!

Saat mereka tiba di meja makan, kelima pria keluarga Halvar itu menoleh bersamaan. Danendra tersenyum melihat kedatangan istri dan putrinya. Sedangkan Keempat putranya masih dengan ekspresi datar yang sama.

Lionel bahkan mendengus kesal karena menunggu Elara terlalu lama. Ia sudah sangat lapar, mengingat jika sejak kemarin ia hanya memakan makanan aneh di rumah Elara. Bukan rendang, sop buntut atau bahkan steak.

Mereka mulai makan setelah semuanya duduk di tempat masing-masing. Livia dengan telaten memperkenalkan makanan pada Elara, bahkan tanpa ragu wanita itu menyuapinya dengan penuh kasih sayang.

Keempat putranya menatap itu dengan penuh rasa iri. Seingat mereka perlakuan itu bahkan hampir tidak pernah mereka rasakan… kecuali kalau sedang sakit.

“Dia udah gede kali, Ma. Bisa makan sendiri. Tangannya masih lengkap tuh,” celetuk Leonard yang membuat ketiga saudaranya menoleh tak percaya mendengarnya.

Sangat jarang sekali pemuda itu menunjukkan rasa irinya, biasanya Lionel lah yang akan merengek atau protes dalam hal apapun yang menurutnya kurang tepat di hati.

“Kenapa? Kamu juga mau mama suapin, Leon?” goda Livia.

Leonard langsung  membuang muka sambil mendengus kesal. “Leon bukan bayi lagi, Ma.”

Danendra dan juga Livia tersenyum kecil, mereka tentu tau jika putranya ini tengah cemburu dengan kasih sayang yang mereka berikan pada Elara.

Livia lalu mengambil satu potong ayam kecap dan diletakkan ke atas piring Leonard. “Ini ayam kecap kesukaan kamu. Makanlah!”

Hati Leonard perlahan menghangat, senyum tipis terukir meski masih sedikit canggung. “Makasih, Ma!”

“Aku juga mau dong, Ma,” sahut Lionel tak mau kalah.

Livia langsung mengambilkan satu untuk putra bungsunya itu. Tak lupa ia juga melakukan hal yang sama pada Faresta dan juga Lucas. Meski keduanya diam tapi Livia tahu, kalau mereka juga tak mau kalah dengan adik-adiknya.

Di tengah kenikmatan suasana makan siang itu, tiba-tiba ponsel Faresta berdering membuat mereka semua menghentikan gerakan mereka..

Ekspresi pria itu perlahan berubah tegang setelah menerima panggilan.

“Pa, Ma, aku ke kantor dulu. Ada sedikit masalah disana,” ujarnya.

Meski terlihat panik, Faresta masih berusaha menjaga ekspresinya agar tetap tenang.

“Hmm, pergilah. Papa yakin kamu bisa mengatasinya,” balas Danendra.

Faresta mengangguk lalu berdiri.  Tepat saat kakinya hendak melangkah suara Elara kembali terdengar.

“Jangan percaya pada kepala keuangan, tapi percayalah pada wakilnya. Dan tetap waspada pada orang terdekatmu saat ini, karena dia juga ikut andil dalam masalah ini.”

Faresta langsung berbalik dan menatap Elara dengan sorot tajam.

“Jangan pernah ikut campur. Kamu hanya orang baru disini.”

“Terserah. Aku hanya mengingatkan. Kalau tidak percaya, kamu bisa membuktikannya dengan menyelidiki asisten dan sekretarismu itu.”

Faresta langsung menggenggam tangannya erat. Kesal? Tentu saja. Ia merasa sedang di gurui oleh gadis kecil yang bahkan baru saja dikenalnya.

Padahal jika dipikir secara logis, Elara tidak akan mungkin mengerti tentang perusahaan mengingat gadis itu yang hidup di tengah hutan seorang diri.

Faresta akhirnya berbalik dan berjalan cepat. Saat ini ia tidak ada waktu untuk meladeni permainan gadis itu.

Jika dia tidak mendengarkan ucapanku… maka bersiaplah untuk kehancurannya.

---

Faresta tiba di perusahaan cukup cepat. Suasana di dalam sana terlihat cukup tegang saat pria itu masuk dengan ekspresi yang terasa menyeramkan bagi para karyawannya.

Beberapa orang sudah berdiri di depan meja kerjanya. Dari luar nampak tegang, tapi jika di perhatikan dengan saksama, ada beberapa yang diam-diam tengah tersenyum kemenangan.

“Kenapa rencana ini bisa sampai bocor? Padahal aku merancangnya sendiri dari nol,” gumamnya kesal.

Pria itu terus membolak-balikkan laporan yang baru saja diserahkan sekretarisnya. Liya.

“Sial, sepertinya memang ada pengkhianat disini," gumamnya.

Emosi Faresta benar-benar sudah ada di puncaknya saat ini. Jika bisa digambarkan, dirinya sudah seperti gunung berapi yang siap meletus melahap semua yang ada di sekitarnya menjadi abu.

“Dio!”

“Iya, Tuan.”

Ucapan Faresta itu terhenti ketika melihat wajah sang asisten. Entah mengapa hatinya sedikit ragu setelah mengingat perkataan Elara sebelum pergi tadi.

“Tidak jadi. Kalian pergi saja, saya akan mencari sendiri solusi untuk masalah ini.”

Faresta mengusir semua yang berdiri di depannya. Saat ini ia benar-benar tidak tahu harus menaruh kepercayaan kepada siapa.

“Tapi, Tuan. Perusahaan pesaing sudah mulai menyiapkan peluncuran program ini. Mereka bahkan sudah mengundang wartawan. Kalau kita tidak bergerak cepat maka perusahaan kita akan rugi besar.”

“Keluar!”

Liya yang baru saja berbicara itu seketika terdiam ketika Faresta membentaknya. Wanita itu mendengus kesal sambil menggenggam jemarinya erat. Sudut bibirnya tersenyum tipis penuh ejekan, membayangkan Faresta yang mungkin sebentar lagi akan hancur. Dan disaat itu tiba, ia yang akan pertama kali menertawakannya.

Dio yang berdiri di samping Liya segera menarik ujung bajunya dan memberi kode agar mereka segera pergi dari ruangan itu.

Setelah semua orang keluar, dan hanya sisa seorang pria yang masih berdiri kaku di tempatnya. Tubuhnya terlihat sedikit bergetar.

“Kamu tidak dengar apa yang saya katakan? Pergi sekarang juga!”

Genggaman pria itu pada ujung bajunya semakin erat ketika Faresta kembali berbicara dengan nada tinggi. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin ia sampaikan, tetapi suasana hati Faresta saat ini membuat nyalinya menciut.

Pria itu akhirnya memilih untuk tetap diam dan berbalik pergi menyusul rekan-rekannya.

Namun, baru saja tiba di ambang pintu, suara Faresta kembali menghentikannya.

“Tunggu!”

Suara kursi berderit pelan saat Faresta berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekat. Aura pria itu sungguh membuat bulu kuduknya seketika meremang.

“Kamu Arga, wakil kepala keuangan, kan?”

“I-iya, Tuan.”

“Katakan! Apa yang ingin kamu sampaikan?”

“Tuan, itu…” Arga terlihat ragu. Bahkan jika diperhatikan lebih jauh keringat dingin sudah membasahi kening dan juga telapak tangannya.

"S-sebenarnya...."

1
Nonik Anda Swl
next please Thor, seru dan keren, semangat💪💪
Queen AL
👍
Yani
lanjut Thorrr 🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!