Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26: Berpacu dengan Kemarau
"Kalau begitu kita bergerak sekarang," kata Bram.
Dalam dua puluh menit, Laras sudah berada di peternakan. Bram harus kembali ke kesatuan untuk menyiapkan bantuan bencana, tetapi ia meninggalkan Wahyu bersama empat orang tenaga tambahan.
"Ikuti perintah Bu Laras," katanya kepada mereka. "Kalau jalan ditutup, laporkan sebelum mengambil rute lain."
Ia kemudian menyerahkan kunci motor kepada Laras. Tangkinya penuh.
"Jangan terlalu lelah. Aku kembali kalau tugas memungkinkan."
Laras ingin mengatakan bahwa Bram juga tidak boleh memaksa diri. Namun lelaki itu sudah masuk ke kendaraan. Hanya lampu belakangnya yang tampak sebelum hilang di balik debu.
Di peternakan, semua orang bekerja berdasarkan daftar. Kelompok pertama mengisi tandon dan wadah tertutup selagi pompa masih berfungsi. Kelompok kedua mengangkat karung pakan ke palet kayu, memberi jarak dari dinding, lalu menutupnya dengan terpal. Kelompok ketiga mengikat atap silang dengan kawat dan memeriksa tiang yang lapuk.
Laras bersama Wati memindahkan ternak merah. Sapi bunting ditempatkan di bangunan tengah. Kambing yang masih kurus setelah PMK mendapat ruang kering tanpa harus berebut. Anak ternak diberi alas lebih tebal agar tidak langsung terkena lantai dingin jika hujan turun.
"Air di tandon ketiga berbau tanah," lapor seorang pekerja.
Laras memeriksanya. "Untuk membersihkan lantai saja. Jangan diberi ke ternak sebelum disaring dan diuji. Beri label merah."
Ia juga meminta saluran di sisi barat diperdalam. Beberapa pekerja menganggap aneh menggali pembuangan air di tengah kemarau.
"Tanah ini keras," jelas Pak Yohanes sambil ikut mengayun cangkul. "Kalau hujan deras, air tidak masuk. Semuanya lari ke kandang."
Seorang pemilik peternakan kecil yang datang melihat pekerjaan tertawa. "Kalian menghabiskan kawat dan tenaga untuk awan yang belum tentu datang. Kemarau ya kemarau. Paling angin sebentar."
Pak Sutrisno tidak ikut tertawa. "Kalau Bu Laras salah, kawat ini tetap memperkuat atap. Kalau dia benar dan kita diam, ternak mati."
Lelaki itu pergi sambil menggeleng. Dua tetangganya ikut pulang tanpa mengamankan kandang sendiri.
Laras tidak mengejar mereka. Ia memotret keadaan atap, mencatat peringatan yang telah diberikan, lalu kembali bekerja. Peternakan mereka hanya bisa menawarkan panduan, bukan memaksa pemilik lain mengeluarkan biaya. Namun ia meminta Santi mengirim daftar tindakan murah ke grup peternak: memindahkan pakan dari lantai, menutup wadah air, mengikat seng yang longgar, dan menjauhkan ternak dari pohon rapuh.
Beberapa orang membalas dengan tanda tertawa. Yang lain diam-diam meminta salinan lebih jelas. Laras tidak peduli siapa yang mengakui percaya. Selama ada satu kandang tambahan yang diperkuat, pesan itu berguna.
Menjelang tengah malam, peluit simulasi dibunyikan sekali lagi. Kali ini semua pekerja menemukan pasangannya, lampu menyala tanpa mencari kunci, dan kelompok ternak masuk sesuai jalur. Waktu pemindahan turun hampir separuh.
Laras baru berhenti setelah memastikan daftar ditandatangani setiap penanggung jawab. Debu menempel di rambut dan keringatnya. Wahyu memberikan botol air serta roti yang dikirim Bram melalui pos.
"Mayor bilang Ibu harus menghabiskan keduanya."
"Mayor kalian suka memberi perintah bahkan dari jauh."
Wahyu menahan senyum. "Kalau soal Ibu, iya."
Mereka bekerja sampai fajar. Langit belum menurunkan hujan, tetapi angin bertambah tajam. Setelah serah terima dengan kelompok pagi, Laras pulang bersama Wahyu melalui jalan lembah yang lebih pendek.
Di dekat dasar lembah kering, suara geraman lemah membuat Laras meminta motor berhenti.
"Ada sesuatu di semak."
Wahyu mengambil senter. Di antara batu, seekor induk ajag terbaring dengan kaki belakang terjerat kawat baja. Kulitnya robek dan luka telah membengkak. Dua anak ajag mengintip dari balik semak, terlalu takut mendekat tetapi tidak mau meninggalkan induknya.
"Bu, jangan dekat," kata Wahyu. "Dia hewan liar. Kawanannya bisa ada di sekitar sini."
Laras mengamati napas dan posisi telinga induk itu. Hewan tersebut masih sadar, tetapi terlalu lemah untuk menyerang. Semakin ia meronta, kawat semakin masuk ke daging.
"Kalau dibiarkan, kakinya putus atau dia mati infeksi. Ambil pemotong kawat dan selimut dari kotak motor."
"Saya panggil petugas satwa dulu."
"Panggil. Tetapi sinyal hampir tidak ada dan kita tidak punya waktu lama. Kamu jaga jarak anak-anaknya. Jangan berdiri di jalur lari."
Laras menutup sebagian kepala ajag dengan selimut untuk mengurangi rangsangan. Dengan batang bercabang sebagai pengaman jarak dan bantuan Wahyu, ia menahan kawat agar tidak menekan lebih dalam. Pemotong berbunyi sekali. Jerat belum putus.
Induk ajag menggeram, tubuhnya menegang.
"Tenang," bisik Laras. "Sedikit lagi."
Potongan kedua memutus kawat. Laras tidak langsung menariknya. Ia melonggarkan lilitan sedikit demi sedikit, lalu membilas luka dari jarak aman dan menyemprotkan antiseptik hewan. Tidak ada tulang yang tampak, tetapi pembengkakan berat membutuhkan penanganan lanjutan.
Petugas satwa akhirnya menjawab telepon Wahyu dan berjanji menuju lokasi. Laras meninggalkan koordinat, air dalam wadah rendah, dan sedikit daging kering jauh dari jalan.
Saat selimut diangkat, induk ajag tidak menerkam. Ia menyeret kakinya ke arah anak-anaknya, berhenti, lalu menoleh kepada Laras cukup lama.
Tatapan liar itu tidak bisa disebut jinak. Namun di dalamnya juga tidak ada kebencian.
Sesaat kemudian, induk dan kedua anaknya menghilang ke balik semak, meninggalkan jerat kawat berlumur darah di tanah retak.
Laras memasukkan jerat itu ke kantong bukti untuk diserahkan kepada petugas satwa. Ketika ia berdiri, langit timur tertutup warna merah gelap.
"Ini bukan kemarau biasa," katanya.
Jauh di kota, Vania sedang menenangkan Bu Marni dengan keyakinan yang segera diuji.
"Tenang saja. Tahun ini tidak akan ada bencana."