Nasib Kyarra, Kakanya yang meninggalkan suami dan juga putrinya. Kyarra harus menikah dengan kakak iparnya demi keserakahan ibunya.
Kyarra melakukannya demi keponakannya yang membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Tetapi banyaknya pertentangan dalam pernikahan mereka, belum lagi Kakak iparnya menganggap bahwa dia menerima pernikahan itu semata-mata hanya ingin memeras.
Kyarra benar-benar terjebak dalam pernikahan yang seharusnya tidak terjadi dan apalagi kontrak yang pasti pengetahuannya antara ibunya dengan Kakak iparnya.
Lalu bagaimana Kyarra yang awalnya hanya menjalankan peran sebagai seorang tante yang menyayangi keponakannya dan saat ini harus menjadi istri dari mantan Kakak iparnya, di tengah banyaknya mimpi yang ingin dia tuju?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 Ketegangan Kyarra
Alvino mengatur nafasnya, cukup kesal dengan apa yang telah terjadi, bisa-bisanya pagi-pagi ibunya sudah datang dan mengatur dirinya.
Alvino kemudian kembali ke kamar dan melihat Kyarra sudah bangun yang masih duduk di atas tempat tidur.
Alvino cukup tercengang melihat Kyarra, mungkin di dalam pikiran Alvino sudah pasti Kyarra mendengarkan obrolan dia dan ibunya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Alvino mencairkan suasana di antara mereka membuat Kyarra menganggukkan kepala.
"Kamu merasa baik-baik saja?" tanya Alvino.
Kyarra lagi-lagi menjawab hanya dengan anggukan kepala. Alvino menarik nafas dan membuang perlahan ke depan kemudian menghampiri Kyarra dengan duduk di samping Kyarra.
Alvino memegang tangan Kyarra yang berada di atas selimut dan menatapnya begitu dalam.
"Kamu sebaiknya istirahat lagi. Ini weekend, jadi gunakan saja waktu untuk beristirahat," ucap Alvino memberi perhatian pada Kyarra.
Mungkin karena istrinya kelelahan karena melayaninya dan Alvino adalah laki-laki yang bertanggung jawab yang tidak ingin egois sendiri.
"Kak. Tante Lina tadi datang?" tebak Kyarra.
"Hmmmm, kamu mendengar pembicaraan kami?" Alvino menimpali pertanyaan itu.
"Pintunya terbuka sedikit, suaranya kedengaran ke dalam," jawab Kyarra.
"Kalau begitu lain kali jangan mendengarkan, tidak ada hal penting yang harus didengarkan," ucap Alvino.
"Aku sebaiknya kembali ke kamar Kelly, nanti kalau dia bangun tidak melihat ku dia akan bertanya-tanya lagi," ucap Kyarra ingin turun dari ranjang namun ditahan Alvino.
"Kyarra, kamu mungkin melakukan banyak untuk membuat Kelly nyaman dan tenang berada di samping kamu, tetapi Kelly juga akan semakin besar. Jadi jangan terus membuatnya bergantung pada kamu, kamu juga harus memikirkan diri sendiri," ucap Alvino.
"Jika aku memikirkan diri sendiri, maka kasihan Kelly, orang-orang di sekitarnya banyak yang sudah memikirkan diri sendiri," ucap Kyarra membuat Alvino terdiam.
Apa yang disampaikan Kyarra benar, orang-orang dewasa yang seharusnya memberi perhatian kepada Kelly sibuk dengan pekerjaan mereka dan mereka hanya berharap jika Kelly bisa mandiri, tetapi untuk anak seusia dirinya, masih membutuhkan perhatian yang lebih dan sangat wajar jika dimanjakan karena belum waktunya untuk dewasa di usia yang masih kecil.
"Baiklah, kalau begitu saya yang ke kamarnya, saya juga ingin ketika dia bangun melihat saya di sampingnya," ucap Alvino.
Alvino kemudian berdiri dari tempat duduknya, memegang pipi Kyarra dan mencium lembut kening Kyarra. Alvino kemudian keluar dari kamar yang sejak tadi dilihat Kyarra.
Alvino benar-benar manis memperlakukannya, penuh perhatian dan pasti maksud Alvino menahan Kyarra untuk tetap di kamarnya agar Kyarra kita beristirahat dan apalagi ini juga weekend, ya perlu memaksakan segala sesuatu langsung bersih-bersih dan mengurus dapur serta mengurus Kelly.
Kyarra mendapat perhatian yang berlebihan dari Alvino membuatnya tersenyum tipis.
"Tidak menyangka, dibalik wajahnya yang sangat dingin, kata-katanya yang sedikit kasar, ternyata dia manis juga, memperhatikan, menatap, benar-benar tulus," ucap Kyarra tiba-tiba saja kagum pada albino dengan memberikan pujian kepada suaminya itu.
"Astagfirullah Kyarra, apa yang kamu pikirkan, kenapa juga kamu tiba-tiba menghayal, tidak Kyarra. Kamu ini hanya sebagai istri dan apa yang kamu lakukan hanya tugas sebagai istri dan itu adalah hak dia, jangan pernah mengharapkan apapun dalam pernikahan kalian, tidak akan mungkin ada hal baik dan lanjutan sesuai dengan keinginan kamu," Kyarra berusaha menyadarkan diri agar tidak terjebak.
*******
Kelly terlihat sedang belajar di ruang tamu, sementara Kyarra di dapur membuat makan siang, sesekali matanya menoleh ke arah Kelly untuk memantau Kelly yang saat ini sedang menggambar.
"Tante, Papa akan makan siang di rumah?" tanyanya.
"Tidak Kelly, Papa ke Bandung untuk meeting, jadi mungkin pulangnya juga akan malam," jawab Kyarra.
"Tapi, Kan, ini weekend, kenapa Papa masih kerja dan bukankah seharusnya mengajak Kelly jalan-jalan?" tanyanya.
"Kita, kan kemarin baru jalan-jalan, jadi Papa ada pekerjaan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan," ucap Kyarra selalu memberi perhatian kepada keponakannya itu.
"Papa benar-benar!" Kelly terlihat kesal dengan wajahnya yang tampak cemberut membuat Kyarra menghela nafas.
Tinnong, tinnong
Suara bel hotel terdengar. Kyarra kemudian berjalan menghampiri pintu dan membuka pintu yang ternyata orang yang menjadi tamu tak lain adalah Lina.
Padahal tadi pagi-pagi sekali Lina sudah mampir ke tempat tinggal mereka.
"Tante....." ucap Kyarra gugup.
Tatapan mata Lina benar-benar sinis melihat Kyarra yang berdiri di depannya. Karena Kyarra sedang memasak jadi memang hijabnya dilepas dan lagi pula hanya dia berdua bersama dengan Kelly di dalam kamar hotel itu.
Kyarra juga kegerahan dan membuat rambutnya diikat asal-asalan sehingga leher jenjangnya terlihat, Lina memperhatikan tanda kemerahan di leher itu.
Kyarra sepertinya tahu apa yang membuat mata Lina menatapnya itu sinis dan memperhatikannya begitu teliti membuat Kyarra merapikan sedikit rambutnya untuk menutupi bagian lehernya.
Lina berlalu dari hadapan Kyarra yang melewati Kyarra begitu saja.
"Oma!" Kelly mengetahui kedatangan Lina.
"Cucu Oma yang cantik sedang apa?" tanyanya.
"Sedang menggambar," jawab Kelly memperlihatkan gambarannya.
"Ya ampun cantik sekali. Oma juga membawakan alat-alat gambar untuk kamu," Lina mengeluarkan isi paper bag dengan alat-alat tulis yang dia belikan untuk cucunya.
Kyarra menutup pintu kamar hotel dan kemudian kembali ke dapur menyelesaikan pekerjaannya. Sebenarnya dia kurang nyaman dengan keberadaan Lina, tetapi tidak mungkin juga melarang.
Lina memerintahkan Kelly untuk ke kamar menyusun barang-barang yang telah diberikan.
Kyarra menyadari dan hanya mengikuti dari ekor matanya. Kyarra sudah tahu sepertinya ada hal penting yang akan disampaikan Lina kepadanya dan yang benar saja Lina menghampirinya ke dapur dan duduk di meja makan.
"Saya tidak tahu ternyata seorang jalang, juga punya rasa malu!" perkataan sinis yang keluar dari mulut Lina cukup nyelekit membuat Kyarra menghentikan pekerjaannya.
"Tante mengatakan saya jalang?" tanyanya benar-benar tersinggung.
"Lalu apa? Kamu sama saja seperti ibu kamu, seperti kakak kamu yang memanfaatkan putra saya dengan menjual tubuh kalian, putra saya tidak tertarik kepada kamu, dan ketika kamu menikah dengan putra saya, saya yakin 100% jika dia tidak akan mungkin menyentuh wanita seperti kamu, tetapi ternyata kamu berhasil menggodanya, benar-benar jalang!" sini Lina.
Kyarra kesulitan menelan ludah, sungguh sangat sakit kata-kata yang keluar dari mulut Ibu mertuanya.
"Kyarra, saya peringatan kepada kamu, jika kamu berusaha untuk memanfaatkan Alvino dan maka saya sebagai ibunya tidak akan membiarkan hal itu!" tegas Lina.
"Jadi Tante datang, bukan untuk membelikan hadiah alat-alat tulis yang baru untuk Kelly, tetapi untuk mengatakan saya jalang, hanya karena saya tidur dengan putra Tante?" ucapnya dengan menahan diri tetapi dari tatapan matanya benar-benar marah dengan perkataan Lina.
"Bukan hanya jalang, kamu bahkan pelacur murahan," lanjut Lina.
"Cukup Tante! Jangan hanya karena saya tidur dengan suami saya, Tante mengatakan saya jalang, pelacur. Jika kamu sama wanita dan sama-sama memiliki suami, jika melayani suami mendapat sebutan sebagai pelacur dan maka itu sama saja dengan Tante!"
"Apa katamu!" Lina gantian kesal dengan perkataan Kyarra.
"Tante, jika putra Tante menyentuh saya dan maka jangan salahkan saya. Dia adalah seorang duda yang ditinggal oleh istrinya, haus akan sentuhan seorang wanita, selama ini dia sudah menahan hasratnya, sudah menahan gairahnya untuk tidak melakukan itu kepada saya, tetapi anak Tante juga laki-laki normal dan sudah pasti tidak mungkin melakukan itu kepada saya karena saya tinggal di rumah ini!" tegas Kyarra.
"Jadi jangan salahkan saya jika kami berhubungan suami istri, kami memiliki ikatan suami istri, pernikahan kami sah, jika menurut Tante saya sebagai seorang wanita yang melayani suaminya mendapat julukan sebagai pelacur dan maka itu sama saja dengan Tante!" tegas Kyarra.
"Kamu jangan pernah menyamakan saya dengan kamu, dan suami saya menikah itu karena saling menyukai satu sama lain dan memiliki komitmen untuk hidup, bukan seperti kamu menikahi putra saya hanya karena memanfaatkan dan menguras hartanya!" tegas Lina dengan suaranya sedikit meninggi.
"Tante tahu apa tentang pembicaraan saya dan Kak Alvino, kami juga punya cerita, punya list dalam pernikahan kami!" tegas Kyarra.
"Saya yang harus mengingatkan Tante, jangan pernah mencampuri urusan pernikahan saya dengan Kak Alvino. Tante juga jangan mencampuri apakah kami berhubungan atau tidak, daripada putra tante melampiaskan hasratnya pada wanita di luar sana yang bukan istrinya dan maka akan berdosa besar lebih baik dia menjadikan saya sebagai pelacur!" tegas Kyarra.
Sekarang dia berbicara secara blak-blakan karena memang tidak perlu ada manis-manis saat berbicara pada wanita seperti Lina. Lina sampai tidak bisa berkutik.
Bersambung.....