Hidup tenang Bayu sebagai karyawan sekaligus selebgram hancur seketika saat ia harus mengasuh enam keponakan perempuannya yang super aktif. Namun, kemunculan "Sistem Om Level Dewa" mengubah segalanya dengan menjanjikan kekayaan tak terbatas asalkan ia berhasil membuat para keponakannya bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Sesampainya di depan ruang ganti, Bayu tidak membuang waktu untuk mengetuk pintu sama sekali.
Brak.
Bayu menendang pintu ruang ganti itu hingga terbuka lebar membentur dinding dengan keras.
Vanya yang masih berdiri memandangi gaun robek itu langsung terlonjak kaget dan mundur beberapa langkah.
Gunting kecil di dalam sakunya tidak sengaja terjatuh ke lantai karena gerakannya yang terlalu panik.
Trang.
Suara gunting besi yang beradu dengan lantai keramik berbunyi sangat nyaring di ruangan yang mendadak sunyi itu.
"B-bos Bayu? Kenapa kalian semua mendobrak masuk ke sini secara tiba-tiba?" tanya Vanya dengan suara bergetar ketakutan.
Bayu berjalan mendekat dan mengambil gaun merah yang sudah robek parah itu dari gantungannya.
Dia melempar gaun hancur itu tepat ke wajah Vanya dengan kasar.
"Apa yang kau lakukan pada gaun ini Naya? Atau haruskah aku memanggilmu dengan nama aslimu, Vanya?" Mata Dimas, Reza, dan Maya langsung membelalak maksimal mendengar nama yang baru saja diucapkan oleh Bayu.
"Vanya? Maksud Bos Bayu, Naya ini adalah mantan pacar Bos yang matre dan jahat itu?" tanya Dimas dengan mulut menganga lebar.
Vanya mematung dengan wajah pucat pasi seperti mayat hidup yang kehabisan darah.
Dia tidak menyangka penyamarannya yang selama ini dia anggap sempurna bisa terbongkar begitu saja hari ini.
"A-apa maksud Bos Bayu, saya ini Naya dari kampung, saya sama sekali tidak kenal siapa itu Vanya."
Vanya masih mencoba mengelak dan mempertahankan kebohongannya dengan suara serak yang dipaksakan.
Bayu tertawa sangat keras hingga bahunya berguncang menertawakan kebodohan mantan pacarnya tersebut.
Bayu maju satu langkah mengikis jarak di antara mereka dan menatap tajam ke balik kacamata tebal Vanya.
"Kau pikir kacamata tebal murahan dan riasan bedak dempul itu bisa membodohiku selamanya Vanya?"
"Aku sudah tahu identitas aslimu sejak hari pertama kau menjatuhkan pulpen dengan sengaja di ruang rapat waktu itu."
Bayu menunjuk ke arah pergelangan tangan kanan Vanya dengan tatapan yang sangat merendahkan.
"Bekas luka bakar karena tersiram air panas saat memasak mie instan di kosanku dulu itu adalah bukti yang tidak bisa kau bantah."
Vanya langsung menyembunyikan tangan kanannya ke belakang punggung dengan gerakan refleks yang sangat panik.
Jantung Vanya berdetak sangat kencang menyadari bahwa Bayu ternyata selama ini hanya mempermainkannya saja.
"Dan kau pikir aku akan diam saja melihatmu merusak gaun seharga lima belas juta ini dengan gunting murahanmu itu?"
Bayu mengangkat ponselnya dan memutar rekaman video beresolusi tinggi dari Kamera Lalat Transparan tadi.
Di layar ponsel itu terlihat sangat jelas wajah Vanya yang sedang menggunting jahitan gaun sambil tersenyum licik.
"I-itu tidak mungkin, aku sudah mengecek ruangan ini dan tidak ada CCTV sama sekali di sini!" teriak Vanya histeris.
Saking paniknya, Vanya lupa mengubah suaranya dan suara lengkingan aslinya keluar begitu saja membenarkan semua tuduhan Bayu.
Maya menutup mulutnya dengan kedua tangan merasa sangat syok dan hampir menangis melihat video tersebut.
"Jahat sekali, kenapa Kak Vanya tega merusak gaunku padahal aku tidak punya salah apa-apa padamu Kak."
"Itu karena dia adalah wanita gila yang selalu iri melihat kesuksesan orang lain Maya," jawab Bayu dengan nada sangat dingin.
Menyadari bahwa dia sudah terpojok dan tidak bisa berbohong lagi, Vanya akhirnya melepaskan kacamata tebalnya dan membuangnya ke lantai.
Vanya mengepalkan tangannya dan menatap Bayu dengan tatapan penuh kebencian dan rasa malu yang luar biasa.
"Iya aku memang Vanya, lalu kau mau apa Bayu?! Kau sengaja mempermainkanku selama ini kan?!"
"Kau sengaja menyuruhku memfotokopi ratusan lembar dan menyiramku pakai air es karena kau tahu itu aku dari awal!" teriak Vanya meledak.
Bayu tersenyum miring melihat mantan pacarnya itu akhirnya menunjukkan sifat aslinya yang sangat meledak-ledak.
"Tentu saja aku sengaja melakukannya Vanya, aku hanya ingin memberimu sedikit pelajaran gratis tentang rasanya menjadi babu yang ditindas."
"Ternyata kau cukup tahan banting juga ya mau bertahan beberapa hari melakukan pekerjaan rendahan di sini."
Kata-kata Bayu yang sangat menusuk itu membuat harga diri Vanya hancur berkeping-keping hingga tidak bersisa.
"Sekarang kau dengar baik-baik Vanya, kau resmi kupecat dengan tidak hormat detik ini juga dari perusahaanku."
"Dan aku akan menuntut ganti rugi lima belas juta untuk gaun yang kau rusak ini ke pihak kepolisian jika kau berani menampakkan wajahmu di sini lagi."
Ancaman hukum dari Bayu sukses membuat keberanian Vanya langsung menciut seketika.
"Dimas, panggil keamanan lobi dan seret wanita penyusup ini keluar dari gedungku sekarang juga."
"Pastikan foto wajah aslinya disebar ke pos satpam depan agar dia tidak bisa masuk lagi selamanya ke area perusahaanku."
Dimas yang sedari tadi menahan kesal karena merasa ditipu saat wawancara langsung mengangguk dengan sangat tegas.
"Siap laksanakan Bos Bayu, dengan senang hati aku akan membuang tumpukan sampah ini keluar dari kantor kita."
Dimas berjalan maju dan langsung menarik lengan Vanya dengan cukup kasar menuju arah pintu keluar.
"Lepaskan aku Dimas, kau tidak berhak menyentuhku!" ronta Vanya sambil berusaha melepaskan pegangan Dimas.
Namun tenaga Dimas sebagai laki-laki jauh lebih kuat sehingga Vanya hanya bisa terseret dengan sangat memalukan.
"Kau akan menyesal Bayu! Aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup bahagia dengan wanita bernama Alya itu!" ancam Vanya dengan teriakan putus asa.
Ancaman Vanya menggema di sepanjang lorong lantai dua saat dia diseret paksa menuju pintu lift.
Bayu hanya membersihkan lubang telinganya dengan jari kelingking merasa sama sekali tidak terancam oleh ucapan murahan tersebut.
"Anjing yang banyak menggonggong memang biasanya tidak pernah bisa menggigit."
Bayu berbalik dan menatap Maya yang masih terlihat sedikit terguncang karena insiden perebutan paksa tadi.
"Maya, jangan biarkan masalah kecil ini merusak suasana hatimu di hari perayaan kita."
"Kau pakai saja gaun cadangan yang berwarna biru laut itu, siaran langsung kita akan tetap berjalan sesuai jadwal siang ini."
Maya mengusap sedikit air mata di sudut matanya lalu tersenyum lebar dan mengangguk penuh semangat.
"Baik Kak Bayu, terima kasih banyak sudah melindungiku dan pekerjaanku hari ini."
Maya maju selangkah dan memeluk Bayu singkat sebagai bentuk rasa syukurnya yang teramat dalam kepada bosnya itu.
Bayu membalas pelukan itu dengan tepukan pelan di punggung Maya seolah sedang menenangkan seorang adik perempuan.
"Ayo semuanya kembali bersiap, kita harus mencetak sejarah baru lagi dalam siaran langsung siang ini."
Dengan hilangnya benalu bernama Vanya dari kantornya, Bayu merasa udara di agensinya kini terasa jauh lebih segar dan menjanjikan.