Indonesia
NovelToon NovelToon
MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CANGGUNG

Meski hatinya masih ragu, Anyara akhirnya menyetujui satu kali sesi konseling bersama Juned—bukan karena ia yakin hubungan itu bisa diperbaiki, melainkan karena ia merasa perlu memastikan sendiri, tanpa penyesalan di kemudian hari, bahwa ia sudah mencoba semua jalan sebelum mengambil keputusan besar.

Ruang praktik psikolog itu kecil, dengan sofa empuk berwarna krem dan meja kaca di tengahnya. Juned duduk gelisah di sebelah Anyara, tangannya sesekali mengetuk-ngetuk lutut, tanda kegugupan yang tidak biasa ia tunjukkan.

"Jadi, ceritakan pada saya, apa yang membawa kalian berdua ke sini?" tanya psikolog itu, seorang wanita paruh baya bernama Bu Elvina, dengan nada suara yang tenang dan profesional.

Juned membuka suara lebih dulu. "Saya... saya melakukan kesalahan besar, Bu. Saya selingkuh, dan istri saya baru tau beberapa minggu lalu."

Bu Elvina mengangguk, menuliskan sesuatu di buku catatannya. "Anyara, bagaimana perasaan Anda mendengar itu, dan bagaimana perasaan Anda sekarang, duduk di sini bersama suami Anda?"

Anyara terdiam sesaat, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Jujur, Bu, saya masih bingung sendiri. Saya datang ke sini bukan karena saya yakin masih mau melanjutkan pernikahan ini. Saya cuma... butuh memastikan, apa memang nggak ada jalan lain lagi."

Juned menoleh cepat, terkejut mendengar kejujuran Anyara yang terasa lebih dingin dari yang ia harapkan. "Ra, kamu masih mikir kayak gitu?"

"Mas, aku nggak bisa bohong soal perasaan aku sendiri. Aku ke sini emang buat coba, tapi bukan berarti aku udah yakin mau lanjut."

Bu Elvina menengahi dengan tenang. "Itu wajar, Anyara. Proses ini memang bukan untuk memaksa Anda memutuskan sesuatu, tapi untuk memberi ruang bagi kalian berdua memahami perasaan masing-masing dengan lebih jelas."

Sesi berlanjut dengan berbagai pertanyaan yang menggali lebih dalam—soal komunikasi yang selama ini terputus, soal kebiasaan Juned yang selalu mengutamakan ibunya, soal perasaan Anyara yang selama ini terpendam tanpa pernah benar-benar didengarkan.

"Juned," Bu Elvina bertanya, "menurut Anda, apa yang membuat Anda mencari kenyamanan di luar rumah, sampai akhirnya terjerumus ke perselingkuhan?"

Juned terdiam lama, tampak berpikir keras. "Saya... saya rasa saya ngerasa nggak dihargai di rumah. Ibu saya selalu banyak nuntut, dan saya juga ngerasa Anyara nggak pernah benar-benar terbuka sama saya."

Anyara tersentak mendengar jawaban itu. "Mas, gimana aku mau terbuka kalau setiap kali aku coba ngomong, Mas selalu buru-buru bilang capek, atau langsung mihak ke Ibu?"

"Aku juga capek, Ra, kerja seharian, pulang malah disambut komplain terus."

"Komplain? Aku minta uang buat baju aja susah, Mas. Sementara Ibu bisa dapet sepatu baru kapan aja Ibu mau!"

Suasana mulai memanas, Bu Elvina segera mengangkat tangan untuk menenangkan. "Baik, mari kita coba lebih tenang. Ini justru poin penting yang perlu kita bahas—soal keadilan dalam rumah tangga, soal bagaimana kebutuhan masing-masing pihak dihargai."

Anyara menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. "Maaf, Bu. Saya cuma ngerasa, selama ini saya selalu jadi pihak yang harus ngalah, sementara kebutuhan Mas Juned dan Ibu selalu jadi prioritas."

Bu Elvina mengangguk, menatap Juned. "Juned, apa Anda menyadari pola ini selama ini?"

Juned terdiam, wajahnya menunjukkan pergulatan batin. "Saya... saya nggak pernah mikirin sejauh itu, Bu. Saya cuma ngerasa, karena saya yang cari nafkah, saya yang berhak nentuin prioritas."

Kalimat itu membuat Anyara semakin yakin dengan apa yang selama ini ia rasakan tapi tidak pernah bisa ia artikulasikan dengan jelas—bahwa dalam pandangan Juned, dirinya memang tidak pernah dianggap setara, hanya sebagai pihak yang harus menerima apa pun keputusan yang dibuat untuknya.

Sesi berakhir setelah satu jam yang terasa melelahkan secara emosional. Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, keduanya diam untuk waktu yang lama.

"Ra," Juned akhirnya bersuara, "aku baru sadar tadi, kayaknya emang aku yang salah banyak. Bukan cuma soal selingkuh, tapi cara aku mandang kamu juga."

Anyara menatap keluar jendela, tidak langsung menjawab. "Sesi tadi emang bikin banyak hal jadi lebih jelas, Mas. Tapi kesadaran itu aja nggak cukup buat aku langsung percaya semuanya bakal berubah."

"Aku tau, Ra. Tapi aku janji, aku bakal coba lebih baik. Mau lanjut sesi berikutnya kan?"

Anyara terdiam sesaat sebelum menjawab. "Aku ikutin dulu prosesnya, Mas. Tapi jangan berharap aku bakal langsung baikan cuma karena beberapa sesi konseling."

Juned mengangguk, meski raut wajahnya masih menyimpan harapan yang belum sepenuhnya pudar.

Malam itu, setelah semua orang tidur, Anyara duduk di teras belakang seperti biasa, mengetik pesan panjang ke Hans, menceritakan detail sesi konseling tadi.

"Jadi gimana perasaan Mbak sekarang, setelah sesi itu?" tanya Hans setelah membaca cerita panjang Anyara.

"Jujur, Pak, saya jadi makin ngerti akar masalahnya. Tapi ngerti aja nggak bikin luka saya otomatis sembuh."

"Wajar banget, Mbak. Memahami masalah dan menyembuhkan luka itu dua hal yang beda, butuh waktu masing-masing."

"Pak Hans kayak lebih paham soal ginian dibanding saya sendiri."

"Saya cuma coba dengerin aja, Mbak. Nggak ada yang spesial."

Anyara tersenyum kecil membaca balasan itu, meski di dalam hatinya, ia tahu betul bahwa perhatian sesederhana itu, konsisten dan tanpa syarat, adalah sesuatu yang selama tiga tahun pernikahannya, tidak pernah benar-benar ia dapatkan dari orang yang seharusnya menjadi tempatnya pulang.

1
Heny
Apa anyana gk punya tlp orang kantor bisa di tanya kan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!