Setelah menyelesaikan masa militernya, Jiang Ming mendapati dirinya terjebak dalam kerasnya realita sebagai pemuda tanpa uang, pekerjaan, maupun koneksi, yang harus memutar otak demi menghidupi adik perempuannya.
Di tengah himpitan utang dan cibiran orang-orang yang meremehkannya, sebuah aplikasi aneh bernama "Toko Dewa Tiga Alam" tiba-tiba terinstal secara paksa di ponsel bututnya.
Aplikasi tersebut menjual berbagai barang supranatural dan keajaiban dari dimensi para dewa, namun ironisnya, semua benda ajaib itu hanya bisa dibeli jika Jiang Ming memiliki uang.
Alih-alih menjadi pahlawan super, Jiang Ming menggunakan kecerdasan dan insting bisnisnya untuk memanfaatkan barang ajaib termurah demi membangun kekayaan dari nol, perlahan memutarbalikkan nasibnya dari seorang pengangguran rendahan menjadi sosok yang mengendalikan kekuatan Tiga Alam di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Langkah kaki Jiang Ming terasa sangat ringan saat memasuki gang kumuh tempat tinggalnya.
Di tangannya ada kantong plastik berisi nasi kotak dengan lauk daging panggang yang porsinya cukup besar.
Ini adalah bentuk perayaan kecil-kecilan untuk merayakan kemenangan pertamanya hari ini dari toko undian.
"Bibi Wang, kau ada di dalam?" panggil Jiang Ming sambil mengetuk pintu rumah induk kontrakan.
Kriet.
Pintu kayu tua itu berderit terbuka dan wajah galak Bibi Wang langsung muncul dari baliknya.
"Ada apa kau siang-siang begini mencariku?" omel wanita paruh baya itu dengan dahi berkerut dalam.
"Kau mau minta perpanjangan waktu lagi untuk sewa kamarmu? Sudah kubilang tidak bisa!" lanjutnya tanpa memberi jeda.
Jiang Ming hanya tersenyum tenang dan merogoh saku jaketnya perlahan.
Dia mengeluarkan lima lembar uang seratus yuan dan menyodorkannya tepat di depan wajah Bibi Wang.
"Ini uang sewa kamarku yang menunggak selama satu setengah bulan, Bibi."
Mata Bibi Wang terbelalak lebar menatap lembaran uang merah yang masih sangat mulus itu.
"K-kau... dari mana kau dapat uang sebanyak ini dalam waktu kurang dari dua belas jam?" tanyanya dengan nada curiga.
"Apa kau baru saja merampok toko emas di depan jalan sana?" tuduh Bibi Wang dengan suara tertahan.
"Aku baru saja mendapat pinjaman gaji awal dari bos perusahaanku bekerja, Bibi," jawab Jiang Ming merangkai kebohongan yang masuk akal.
"Tolong dihitung lagi uangnya, pastikan jumlahnya pas lima ratus yuan dan tidak ada yang palsu."
Bibi Wang merebut uang itu dengan sangat cepat dan menjilat ujung jarinya untuk mulai menghitung lembaran tersebut.
"Hmph, uangnya pas. Kali ini kau selamat, anak muda," dengusnya pelan setelah memastikan jumlahnya benar-benar pas.
"Tapi ingat, bulan depan kau tidak boleh telat bayar lagi seperti orang miskin yang mau kabur!"
"Tentu saja, Bibi Wang. Terima kasih atas pengertiannya hari ini," balas Jiang Ming sambil menunduk sopan lalu berbalik pergi.
"Orang miskin sepertimu memang hanya bisa diatur kalau sudah dibentak," gerutu Bibi Wang menutup pintunya dengan keras.
Brak.
Jiang Ming tidak peduli dengan hinaan itu dan terus berjalan kembali ke kamarnya yang sempit.
Dia meletakkan nasi kotaknya di atas meja dan langsung mengambil ponselnya untuk menelepon seseorang.
Tuut tuut.
Panggilan itu tersambung dengan cepat dalam deringan kedua.
"Halo, Kak Ming! Tumben sekali Kakak meneleponku lagi siang ini," sapa suara ceria Jiang Lin dari seberang sana.
"Xiaolin, coba kau cek rekening bankmu sekarang juga," ucap Jiang Ming dengan nada selembut mungkin.
"Eh? Memangnya ada apa, Kak?"
"Kakak baru saja mentransfer uang tiga ribu yuan untuk biaya sisa semesteran kampusmu bulan ini."
Hening sejenak menyelimuti panggilan telepon tersebut.
"Tiga ribu yuan?! Kakak dapat uang sebanyak itu dari mana secepat ini?!" teriak Jiang Lin panik dan khawatir.
"Kakak tidak melakukan hal yang melanggar hukum, kan? Kakak tidak meminjam dari rentenir, kan?!"
"Tenanglah, Xiaolin. Kakak tidak sebodoh itu untuk meminjam uang pada lintah darat."
Jiang Ming tertawa pelan mendengar kepanikan adiknya yang sangat peduli padanya.
"Kakak sudah bilang kan kalau Kakak ditawari pekerjaan bagus? Bosnya sangat baik dan memberiku bonus di awal kerja."
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu, Kak. Aku sampai merinding memikirkannya tadi." Terdengar hembusan napas lega dari Jiang Lin.
"Gunakan uang itu untuk bayar kuliahmu hari ini juga, dan sisanya pakailah untuk makan yang bergizi."
"Terima kasih banyak, Kak Ming. Aku berjanji akan belajar lebih giat lagi agar bisa membalas kebaikan Kakak nanti."
"Tidak perlu memikirkan balas budi pada keluargamu sendiri. Jaga dirimu baik-baik di asrama ya," pesan Jiang Ming sebelum menutup telepon.
Klik.
Jiang Ming meletakkan ponselnya di atas meja dengan senyum puas yang menghiasi bibirnya.
"Dua beban utama di pundakku akhirnya sudah selesai hari ini," gumamnya sambil menatap layar ponselnya.
Uang dua belas ribu yuan di rekeningnya kini sudah berkurang menjadi delapan ribu lima ratus yuan.
Jumlah ini masih sangat besar untuk standar hidupnya, tetapi ini belum cukup untuk menjadikannya orang kaya sejati.
Dia harus segera memutar sisa uang ini menjadi modal bisnis yang sesungguhnya.
Jiang Ming membuka aplikasi Toko Dewa Tiga Alam dan langsung masuk ke menu pencarian barang.
"Buku Skil Melukis Tingkat Dewa harganya delapan ribu koin emas. Itu berarti delapan ratus ribu yuan."
"Uangku sama sekali tidak akan cukup untuk membeli buku tingkat dewa itu sekarang," pikirnya sambil menggigit bibir bawah.
Dia mulai mengatur filter pencarian di aplikasi itu untuk menampilkan barang dari harga yang paling rendah.
Tring.
Halaman katalog aplikasi itu langsung menyegarkan tampilannya.
Jiang Ming menggulir layar dengan cepat dan akhirnya menemukan apa yang dia cari di Kategori Fana.
[Buku Skil Melukis Tingkat Mahir. Harga: 80 Koin Emas.]
"Delapan puluh koin emas berarti delapan ribu yuan. Ini sangat pas dengan sisa saldo di rekeningku," ucap Jiang Ming gembira.
Dia segera menekan ikon dompet di aplikasi dan memilih menu top-up saldo dari rekening banknya.
[Konfirmasi Top-Up 80 Koin Emas seharga 8.000 Yuan?]
"Konfirmasi," ucap Jiang Ming tanpa ragu sedikit pun.
Ponselnya bergetar pelan dan notifikasi dari bank masuk secara bersamaan, menandakan uangnya telah berhasil ditarik oleh sistem.
[Saldo Saat Ini: 130 Koin Emas.]
Jiang Ming kini memiliki modal yang cukup dan langsung menekan tombol beli pada Buku Skil Melukis Tingkat Mahir tersebut.
[Transaksi Berhasil! 80 Koin Emas telah dipotong. Memulai proses transfer kemampuan secara langsung ke otak pengguna.]
Wush.
Sebuah sinar emas yang sangat terang tiba-tiba melesat keluar dari layar ponsel dan menembus tepat ke tengah dahi Jiang Ming.
"Argh!" Jiang Ming mengerang tertahan dan mencengkeram kepalanya dengan kedua tangan.
Rasa sakit yang luar biasa seolah merobek selaput otaknya dari dalam.
Ribuan gambar, teknik sapuan kuas, teori pencampuran warna, hingga pemahaman tentang proporsi cahaya mengalir deras ke dalam ingatannya.
Tubuhnya gemetar hebat menahan beban informasi yang dipaksakan masuk ke dalam kapasitas otak manusia fana.
Proses itu berlangsung selama satu menit penuh sebelum akhirnya cahaya keemasan itu memudar dari dahinya.
Hah hah hah.
Jiang Ming terengah-engah dengan dada naik turun, keringat dingin membasahi seluruh punggung bajunya.
"Ini... ini sungguh luar biasa," bisiknya sambil menatap kedua telapak tangannya sendiri.
Jari-jarinya terasa sangat ringan dan fleksibel, seolah dia sudah memegang kuas lukis selama puluhan tahun tanpa henti.
Dia telah mendapatkan memori otot dan insting seni dari seorang seniman tingkat tinggi.
Tanpa membuang waktu untuk beristirahat, Jiang Ming langsung meraih jaketnya dan berlari keluar kamar.
Dia harus segera membeli peralatan melukis untuk membuktikan kemampuan barunya ini.
Jiang Ming berjalan cepat menuju sebuah toko alat tulis dan perlengkapan seni kecil yang berada di dekat pasar tradisional.
Kring.
Lonceng pintu toko berbunyi saat Jiang Ming melangkah masuk.
"Selamat datang. Silakan cari sendiri barang yang kau butuhkan," sapa seorang pria tua berkacamata dari balik meja kasir.
Pria itu adalah Paman Sun, pemilik toko yang terkenal sering memberikan harga murah untuk anak sekolahan.
"Paman Sun, aku butuh kanvas ukuran sedang dan satu set cat minyak lengkap dengan kuasnya," ucap Jiang Ming cepat.
"Oh? Kau mau mulai belajar melukis, anak muda?" tanya Paman Sun sambil berdiri dari kursinya.
"Ya begitulah, hanya mencoba hobi baru untuk mengisi waktu luang," jawab Jiang Ming basa-basi.
Paman Sun berjalan ke rak bagian belakang dan membawakan beberapa perlengkapan melukis ke atas meja.
"Ini cat minyak merek lokal yang paling murah tapi kualitas warnanya tidak terlalu buruk."
"Lalu ini kanvas ukuran empat puluh kali enam puluh sentimeter yang rangkanya terbuat dari kayu pinus biasa," jelas Paman Sun sambil menunjuk barang-barangnya.
"Berapa total semuanya, Paman?"
"Untuk pemula sepertimu, aku beri harga spesial saja. Semuanya seratus dua puluh yuan," jawab Paman Sun sambil tersenyum.
Jiang Ming mengeluarkan sisa uang tunainya dan membayar perlengkapan tersebut tanpa menawar lagi.
"Semoga lukisan pertamamu tidak terlalu jelek ya," canda Paman Sun saat menyerahkan kantong belanjaan itu.
"Aku jamin Paman akan menyesal tidak memajang lukisanku di toko ini nanti," balas Jiang Ming tersenyum penuh arti.
Dia segera kembali ke kamar kontrakannya dengan membawa peralatan tempur barunya itu.
Jiang Ming menyingkirkan sisa nasi kotaknya ke ujung meja untuk memberikan ruang kerja yang cukup.
Dia merobek plastik pembungkus kanvas dan meletakkannya dengan posisi miring bersandar pada tumpukan buku usang.
Tutup cat minyak itu dibukanya satu per satu, dan dia mulai memencetnya ke atas palet plastik murahan.
Jiang Ming menutup matanya sejenak, membiarkan insting seni yang baru saja ditanamkan ke dalam otaknya mengambil alih kesadarannya.
"Sebuah pemandangan yang belum pernah dilihat oleh manusia fana manapun di dunia ini," gumamnya dalam hati.
Dia membuka matanya yang kini memancarkan fokus dan ketajaman yang sangat mengerikan.
Srat sret srat.
Tangan kanan Jiang Ming mulai bergerak dengan kecepatan yang sangat tidak masuk akal.
Kuas itu menari-nari di atas kanvas putih, meninggalkan jejak warna yang langsung membentuk pola bermakna dalam hitungan detik.
Dia tidak perlu membuat sketsa pensil terlebih dahulu seperti pelukis pemula pada umumnya.
Warna biru gelap, putih tulang, dan abu-abu dicampurnya dengan sangat presisi di atas palet tanpa harus berpikir dua kali.
Srek srek srek.
Suara gesekan kuas dan kanvas memenuhi ruangan sempit yang sunyi itu.
Tangan Jiang Ming bergerak seperti sebuah mesin pencetak otomatis yang tidak memiliki keraguan sedikit pun.
Dia sedang melukis sebuah puncak gunung tertinggi yang menembus lautan awan tebal di langit.
Namun yang membuatnya luar biasa adalah siluet seekor naga raksasa yang tersamarkan dengan sangat sempurna di balik kabut awan tersebut.
Setiap sisik naga yang tertutup kabut dilukis dengan detail bayangan yang membuatnya seolah benar-benar hidup dan bernapas di dalam kanvas.
Satu jam berlalu tanpa terasa, dan tangan Jiang Ming akhirnya berhenti bergerak perlahan.
Klak.
Dia meletakkan kuasnya yang sudah kotor ke dalam gelas berisi air cucian.
Jiang Ming mundur dua langkah dan menatap hasil karyanya dengan napas terengah-engah.
"Lukisan ini... sungguh gila," bisiknya dengan suara bergetar karena takjub pada perbuatannya sendiri.
Lukisan yang dibuat menggunakan cat minyak murahan seharga puluhan yuan itu kini terlihat seperti mahakarya seni bernilai jutaan yuan.
Kedalaman ruang, permainan cahaya kabut, dan misteri bayangan naga itu memancarkan aura magis yang bisa membuat siapapun merinding melihatnya.
"Aku akan memberinya judul Puncak Tiga Alam," putus Jiang Ming dengan senyum puas.
Namun kepuasan itu hanya bertahan sesaat sebelum pandangannya mendadak menjadi sangat kabur.
Bruk.
Lutut Jiang Ming lemas seketika dan dia jatuh berlutut di atas lantai kayunya yang dingin.
Darah segar kembali menetes deras dari hidungnya, jauh lebih banyak daripada saat dia menggunakan kacamata penembus batas tadi pagi.
"Sistem keamanan tubuhku sepertinya benar-benar dipaksa melampaui batas hari ini," batinnya sambil tertawa sumbang menahan sakit di kepalanya.
Menggunakan kemampuan dari dimensi yang lebih tinggi secara terus-menerus ternyata memakan energi kehidupan dari manusia biasa sepertinya.
Jiang Ming menyeka darah di wajahnya dan memaksakan diri untuk berdiri berpegangan pada tepi meja.
Dia menatap lukisan luar biasa itu dengan tatapan mata yang membara oleh ambisi besar.
"Tidak peduli seberapa besar rasa sakitnya, besok aku akan memastikan lukisan ini terjual dengan harga yang pantas."
Babak baru kehidupannya sebagai penguasa ekonomi bayangan akhirnya resmi dimulai dari kamar kumuh ini.