Indonesia
NovelToon NovelToon
Benih Jenderal Di Rahim Istri Sang Mafia

Benih Jenderal Di Rahim Istri Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Sadhana Abhiseva, seorang Jenderal muda yang mendapat misi atau tugas besar Negara yang sangat berbahaya begitu selesai melaksanakan proses pelantikannya. Hampir 4 tahun lamanya, ia menyamar sebagai salah satu anggota klan mafia tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah menggapai inti klan mafia tersebut.

Hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan yang akan selalu berada di sisi Revaldo Arsenalio, sang pemimpin atau ketua klan mafia Black Gold. Namun, rupanya harga kepercayaan itu begitu mahal untuk ia bayar.

"Untuk menjadi salah satu tanganku. Aku ingin kau melaksanakan sebuah tugas khusus untukku."

"Saya siap."

"Aku ingin kau menghamili istriku."

“….”

Ya, ia diperintahkan untuk menghamili istri sah Reval, Jenara Elendria. Saat itulah, untuk pertama kalinya Dhana ragu untuk melanjutkan misinya atau memilih berhenti.

Akankah Dhana melaksanakan perintah Reval dan menyelesaikan misi Negaranya? Atau mungkin sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Akhir Keputusan

Semua menoleh kearah wakil Kepala Badan Intelijen, Maulana Pradipta yang tengah membuka map yang sejak tadi berada di hadapannya. "Siapa nama wanita itu?"

"Jenara Elendria."

Jari Pradipta yang sedang membalik dokumen mendadak berhenti. "...Elendria?"

Ia mengangkat kepala perlahan. "Kau yakin?"

"Seratus persen."

Ruangan kembali sunyi, ketika Pradipta melepas kacamatanya dan kembali berkata, "Kalau begitu... Itu bukan nama keluarga biasa."

Beberapa orang mulai saling berpandangan, karena belum memahami sepenuhnya dengan ucapannya. Namun, beberapa saat berlalu pria itu masih tetap diam sembari mencari sesuatu di laci meja kerjanya.

Jenderal Bima mengernyit. "Apa maksudmu?"

Pradipta kemudian membuka berkas lama yang tersimpan di dalam map. "Kepala Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan saat ini..."

Ia mendorong satu lembar dokumen ke tengah meja. "...bernama Adrian Elendria."

Tatapan seluruh ruangan langsung jatuh pada dokumen itu. "Jenara Elendria... adalah putri kandungnya.

Keheningan berubah menjadi keterkejutan baru. "Itu berarti..."

"Ya." Pradipta menyandarkan tubuhnya.

"Reval bukan sekadar pemimpin Black Gold. Ia adalah menantu orang paling berpengaruh dalam struktur pertahanan negara."

Tak seorang pun menyela, hingga Pradipta melanjutkan dengan nada jauh lebih berat.

"Selama bertahun-tahun kita selalu bertanya mengapa bisnis Reval tidak pernah tersentuh hukum."

"Mengapa aparat selalu terlambat."

"Mengapa penyelidikan bocor."

"Mengapa operasi kita berkali-kali gagal."

Ia menatap satu per satu wajah para petinggi. "Sekarang jawabannya mulai terlihat."

Ruangan terasa semakin dingin. Jenderal Bima perlahan kembali duduk. "Kalau hubungan itu benar..."

"...berarti Black Gold tidak hanya membeli pejabat."

"Mereka sudah menjadi keluarga dari lingkaran kekuasaan."

Tak ada yang membantah. Seluruh kepingan teka-teki selama bertahun-tahun perlahan mulai tersusun. Reval menguasai pelabuhan, Perbankan, Tambang, Distribusi pangan, Perusahaan keamanan, Media dan kini... Ia ternyata terhubung langsung dengan keluarga pejabat tertinggi negara.

"Kalau Dhana berhasil menembus inti keluarga itu..." Pradipta menatap meja dengan sorot mata tajam. "...maka kita akan memperoleh bukti yang selama ini tidak pernah bisa disentuh siapa pun."

Suasana kembali hening. Namun kali ini... keheningan itu bukan lagi dipenuhi kemarahan melainkan pertimbangan. Pertaruhan dan konsekuensi. Beberapa menit berlalu tanpa suara.

Hingga akhirnya Jenderal Bima berbicara pelan.

"Kalau kita menarik Dhana sekarang... semua yang ia bangun selama bertahun-tahun akan runtuh."

“Dhana sudah berada sangat dekat dengan misi utamanya saat ini. Jika kita memintanya untuk mundur sekarang… maka usaha dan penyamarannya selama empat tahun ini akan sia-sia.” Herlangga akhirnya kembali membuka suara dan tak ada yang menyanggah ucapannya.

"Reval akan curiga."

"Black Gold akan menghilang."

"Dan hubungan mereka dengan keluarga Elendria akan kembali tertutup."

Ia memejamkan mata beberapa detik. Lalu mengembuskan napas panjang. "Operasi tetap berjalan."

Jenderal Bima langsung menoleh. "Kau serius?"

"Saya tidak menyukai rencana ini, apalagi ini mengenai kehormatan seorang wanita." Lanjutnya.

"Tak seorang pun di ruangan ini menyukainya. Tetapi kita sedang berdiri di depan pintu yang selama ini tidak pernah berhasil kita buka." Kata Herlangga.

Suara Pradipta ikut menyambung. "Dhana tetap mempertahankan penyamarannya. Jangan melakukan tindakan yang memancing kecurigaan. Apabila keadaan benar-benar memaksanya..." Ia berhenti sesaat sebelum mengucapkan kalimat berikutnya. "...ia diberi kewenangan mengambil keputusan terbaik demi menjaga misi tetap hidup."

Tak ada seorang pun yang salah paham mengenai makna kalimat itu. Ruangan kembali sunyi. Keputusan tersebut terasa begitu berat hingga bahkan tak seorang pun tampak puas mengucapkannya.

“Kalian semua keluar! Kami akan membahas hal ini secara menyeluruh, sekaligus meminta pendapat dan keputusan akhir darinya.” Perintah Herlangga kepada anak buah kepercayaannya yang berada di sana, termasuk Zeno.

Sementara orang yang dimaksud Herlangga, tidak lain adalah Kepala Negara saat ini yang memberikan tugas ini secara langsung dan rahasia kepada mereka, yaitu Presiden.

Tak ada yang berani membantah, Zeno dan lainnya akhirnya keluar dari ruangan rapat dan hanya bisa menunggu keputusan itu dengan gelisah. Entah sudah berapa jam telah berlalu, bahkan waktu sudah menunjukkan dini hari tetapi Jenderal Bima, Herlangga dan Pradipta masih berada belum memberikan keputusan apapun.

Hingga akhirnya, tepat pukul satu dini hari mereka keluar dengan membawa sebuah map. Herlangga segera menghampiri Zeno dan menyerahkan map tersebut sembari berkata, “Berikan ini kepada Dhana. Inilah jawaban atas kebimbangan hatinya.”

Zeno segera mengangguk dan menerima map tersebut. Ia menggenggam map di tangannya lebih erat. Ia tahu, di tempat yang jauh dari markas ini, Dhana belum menyadari bahwa nasib penyamarannya baru saja diputuskan.

Dan bahwa misi yang semula hanya bertujuan membongkar jaringan mafia... Kini telah menyeretnya ke pusaran konflik yang menyentuh batas antara kewajiban sebagai prajurit, kehormatan pribadi, dan permainan kekuasaan tingkat tertinggi.

...****************...

Fajar baru saja menyentuh ujung-ujung atap kota ketika Dhana memarkir mobilnya di depan sebuah rumah makan sederhana yang mulai dipenuhi aroma kuah kaldu dan kopi hitam. Tempat itu tampak biasa. Tak ada yang akan menyangka bahwa sebagian laporan intelijen paling rahasia di negara ini pernah berpindah tangan di antara piring-piring hangat dan cangkir teh.

Bel berbunyi pelan saat Dhana melangkah masuk. Di balik meja kasir, Zeno tengah menyusun gelas-gelas bersih. Begitu melihat Dhana, ia hanya memberi isyarat singkat ke arah pintu belakang.

Tanpa sepatah kata, keduanya berjalan menuju gudang penyimpanan. Ruangan sempit itu dipenuhi karung beras, bumbu dapur, dan rak-rak kayu tua. Zeno memastikan pintu telah terkunci sebelum mengeluarkan sebuah map cokelat dari balik jaketnya.

"Jawaban dari markas." Suara Zeno terdengar lebih pelan dari biasanya. "Mereka rapat sampai lewat tengah malam."

Dhana menerima map itu. Entah mengapa, telapak tangannya terasa dingin. Ia membuka segel pengaman. Lembar pertama hanya berisi ringkasan laporan yang semalam dikirim Zeno.

Lembar kedua berisi keputusan, dimana nasib dan masa depannya dipertaruhkan di sana.

Matanya bergerak cepat membaca setiap kalimat. Lalu berhenti… seolah seluruh dunia ikut membeku.

...Keputusan Komando Operasi Khusus....

...Agen Sadhana Abhiseva diwajibkan mempertahankan penyamaran hingga misi utama dinyatakan selesai....

...Segala tindakan yang diperlukan untuk menjaga identitas penyamaran tetap aman diberikan otorisasi penuh berdasarkan penilaian situasional agen di lapangan....

...Prioritas utama operasi tetap pengungkapan jaringan Black Gold beserta keterkaitannya dengan unsur pemerintahan tingkat tinggi....

Tak ada lagi kalimat yang perlu dibaca. Jari Dhana perlahan terlepas dari kertas. Map itu hampir jatuh dari tangannya, jika Zeno tidak cepat menangkapnya. Tanpa berkata ataupun bertanya lagi, Zeno bisa memahami perasaan Dhana saat ini.

"Jadi..." Suara Dhana terdengar nyaris seperti bisikan. "...mereka benar-benar memilih melanjutkan misi."

Zeno tidak menjawab, karena memang tidak ada jawaban yang dapat membuat keputusan itu terasa lebih ringan. Beberapa detik berlalu, Dhana masih menatap kosong ke arah dokumen di tangannya.

Bersambung….

1
Fahmi Ardiansyah
Dhana pasti akan bertanggung jawab atas ke hamilannya jenara
Fahmi Ardiansyah
iya mudahmudahan Dhana selalu di sisi Reval agar bisa menjalankan tugas selanjutnya
InaraAp 09
Lanjut Thor semakin seru ceritanya
InaraAp 09
bagus dhana
InaraAp 09
hati2 dhana, jangan sampai kebongkat
InaraAp 09
lanjut thor
InaraAp 09
jujur pengin nampol Elena dan anaknya
InaraAp 09
gak bisa bayangkan di posisi jenara
InaraAp 09
benar dhana harus tepati janjimu
InaraAp 09
Jadi dhana pasti serba bingung🤔
Sri Yatun
apa sudah tau ke 4 orang itu tentang penyamaran dhana
Fahmi Ardiansyah
iya mungkin jenara gak ada yang bisa di katakan LG.krn dhanagak mau bekerja sama dgn dirinya.
Fahmi Ardiansyah
semoga Reval gak berbuat curang sama dhana.
Fahmi Ardiansyah
setelah tau markasnya kmu harus menyusun rencana sebaik mungkin dhana.biar Reval hancur sampai akarnya.
InaraAp 09
besok up yang banyak kak
InaraAp 09
pantas saja
InaraAp 09
semakin penasaran
InaraAp 09
semakin seru....
InaraAp 09
🤔
InaraAp 09
berharap beneran padahal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!