Anjani Pitaloka Notokoesoemo terbiasa hidup serba kecukupan, apapun yang ia inginkan pasti mampu ia dapatkan, termasuk jabatan yang sekarang ia pakai.
Anjani adalah perempuan yang berpengaruh di dunia bisnis. Dia mempunyai kekuasaan, gelar dan harta melimpah.
Tidak hanya itu, Anjani juga mempunyai suami seorang CEO di perusahaan ternama. Siapapun pasti tergiur dengan kehidupan pribadinya, tentu juga menilai bahwa dia adalah perempuan yang kehidupannya sangat sempurna.
Namun, setelah lima tahun pernikahan, Anjani mengetahui Syahrul Bhaskara telah berselingkuh dengan seorang sekretaris bernama Yeshika Larasati.
Hidup Anjani seperti berhenti, dan otaknya berpikir, ternyata selama ini ia tidak pernah mendapatkan cinta dari suaminya?
Semalaman menangis, akhirnya ia memutuskan untuk diam. Alih-alih mengemis cintanya lagi, ia membiarkan mereka bermain, dan ia menyelidiki seberapa jauh mereka berselingkuh untuk ia jadikan objek balas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lullabyyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesunyian Malam Itu
Anjani berhasil sampai ke tempat tidur dengan susah payah. Setelah pintu berhasil ia tutup, tubuhnya langsung merosot jatuh ke lantai. Ia terduduk mengenaskan, ia tarik kainya ke dada dan meringkuk sambil menangis histeris Tangannya saling mencengangkan, terkadang mencakar kakinya yang tidak bersalah, bahkan rambutnya ia tarik sembarangan tanpa peduli rasa sakit yang menjalar.
Untuk pertama kalinya Anjani telah kehilangan semua kendali atas tumpuan hidupnya. Ternyata hari sial itu ada. Ternyata perselingkuhan itu nyata walau kamu seorang konglomerat
Dulu waktu mereka dijodohkan, mereka tidak saling kenal, tetapi pelan-pelan waktu membuat mereka saling jatuh cinta. Ia pikir janji suci itu sihir yang mengikat dua insan supaya tidak berselingkuh, ternyata salah, itu hanya Kata-kata untuk menenangkan pikiran pasangannya bahwa semua akan baik-baik saja.
Padahal mereka sedekat itu, tetapi Anjani baru menyadari kedekatan mereka perlahan memudar setelah menikah karena kesibukan masing-masing dalam mengejar karir. Apa karena ini?
Apa karena pekerjaan ia jadi korban perselingkuhan?
Anjani nyaris tak bisa bernapas karena terlalu lama menangis, tubuhnya langsung menimpa pintu di belakangnya dan sebagian lengser ke atas marmer. Tubuhnya tak sanggup menahan bentuk penderitaan karena cinta ini.
"Nyonya!!" Sementara itu Dyah yang sejak tadi berada di depan pintu kamar Anjani langsung menjerit ketika mendengar suara dentuman keras dari balik pintu, bahkan pintunya terlihat bergetar, ia sangat khawatir dengan kondisi Nyonyanya.
Anjani terdiam. Berusaha mengambil napas, meluruskan pikirannya satu persatu, lalu menghembuskan napas sekuat tenaga. Pandangannya hanya tertuju pada ujung kakinya yang memucat, ia sangat menyedihkan. Sakit hatinya bahkan mampu membuatnya berubah seperti ini.
"Nyonya!"
Suara Dyah terdengar, kali ini disertai gedoran pintu, dari suaranya dia terdengar sangat khawatir dengan Anjani.
Namun, Anjani tidak mampu membalas, ia hanya mendongak menatap gagang pintu dengan nanar. Kalau ia keluar mungkin Dyah akan berpikir bahwa perempuan yang selalu dia rawat dulunya sangat tegar, sekarang telah jatuh dengan kondisi paling mengerikan.
Anjani tidak ingin Dyah semakin khawatir. Usia pelayannya tidak lagi muda, kurang lima tahun lagi usianya genap enam puluh tahun, jadi mengurangi beban pikiran pelayannya adalah hal penting.
Untuk Anjani sendiri, ini adalah pengalaman pertamanya merasakan sakit sedemikian rupa, ia bahkan tidak bisa mendeskripsikan bagaimana hancurnya perasaannya.
Pertama kali jatuh cinta, pertama kali berumah tangga, pertama kali juga diselingkuhi. Anjani meringis kesakitan tatkala kuku jarinya yang panjang menusuk ke kulit tangan bagian atasnya.
"Aku baik-baik saja, Bi," kata Anjani, tetapi suaranya sagat parau, entah terdengar dari luar atau tidak.
Dyah yang hendak mengetuk pintu lagi langsung terdiam. Tangan kanannya mengambang di depan pintu begitu saja. Mendengar suara Anjani yang begitu kacau, ia langsung merasa sedih.
"Selama ini, Nyonya hampir tidak pernah terlihat seperti ini," batin Dyah. Kepalanya menunduk. Ia pelan-pelan memundurkan langkah, lalu berkata, "Nyonya kalau butuh apa-apa panggil Bibi, ya?"
Dyah menatap pintu dengan penuh harap, tetapi Anjani tidak membalas. Akhirnya ia memutuskan untuk berdiri tegak di samping pintu, punggungnya menempel pada dinding, ia akan menunggu Anjani di sini sampai dia keluar.
Ruang kamar ini sangat besar, cukup untuk dihuni oleh dua orang dewasa, tetapi nunsanya sangat sepi.
Kasur itu kosong. AC menyala. Lampu gantung berlian itu memancarkan cahaya pudar. Perlahan kesepian itu masuk menggerogoti jiwa Anjani, ia mulai sadar bahwa selama ini kamar mereka memang kosong, bukan karena kesibukan melainkan ia yang tidak diinginkan.
"Sejak kapan semua terjadi? Kapan kamu memulainya?" gumam Anjani dengan suara amat pelan. Kepalanya terangkan, menatap tempat tidur dengan nanar.
Ting!
Ting!
Ting!
"Syahrul?" Anjani segera meraih tas di sampingnya. Suara notifikasi itu mungkin saja dari suaminya.
Anjani masih duduk di atas lantai ketika ia mulai membaca pesan dari orang yang tidak kenal. Perlahan raut wajahnya berubah. Cahaya ponsel yang menerangi wajahnya seolah menyakitinya hingga air matanya jatuh ke lantai.
"Siapa?"