Gilang cuma tukang galon biasa bangun sebelum subuh, dorong gerobak dari gang ke gang, dan pulang dengan tubuh remuk demi biayai kuliah malam dan ibunya yang sakit-sakitan. Sampai suatu pagi, sebuah alamat baru di komplek elite membawanya ke depan pagar tinggi milik Anindita Prameswari pewaris tunggal bisnis keluarga yang hidup dikelilingi kemewahan, namun sepi dari kehangatan yang sesungguhnya ia rindukan. Dari transaksi jual beli galon yang sederhana, tumbuh sesuatu yang tak pernah mereka duga: percakapan singkat di depan pagar, yang perlahan berubah jadi alasan bagi keduanya untuk menunggu hari berikutnya tiba. Tapi cinta yang lahir dari dua dunia yang begitu berbeda ini harus membayar harga yang mahal. Seorang paman licik dengan rahasia gelap, fitnah yang mengancam merenggut kebebasan Gilang, hingga pengkhianatan dari orang yang paling dipercaya keluarga Prameswari semua bersatu untuk memisahkan mereka selamanya. Akankah ketulusan seorang tukang galon cukup kuat melawan kekuasaan dan kelicikan yang mengintai dari dalam rumah mewah itu sendiri? Cinta Segalon adalah kisah tentang cinta yang menolak tunduk pada status sosial dan keberanian untuk memperjuangkannya, sekalipun dunia terus berusaha memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita diteras
Dua minggu setelah percakapan singkat mereka yang mulai jadi kebiasaan tersebut, hujan turun cukup deras suatu sore, tepat waktu Gilang sedang dalam perjalanan mengantar galon terakhir untuk hari itu ke rumah keluarga Prameswari. Karena derasnya hujan tersebut, Nindi menawarkan dia untuk berteduh sejenak di bawah kanopi teras sebelum melanjutkan perjalanan.
"Duduk aja dulu, Mas. Kasian kalau langsung jalan lagi, ntar kehujanan," ujar Nindi, menunjuk ke arah kursi rotan yang biasa dia pakai untuk bersantai di teras tersebut.
Gilang sedikit ragu, merasa tidak enak merepotkan pelanggannya tersebut, namun akhirnya menerima tawaran itu mengingat hujan yang turun memang cukup deras untuk dilewati begitu saja. "Makasih, Mbak. Maaf jadi ngerepotin."
"Nggak kok, santai aja," jawab Nindi sambil duduk di kursi seberangnya, memerintahkan Bi Inah untuk membawakan dua gelas teh hangat.
Mereka duduk berdua di bawah kanopi tersebut, mendengarkan suara hujan yang turun deras menghantam atap seng di halaman samping, sebuah suasana yang menciptakan keintiman tersendiri di antara mereka berdua. "Mas Gilang, boleh tanya sesuatu nggak?" tanya Nindi memecah keheningan.
"Boleh, Mbak. Tanya apa?" jawab Gilang sambil menerima gelas teh yang disodorkan Bi Inah.
"Kamu nggak pernah ngerasa iri gitu, liat orang-orang yang hidupnya lebih enak? Kayak, kenapa harus aku yang harus kerja keras kayak gini, sementara ada orang lain yang tinggal terima aja," tanya Nindi, penasaran ingin mengetahui perspektif pemuda tersebut mengenai kesenjangan yang begitu nyata di antara mereka.
Gilang terdiam sejenak, mempertimbangkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan yang cukup dalam tersebut. "Jujur aja, Mbak, dulu waktu masih remaja, saya sempat iri banget. Kenapa saya harus kehilangan Bapak waktu masih kecil, kenapa Ibu saya harus kerja keras banting tulang, sementara ada teman-teman saya yang hidupnya serba kecukupan tanpa perlu berusaha sekeras itu."
"Terus, gimana kamu bisa nerima keadaan itu?" tanya Nindi lagi, semakin tertarik dengan cerita tersebut.
"Lama-lama saya sadar, Mbak, kalau terus-terusan iri itu cuma bikin capek sendiri. Yang saya bisa kontrol cuma usaha saya sendiri, bukan keadaan orang lain. Jadi ya saya fokus aja sama apa yang bisa saya lakuin buat perbaiki hidup saya dan Ibu," jawab Gilang dengan nada yang tenang, sebuah kebijaksanaan yang terdengar begitu matang untuk usia pemuda tersebut.
Jawaban tersebut membuat Nindi terdiam cukup lama, merenungi betapa berbedanya cara pandang Gilang dibandingkan dirinya sendiri, yang meski dikelilingi kemewahan, justru sering merasa terjebak dalam ketidakpuasan yang tidak jelas asalnya. "Aku tuh kadang ngerasa aneh, Mas. Orang-orang pasti mikir hidup aku enak banget, tapi kenyataannya aku ngerasa kesepian terus. Ayah sibuk kerja, Ibu udah meninggal dari SMP, temen-temen kebanyakan deket karena kepentingan doang."
Pengakuan tersebut mengejutkan Gilang, tidak menyangka gadis yang selama ini dia kira memiliki segalanya, ternyata menyimpan kekosongan yang cukup dalam dalam hidupnya. "Turut prihatin ya, Mbak, soal Ibunya. Pasti berat banget kehilangan orang tua di usia semuda itu."
"Iya, berat banget. Tapi makasih ya udah mau dengerin," ujar Nindi dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, merasa lega bisa berbagi perasaan tersebut dengan seseorang yang terasa begitu tulus mendengarkan, tanpa menghakimi atau berusaha mencari keuntungan dari cerita tersebut.
"Sama-sama, Mbak. Kadang emang enak juga ada yang mau dengerin cerita kita, apapun latar belakangnya," jawab Gilang dengan senyum tulus, merasakan kedekatan yang mulai terjalin di antara mereka berdua, sebuah kedekatan yang lahir bukan dari kesamaan status sosial, melainkan dari kejujuran dan empati yang saling mereka tunjukkan satu sama lain.
Hujan yang perlahan mulai mereda menjadi pertanda bagi Gilang untuk melanjutkan perjalanannya, namun sebelum pergi, dia sempat berkata sesuatu yang membuat Nindi tersenyum sepanjang sore itu. "Mbak Nindi, kalau butuh temen ngobrol lagi, jangan sungkan buat cerita ya. Meski saya cuma tukang galon, saya seneng kok bisa jadi pendengar yang baik."
Kata-kata sederhana tersebut, bagi Nindi, terasa jauh lebih berharga dibandingkan seluruh pujian kosong yang biasa dia terima dari orang-orang di lingkaran sosialnya, sebuah tanda bahwa kedekatan mereka mulai tumbuh menjadi sesuatu yang lebih bermakna dari sekadar hubungan pelanggan dan penjual galon air minum.
Setelah kepergian Gilang, Nindi masih duduk di teras tersebut, menyaksikan sisa-sisa hujan yang menetes dari atap kanopi, pikirannya dipenuhi oleh percakapan mendalam yang baru saja terjadi. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia merasa benar-benar didengarkan tanpa embel-embel kepentingan tertentu, sebuah pengalaman yang begitu langka di tengah kehidupannya yang serba dikelilingi orang-orang berkepentingan.
Dia mengambil ponselnya, hendak mengirim pesan ke Karin untuk menceritakan momen tersebut, namun akhirnya mengurungkan niatnya, memilih untuk menyimpan kehangatan itu sebagai sesuatu yang benar-benar miliknya sendiri, setidaknya untuk sementara waktu.
Malam harinya, sebelum tidur, Nindi menuliskan sesuatu di buku catatan kecil yang jarang dia sentuh sejak kepergian ibunya. "Hari ini aku ngobrol sama seseorang yang bikin aku ngerasa, mungkin kebahagiaan itu emang nggak ada hubungannya sama seberapa banyak yang kita punya, tapi seberapa jujur kita sama diri sendiri dan orang lain." Sebuah kalimat sederhana yang menandai betapa dalamnya pengaruh yang mulai ditinggalkan sosok Gilang dalam kehidupan Nindi yang selama ini terasa begitu hampa.