Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.
Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.
Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Nyala Api Di Horizon
Lampu kristal megah yang menggantung di langit-langit Restoran Horizon memantulkan kilau keemasan ke atas meja kayu mahoni yang tertata rapi.
Terletak di lantai paling atas gedung pencakar langit kota, restoran tersebut menawarkan pemandangan panorama malam yang berkilau, seolah-olah seluruh lampu kota dibentangkan khusus untuk pengunjung di sana.
Mia duduk di salah satu sudut paling privat, jemarinya meremas pelan gaun kain crepe berwarna biru gelap yang ia kenakan.
Gaun itu sederhana, tanpa ornamen berlebih, namun potongan yang pas di tubuhnya memberikan kesan anggun yang alami.
Di hadapannya, Liam Vance duduk dengan santai, menyesap wine merahnya dengan gerakan yang sangat berkelas.
“Saya sangat senang Anda memutuskan untuk datang, Mia,” suara Liam terdengar hangat namun tetap menyimpan dominasi yang terselubung.
“Saya hadir di sini sebagai perwakilan dari toko perhiasan untuk mendiskusikan proyek privat yang Anda sebutkan di pesan, Tuan Vance,” jawab Mia dengan nada profesional, berusaha memasang benteng pertahanan.
Liam terkekeh pelan. Senyumnya tidak lagi dingin seperti saat berada di lokasi syuting, melainkan memancarkan daya pikat yang halus.
“Anda selalu tegas memisahkan urusan bisnis dan pribadi. Sifat yang sangat saya kagumi.” Liam meletakkan gelasnya, lalu menatap Mia tepat di manik matanya.
“Tapi malam ini, proyek privat itu hanyalah alasan kecil. Saya ingin mengenal wanita di balik ketelitian perhiasan megah itu lebih jauh,” imbuh Liam.
Mia tertegun. Kalimat Liam tidak berbelit-belit, menunjukkan transparansi yang jarang ia temui pada pria-pria di lingkaran elite.
Di saat yang sama, memori tentang mawar putih dari Ethan mendadak terlintas di pikirannya. Sebuah bayang-bayang masa lalu yang berusaha memanggilnya kembali ke jalur yang lama.
Sementara itu, di sudut lain kota, suasana lokasi syuting luar ruangan terasa kian menegang. Pengambilan gambar malam untuk adegan aksi dan konfrontasi sedang berlangsung di bawah guyuran hujan buatan.
Ethan berdiri di bawah siraman air dingin yang menyengat kulitnya. Meski adegan berjalan lancar, pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Percakapannya dengan Sarah Parker tadi sore terus berputar bagai kaset rusak di kepalanya.
“Wanita yang sederhana, mandiri, dan tidak banyak menuntut…”
Kata-kata itu terikat kuat dengan fakta bahwa Liam Vance membawa kotak perhiasan mewah dari toko tempat Mia bekerja. Sebuah firasat buruk yang menggebu-gebu mulai merayapi dada Ethan.
“Cut! Retake dari angle samping!” teriak Sutradara Aries.
Ethan berjalan menuju area teduh saat asistennya menyodorkan handuk. Ia langsung menyambar ponselnya yang tergeletak di meja rias. Layar ponsel menunjukkan tidak ada balasan atau tanggapan dari Mia atas buket mawar dan surat yang dikirimkannya tadi pagi.
Dengan jemari kaku akibat dingin dan gejolak emosi, Ethan mengetik sebuah pesan pendek:
Mia, tolong jawab teleponku. Aku butuh bicara sebentar saja malam ini. Aku ada di depan toko jika kamu sudah selesai bekerja.
Pesan itu terkirim, namun statusnya tetap centang satu.
Ethan menggegam ponselnya erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih. Untuk pertama kali dalam hidupnya, kekuasaan, popularitas, dan pujian atas aktingnya terasa sama sekali tidak berguna.
Kembali ke Restoran Horizon, hidangan utama baru saja disajikan ketika ponsel Mia di atas meja menyala tanpa suara. Nama 'Ethan' berkedip di layar, membawa riak kegelisahan yang langsung ditangkap oleh Liam.
Liam menyendok hidangannya tanpa mengalihkan pandangan dari Mia. “Jika itu panggilan penting, Anda bisa mengangkatnya.”
Mia menatap layar ponsel itu sejenak, merasakan tarikan kuat antara rasa sakit masa lalu dan kenyamanan semu yang ditawarkan masa kini. Perlahan, ia membalikkan layar ponselnya menghadap ke bawah, memutuskan untuk mengabaikannya.
“Tidak penting, Tuan Vance. Mari kita lanjutkan pembicaraan kita,” ujar Mia tenang, meski ada getaran tipis dalam suaranya.
Liam mengulas senyum puas. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, meletakkan sebuah kotak beludru hitam kecil di dekat cangkir Mia.
“Proyek privat ini bukan sekadar perhiasan biasa, Mia. Ini adalah rancangan awal untuk koleksi eksklusif Vance Group, dan saya ingin Anda yang menjadi konsultan utamanya,” terang Liam dengan nada serius.
“Saya menawarkan Anda panggung yang lebih besar, jauh dari toko kecil itu. Jauh dari orang-orang yang tidak bisa menghargai nilai Anda.”
Mia menatap kotak beludru itu, lalu beralih menatap Liam. Tawaran itu bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah pintu menuju kehidupan baru di mana ia tidak lagi menjadi bayang-bayang siapa pun.
Namun, di balik tawaran emas tersebut, Mia tahu bahwa Liam Vance bukan pria yang memberi tanpa meminta imbalan.
Ponsel Mia kembali bergetar di atas meja. Kali ini, sebuah notifikasi pesan masuk dari Ivy memecah konsentrasinya:
Mia, kamu di mana? Ethan ada di depan toko. Dia basah kuyup kena hujan dan menunggumu di luar. Dia kelihatan kacau.
Dada Mia terasa sesak seketika. Dua pria dari dua dunia yang berbeda kini berdiri di batas kehidupannya. Yang satu menawarkan masa depan di atas kemewahan Restoran Horizon, sementara yang lain berdiri di bawah derasnya hujan memohon kesempatan dari masa lalu.
Ia mengalihkan pandangan dari layar ponselnya, membiarkan pesan dari Ivy berlalu begitu saja tanpa balasan.
Ia memutar kembali ponselnya menghadap ke bawah, memilih untuk mengunci pintu masa lalu yang berusaha mengetuknya di bawah guyuran hujan.
Liam mengamati setiap perubahan kecil pada ekspresi Mia dengan cermat, seolah sedang membaca setiap helai emosi yang berjelaga di wajah wanita itu.
Mia menghela napas pelan, lalu menarik tangannya dari atas meja dan meletakkannya dengan rapi di pangkuan. Ia menatap Liam dengan binar mata yang jernih namun penuh kehati-hatian.
“Tuan Vance, saya sangat menghargai kepercayaan dan penawaran yang begitu luar biasa ini,” tutur Mia dengan suara yang teratur, menjaga nada bicaranya tetap formal. “Namun, proposal sebesar ini terasa terlalu mendadak bagi saya.”
Liam mengangkat satu alisnya tipis, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sembari menyilangkan tangan.
“Mendadak? Saya kira Anda adalah tipe wanita yang selalu siap menangkap peluang emas.”
“Saya hanya seorang karyawan biasa di toko perhiasan itu, Tuan Vance,” jawab Mia jujur, membiarkan sedikit kepasrahan yang realistis mewarnai kata-katanya.
“Pengalaman saya terbatas pada pelayanan dan penilaian standar. Mengoperasikan koleksi eksklusif untuk Vance Group adalah pertaruhan besar. Saya sungguh takut keterbatasan saya justru akan mengecewakan Anda dan merusak proyek penting ini,” imbuhnya.
Ia sengaja menekankan statusnya untuk menguji sejauh mana niat Liam yang sebenarnya. Mia butuh waktu, bukan hanya untuk menimbang kariernya, tetapi juga untuk merapikan kekacauan perasaan yang dipicu oleh pesan Ivy.
Liam memiringkan kepalanya sedikit, lalu terkekeh halus. Rasa percaya diri terpancar jelas dari garis wajahnya.
“Mengecewakan saya?” Liam menggeleng pelan, lalu menunjuk kotak beludru hitam di meja.
“Saya tidak pernah salah menilai potensi seseorang, Mia. Tapi jika Anda membutuhkan waktu untuk meyakinkan diri Anda sendiri, saya akan memberikannya. Saya tahu menatap masa depan yang jauh lebih besar terkadang membutuhkan keberanian ekstra.”
“Terima kasih atas pengertian Anda, Tuan Vance,” ujar Mia lega, meski hatinya tahu bahwa batas waktu yang diberikan Liam hanyalah jeda sebelum keputusan besar benar-benar menagihnya.
–tbc–