Ia dijodohkan dengan anak orang kaya di kampungnya. Pria lumpuh dengan latar belakang yang tak enak di dengar. Anak tunggal dari orang terkaya di kampung itu. Cap play boy yang suka mempermainkan wanita melekat sangat kuat di nama si cowok.
Namun, Aulia tetap menerima pernikahan itu karena hutang ayahnya yang besar. Iya. Singkatnya, pernikahan itu karena hutang keluarga yang besar, yang tidak bisa ayahnya kembalikan.
Namun, siapa sangka kalau hidup akan berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode *3
"Tidak. Tidak ada yang tahu selain orang-orang yang paling dekat dengan aku. Karena aku tidak ingin mereka mencemooh aku saat mereka tahu kalau aku gagal melakukan apa yang sedang aku kerjakan. Karena ... aku punya nama yang sangat buruk di mata banyak orang."
Ucapan itu membuat Lia merasa bersalah dan kasihan. Tapi, dia tidak tahu bagaimana cara menghibur pria asing yang dengan tiba-tiba saja bisa menjadi suaminya.
"Ah, sudahlah, Lia. Jangan pikirkan apa yang aku katakan barusan. Intinya, aku akan kembali ke kota dalam waktu dekat. Apa kamu bersedia ikut? Jika kamu keberatan, aku juga sebenarnya tidak ingin memaksa. Tapi ... aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kamu tidak ikut aku kembali."
"Aku akan ikut. Kamu tenang saja, Kak Zihan. Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Karena itu, jangan cemas."
"Hm ... baiklah. Terima kasih, Lia. Oh iya, terima kasih juga sudah mau membantu aku. Sebelumnya, setiap aku ingin beranjak dari kursi rodaku, ada Mang Mamat yang akan membantu. Tapi malam ini, dia tidak lagi membantu aku turun dari kursi roda. Dia hanya mengantarkan aku sampai depan pintu kamar saja. Mungkin, dia pikir sudah ada orang lain yang menggantikan tugasnya buat membantu aku. Karena itu, terima kasih banyak."
"Tidak perlu berterima kasih, Kak Zihan. Karena aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan saja kok. Lagian, kamu juga sedang butuh bantuan tadi, bukan? Jahat banget dong aku kalau hanya diam dan melihat kamu yang sedang kesusahan."
Entah apa yang Lia pikirkan saat ini. Ia begitu lancar mengatakan begitu banyak kata di depan Zihan. Karena beberapa saat yang lalu, ia terkesan masih sangat canggung ada di sekitar pria asing yang bergelar suaminya ini.
"Mm ... jika tidak ada yang mau Kakak bicarakan lagi, aku bisa istirahat sekarang?"
"Oh, iya. Silahkan. Istirahat saja. Karena kebetulan, aku juga mau istirahat karena cukup lelah dan mengantuk."
"Oh, iyalah."
Selesai berucap, Lia langsung bangun dari duduknya. Ia berniat untuk tidur di sofa malam ini. Karena, sangat tidak mungkin bagi Lia untuk tidur satu ranjang dengan Zihan meskipun mereka sudah halal untuk bersama.
Sementara itu, Zihan yang melihat Lia semakin menjauh dari ranjang merasa heran. Awalnya, ia berpikir kalau Lia mungkin ingin melakukan ritual manja anak perempuan sebelum tidur. Seperti menyisir rambut, menggosok gigi, cuci muka, atau memakai beberapa alat kosmetik yang Zihan sendiri kurang memahami apa yang sebenarnya para perempuan itu kenakan. Cuma mau tidur doang, ribetnya minta ampun. Pikir Zihan ketika mengetahui para perempuan yang ia kenal mengatakan apa saja yang mereka lakukan sebelum tidur.
Namun, istri sahnya ini terlihat tidak sama dengan para perempuan itu. Ia malah langsung duduk di atas sofa setelah meninggalkan ranjang Zihan. Hal itu membuat Zihan sedikit bingung. Dan, ketika Lia sedang mengatur posisi untuk berbaring, Zihan baru sadar kalau Lia memang ingin beristirahat di atas sofa tersebut.
"Kamu kok malah ingin berbaring di sana? Apa di sini sudah tidak punya tempat lagi?"
Pertanyaan itu langsung membuat Lia memasang wajah kaget. Karena dia sebelumnya benar-benar tidak berpikir, kalau Zihan juga akan meminta ia untuk tidur satu ranjang dengannya setelah permintaan Zihan yang ingin ia duduk di samping ketika mengobrol beberapa waktu barusan.
"Ap— apa maksud Kak Zihan barusan?" Ingin berpura-pura tidak mengerti padahal kenyataannya ia sungguh sangat memahami apa yang Zihan katakan. Jika tidak, mana mungkin dia barusan berucap dengan nada gelagapan kalau bukan gugup.
"Kamu tahu apa yang aku maksud. Jangan berbaring di sana. Di sebelah aku masih ada tempat yang cukup luas buat kamu tidur. Tubuhmu yang mungil itu tidak akan mengganggu batasan antara aku dengan kamu. Jadi, tidurlah di sini sekarang."
"Ta— tapi .... "
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Lia? Kamu takut aku akan mengganggu tidurmu? Jika benar begitu, kamu tidak perlu cemas, karena aku lumpuh, tidak akan bisa mengusik ketenangan orang lain meskipun orang itu ada di sampingku."
"Dan lagi, aku masih punya perasaan kok. Tidak akan mengusik tanpa seizin dari orang yang ingin aku usik. Aku masih tahu batasanku, Lia. Jadi, jangan takut padaku. Meskipun kita tidur satu ranjang, tidak akan terjadi apa-apa antara aku dengan kamu."
Penjelasan panjang lebar itu membuat Lia merasa cukup bersalah atas penolakan yang ia buat barusan. Karena itu, tanpa menjawab dengan kata-kata, Lia langsung memilih mengikuti apa yang Zihan katakan.
Meski terlihat sangat canggung untuk bergerak, Lia tetap berusaha keras agar apa yang ia rasakan tidak terlihat oleh Zihan. Dia pun berbaring dengan hati-hati di samping Zihan dengan jarak yang lumayan jauh.
"Kamu masih saja takut padaku. Baiklah kalau gitu, aku berikan batasan buat aku dan kamu." Zihan pun langsung meletakkan guling di tengah-tengah mereka. "Ini batasannya. Di sana milikmu. Dan ini milikku. Bagaimana? Apa kamu merasa nyaman dengan batasan ini?"
"A— aku .... Maaf, Kak Zihan." Hanya itu yang bisa Lia ucapkan. Padahal, yang ingin ia katakan sangat banyak pada Zihan. Tapi, bibirnya terasa sangat berat. Jangankan berucap banyak kata, beberapa kata itu saja sangat sulit untuk keluar dari bibirnya.
"Ya sudahlah. Tidak perlu minta maaf. Aku maklum apa yang kamu rasakan saat ini. Kamu butuh waktu untuk terbiasa dengan aku yang bawel dan banyak mintanya ini. Maklum, sudah terbiasa bawel dan cerewet sejak kecil."
"Ah, jadi makin banyak ngomong aku sekarang. Ya sudah, selamat istirahat. Semoga mimpi indah."
Setelah kata-kata itu terucap, tidak ada jawaban juga tidak ada kata-kata lain yang terdengar. Keduanya pun sama-sama terlelap beberapa waktu kemudian. Mungkin, karena cukup lelah seharian dengan apa yang mereka alami, keduanya malah langsung bisa memejamkan mata meskipun berada dalam kondisi yang baru bagi mereka.
Pagi menjelang dengan cepat. Malam dingin ternyata berlalu begitu saja. Namun, siapa sangka jika pagi ini akan sedikit mengejutkan buat hati Lia. Dia yang tidak sadar saat tidur nyenyak, kini malah berada di samping Zihan. Bahkan lebih tepatnya, ia kini tidur dengan berbantalkan lengan Zihan.
"Ah, in— ini .... Ya Tuhan. Apa yang sudah aku lakukan? Apa yang terjadi sebenarnya?" Lia heboh sendiri sampai membuat Zihan langsung terjaga dari tidurnya.
"Ada apa, Lia?" Zihan berpura-pura tidak tahu padahal sebenarnya, dia sudah bangun beberapa menit sebelum Lia terjaga dari tidurnya.
"It— itu ... Kak Zihan. Ah, ng— tidak ada apa-apa kok. Aku hanya ... hanya .... "