Indonesia
NovelToon NovelToon
Kesalahan Semalam Menjadi Takdir

Kesalahan Semalam Menjadi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Muarofah

Raina, wanita mandiri yang sudah bercerai, mencari pelarian di malam yang kelam. Di tengah kebingungan karena mabuk, ia tanpa sengaja menghabiskan malam bersama Dika—seorang mahasiswa muda tampan yang ternyata merupakan pewaris tunggal keluarga kaya raya.

Perbedaan usia, masa lalu yang kelam, serta penolakan keras dari orang tua Dika menjadi tembok tinggi yang memisahkan mereka. Namun takdir seolah punya rencana lain, menumbuhkan cinta tulus di antara dua dunia yang berbeda.

Mampukah sebuah kesalahan semalam, berubah menjadi takdir cinta yang abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

 

Bab 24: Ibu Mertua yang Menyayangi

Hari-hari berlalu dengan penuh kehangatan di rumah kecil itu. Sejak hari itu, sikap Ibu terhadap Raina berubah sepenuhnya — bukan lagi sekadar menerima, melainkan menyayangi tulus layaknya anak kandung sendiri. Perubahan itu tak terjadi tiba-tiba, melainkan tumbuh perlahan, dipupuk oleh kebaikan hati Raina yang tak pernah lelah bersabar dan berbakti.

Pagi itu, udara segar menyelinap masuk lewat celah jendela yang terbuka. Cahaya matahari pagi menyinari ruangan dengan lembut, seakan ikut menyambut kebahagiaan yang kini menyelimuti rumah itu. Raina baru saja selesai menyiapkan sarapan pagi yang bergizi, lalu berjalan perlahan menuju kamar Ibu. Ia mengetuk pintu pelan, lalu membukanya perlahan.

"Bu, sudah bangun? Sarapan sudah siap," sapa Raina lembut sambil tersenyum hangat.

Ibu sedang duduk di tepi tempat tidur, merapikan pakaiannya. Saat mendengar suara Raina, ia menoleh seketika. Senyum yang tadi tampak biasa kini melebar begitu melihat wajah menantunya yang cantik dan penuh kesabaran. Ibu berdiri perlahan, melangkah mendekat hingga berdiri tepat di hadapan Raina. Ia menatap wajah wanita itu lekat-lekat, seakan ingin menyadari betapa beruntungnya ia memiliki menantu sebaik Raina.

"Raina..." panggil Ibu pelan, suaranya terdengar penuh kelembutan yang belum pernah Raina dengar sebelumnya. "Kau selalu bangun paling pagi, menyiapkan semuanya dengan begitu teliti... sementara aku, dulu pernah begitu keras kepadamu."

Raina tersenyum lembut, menggenggam tangan Ibu dengan hangat. "Ibu, jangan katakan begitu. Semua sudah berlalu. Yang penting sekarang kita semua hidup tenang dan sehat."

Air mata menetes perlahan dari sudut mata Ibu. Ia mengusap pipi Raina dengan penuh kasih sayang, lalu menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya yang hangat dan tulus. Pelukan seorang ibu yang akhirnya menyadari betapa berharganya anak yang diberikan takdir kepadanya.

"Maafkan Ibu ya, Nak..." bisik Ibu dengan suara bergetar. "Dulu Ibu buta oleh prasangka. Ibu tidak melihat kebaikan hatimu yang begitu murni. Kau tetap sabar, tetap lembut, tetap berbakti meski Ibu sering menyakitimu. Sungguh... Ibu malu sekali."

Raina memeluk balik tubuh tua itu erat, menepuk punggungnya perlahan untuk menenangkan. "Ibu tidak perlu minta maaf. Raina mengerti. Setiap orang butuh waktu untuk mengenal hati orang lain. Dan sekarang... bukankah kita sudah saling mengenal?"

Ibu mengangguk pelan, melepaskan pelukannya namun tetap menggenggam tangan Raina erat seakan tak ingin melepaskannya lagi. "Benar, Nak. Sekarang Ibu tahu. Kau bukan sekadar menantu bagi Ibu. Kau adalah anak perempuan yang tak pernah Ibu miliki. Sejak hari ini... anggap Ibu sebagai ibumu sendiri. Tak ada lagi rahasia, tak ada lagi jarak di antara kita."

Sejak pagi itu, suasana di rumah itu benar-benar berubah. Ibu tak lagi membiarkan Raina bekerja sendirian. Setiap kali Raina hendak menyapu lantai atau mencuci pakaian, Ibu segera datang mencegahnya.

"Sudah-sudah, Raina. Biarkan Ibu yang melakukannya. Kau harus banyak istirahat," ujar Ibu sambil mengambil sapu tangan dari tangan menantunya. "Lihatlah, wajahmu tampak sedikit pucat. Kau harus menjaga kesehatanmu — demi dirimu, demi Dika, dan demi buah hatimu yang sedang tumbuh di sana."

Ibu menatap perut Raina yang mulai tampak sedikit membulat dengan pandangan penuh kasih sayang. Ia lalu menggandeng tangan menantunya, membimbingnya duduk di kursi yang empuk di teras rumah.

"Duduklah di sini, menikmati udara segar. Biar Ibu yang menyiapkan semuanya. Kalau kau butuh apa pun, panggil saja Ibu. Jangan pernah sungkan, ya?"

Raina menatap wajah Ibu yang tampak begitu tulus menyayanginya. Matanya berkaca-kaca terharu. Selama ini ia hanya berharap dapat diterima dengan baik. Namun tak disangka, ia justru mendapatkan kasih sayang yang begitu besar dan tulus, seakan ia memang anak kandung dari rahim wanita mulia ini.

"Terima kasih, Bu..." ucap Raina dengan suara lembut penuh syukur. "Raina merasa sangat bahagia memiliki Ibu seperti Ibu."

Ibu tersenyum lebar, lalu mengusap kepala Raina dengan penuh kelembutan. "Terima kasih kembali, anakku. Kau yang telah mengajarkan Ibu arti kesabaran dan kebaikan hati. Dika beruntung memilikimu. Dan Ibu... Ibu juga merasa sangat beruntung memilikimu."

Siang harinya, saat Dika pulang bekerja, ia tertegun melihat pemandangan di ruang tengah yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ibu dan Raina sedang duduk berdampingan, saling berbagi cerita sambil tertawa riang. Di antara mereka tak lagi ada kesenjangan, tak lagi ada kecanggungan. Yang terlihat hanyalah kehangatan hubungan antara seorang ibu dan anak perempuannya yang saling menyayangi.

Melihat pemandangan itu, hati Dika terasa begitu penuh dan bahagia. Ia berdiri sejenak di ambang pintu, membiarkan kebahagiaan itu menyelimuti hatinya sepenuhnya. Ibu yang dulu begitu keras kini tersenyum lembut. Dan Raina... wanita yang ia cintai itu tampak begitu berseri-seri, dikelilingi kasih sayang yang pantas ia dapatkan sejak lama.

Sejak hari itu, tak ada lagi yang dapat memisahkan kasih sayang antara Ibu dan Raina. Ke mana pun mereka pergi, mereka selalu berdampingan. Ibu tak pernah lelah memuji kebaikan hati menantunya kepada siapa pun yang bertanya. Dan Raina pun tak pernah berhenti berbakti dan menyayangi ibu mertuanya itu dengan tulus.

Hubungan mereka kini telah menyatu begitu erat — bukan karena ikatan pernikahan semata, melainkan karena ikatan kasih sayang yang tumbuh dari hati yang tulus. Ibu akhirnya benar-benar mengakui: Raina adalah anugerah terindah yang dikirimkan Tuhan untuk melengkapi kebahagiaan keluarga mereka. Dan di mata Ibu, Raina bukan lagi sekadar menantu. Raina adalah putri kesayangannya yang akan selalu ia lindungi dan sayangi seumur hidupnya.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!